
"Tenang, Mbak Seli. Namanya juga takdir."
"Bentar ya, Jeng, saya mau ngobrol sebentar sama Dokter Dion."
Mami Seli menarik Dion dan berbicara secara privat.
Mau diapain gue. (Dion).
"Dok, kapan hari itu udah disampaikan ke Daniel belum pesen saya?"
"Udah Tante."
"Coba gimana ngomongnya?"
"Pokoknya saya bilang jaga frekuensi, jangan sering-sering, begitu Tante."
"Frekuensi apa? Jangan pakai bahasa kiasan lho."
"Oh iya, aduh maaf, Tante." Dion menepuk dahinya. "Tapi begini Tante, penyebabnya kan belum tentu itu. Banyak faktor lain misalnya banyak pikiran, kecapekan, salah makan, atau bisa juga karena konsumsi obat tertentu."
"Kalau karena keseringan 'itu', bisa nggak?"
"Ya, ehm, bisa banget sih."
"Nah!"
"Tapi nganu, itu tadi Tan, belum tentu. Ya kan? Ya kan?"
"Lain kali kalau ngomong sama Daniel harus pakai bahasa literal biar dia ngerti. Jangan nggak enak-nggak enakan."
Dion sedikit merengut.
Lha situ emaknya sendiri aja kagak berani ngomong blak-blakan, malah nyuruh gue. Gimana sih? (Dion).
"Gimana, Dok? Bisa kan?"
"Ahahah ya ya Tante, nanti saya bilang."
Kenapa gue sih? Kenapa nggak Nathan aja? (Dion).
(author: yang dokter kandungan kan elu)
Dion dan Mami Seli bergabung kembali dengan Mama Puri dan Kendrik.
"Bu Puri, Tante Seli dan Kendrik, jangan masuk dulu. Karen butuh waktu untuk nenangin diri. Biar sama Daniel aja. Lagian nanti sore boleh pulang kok."
"Oh, nggak kuretase, Dok?" tanya Mama Puri.
"Enggak Bu, nggak selalu harus kuretase. Dan kondisi Karen nggak perlu kuretase. Nanti sebelum pulang, saya USG ulang untuk memastikan keadaan rahimnya."
Mereka pun menunggu di kursi tunggu.
Di dalam kamar bangsal, Karen duduk bersandar di hospital bed masih dengan air mata mengucur dari kedua sudut matanya. Daniel duduk di kursi sembari memegang tangan Karen.
Sejujurnya aku kesel banget sama Mama dan Mami. Dateng-dateng nyalahin. Aku aja nggak ngerti kalau lagi hamil. Dan nggak mungkin aku ngomong langsung kalau aku kesel, mereka kan ibu aku semua. Ya udah, keluar deh air mataku yang sebening embun ini. (Karen).
Daniel bangkit dan duduk di samping Karen. Dia merangkul dan mengusap air mata istrinya. Bingung, tetap tak ada kata keluar dari mulut mereka berdua.
Setelah tangisnya mereda, Karen mencoba bicara.
"Maaf ya, Niel."
"Maaf?"
__ADS_1
Karen mengangguk.
"Kamu yang sakit, kenapa minta maaf?"
"Yah, karena aku nggak bisa jaga. Aku ceroboh sampai nggak tahu kalau hamil."
"Bukan salahmu."
"Oh iya, eh kerjaanku gimana? Tolong handphoneku, Niel."
"Aku udah titip pesen lewat Soni."
"Jadi, pegawai-pegawaiku udah tahu aku masuk rumah sakit?!"
Daniel mengangguk.
"Dan nggak ada yang ke sini? Awas aja mereka kalau nggak ke sini aku bakal ... hmmmppphhh."
Daniel menutup mulut Karen dengan tangannya. "Ssshhh ... siang mereka ke sini."
Setelah Karen tidak jadi mengomel, Daniel melepaskan tangannya.
"Ehm, kamu sedih, Niel?"
Aku harus jawab apa? Kalau aku jawab iya, kamu semakin merasa bersalah. Kalau aku jawab enggak, aku kayak ayah nggak bermoral aja. (Daniel).
Karena bingung, Daniel mengangguk sangat pelan dan samar. Namun tetap saja mata Karen menangkapnya.
Kedua sudut mata itu kembali mengeluarkan air beningnya. Daniel mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan kembali memeluk istrinya.
"Jangan protes kalau aku nangis terus. Tadinya, aku biasa aja. Bentuknya juga masih darah. Tapi lama-lama sedih. Kehilangan anak ternyata nggak segampang itu."
I knew I loved before I met you (Savage Garden).
"Iya. Kamu boleh menangis sampai lega."
~
Sore hari menjelang pulang ke rumah, Dion memeriksa keadaan Karen. Dia mengarahkan transduser USG ke perut Karen.
Dion mengangguk-angguk. "Abortus komplit, janinnya keluar sempurna, setelah ini kira-kira 2 mingguan kamu akan pendarahan ringan. Seperti haid. Kalau lebih dari 2 minggu, langsung ke rumah sakit. Oke?"
"Iya, Dok."
"Terus, setelah itu belum boleh hamil dulu selama 2 atau tiga bulan."
Mumpung mereka lagi berdua dan emang lagi sesi konsultasi medis, langsung aku kasih tahu aja. Karen pasti ngerti lah. (Karen).
Akhirnya, Dion menyampaikan tentang frekuensi berhubungan kepada Karen dan Daniel. Mereka berdua mengangguk-angguk mengerti.
"Oh iya, ada tambahan lagi. Nanti setelah 2 bulan dan udah nggak pakai kontrasepsi, Karen harus memperhatikan siklus haid. Kalau terlambat langsung dicek siapa tahu udah isi, makanan harus diperhatikan. Obat juga nggak boleh sembarangan. Dan sangat dilarang minum jamu."
~
Malam hari
Beberapa orang menjenguk Karen. Mereka adalah keluarga Daniel, keluarga Karen dan pegawai-pegawai Karen di kantor.
Pukul 8 malam, sebagian dari mereka pun pulang termasuk keluarga inti. Karen meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa. Dia memang sudah tidak merasakan sakit lagi, tinggal menunggu pendarahan kecil selesai.
Tersisa 3 orang kepercayaan Karen di kantor: Inda, Citra dan Anggoro. Mereka berbisik-bisik seperti ragu akan mengatakan sesuatu.
Mereka tidak sadar Karen sedang memperhatikan dari belakang.
__ADS_1
"Hey hey," kata Karen sembari menjentikkan jarinya dua kali. "Apaan bisik-bisik?"
"Kamu aja yang ngomong, Cit," kata Inda.
Citra menggeleng. Anggoro juga enggan.
"Stop! Cat Woman, Citra, Mas Ang, kalau kalian bingung siapa yang ngomong, biar aku yang nunjuk." Tangan Karen siap menunjuk. "Bang bang tut akar kolang kaling, siapa yang kentut ditembak raja maling. Nah, kamu Mas Ang. Ayo cepet ngomong, kamu kan tahu bos Black Widow-mu ini nggak sabaran."
Daniel melihat istrinya itu sembari menutup matanya dengan tangan. Ingin tertawa, tapi itu istrinya. Bagaimana tidak geli, istrinya yang nyentrik, senang tampil modis tapi anti branded, berambut merah, suka ceplas ceplos memanggil orang dengan panggilan-panggilan aneh, bisa-bisanya memiliki karyawan yang juga sama sablengnya. Terutama Anggoro yang lemah gemulai.
"Aku ehm, mending nggak ngomong aja deh, Bos." Dia mengeluarkan sebuah kertas. "Periksa aja komputer ini, ini, ini dan ini. Aku takut kalau ngomong doang, Bos, lebih baik Bos lihat sendiri aja."
"Oke."
Mereka bertiga terdiam memandangi Karen yang sedang membaca catatannya.
"Kok malah pada melototin aku?"
"Eh maap, Bos. Pamit deh ya, bye Bos."
Daniel menutup pintu dan menghela napas berkali-kali.
Dia harus segera disuruh tidur. Kalau enggak, bisa-bisa dia minta ke kantor sekarang juga. (Daniel).
"Niel, anter aku ke kantor."
Nah kan. (Daniel).
"Udah malem. Kamu harus istirahat."
"Justru malem itu waktu yang tepat, pas banget lagi nggak ada orang di kantor. Dan lagi, kalau besok ... hmmmppphhh."
Daniel melahap habis bibir istrinya.
"Iya, aku antar. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Besok istirahat di rumah."
"Oke, deal."
Mereka segera ke kantor Karen.
~
Kantor Ren's Writer
Karen memasuki kantornya yang gelap gulita. Hanya lampu luar yang dihidupkan di malam hari.
"Niel, tolong hidupkan lampu di sebelah situ ya."
Setelah lampu dihidupkan, Karen memeriksa catatan yang diberikan Anggoro kepadanya.
Dia membuka komputer milik Haris. Dia memeriksa folder yang dicatat oleh Anggoro. Kemudian dia memeriksa history di browser. Terpampang dengan jelas di sana, Haris dengan aktif mengakses situs yang telah dia nyatakan terlarang untuk diterima ordernya.
Sebentar, aku harus fair. Kalau Haris bermain di situs ini, aku nggak peduli. Bukan urusanku. Misalnya dia nerima order artikel dari sana dan dia kerjakan sendiri, itu juga bukan urusanku. Yang penting kerjaan dia di sini kelar. (Karen).
Dia beralih ke komputer 3 penulis yang juga telah ditulis oleh Anggoro. Di 3 komputer itu, Karen juga menemukan history yang sama. Ditambah, dalam folder terdapat artikel yang mereka ketik dan semuanya untuk website Balljud yang pernah dia larang.
Karen menggebrak mejanya. "Brengsek!"
to be continued...
__ADS_1
Jogja, August 8th 2021