Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
72. Jangan Rebut Milikku!


__ADS_3

...⚠️warning⚠️...


...🔞alert...


...⚠️episode ini menampilkan adegan nganu tapi tenang karena tidak terlalu nganu. Yang bocil jangan nganu ya⚠️...


...Episode ini menampilkan adegan dewasa yang hanya boleh dilakukan suami-istri. Meski tidak vulgar, namun sekali lagi author ingatkan, adegan tersebut hanya untuk pasangan sah yang sudah menikah ya. Mengoke?...


...Untuk yang memutuskan untuk Skip episode ini, Author rangkumkan ya:...


...Daniel dan Karen melakukan hubungan suami istri. Akan tetapi, hari berikutnya, Daniel masih belum berubah. Dia tetap dingin dan jarang berbicara....


...~~~...


Sedangkan Daniel, wajahnya justru terlihat frustasi. Sama sekali tidak ada senyum di sana.


Bibir Karen sesekali mengembangkan senyum yang malah membuat pikiran Daniel semakin kacau.


Kenapa kamu senyum? Apa kamu sedang mengingat dansa ini dengan Haris dulu? (Daniel).


Dansa itu pun selesai.


Daniel sudah merasa sangat tidak nyaman berada di sana. Dia mendekati Nathan dan berpamitan.


Perasaannya bercampur antara marah dan juga sedih. Dia membayangkan perceraiannya dengan Karen nanti.


Hanya satu yang membuatnya sedikit terhibur malam itu yaitu dia tidak sesak napas saat berdansa dengan Karen meski tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dia dan Karen keluar dari restoran itu hendak menuju mobil.


"Niel, gerimis. Harus banget kita pulang sekarang?"


Daniel mengangguk sembari melangkah lebih cepat.


Mereka pun telah berada di dalam mobil.


"Niel, kenapa kita pulang sekarang?"


Daniel terdiam.


"Daniel, kalau kamu nggak jawab, aku mau turun. Biar aku naik taksi aja."


"Aku nggak nyaman di sini, ugh ...." Daniel sesak napas ketika mulai berbicara.


Apa Kendrik benar? (Daniel).


"Kenapa, Niel? Mau ke rumah sakit?"


Daniel menggeleng. Tidak butuh waktu lama, sesak itu sudah hilang.


Karen menatap Daniel dengan sangat khawatir. Suaminya kini terlihat sangat kacau. Daniel melihat ke depan dengan tatapan yang mengerikan.


Sementara itu, hujan di luar perlahan menderas membuat suasana menjadi dingin dan semakin tidak nyaman.


Sesampainya di rumah, Daniel memarkirkan mobil di garasi dan langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Karen.


Karen berjalan lambat menuju ke dapur masih dengan perasaan khawatir.


Dengan langkah cepat, Daniel menuju ke kamar. Dia melepas jas kemudian membuka kancing kemejanya sembari berjalan menuju closet. Namun, dia terhenti saat melewati cermin di kamar itu. Dia melihat bayangannya sendiri di cermin sembari pikirannya mengingat kata-kata Haris.


Bisa-bisanya saudaranya itu terang-terangan ingin merebut istrinya.


Di awal pernikahan Daniel biasa saja saat menandatangani surat perjanjian dengan Karen. Sekarang semuanya terasa lain. Mendengar Haris menyatakan menginginkan Karen, dia tidak terima.


Kedua tangannya bersandar di atas meja di depan cermin.


[Kamu paham kan kalau dia lebih cocok sama aku]


[Kamu paham kan kalau dia lebih cocok sama aku]


Terngiang jelas sekali kata-kata Haris di telinga Daniel. Dari lubuk hati yang amat dalam, dia membenarkan Haris. Apalagi, dadanya terasa sesak ketika mulai berbicara dengan Karen. Ketidakcocokan itu semakin terasa nyata.


Ditambah hujaman ingatan tidak mengenakkan di masa lalu, Daniel muak. Meski dia pindah ke SMA yang lebih bergengsi, tapi bukan itu yang dia inginkan.


Dia ingin lulus sebagai alumni SMA Pioneer. Dan itu telah direnggut paksa darinya. Masa muda yang penuh prestasi menjadi mimpi buruk baginya. Dia sering berharap dia dilahirkan dengan kecerdasan biasa saja agar tidak menjadi incaran saat itu.


Dan kini seolah semua terulang kembali. Ada Haris yang siap untuk merenggut paksa apa yang menjadi miliknya.


Karen memasuki kamar dengan hati-hati. Dia membawa air putih di tangannya untuk Daniel. Tidak seperti biasa, ruangan itu sedikit gelap. Hanya lampu kecil yang dihidupkan.


Karen merasa ngeri melihat suaminya yang menunduk berdiri di depan cermin dengan dua tangan disandarkan ke atas meja. Tangan itu mengepal!


Dia tidak berani mendekat.


Kalau aku kasih air ini dari dekat, apa dia bakal siram mukaku? Atau lebih buruk, dia lempar ke arahku sekalian gelasnya? Terus, dia bakal pukul aku? Itu tangan udah kayak mau jotos orang. (Karen).

__ADS_1


Dia pun meletakkan air putih itu di meja dekat pintu yang jauh dari Daniel.


"Ni-niel, minum!" kata Karen, lirih dan ragu-ragu.


Dokter yang terlihat kacau itu menengok ke arah Karen.


Daniel bangkit dan berjalan cepat ke arah Karen. Tiba-tiba laki-laki itu mencium bibir Karen.


What's the worst thing? Mungkin dia akan menampar dan menendangku seperti waktu di rumah Mami. Kalau dia jadi ingin bercerai lebih cepat, anggap saja ini tanda perpisahan. (Daniel).


Daniel mengambil semua kemungkinan risiko melakukan hal itu. Tapi tidak seperti saat dulu, saat ini Karen sama sekali tidak menolak.


Tangan wanita itu mencengkeram kemeja Daniel yang kancingnya telah terbuka sebagian. Tidak ada tanda-tanda dia akan menampar atau melawan.


Karena tidak ada interupsi, ciuman itu berlangsung terus menerus tanpa jeda ...


Lama ...


Menggelora ...


Dada Karen seperti genderang yang dipukul dengan dahsyat menghasilkan detakan-detakan tak beraturan. Daniel pun begitu.


Insting mereka sebagai manusia laki-laki dan perempuan menuntut mereka untuk melakukan yang lebih dari itu. Dan itu adalah yang pertama kali bagi keduanya.


Bagi Karen, ini adalah hal terindah di mana dia menyerahkan mahkotanya untuk pasangan sah yang sekarang jelas-jelas dia cintai. Perasaannya saat ini sungguh berbeda dengan awal pernikahan dulu yang membenci sikap dingin seorang Daniel.


Bagi Daniel, entah ini merupakan luapan emosi, menandai kepemilikan karena terancam atau pelarian dari hujaman ingatan masa lalu yang menyakitkan.


Yang pasti malam ini keduanya lega telah menggempur habis tumpukan hasrat yang telah menggunung dan mengarat sejak lama. Daniel telah menjaga diri selama 34 tahun tanpa pernah bersentuhan dengan wanita sebelumnya.


Begitu juga dengan istrinya yang juga menjaga diri 28 tahun lamanya. Meski dulu hampir saja direnggut paksa oleh Tora, Tuhan masih berbelas kasih untuk menyelamatkan dia dari hari terkutuk itu.


Malam ini tak ada yang berani bicara. Keduanya sedang menyelami pengalaman yang sama sekali baru. Pengalaman baru itu berhasil mengubah status mereka menjadi benar-benar suami-istri.



Suara guyuran hujan di luar semakin keras menandakan hujan yang semakin deras. Keduanya seperti tak rela membiarkan waktu berlalu begitu saja. Seolah tak memiliki rasa jengah atau pun lelah.



***


Keesokan pagi


Untunglah Daniel sudah tidak ada di kamar. Dia tidak harus saling menatap dengan aneh dan kaku dengan keadaan seperti ini.


Kenapa aku ngerasa jadi orang termesum sedunia ya? (Karen).


Dia segera bangkit untuk menuju kamar mandi. Namun, dia merasa nyeri yang teramat sangat membuatnya berjalan pincang.


Daniel udah pergi belum ya? Apa lagi makan? Nanti gimana kalau aku ketemu dia? Kalau dia mau ngomongin yang semalam, aku mau pura-pura pingsan aja. (Karen).


Pikiran campur aduk ditambah kesakitannya membuat sarapan pagi terlewat. Makanan panas mengepul dengan aroma yang membuat asam lambung bergejolak tak lagi menarik minatnya. (Meski ya, dia akan menyesal karena sebentar lagi pasti kelaparan).


Saat melewati ruang makan yang menjadi satu dengan dapur itu, ada kelegaan karena sudah tidak ada Daniel di sana. Itu artinya, Daniel sudah berangkat ke rumah sakit.


Dia membuka pintu utama dan terkejut karena Daniel ternyata sedang sarapan di gazebo depan rumah. Karen diam sejenak. Lalu dia melangkah dengan kakinya yang masih pincang menuju mobilnya.


Daniel mengejar Karen, menarik tangannya dan mendudukkan dia di kursi. Karen panik sendiri, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan jika Daniel membicarakan peristiwa semalam.


Namun, dokter itu diam saja.


"Ada apa, Niel?"


Daniel hanya menunjuk piring yang berisi sandwich dan buah di meja. Segelas susu coklat juga tersedia di sana.


"Oh, aku sarapan di kantor aja," kata Karen meski hidung tak berhenti mengendus sandwich panggang hangat yang membuat perut meronta.


Daniel menatap Karen dengan tatapan tidak bersahabat.


"Iya iya, aku makan."


Daniel melanjutkan sarapannya dan menghabiskan sandwich miliknya.


Seperti biasa, dia berkonsentrasi penuh dengan makanan. Sepertinya dia tidak tertarik membahas kejadian semalam.


Karen makan dengan kaku. Sebentar-sebentar dia melirik suaminya. Tapi Daniel itu terlewat konsentrasi menghabiskan makanan.


Kini Daniel telah selesai sarapan pagi. Dia berdiri. Sebelum berjalan menuju mobil, dia menyodorkan tangan untuk dicium istrinya seperti biasa.


Bukannya lega karena sang suami tidak membicarakan hal semalam, Karen malah kesal.


Jadi aku dari tadi khawatir yang mubazir? Dia sama sekali nggak ngomongin apa pun tentang tadi malam. (Karen).

__ADS_1


Sembari kesal dia melihat mobil Daniel berlalu dari sana.


Apa aku dianggap one night stand gitu? (Karen).


~


Kantor Ren's Writer


"Pagi, Cat!"


"Pagi, Bos Black! Kenapa kok jalannya gitu?"


"Oh, ada peristiwa kecil ngeselin jadi kayak gini jalannya."


"Ngeselin kok mukanya cerah, senyum-senyum lagi! Bos ini kayak pengantin baru habis malam pertama aja," canda Inda.


"Hmmmppphhh ...." Karen menutup mulutnya.


Apa si Cat Woman punya indra ke 6 ya? (Karen).


Haris masuk ke ruangan Karen.


"Hai Bos, kok semalam pulang duluan sih?"


"Daniel yang ngajak."


"Apa dia bilang alasannya?"


"Enggak."


"Hahaha."


"Kenapa Ris? Kamu ngomong apa emangnya semalem kok Daniel jadi nggak betah di sana?"


"Kenapa kamu nggak tanya aja sama dia?"


"Hahaha." Giliran Karen yang tertawa.


"Lhoh, kok kamu ikutan ketawa?"


"Karena aku nggak tahu kamu ngomong apa sama dia, tapi aku berterima kasih banget hehe."


"Dasar aneh," kata Haris. "Eh Bos, mulai hari ini, seminggu ke depan, aku ijin pulang jam 3 ya. Ada expo bisnis kuliner di Hotel Grand Astan."


"Oke, tapi kerjaan di sini beres dulu ya."


"Siap. Oh ya, aku suka kamu pake dress hitam tadi malam. Jadi inget waktu prom jaman SMA."


"Heh! Nggak usah ngeledek! Keluar sana!" usir Karen.


"Hahaha, iya iya, aku pergi."


Haris keluar dari sana.


"Bos, emang kalian dulu satu sekolah ya?"


"Ho'oh."


"Dia kayaknya suka sama Bos deh. Apa jangan-jangan waktu SMA dia udah memendam perasaan sama Bos tapi nggak kesampaian, terus sekarang jadi pecicilan gitu."


"Hush hush, kerja!"


Akh nggak usah kasih tahu kalau dia mantan pacarku, jantungan kamu nanti, Cat! (Karen).


to be continued...


Jogja, June 30th 2021


***


👸author: Ren, Karen.


👰Karen: ...👩‍❤️‍💋‍👨


👸author: Kok diem aja?


👰Karen: ...👩‍❤️‍💋‍👨


👸author: Hoy hoy..


👰Karen: ...👩‍❤️‍💋‍👨 ish suara siapa sih ganggu aja.


👸author: 😒

__ADS_1


__ADS_2