Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
9. Jangan Terbuai Janji


__ADS_3


***


"Ma, si Koreng minta dicariin ART."


"Tuh, kalau nggak apa-apa, kenapa tiba-tiba minta dicariin ART? Menurut kamu, dia kenapa, Ken?"


"Dia bilang dia sedang agak ribut sama Tora."


Mama Puri menerima begitu saja jawaban itu. Sementara Kendrik belum sepenuhnya puas dengan jawaban kakaknya.


***


Kantor Ren's Writer


Beberapa hari Karen dan Tora belum saling menghubungi. Karen merasa ada yang hilang.


"Nda, menurut kamu kalau pacar kamu bikin kesalahan, maafin nggak? Atau putusin?"


"Maafin lah. Begini, Bos, kita itu manusia biasa pasti pernah bikin salah. Kalau setiap bikin salah terus putus, kapan berhentinya? Masak mau gonta ganti terus?"


"Kamu ahli banget sih Nda. Nggak salah aku pilih kamu jadi tangan kananku," kata Karen yang tercerahkan dengan pendapat bawahannya itu.


"Itu artinya ... naik gaji?" Inda sumringah berharap ada tambahan pundi-pundi uang.


Karen langsung merengut. "Heh, tunggu nanti waktunya ada sendiri kalau mau naik gaji!"


"Hish, kirain Bos Karen mau naikkin gaji."


"Gaji nggak bisa dinaikkin, yang bisa itu motor, mobil, bis, becak ...."


Inda sekarang yang cemberut.


Udah ngarep banget dinaikkin gajinya lho ini, Bos. Eh, ternyata enggak. Penonton kecewa. (Inda).


Yang kemarin itu bisa disebut kesalahan nggak? Tapi kok dia nggak hubungin aku buat minta maaf. (Karen).


Karen menimbang-nimbang untuk melupakan peristiwa dengan Tora waktu itu. Akhirnya perasaan mengalahkan logika. Dia menghubungi Tora lebih dulu melalui Chatsapp.


📱Karen: Tora ...


📱Tora: Iya, Ren?


📱Karen: Sibuk apa?


📱Tora: Nggak sibuk apa-apa kok, cuma persiapan yudisium sama wisuda.


📱Karen: Oh ...


📱Tora: Mau ketemu?


📱Karen: Boleh ...


📱Tora: Nanti sore aku ke rumahmu ya.


📱Karen: Oke.

__ADS_1


Perasaan Karen campur aduk antara senang dan takut. Dia gelisah. Dia pun menelpon Kendrik.


📞"Halo ... kenapa, Koreng?"


📞"Ehm ...."


📞"Kak Ren, ada apa?"


📞"Nggak apa-apa, Ken. Kangen aja. Ya udah ya, besok Minggu aku nginep rumah kok."



~


Sore hari Tora menepati janjinya untuk berkunjung ke rumah Karen. Dia terheran karena di depan rumah Karen sudah terpasang gazebo. Tidak lama, si pemilik rumah keluar dan mempersilahkan Tora duduk di gazebo.


"Aku nggak disuruh masuk?"


"Rumah lagi berantakan banget. Di sini aja!"


Mereka berbincang berbasa basi. Tapi tidak ada kata maaf keluar dari mulut Tora. "Ren, aku numpang ke toilet sebentar dong!"


Jantung Karen berdesir, entah kenapa. "Ehm, iya, masuk aja! Aku tunggu di sini."


Tora masuk ke dalam rumah dan menggunakan toilet. Lama dia tidak juga muncul, 30 menit hingga 1 jam Karen menunggu, tidak ada tanda-tanda lelaki itu keluar dari rumah.


Dengan sangat terpaksa Karen masuk dan didapatinya laki-laki yang pernah akan berbuat kurang ajar itu sedang menonton televisi. Karen tetap berdiri di dekat pintu dan menjaga pintu itu tetap terbuka.


"Tora, kok nggak keluar?"


Tapi aku kan masuk kamar kamu sekedar masuk aja, nggak ngapa-ngapain. Sedangkan kamu, kemarin aja tanganmu udah mulai lepas kontrol. (Karen).


"Kita di luar aja, Tor!" Karen bersikeras meminta Tora keluar.


Tora mendekati Karen kemudian malah menutup dan mengunci pintu.


"Jangan dikunci!"


Tiba-tiba laki-laki berusia 23 tahun itu menghimpit badan Karen ke tembok, kedua tangannya mencengkeram tangan Karen. "Kemarin aku maafin kamu, Ren. Sekarang nggak ada ampun!" Tora mulai mencium Karen dengan paksa.


"Hmmmppp ... berhenti! Berhenti! Tora!"


Tora berhenti sejenak. "Kenapa? Kamu kemarin bilang kita saling suka, kan? Kita mau nikah, kan?"


Tora melanjutkan aksinya. Karen tetap berusaha melawan. Tak lama, terdengar suara motor berhenti dan menggebrak-gebrak pintu rumah itu.


"Kak Ren! Kak Ren! Buka! Buka pintunya!" Suara Kendrik lantang berteriak dari luar.


Tora berhenti dan membekap mulut Karen dengan tangan. "Ssshhh ...." Dia memberi kode agar Karen tenang dan diam.


Setelah Karen mengangguk, laki-laki itu membebaskan bekapan dan cengkeramannya, kemudian membuka pintu. Kendrik dan Tora saling bertatapan tajam. Mereka bertiga sama sekali tidak bicara.


Kendrik masuk ke dalam rumah. "Aku mau bicara dengan kakakku, sangat penting! Masalah keluarga. Bisa minta tolong tinggalin kami?"


Tora mengangguk dan pergi.


Kendrik memandangi kakak perempuannya yang saat ini berwajah panik. "Kalian lagi apa tadi? Kenapa rambut Kakak kusut? Kenapa pintunya dikunci?"

__ADS_1


Sesaat Kendrik mengira Karen melakukan hal yang bukan-bukan dengan sukarela. Jika iya, dia akan memarahi kakaknya itu habis-habisan. Terpaksa atau pun sukarela, dua-duanya harus habis-habisan dicegah.


Karen tak kuasa menahan air mata. Pecah juga tangis itu. Dia ingin bercerita, tapi ragu dan malu pada adiknya sendiri. Kendrik pun memapah Karen untuk duduk di sofa. Dia menepuk bahu Karen, menenangkan kakaknya yang sedang menangis ketakutan itu.


Dengan melihat beberapa detail keadaan dan respon kakaknya saat ditanya, Kendrik sepertinya tahu apa yang terjadi. Apalagi Karen menangis, artinya dia tidak senang dengan perlakuan Tora.


Dasar baj*ngan, berani-beraninya mau kurang ajar sama kakakku. (Kendrik).


Setelah Karen tenang, Kendrik berbicara lugas. "Kak, selama kamu belum punya ART, kamu tinggal sama aku dan Mama! Aku kepala keluarga, kamu harus nurut kata-kataku! Habis ini, kemasi baju!"


Karen mengangguk. Biasanya dia akan marah jika diatur-atur, tapi kali ini dia justru bersyukur dan merasa aman bersama adik dan ibunya. "Ehm, Ken, jangan bilang-bilang sama Mama ya! Aku takut nanti Mama khawatir dan nggak ngijinin aku tinggal di rumah sendiri."


Kendrik mengangguk. "Nanti, kalau kamu udah siap, ceritain semua ke aku, Kak. Jangan dibiarin."


"Terus kamu mau apa?"


"Hahah, kamu khawatirin apa? Khawatir kalau aku hajar pacarmu itu?"


Karen mengangguk.


"Kamu masih khawatirin dia?!"


"Bukan khawatirin dia, tapi khawatir sama kamu, Ken. Aku takut kalau kamu ditangkap karena main kekerasan."


"Kak, yang perlu dikhawatirin itu kamu. Keamanan dan keselamatan kamu yang lebih penting. Tapi tenang aja, aku masih waras. Sementara ini, aku nggak bakal barbar."


Kendrik segera membantu Karen berkemas untuk pindah sementara ke rumah.


Ya Tuhan, terima kasih masih menyelamatkan aku. (Karen).


Karen terdiam dalam perjalanan. Dia sibuk memikirkan alasan apa yang akan dia katakan kepada ibunya.


Sampai di rumah, Mama Puri sudah menunggu.


"Aku nginep sini dulu ya, Ma! Kalau belum ada yang bantu-bantu, aku kewalahan ngurus rumah sendiri. Aku juga nggak berani di rumah sendiri."


"Iya, kamu boleh banget kok nginep di sini selama yang kamu mau. Rumahmu juga."


~


Malam hari saat Mama Puri sudah terlelap, Karen mendatangi Kendrik yang sedang menonton televisi.


"Ken, makasih tadi kamu datang tepat waktu."


"Perasaanku udah nggak enak sedari siang, Kak."


Sudah saatnya Karen mengklarifikasi kejadian tadi siang. Dia tahu adiknya berpikir negatif tentang dirinya. "Yang tadi siang itu sama sekali bukan mauku, Ken. Aku nggak pernah setuju sama hubungan semacam itu."


Kendrik mengangguk. "Aku tahu kok. Aku lega kalau kamu masih punya prinsip. Tadi, apa dia udah terlanjur ...?"


To be continued...


Jogja, April 9th 2021


***


__ADS_1


__ADS_2