
Dengan kesal, Karen menyetir mobilnya. Meski sudah berlalu beberapa jam, nyatanya kekesalan Karen belum berkurang. Dia masih memikirkan si suami yang pendiam tapi tingkahnya membuat naik darah.
"Bos Black Widow," panggil Inda yang duduk di samping Karen.
"Hm ...."
"Bos!!!"
"Apa sih?"
"Belokannya kelewat, Bos! Halooo, aduh si Bos ngelamun aja dari tadi."
"Hah?" Karen buru-buru meminggirkan mobilnya. "Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, Cat Woman?"
Kok jadi aku? Si Bos ternyata belum berubah, padahal udah nikah. (Inda).
"Kirain Bos udah tahu belokan kalau ke mall, kan Bos sering ke mall itu."
"Ehm, aku udah lama nggak ke mall hehe."
Karen memutar balik mobilnya dan membelok di pertigaan yang tadi terlewat.
"Kenapa, Bos? Lagi ada pikiran? Kalau lagi kesulitan adaptasi di awal pernikahan itu biasa. Aku juga masih penyesuaian sama Soni. Waktu pacaran sama menikah beda 180 drajat."
Kamu adaptasi sama orang yang udah kenal dan berhubungan lama, kalau aku bener-bener sama orang baru. Udah gitu ngeselin pula orangnya. (Karen).
Karen hanya mengangguk.
"Jadi bener masalah adaptasi, Bos?"
"Ya ya ya, tentu. Emang beda ya laki-laki pas pacaran dan setelah menikah hehehem," kata Karen, canggung.
"Emang kalau dokter Daniel bedanya apa, Bos? Kan aku sama Citra dari dulu nggak pernah denger kisah pacaran Bos Black Widow sama dia."
"Itu anu, eh Citra lagi apa? Udah sembuh belum sakit perutnya?"
Kenapa si Bos ini kalau ditanyain masa pacaran sama dokter Daniel kok nggak pernah jawab? (Inda).
Karen selalu menghindari pembicaraan itu karena memang dia dan Daniel tidak pernah berpacaran. Dia selalu mengatakan bahwa dia dan Daniel telah lama berpacaran, tapi disembunyikan dari public.
Sampai di mall yang dituju, Karen dan Inda langsung menghambur untuk melihat-lihat barang khas wanita.
Di bagian pernak pernik, Inda melihat gelang couple berwarna hijau kemudian tertawa sendiri.
"Hahaha."
"Kenapa, Cat Woman? Kumat gendengnya ya?
Ketawa sendiri."
"Ini lho, Bos, temenku Lana sama dokter Nathan itu dulu sebelum menikah pernah pakai gelang couple kayak gini hihi, kayak anak SMP aja."
Hah, mending-mending mereka ngelakuin hal norak tapi saling suka. Aku? (Karen).
"Kalau sekarang udah umur segini dan udah nikah, masih pantes pake barang couple nggak, Bos? Gimana menurut Bos Black Widow?"
"Pantes-pantes aja tuh. Terutama kalau kondangan, pakai baju batik pasangan, atau pakai baju warna senada biar enak dilihat."
"Menurutku kalau kondangan pakai baju couple gitu bukan karena biar enak dilihat, tapi biar nggak ketuker pasangannya."
"Hahah, dasar Cat Woman."
Karen membeli satu set baju berwarna putih dan satu set baju berwarna hitam untuk dirinya sendiri. Dia benar-benar ingin menghibur dan membahagiakan diri.
Sedangkan Inda membeli kaos couple untuk dia dan suaminya.
"Nanti hari Minggu, aku sama Soni mau main ke pantai. Pakai kaos ini kayaknya lucu ya Bos?"
__ADS_1
"Hm ...."
"Bos juga beli deh biar tambah mesra sama dokter Daniel."
"Nggak!"
"Ikh, kok gitu sama suami sendiri?"
Duh, gawat. (Karen).
"Haha, maksudnya ehm Daniel itu nggak suka barang-barang couple."
"Tapi kan kalau dia cinta sama Bos, dia pasti mau pakai kalau Bos yang minta," kata Inda ringan, tidak sadar sedang membuat bosnya panas dingin.
Setelah berbicara ke sana ke mari panjang lebar, akhirnya keadaan memaksa Karen membeli kaos couple itu.
Gimana sih obrolan tadi kok sampai bikin aku kepaksa beli kaos laknat ini. Apa jangan-jangan si Cat Woman kerja partime di toko ini jadi marketing terselubung. (Karen).
Perut Karen pun berbunyi minta segera diisi. Tapi, Inda menolak makan bersamanya karena dia akan makan di rumah bersama suaminya nanti.
Karen pun membeli burger dan milkshake untuk dirinya sendiri.
"Kamu beneran nggak mau, Cat? Aku traktir lho, nggak perlu mikirin hemat."
"Enggak, Bos. Selain lagi berhemat, aku juga lagi program hamil. Jadi makannya nggak boleh junk food," jelasnya sembari meminum jus.
"Kamu pengen segera hamil?"
"Iya lah, Bos."
Emang umumnya begitu ya, setelah nikah pengen punya anak. Cuma aku aja yang belum pengen punya anak. Punya anak sama si Patung Anubis? Bisa-bisa lahir Patung Anubis cilik. (Karen).
Pukul 17.30 Inda sudah gelisah dan berkali-kali melihat jam tangan. Karen pun mengajaknya pulang.
***
Dia masuk dan mendapati Daniel sedang menonton TV sembari melihat jam tangannya. Wajahnya tetap datar meski hatinya agak kesal karena kelaparan dan karena Karen terlambat pulang.
"Ehem, udah makan, Niel?"
"Belum."
Daniel mengulurkan tangannya. Karen agak terkejut tapi segera menyadari kewajiban menjabat dan mencium tangan suami.
Shitt, masalah beginian nggak lupa. Jadul amat pake salaman segala. (Karen).
"Aku masak dulu."
"Hm ...."
Karen membawa 3 tas belanjaan ke kamar kemudian menuju dapur untuk memasak. Dia membuka kulkas dan melihat-lihat bahan yang ada.
Namun, dia tidak mengambil sayuran di sana, hanya mengambil se-sachet kornet. Dia memasak mie instan ditambah kornet goreng sebagai toppingnya. Setelah siap saji, dia memanggil Daniel agar menuju ruang makan.
Sejenak, Daniel memandangi makanan instan itu. Namun, tidak ada tanda-tanda dia marah. Padahal, dia tidak menyukai makanan instan jika tidak terpaksa sekali.
Dia menatap Karen yang hanya duduk di depannya, tidak ada makanan tersaji di hadapan Karen. Tatapannya seolah meminta penjelasan.
"Aku udah makan burger tadi di mall."
Daniel mengangguk samar, kemudian mulai memakan mie itu. Pandangannya fokus pada makanan membuat Karen semakin kesal.
Haih, ngapain aku ngomong? Emangnya dia tanya? (Karen).
Karen menatap tajam suaminya yang sedang lahap memakan mie di hadapannya itu.
"Ckckck, dasar Kudanil," kata Karen lirih sembari sedikit terhibur karena umpatannya sendiri.
__ADS_1
"Hm?!"
"Kudanil! Hahaha ...."
Apa? Dia panggil aku apa lagi? Kudanil? (Daniel).
Karen pun berdiri dan menuju kamar.
Sedari tadi, dia belum membersihkan diri dan belum mengganti baju kerjanya karena terburu-buru menyiapkan makan malam suaminya.
Dia pun mandi sembari bersenandung. Di antara segudang kejengkelannya pada rumah tangga barunya itu, ada sedikit hiburan.
"Pppfffttt, Kudanil. Mungkin nama lengkapnya Patung Anubis bin Kudanil." Dia meracau lirih sembari menggosok badannya dengan busa sabun.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Alangkah kagetnya, Daniel ternyata sudah di atas tempat tidur membaca komik.
"Aaarrrggghhh, Kudanil!"
Daniel juga terkejut mendapat pemandangan seperti itu.
Kenapa dia nggak pakai baju keluar dari kamar mandi? Dasar ceroboh! (Daniel).
"Tutup mata! Cepet!"
Daniel menutup mata dan wajah dengan komik.
Karen mengintip, memastikan Daniel menutup mata. Kemudian, dia berlari ke ruang baju dan menutup pintunya rapat-rapat. Dadanya berdegup kencang.
Kenapa bisa ada kejadian kayak gini? Kenapa nggak kepikiran bakal begini? Besok harus cari bathrobe! Bego banget aku, namanya aja hidup serumah dan tidur sekamar, pasti bakal ada kejadian begini kan? Bener-bener lolos dari planning. (Karen).
Setelah mengenakan pakaian tidur, Karen keluar dari closet dan duduk di tempat tidur. Daniel masih membaca komiknya.
"Kudanil!"
Daniel menengok.
"Kamu tadi lihat aku?"
Daniel menggeleng.
"Bohong! Kamu lihat, kan?"
Daniel menggeleng lagi.
Sebenernya kamu berharap aku lihat apa enggak sih? Kenapa dijawab 'enggak' malah ngamuk? (Daniel).
"Ikh, masih bohong. Kamu lihat kan tadi?" buru Karen sembari mencubit lengan Daniel.
"Aaarrrggghhh ...." Daniel pun mengangguk sangat pelan.
"Seberapa banyak kamu lihat?"
Seluruhnya lah, dari jarak yang pas ini mataku bisa menangkap figurmu sedari atas sampai bawah. (Daniel).
"Dikit," jawab Daniel.
"Oke, kalau cuma dikit, aku maafin."
Siapa juga yang minta maaf? Bukan salahku tuh! (Daniel).
To be continued...
Jogja, May 18th 2021
***
__ADS_1