Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
87. Hukuman Mami (part 4)


__ADS_3

"Daniel, bawa aja baju yang di sini. Karen, kamu sana pulang, kemasin baju-baju dan barang-barangmu," kata Mami.


"Iya, Mi." Karen bergegas pulang untuk menyiapkan baju dan segala keperluannya.


Papi Danu memasuki dapur dan duduk di samping Mami Seli.


"Udah selesai hukumannya, Mi?"


"Belum lah, itu juga termasuk hukuman. Akh, ternyata Mami kalah sama menantu."


"Kalah gimana?"


"Kemarin nggak ada kabar seminggu, Mami kira dia nyerah. Ternyata ke sini juga."


Papi Danu mengangguk setuju. "Dia bahkan tetep jadi istri Daniel setelah tahu penyakitnya."


"Kalau yang lain, calon-calon dia yang dulu, bahkan baru sampai tahap tahu ruang komik aja langsung batalin nikah. Gimana kalau mereka tahu sakit Daniel? Mungkin langsung pingsan kali."


~


Hari itu menjadi hari yang sangat sibuk. Selain karena harus menyiapkan keperluan barang untuk honeymoon dadakan itu, Daniel dan Karen juga harus mengurus pekerjaan mereka.


Bagi Karen, itu tidak terlalu sulit karena dia adalah pemilik usaha. Dia tinggal melimpahkan semua pekerjaan pada 2 asisten kepercayaannya yaitu Inda dan Citra.


Namun, bagi Daniel, ini sedikit rumit. Untungnya rumah sakit Keluarga Bahagia memiliki spesialis jantung yang jumlahnya memenuhi jika akan ditinggal pergi oleh Daniel.


Lagipula, beberapa bulan lalu saat Daniel dan Karen menikah, Daniel tidak mengambil cuti untuk berbulan madu. Dia malah memilih untuk terus bekerja. Oleh karena itu, cuti yang dia ambil sekarang sangat dipermudah.


Mami Seli menemui Daniel di kamarnya dan menyerahkan sebuah paper bag.


"Apa ini, Mi?"


"Pokoknya dibawa aja!" Mami Seli menyelipkan paper bag itu di bawah tumpukan baju Daniel di dalam koper baju kemudian menutupnya.


Daniel tidak memiliki kesempatan membuka pemberian Mami Seli itu dan langsung membawa koper itu pergi.


"Aku pamit dulu, Mi," ucap Daniel.


"Iya, kalau udah sampai sana, jangan lupa kabarin Mami ya."


Daniel mengangguk.


Kemudian dia berpamitan kepada Papi, Stella dan Mbok Idah lalu menjemput Karen untuk pergi ke bandara.


~


Di dalam pesawat


"Niel, kita ke Jogja seminggu ni udah ada itinerary-nya belum?"


Daniel menggeleng.


Dari berangkat ke bandara tadi, dia belum ngomong. Baru nggak ketemu setengah hari aja dia udah 'off'. Sabar, Ren! Semangat! (Karen).


Karen mengeluarkan obat dan air mineral dari tas jinjingnya. Dia meminta Daniel meminumnya.


"Kamu udah minum obat, talk to me. Kita nanti ke mana aja?"


"Ehm, coba lihat Tugel map," kata Daniel sembari menahan sesak.


Baru mulai tadi pagi pengobatannya, semua butuh waktu. Wajar dia masih sakit. (Karen).


Karen menyemangati diri sendiri di dalam hati sembari mengeluarkan ponselnya.


"Ngapain?" Daniel penasaran dengan kelakuan istrinya.


"Browsing di ketinggian 30.000 kaki, Bung, welcome to the 21st century modern digital era."


"It's illegal!"


Daniel merebut ponsel Karen yang ternyata mode pesawat.


Karen tersenyum konyol. "Gotcha!"


Daniel lega sekaligus gemas ternyata dia kerjai istrinya. Jantungnya sudah berdebar kencang melihat Karen ber-acting sedang berselancar di internet. Dia khawatir istrinya akan membuat kekacauan di sistem penerbangan dengan sinyal seluler.


"Aku nggak se-barbar itu, Kudanil. Ntar malam kita ke mana?"

__ADS_1


"Malioboro?"


"Oke, kita jalan ke Malioboro. Mau muter-muter naik delman?"


"Boleh."


Penerbangan berlangsung 1,5 jam. Mereka pun sampai di Yogyakarta International Airport, Kulon Progo, Yogyakarta. Matahari sudah hampir tidak terlihat sama sekali.


Dalam perjalanan menuju ke hotel di kawasan barat Malioboro, terdengar gemuruh dari langit tanda akan hujan.


Sesampainya di hotel, Karen dan Daniel beristirahat sejenak sembari mencari-cari tempat wisata untuk dikunjungi esok hari.


Tak lama, hujan turun.


"Jyah, malah hujan," gumam Karen.


Namun, hujan belum begitu deras. Masih ada harapan untuk bisa berjalan-jalan.


"Pakai payung?" usul Daniel.


"Oke."


Mereka pun membersihkan diri dan bersiap untuk berjalan-jalan. Setelah mereka rapi, hujan menjadi deras.


"Astaga! Udah siap malah deres!" teriak Karen.


Ponsel Daniel berdering. Karena terlalu sibuk dengan perjalanan, bawaan dan merencanakan tempat wisata untuk besok, Daniel terlupa untuk memberi kabar pada Mami Seli.


📞"Halo, kalian di mana sekarang? Udah sampai Jogja belum? Kok belum ngabarin?" Seperti biasa, Mami Seli memberondong pertanyaan sehingga yang ditanya kebingungan akan menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.


📞"Udah, Mi. Di hotel. Maaf tadi lupa."


📞"Oh. Kalian mau langsung jalan-jalan?"


📞"Tadinya iya, tapi sekarang hujan deras."


📞"Nggak jadi pergi?"


📞"Kayaknya enggak."


Sementara itu, Karen juga sibuk bertukar kabar dengan Mama Puri dan Kendrik yang tidak ketinggalan meminta oleh-oleh.


Tak lama, Mami Seli kembali menelpon.


📞"Halo, Daniel, kalian nggak jadi pergi kan?"


📞"Nggak, Mi."


📞"Kalau gitu, buka kopermu. Paper bag yang tadi sore tolong dikasih ke Karen."


📞"Oh, iya."


Mami Seli menutup teleponnya.


Daniel mengambil paper bag itu dan memberikan kepada Karen.


Karen mengamati merk yang ada di tas itu. Dia sudah bisa menebak isinya. "Aku tahu isinya, pasti lingerie."


Baguslah, aku bakal seneng kalau kamu pakai. (Daniel).


Mami Seli menelpon Karen.


📞"Halo, Ren. Kamu udah terima titipan Mami buat kamu?"


📞"Udah, Mi. Makasih ya, Mi."


📞"Sekarang kamu pakai ya, itu bagian dari hukuman."


📞"Iya, Mi."


Karen ke kamar mandi untuk berganti baju.


Namun, Karen terkejut dengan model lingerie yang diberikan Mami kali ini yang sangat berbeda dengan yang pernah diberikan dulu.


Guandrik, ini sih super slutty lingerie. (Karen).


Karen mengamati lingerie yang modelnya lebih mirip baju renang one suit dengan bahan tule stretch yang transparan. Tidak hanya itu, bagian punggung terbuka karena memang model backless.

__ADS_1


Mami dapat ilham dari mana aku disuruh pakai baju kunti begini, punggungnya bolong. (Karen).


Meski pun dia dan Daniel sudah sah sebagai suami istri, tetap saja dia malu mengenakan pakaian se-extrim itu.


Karen tidak habis akal. Dia mengenakan pakaian itu sesuai perintah Mami Seli, namun menggunakan baju luaran.


Dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Daniel yang sedang ber-video call dengan Mami Seli.


🎥"Lhoh, mana kok nggak dipake, Ren?"


🎥"Dipake kok, Mi. Ini." Karen membuka sedikit kaosnya dan menunjukkan lingerie itu.


🎥"Lepas kaosnya!"


🎥"Tapi, Mi ...."


🎥"Kalau nggak kamu lepas, besok kalau kalian pulang, Mami hukum lagi kalian, nggak ada ampun."


🎥"I-iya Mi, tapi matiin dulu video call-nya kan malu dilihat Mami."


🎥"Hey, Mami udah hapal sama kamu, Ren. Pasti nanti kamu ganti lagi."


Karen pun melepas baju luaran yang dia kenakan dan menutupi badannya dengan selimut.


Melihat model baju itu, Daniel juga terkejut.


🎥"Kalau kamu pakai luaran lagi, Mami bener-bener kasih hukuman buat kalian nggak boleh ketemu selama 3 bulan."


🎥"Ampun, Mi. Jangan tambahin, Mi."


Mami Seli mengakhiri sambungan video call itu. Sepertinya dia sudah puas mengerjai menantunya itu.


"Jangan lihat, Niel," larang Karen sembari memegangi selimut di badannya.


Daniel mengalihkan pandangannya.


"Kudanil, tolong matiin lampu besar, malu kalau kelihatan."


"Oke." Daniel mematikan lampu besar dan menyisakan lampu tidur.


Dia pun berbaring di atas tempat tidur.


"Niel, kamu hadap sana."


"Oh, oke." Daniel menghadap ke arah berlawanan.


Karen membelakangi Daniel dan berusaha tidur. Namun, seperti saat dulu setelah menyatakan cinta kepada suaminya, matanya tidak dapat terpejam.


Sudah 15 menit mencoba tidur, tapi tidak berhasil. Pikirannya malah terbang ke mana-mana.


Bukannya tadi pagi dia ngajak ke kamar ya? (Karen).


Mengenakan baju seperti itu tapi tidak diacuhkan oleh Daniel membuatnya insecure.


Dia udah tidur ya? Bangs*t kamu Kudanil bin Patung Anubis! Mau bikin aku insecure kayak dulu? Nggak akan bisa! Sekarang juga, aku cabik-cabik kamu! (Karen).


Karen membalikkan diri menghadap Daniel. Dia terkejut bukan kepalang. Ternyata Daniel belum terlelap dan sedang menghadap ke arahnya sehingga mereka sekarang berhadap-hadapan.


"Oh, ehm, kirain kamu udah tidur."


Daniel menggeleng.


"Dari tadi kamu ngelihatin punggung bolong ala kunti ini?"


Daniel mengangguk.


Wajah Karen memerah karena malu.


"Ikh, malu tahu. Lagian Mami kok bisa-bisanya dapat ide kayak gini dari mana coba? Waktu dia beli, apa dia ... hmmmppphhh."


Daniel gemas istrinya terus mengoceh dengan kecepatan tinggi. Dia mencium bibir Karen.


Setelah itu, suara ocehan Karen sudah tidak terdengar berganti dengan suara ekspresi cinta yang memenuhi ruangan itu.


to be continued...


Jogja, July 16th 2021

__ADS_1


__ADS_2