Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
24. Simulasi Angin Kentut


__ADS_3

Aku benci Daniel, aku cinta Daniel. Ampun dah, susah amat pengen cinta sama orang. (Karen).


Tidak lama, mereka pergi dari restoran itu dan pulang. Di dalam mobil, Karen tetap tidak membuka mulutnya untuk berbicara.


Coba ya kalau aku diem aja, kamu bakal ngomong apa. (Karen).


Tetap saja mereka diam. Lama-lama Karen tidak tahan dengan sikap Daniel. Tangannya tidak berhenti merem4s-remas tasnya untuk melampiaskan kekesalan.


~


Mereka sampai di rumah Karen pukul 8 malam. Makan malam itu bagi Karen sangat membosankan dan hanya memakan waktu 1 jam. Sejam yang lain adalah untuk menempuh perjalanan. Total waktu yang mereka habiskan hanya 2 jam (sudah termasuk waktu tempuh pulang pergi).


Waktu tersebut termasuk sangat singkat. Pasangan-pasangan biasanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama hingga lupa waktu.


"Niel, kamu mau mampir dulu?" Karen terkejut dengan tawaran dari mulutnya sendiri. Sudah lama dia tidak menerima tamu laki-laki.


Aku hampir lupa hal penting ini. Kamu itu laki-laki seperti apa? (Karen).


"Kamu sendiri di rumah?"


"Iya, aku sendirian di rumah." Karen sengaja berbohong, padahal ada Bu Minah sang asisten rumah tangga.


Daniel menggeleng dan memilih pulang. Karen pun masuk ke dalam rumah.


Dia jelas bukan laki-laki seperti Tora. Tapi kenapa aku belum bisa cinta sama dia. Aku cinta wajah gantengnya, badan tingginya, tapi karakternya, NO WAY. Padahal itu yang paling penting. (Karen).


"AAARRRGGGHHH ...." Karen menjerit di dalam kamar.


Di ruang televisi, Bu Minah yang sedang beristirahat mendengar teriakan itu. Namun, dia tetap duduk tenang. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Majikan lagi kumat, biarin aja deh. (Bu Minah).


Karen tengkurap di atas tempat tidurnya dan memukul-mukul kasurnya sembari masih berteriak. Kakinya juga menghentak-hentak, frustasi.


"Kenapa, kenapa aku malah semakin benci sama Daniel. Aaarrrggghhh." Napasnya terengah-engah karena emosi. "Dia ganteng, dia dokter, dia bahkan bukan laki-laki brengsek kayak Tora, dia bahkan nolak masuk rumahku karena aku sendirian."


Dia memutar posisinya dan terlentang di atas tempat tidurnya.


Kalau aku mundur, nggak jadi nikah dong. Tapi aku sekarang malah benci sama Daniel, gimana mau nikah coba? (Karen).


Karen merasa sangat pusing memikirkan nasib perjodohannya dengan Daniel. Dia memejamkan mata sejenak. Tiba-tiba dia membuka mata dengan cepat. Sebuah ide hinggap di kepalanya.


Nikah kontrak! Itu solusinya. Aku nikah dengan Daniel ini cuma ngerubah status. Selama menikah, aku anggap aja Daniel itu nggak ada. Anggap aja kami ini cuma teman yang tinggal seatap, semacam anak kos gitu. Jadi, nggak perlu rasa cinta. (Karen).


Karen tersenyum sendiri telah mendapat ide brilian itu. Bahkan, dia tertawa terbahak-bahak dengan keras. "Buwahahaha ... hahaha ...."


Duh Gusti, majikanku tambah parah. Tadi teriak-teriak, sekarang ketawa-ketawa. (Bu Minah).


Dalam menjalankan kontrak menikahnya ini, dia perlu tahu apakah Daniel bisa menerima ini atau tidak. Dia menelpon Daniel. Itu adalah untuk yang pertama kalinya mereka berkomunikasi melalui ponsel.


📞"Halo, Niel, besok pas jam makan siang, kita makan siang bareng ya."


📞"Ehm, oke."


📞"Nanti aku chat tempatnya."


📞"Hm ...."


Karen pun memejamkan mata dan tidur lebih nyenyak daripada malam-malam sebelumnya.


***

__ADS_1


Hari berikutnya, menjelang makan siang.


"Cat Woman, aku mau makan di restoran Duncan Lucknut. Kamu mau nitip donat nggak?"


"Enggak, Bos Black Widow, aku mau ikut aja."


"Heh, nggak boleh. Ini privat."


"Ish, biasanya juga aku ikut Bos, kok nggak boleh sih?"


"Cat Woman, jangan kebanyakan protes!"


"Mam, yes Mam!"


"Nanti aku bawain donat."


Karen pun pergi ke restoran yang menyajikan roti berlubang di tengah itu. Sebuah roti yang meminta customer membayar mahal, tapi adonan bagian tengah tidak diberikan. Sungguh strategi bisnis yang jenius, adonn sisa bisa digunakan untuk yang lain.


Daniel sudah berada di sana.


"Hai, Niel," sapa Karen dengan sangat ceria seolah mendapat nyawa baru.


Mereka pun memesan dan mulai menyantap makanan. Karen mengeluarkan ponselnya untuk menonton film. Dia juga menggunakan earphone untuk mendengarkan audionya. Dia benar-benar mempraktikkan simulasi 'menganggap Daniel tidak ada'.


Eh, aku mau tanya sesuatu sama Daniel. (Karen).


Dia melepaskan earphone-nya dan menyusun kata-kata dalam otaknya.


"Ehm, Niel, kamu tahu nikah kontrak kayak di novel-novel itu? Menurut kamu gimana?"


"Nggak wajar," jawab Daniel, singkat.


Sialan, ada kemungkinan dia nggak mau nikah kalau aku pakai kontrak di awal. (Karen).


Daniel menggeleng.


Karen terus memutar otak, bagaimana caranya agar Daniel mau menikah secara kontrak dengannya.


"Niel, misalnya kita nikah, aku punya permintaan khusus. Kamu mau kabulin?"


"Apa?"


"Aku bakal bilang nanti setelah kita nikah."


Permintaan Karen ini sungguh tidak begitu masuk akal bagi Daniel. Dia diminta mengabulkan, tapi isi permintaannya saja dia tidak tahu. Daniel terlihat menimbang-nimbang. Dia takut permintaan Karen tidak wajar dan sulit dikabulkan. Namun, Daniel teringat ibunya yang sudah ingin putranya menikah. Akhirnya Daniel menyetujui.


"Baik, asal permintaannya wajar," kata Daniel.


"Tenang aja, aku bikin sewajar mungkin kok. Tapi kamu janji kabulin ya, janji ya."


Daniel mengangguk.


Tiba-tiba kedatangan asisten Karen mengangetkan calon suami istri yang sedang makan siang itu. Inda lari tergopoh-gopoh ke arah Karen tanpa melihat orang yang sedang makan bersama sang bos.


"Bos Black Widow, huh hah," panggil Inda sembari terengah-engah.


Apa? Black Widow? (Daniel).


"Sssttt ...." Wajah Karen memerah.


Inda kemudian menyadari bahwa bosnya sedang berkencan dengan seseorang yang dikenalnya. "Lhoh, Dokter Daniel, kan? Hai Dok. Bos sama Dokter lagi kenc-"

__ADS_1


Karen buru-buru memotong. "Sssttt, iya iya. Sekarang, jelasin kenapa kamu ke sini gangguin orang lagi makan. Kan udah aku bilang, nanti aku bawain."


"Begini Bos Black Widow ...."


"Ssshhh ssshhh ...."


"Ohohoh, maaf, maksudnya Bos Karen, ini client dari Gansan Tech minta MOU-nya ditandatangani sekarang soalnya orangnya udah mau balik ke Surbaya."


"Kan bisa dikirim via pos, nggak harus sekarang. Pake tanda tangan elektronik juga bisa."


"Akh si Bos ni kayak nggak tahu kadang ada client unik bin aneh alias ribet, pokoknya mau sekarang. Orangnya nunggu di kantor lho. Dia naik kereta nanti jam 14.30, buruan tanda tangan, Bos."


Inda mengeluarkan berkas MOU dari dalam tas.


Karen segera menandatanganinya.


"Nih, udah sana pergi!"


"Iya Bos, tenang aja aku nggak ganggu kencan Bos sama dokter heheh. Bye Dokter, jagain bosku yang kurang waras ini ya!"


"Asisten kampretos!" umpat Karen lirih.


Karen malu setengah mati di hadapan Daniel. Dokter itu pun terlihat sedikit ternganga.


Haduh, dia ilfil ya? (Karen).


Ternyata kamu sangat akrab dengan bawahanmu. Aku juga baru paham kenapa kamu warnain rambutmu jadi merah. Black Widow ya? (Daniel).


"Pppfffttt ...." Daniel sedikit tertawa dengan mulut tetap tertutup.


Brengsek, ngetawain aku ya? Huh, awas kamu. (Karen).


Daniel memandangi piringnya, masih dengan tawa yang ditahan.


Tunggu, ini pertama kalinya kamu tertawa. (Karen).


"Kamu ngetawain aku, Niel?"


Daniel menatap Karen. "Maaf."


"Kamu ngetawain bagian yang mana, biar aku jelasin. Black Widow? Begini ya, apa salahnya orang mengidolakan superhero? Itu kan tokoh protagonist, pahlawan."


"Pppfffttt ...." Daniel kembali tertawa dalam diamnya membuat wajah Karen tambah merah. Daniel melihat jam tangannya.


"Ya udah sana balik ke rumah sakit, udah jam 12.45," kata Karen, menyerobot seluruh dialog Daniel.


Itu kan dialogku. (Daniel).


Daniel mengangguk. Dia berdiri kemudian meninggalkan restoran Duncan Lucknut itu. Karen masih di mejanya dengan kesal.


Lucknut, kenapa malah aku yang dipermalukan begini? Hari ini harusnya aku simulasi nganggep orang itu nggak ada bagai angin kentut. Tenang Karen, jangan kesel gara-gara dia ngetawain aku, anggap dia itu nggak ada. (Karen).


To be continued...


Jogja, April 24th 2021


***


hai readers, mohon dukungannya untuk karyaku ini. berikan like, komen, gift dan vote ya. terimakasih.


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


find me on YouTube: Tita Dewahasta


__ADS_2