
Malam hari, mereka makan malam bersama Kendrik setelah adik kesayangan Karen itu menyelesaikan urusan skripsi bersama Daniel.
"Cepet pulang sana, Ken!" bisik Karen sembari merangkul adik laki-lakinya itu. Mereka berdua masih ada di ruang makan-dapur.
Sedangkan Daniel berada di ruang televisi untuk merapikan beberapa majalah yang kurang rapi.
"Apaan sih! Tumben nyuruh aku cepet pulang. Biasanya malah memohon-mohon biar aku nginep sekalian."
Daniel berjalan melewati ruang makan untuk menuju ke kamar. Karen langsung melunglai di rangkulan sang adik.
"Eh eh, kok tiba-tiba jadi makhluk invertebrata gini?" komentar Kendrik.
Mata Karen yang memperhatikan kelebat Daniel kemudian tersadar. Dia menegakkan kembali badannya. "Tadi ... ehm tiba-tiba pusing aja. Aku ke kamar dulu ya, kalau pulang, hati-hati."
"Dasar Koreng, adiknya mau pulang bukannya dianter ke depan." Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Kendrik berjalan pelan menuju pintu keluar.
Daniel sedang merapikan beberapa barang di kamar ketika Karen masuk.
Kendrik ditinggal sendiri? (Daniel).
Dia pun keluar dari kamar dan menggantikan tugas Karen untuk mengantar Kendrik hingga sampai di luar.
"Ken, tunggu bentar! Aku ambilin sesuatu." Daniel menginterupsi langkah Kendrik sebentar dan pergi ke dapur. "Ini, bawa buah buat kamu sama Mama."
"Hah? Buah? Ehm, err, oke, makasih, Kak Niel." Kendrik menerima buah itu sembari menggaruk kepalanya. "Aku pulang ya, Kak."
"Iya. Hati-hati, Ken. Salam buat Mama."
Kendrik menuju motornya. Dia meletakkan plastik biru berisi buah itu pada pengait motor di bawah kemudi.
Dua orang itu lagi kerasukan apa sih. Yang satu tumben ngasih-ngasih buah, yang satu tiba-tiba kayak orang lagi mabok kendaraan lemes kayak makhluk nggak bertulang belakang. (Kendrik).
~
Karen sudah di atas tempat tidur dan memejamkan mata, padahal sebenarnya dia masih dalam kesadaran penuh. Daniel mencari-cari bantal penyekat yang biasa digunakan bersama guling untuk membatasi tempat tidur mereka.
Dia tidak bisa menemukan bantal itu di mana pun, tinggal 1 guling yang menjadi pembatas. Tapi tidak mengapa, masih ada 1 guling, begitu pikirnya.
Tanpa menaruh curiga apa pun, dia tidur di samping Karen.
Sembari memejamkan mata, Karen menyentuhkan jempol kakinya ke kaki Daniel. Meski hanya sebagian kecil kulit Karen yang menempel di kaki Daniel, pria itu dapat merasakan dengan jelas.
Dia pun menggeser kaki agar tidak bersentuhan dengan kaki Karen. Tidak menyerah, Karen menyentuhkan kakinya lagi ke kaki Daniel.
Dokter itu pun belum menyerah untuk bergeser menjauh dan menjauh, dan begitu seterusnya hingga ruang gerak Daniel hanya tersisa sedikit.
Entah bagaimana gerak Karen, guling penyekat yang tinggal 1 itu sudah berpindah tempat agak jauh dari tempat tidur. Rupanya Karen menggelindingkan guling itu agar tidak menjadi penghalang antara dia dan suaminya.
Karena gemas dengan Daniel yang terus bergeser itu, Karen memeluk suaminya.
Daniel berusaha melepaskan tangan dan kaki Karen sembari terus bergeser.
Akhirnya terjatuh lah dia dari ranjang.
"Aaarrrggghhh," erang Daniel.
Duh kok malah jatuh sih. Makanya kalau aku peluk tuh diem aja jangan geser, jatuh kan jadinya. (Karen).
Daniel kemudian mengamati Karen untuk melihat apakah dia benar-benar tidur atau tidak. Wanita berambut merah itu tetap terpejam dan masih kukuh ber-acting tidur.
Daniel kemudian mengingat kejadian sewaktu Karen mengumpat dirinya dalam keadaan setengah sadar. Dia pun memaklumi kebiasaan tidur sang istri yang bergerak tidak karuan bahkan kadang berbicara dalam tidur.
Dia mengalah dan tidur di sofa samping tempat tidur.
Karena Daniel tidak juga kembali ke tempat tidur, Karen membuka sedikit matanya.
Brengseeek! Malah tidur di sana. Apa aku perkosaa aja dia? Kan kami pasangan sah. Eh jangan dink, kayak aku nggak punya harga diri aja. Lagian kalau jadi headline berita kan nggak lucu, 'seorang istri memperkosa suaminya'. Jangan panggil aku Karen kalau nggak bisa naklukin kamu wahai dokter es batu, patung anubis, nggak tahu diuntung, nggak tahu diri. (Karen).
__ADS_1
***
Pagi hari
"Pagi, Den Daniel," sapa Bi Sum.
"Udah sehat, Bi?"
"Sudah, Den. Ini tadi saya udah belanja sayur sama buah pesenan Den Daniel. Tapi maaf, Den, plastiknya adanya warna hijau, yang biru habis."
"Aduh." Daniel tampak khawatir. "Ya udah nggak apa-apa, Bi. Taruh di kulkas ya."
"Baik, Den."
Bibi Sum berpikir keras kenapa majikannya bertingkah aneh. Orang normal akan memperhatikan kualitas buah dari pada warna kantong plastik pembungkus. Daniel malah fokus pada warna plastik.
~
Karen dan Daniel telah selesai sarapan pagi.
Karen membuka pintu lemari es hendak memakan buah sebagai makanan penutup. Dia membuka bungkusan plastik buah itu.
Perasaan plastik buah yang dibawa Haris kemarin warna biru deh, kok ini jadi hijau. Terus apelnya kayaknya nggak se-merah ini. (Karen).
Karen membawa apel ke meja dan mengirisnya dengan pisau.
"Niel, di rumah sakit tempatmu kerja ada dokter mata nggak?"
Daniel mengangguk.
"Aku mau periksa mata, kayaknya aku buta warna deh. Buah yang dibawain Haris itu kemarin plastiknya biru kok jadi hijau."
"Uhuk uhuk." Daniel tersedak.
Setelah menikmati apel, Karen hendak menuju meja minuman. Di sana terdapat gelas dan dispenser air mineral.
Daniel berlari dan menghalangi Karen tepat di hadapannya. Kaki dokter itu menggeser tempat sampah yang berada di bawah meja agar tidak terlihat.
"Ehm ... Niel, a-aku mau minum."
Daniel mengambilkan gelas dan menuangkan air mineral untuk istrinya. Karen meminum air itu di depan Daniel.
Setelah habis, Daniel mengambil gelas itu dan tetap berdiri di sana. Dia benar-benar seperti keeper penjaga gawang yang tidak ingin ada pemain lawan mendekati gawang.
Setelah itu Karen mencium tangan Daniel. Baru kali ini dia menyadari bahwa tangan laki-laki itu selalu wangi. Selama ini Karen mencium tangan itu dengan malas. Sekarang, rasanya justru dia tidak ingin melepaskan.
Dia pun tersadar dan segera berangkat ke kantor.
Bibi Sum masuk ke dapur untuk membereskan bekas makan majikannya, tapi malah menemukan Daniel sedang berdiri mematung di depan meja minuman.
"Lhoh, Den, kenapa di situ? Den Daniel sakit?"
"Enggak, Bi. Tolong sampah di bawah meja ini segera dibuang ke tong di depan ya Bi."
"Baik, Den."
Daniel pun berangkat bekerja.
Bibi Sum terkaget melihat seikat bunga cantik di dalam tempat sampah itu.
Orang kaya memang aneh. Bunga bagus begini, eh dibuang. Mbok kemarin dikasih saya aja pasti saya rawat. (Bibi Sum).
Daniel membuang bunga pemberian Haris. Dia juga memberikan buah yang dibawakan Haris kepada Kendrik dan menukarnya dengan buah yang dibeli sendiri.
~
Karen terus memikirkan keadaan matanya. Selain buta warna, dia juga khawatir jika dirinya berhalusinasi.
__ADS_1
Pasalnya, merk apel yang dibawakan Haris adalah Malyangton Apple. Tapi tadi pagi, merk itu berubah menjadi Madinton Apple.
"Cat Woman, sini."
"Apa, Bos Black Widow?"
"Ini biru?"
"Yap."
"Ini hijau?"
"Yap."
"Ini merah?"
"Yap."
Karen mencari-cari lagi warna lain.
"Bos, habis jadi time traveller?"
"Aku Black Widow, bukan The Flash. Emang kenapa?"
"Oh kirain. Habis Bos balik lagi jadi balita, main tebak-tebak warna begini hehe."
***
Round 2 (malam berikutnya)
Semalam Karen belum berhasil membuat sang suami memeluk atau menciumnya. Malam ini, Karen pura-pura tidur di ruang komik agar digendong oleh Daniel menuju kamar.
Melihat Karen yang tidur hanya beralaskan karpet, Daniel tidak pernah tega. Dia pun menggedong istrinya.
Yes, yes. (Karen).
Dengan hati-hati, dia memindahkan istrinya dari ruang komik ke kamar.
Saat akan dibaringkan, wajah Daniel mendekat ke wajah Karen karena reflek menunduk. Wajah mereka pun hanya berjarak beberapa centi.
Karen membuka matanya.
Daniel kaget dan tiba-tiba melepaskan gendongannya. Karen terbanting (untungnya) di atas tempat tidur.
"Kudanil! Kenapa aku dibanting sih?"
"Ma-maaf."
Padahal bukan itu adegan impian Karen.
Dia berharap saat membuka mata, mereka berpandangan mesra dengan jarak sekian centi, tenggelam dalam suasana malam kemudian berciuman. Akh, gagal ....
To be continued...
Jogja, June 26th 2021
***
👰Karen: akh dasar author, nggak bisa liat orang seneng.
👸Author: hehe belum saatnya cintaku, kamu harus menaklukan dulu lakimu yang kayak gunung es itu.
👰Karen: gimana caranya thor?! Udah 2x gagal ini!
👸Author: browsing di Mbah Tugel, niscaya kamu akan dapat petunjuk. Nanti aku bikinin scene romantis beberapa episode lagi tapi kirim dulu mi ayam ke rumah author. Eike tunggu.
👰Karen: sendiko dhawuh Mbah Author, nanti pake adegan 21+ ya thor.
__ADS_1
👸Author: enak aja! Kalau mau pake 21+, bawain juga toppokki, ayam goreng 1 ekor, bebek goreng sama nila bakar.
👰Karen: bah, author nggragas!