
Dalam acara lamaran yang digelar, tanggal pernikahan Karen dan Daniel sudah ditentukan yaitu 1 bulan setelah acara lamaran. Karen dan Daniel kini harus sibuk mengurus persiapan pernikahan yang akan diselenggarakan di sebuah hotel berbintang. Namun, karena tamu undangan tidak banyak, mereka menyewa aula yang tidak begitu besar.
Hari itu, Karen dan Daniel memeriksakan diri di rumah sakit Keluarga Bahagia sebagai salah satu syarat untuk menikah yaitu premarital check up. Daniel meminta bertukar jadwal dengan dokter lain sehingga dia dapat melakukan premarital check up bersama-sama dengan Karen.
Sesi konsultasi dengan dokter kandungan pun tiba. Suster Rusma, seorang perawat di sana, mempersilakan Karen masuk ke ruangan Dion.
"Halo, Karen. Silahkan duduk."
"Makasih, Dok."
Dion melihat map Karen. "Owh, premarital check up? Udah mau nikah ternyata."
"Hehe ... iya, Dok."
Tidak lama, Daniel juga memasuki ruangan Dion.
"Hey, Pretty Boy, ada apa? Kok kamu nggak pake jas snelli?" Dion terkejut melihat Daniel yang nyelonong masuk ke ruangannya.
Pretty Boy? Panggilan macam apa itu? (Karen).
Daniel terdiam memandangi Dion, Karen juga hanya melihat mereka dengan canggung.
Kemudian suster Rusma yang menjelaskan, "Dokter Daniel adalah calon mempelai laki-lakinya, Dok."
"Hah?" Dion terkejut, kemudian dia membuka map dan melihat-lihat data yang lain. Matanya pun menangkap nama yang tak asing, Daniel Putra Mandala.
Nama dia betulan ini. (Dion).
Dion tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Dia masih tidak percaya. Beberapa waktu lalu, Daniel dan Karen tidak saling kenal. Daniel bahkan kesulitan untuk sekedar tersenyum kepada Karen. Kini di hadapannya, mereka sedang melakukan pemeriksaan sebelum menikah.
"Dokter, Dokter Dion." Suster Rusma mencoba menyadarkan Dion yang terpaku sedari beberapa detik yang lalu.
"Hoah, maaf saya lagi shock, Suster." Dion pun mengatur napas dan menenangkan diri.
"Kita mulai pemeriksaannya. Ka-ka-ka-" Dion tergagap.
"Karen, Dok," kata Karen.
"Iya, Karen." Dion memberikan tempat urine kepada Karen. "Buang air kecil di sini untuk di-test," kata Dion masih dengan ekspresi shock-nya.
Karen pun keluar dari sana untuk menuju toilet.
"Suster Rusma, tolong keluar dulu! Oh, yang ini biar saya sendiri aja, nggak usah dibantu."
Dalam ruangan itu kini tinggal Dion dan Daniel. Dion ingin menginterogasi Daniel, tapi dia sendiri bingung akan memulai dari mana.
"Yon, Dion?" Daniel memanggil Dion yang masih tidak jelas itu.
"Cubit tanganku, Niel!" katanya. Daniel mencubit tangan Dion sedikit. "Ini nyata? Kamu sama Karen?"
Daniel mengangguk.
Tak lama, Karen masuk kembali. Dion melakukan beberapa pemeriksaan, tapi dengan pikiran yang masih shock.
Jangan-jangan gadis ini dihamilin sama si Pretty Boy jadi terpaksa menikah. (Dion).
__ADS_1
30 detik menunggu hasil test urine Karen, Dion melihat hasilnya.
Negatif kok. Uhm, atau Karen terpaksa menikah karena nebus utang orang tua? Eh tapi Karen kan bos, punya perusahaan sendiri yang masih sehat dan nggak pailit. (Dion).
"Tolong lengan bajunya dilipat, imunisasi Tetanus Toxoid ya."
"Oh, disuntik?" Karen sudah lelah berhadapan dengan jarum.
Dion hanya menatap Karen dengan tatapan aneh dan sedikit melotot. Tidak biasanya dia begitu. Biasanya, Dion akan bercanda dan mengusili pasien yang ketakutan menghadapi jarum suntik.
Akhirnya Karen melipat lengan bajunya.
Galak bener Dokter Dion ini. (Karen).
Dion mulai menyuntik lengan Karen. Wanita itu menggigit bibir agar tidak menjerit.
"Gggrrrhhhmmm ...." Karen sedikit mengerang. "Dok, kok calon mempelai prianya nggak disuntik atau test urine atau check darah?"
"Nanti yang hamil dan berurusan dengan alat-alat logam kan kamu."
"Terus, suaminya ngapain?"
"Suaminya nyumbang bibit doang, habis itu nontonin kamu muntah-muntah tiap hari."
"Hah? Enak bener, Dok."
"Hahah, ya minta dia berkontribusi dengan bantu pijitin kamu, beliin yang kamu mau, dengerin kamu kalau lagi banyak keluhan. Kan si Pretty Boy ini pendengar yang baik," kata Dion sembari menatap Daniel tajam.
"Pppfffttt ...." Karen masih merasa geli mendengar panggilan itu.
Sekarang Daniel yang merasa malu di hadapan Karen. Rasa malu Karen saat Inda memanggilnya dengan panggilan aneh telah terbayar.
Mereka pun keluar dari ruangan Dion karena pemeriksaan dengan obgyn telah selesai. Karen memberikan map kepada Suster Rusma untuk diteruskan ke ruangan Nathan.
Karen dipersilahkan masuk ke ruangan Nathan.
"Wah, kamu premarital check up ya, sayang banget, nanti ada temenku yang patah ha- ti ...." kata Nathan yang terpatah di akhir kalimatnya melihat Daniel yang menyusul masuk.
"Niel, kamu suka banget masuk pakai adegan telat dramatis gitu, bikin temen-temen kamu pada shock ni!" protes Karen.
Nathan segera menandatangani surat keterangan itu dan memberikannya kepada Karen. Tiba-tiba Dion masuk ke ruangan Nathan.
"B-bro ...." kata Nathan pada Dion sambil menunjuk Daniel.
"Iya iya, gue tadi juga shock kayak elu. Udah ditandatangani, kan?" Kemudian beralih pada Karen. "Karen, maaf banget, kamu tunggu di luar bentar ya!" pinta Dion.
Setelah Karen keluar, Dion mengacak-acak rambut Daniel, memeriksa telinga, pipi, pundak.
"Hey hey," protes Daniel.
"Heh, Ironman, pake jimat apaan kamu?" tanya Dion.
Nathan mengamati Daniel dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Dion dan Nathan kini berada di depan Daniel, mengamati pria itu dengan seksama sambil saling berbisik. "Nemu jimat?" (Nathan).
__ADS_1
"Enggak. Mungkin susuk tanam?" (Dion).
"Mungkin juga, tapi dia pernah makan sate kok." (Nathan).
"Mungkin susuk yang lebih sakti, yang mahal." (Dion).
"Atau susuk yang hilangnya pakai pisang emas. Kita nggak pernah lihat dia makan pisang kan, Bro?" (Nathan).
"Nah, bisa jadi itu." (Dion).
"Ehem ...." Daniel berdehem menghentikan bisikan mereka yang meski selirih apa pun, tetap bisa didengar telinga Daniel.
"Hey, kamu utang penjelasan sama kami. Kok dari kemarin-kemarin nggak pernah cerita kalau mau nikah sama si rambut merah?" cecar Dion.
Daniel menjawabnya dengan senyum kecil.
"Kalian udah kenal sejak lama?" tanya Nathan.
Ponsel Daniel berbunyi, sebuah pesan Chatsapp dari Karen masuk.
📱Karen: Kok lama? Kamu lagi diinterogasi ya? Jangan bilang kalau kita dijodohin.
📱Daniel: Iya.
"Niel, jawab dong! Kamu sama dia udah kenal sejak lama?" ulang Nathan.
Daniel mengangguk. Dia sengaja mengaku begitu.
Dulu waktu dia SMA, aku tahu dia karena dia populer. Tapi kenal secara personal baru akhir-akhir ini. (Daniel).
"Jadi, waktu di nikahan Soni, aku ngenalin kalian itu ternyata kalian udah lama kenal? Kamu sengaja bikin aku kayak orang bego?" kata Nathan sembari mencengkeram kerah baju Daniel.
"Hey, Bro, tenang. Temen kita akhirnya mau nikah lho ini," kata Dion.
"Oh iya, heheh sorry. Selamat ya, Niel," Nathan menjabat tangan Daniel, tapi kemudian meremas dengan kuat. "Tapi kamu masih utang penjelasan sama kami!"
"Udah, Than. Nanti kita adain bachelor party buat dia, biar dia cerita panjang lebar."
"Bachelor party?" Daniel terkaget.
"Ya, kenapa? Harus mau!" Nathan memaksa.
"Tapi ...."
"Aku tahu apa yang kamu takutin. Alkohol sama stripper, kan?" tebak Dion.
Daniel mengangguk.
"Nggak pake gituan lhah, masak mau minum-minum sama maksiat? Malu dong!"
"Oh, oke. Bye." Daniel langsung pergi meninggalkan Nathan dan Dion.
To be continued...
Jogja, April 27th 2021
__ADS_1