Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
28. Bangkit Dan Berjuang (+Pengumuman)


__ADS_3

Tidak lama, Kendrik datang menggunakan motor. Dia memiliki banyak revisi pada skripsi sehingga harus pulang malam dari kampus.


"Hai, Ken," sapa Daniel.


Buset, sama Kendrik dia bahkan nyapa duluan. Aku bener-bener dikecualikan ya? (Karen).


"Hai, Kak Daniel." Kendrik membalas.


Melihat Daniel dan Kendrik yang terlihat akrab, hinggap rasa iri di hati Karen. Mengapa calon suaminya itu bisa bersikap baik terhadap keluarganya, tapi kepadanya tidak.


Setelah tadi berjibaku untuk tersenyum dan menganggap Daniel hanya angin perut, akhirnya dia kesal juga. Dia pun masuk ke dalam tanpa berpamitan, meninggalkan Kendrik dan Daniel.


"Pulang malem?" tanya Daniel.


"Iya, Kak, skripsi. Minggu ini banyak yang harus direvisi. Pengen segera lulus."


Daniel mengangguk dan tersenyum.


"Kok, Kak Ren langsung masuk? Kalian lagi berantem?"


Daniel menggeleng.


"Maklumin ya, kakakku emang kadang-kadang kayak anak kecil. Tapi dia baik kok. Ehm, boleh tanya sesuatu?"


"Silahkan."


"Apa Kak Daniel sayang sama Kak Ren?"


Pertanyaan ini belum pernah ditanyakan. Sebelum ini aku hanya selalu ditanya tentang kesediaan menikah dengan Karen. (Daniel).


Daniel terdiam.


Akh, mereka dijodohkan. Mungkin aja belum ada cinta. Tapi yang penting mereka saling tertarik kan? (Kendrik).


"Maaf, aku ganti pertanyaannya. Apa Kak Daniel akan menjaga Kak Ren dengan sebaik-baiknya?"


Daniel mengangguk dengan senyum di tulus terkembang di bibirnya.


Melihat respon itu, Kendrik merasa sedikit lega. "Aku adiknya Kak Ren. Tapi posisiku sekarang menggantikan papa. Jadi maaf banget kalau aku tanya pertanyaan kayak gini. Aku cuma mau memastikan kakakku nanti bersama dengan orang yang tepat dan bisa bahagia."


"Ya. Aku ngerti kok. Aku akan jaga kakakmu."


Setelah pembicaraan serius itu, mereka pun mengobrol tentang banyak hal. Namun, meski Kendrik dan Daniel mulai akrab, tetaplah Kendrik yang lebih banyak bicara.


Mami Seli dan Mama Puri pun mengakhiri pembicaraan mereka. Mami Seli dan Daniel berpamitan.


***


Setelah Daniel dan ibunya pergi, Kendrik masuk ke dalam rumah.


"Nginep di sini, Kak?"


"Iya. Selama persiapan nikah ini, aku bakal sering di sini deh biar bisa bareng Mama kalau pergi."


Kendrik tersenyum sangat manis. "Selamat ya, Kak."


Karen membalas dengan anggukan dan senyuman seiring Kendrik berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah seharian berkutat dengan dosen pembimbing dan revisi skripsinya. Dia menelpon Monica.


πŸ“ž"Lagi apa, Mon?"


πŸ“ž"Lagi belajar aja, Ken, besok bimbingan skripsi. Kamu?"


πŸ“ž"Aku baru pulang, tadi ngerjain skripsi juga. Ehm, Sabtu malam kamu ada acara? Mau makan di restoran baru di deket kampus?"


Kendrik melihat kakaknya yang telah memiliki peluang besar untuk bahagia, kini dia ingin memikirkan dirinya dengan Monica.


πŸ“ž"Ehm, maaf banget, aku udah ada janji."


Tidak biasanya Monica pergi di malam Minggu. Biasanya mereka jalan bersama.


πŸ“ž"Janjian sama siapa?"


πŸ“ž"Sama Sheo."


πŸ“ž"Oh. Apa kamu pacaran sama dia?"


Beberapa detik Monica terdiam mendengar pertanyaan itu.


πŸ“ž"Iya."


Kendrik menutup telponnya. Rasa sesak hinggap di dada. Seseorang yang dia sayangi sekian lama telah menjadi milik orang lain. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah menjadi konsekuensi dari pilihan yang dia buat untuk menanti kakaknya menikah dulu baru memikirkan diri sendiri.


Karen mengetuk kamar Kendrik dan masuk. "Kenapa, Ken? Kok lesu?"


"Lagi banyak revisi skripsi, Kak."


"Hufh, ngomong aja terus terang, Ken. Skripsi nggak pernah bikin mukamu kayak gitu. Bukan cuma kamu aja yang punya feeling kuat tentang aku, aku juga punya feeling tentang kamu meski nggak setajam kamu sih."


"Hahahah, nggak terhitung. Umurku jauh di atas kamu. Aku udah kenyang makan pengalaman patah hati."


"Terus, sembuhnya?"


"Itu cuma masalah waktu aja. Kayak kita waktu kehilangan papa. Pertama kita shock, menangis tanpa henti, sesak di dada. Tapi sekarang, kita udah bisa menjalani hari dengan biasa."


Kendrik mengangguk-angguk.


"Kamu inget 2 tahun lalu, aku nangis di belakang rektorat waktu patah hati sama Tora? Nyatanya sekarang aku udah nggak kepikiran dia sama sekali. Awalnya berat, tapi yah, jalani aja."


"Sesakit ini, Kak."


"Iya, Ken. Dan aku udah ngalamin berkali-kali. Tapi kamu lihat kan, meski berkali-kali, aku nggak kapok. Nanti kalau udah sembuh, cari cinta yang baru. Oh iya, kamu juga sekarang bisa fokus sama skripsi kamu."


"Kamu datang ke sidang skripsiku, kan?"


"Ya datang lah! Sidang skripsinya si brengsek aja aku datengin, masak sidang adekku sendiri malah nggak datang?"


"Pas sidang nanti, udah tambah Kak Daniel jadi anggota keluarga."


"Tapi kalau dia sih nggak janji bisa datang ya, dia kerja di rumah sakit orang, bukan rumah sakit miliknya sendiri."


Kendrik terhibur sendiri mengingat pembicaraannya dengan Daniel tadi. Selain pembicaraan serius tentang pernikahan dan kebahagiaan, mereka juga mengobrol tentang persoalan receh. Dia semakin menyukai Daniel.


Sedangkan kakaknya sendiri justru semakin membenci calon suaminya.

__ADS_1


"Aku akan fokus skripsi biar cepet lulus dan kerja gantiin kamu jadi tulang punggung keluarga."


"Aku bukan tulang punggung kali, Ken. Aku cuma bantu mama. Paling utama kan tetep mama yang membiayai semuanya sebelum beliau pensiun. Untung mama kerja ya, kalau enggak, gimana nasib kita waktu ditinggal papa."


Pengalaman pahit Karen dan Kendrik kehilangan sosok ayah pada masa sekolahnya membuat mereka setuju bahwa wanita pun harus bekerja. Apa pun pekerjaannya, yang penting memiliki penghasilan yang halal.


"Kak, kita udah lama nggak ribut ya?"


"Hahah, kamu kangen ribut sama aku?"


"Nantinya kalau kamu udah nikah, pasti kamu lebih milih ribut dan seru-seruan sama Kak Daniel. Posisiku tergeser deh."


Ken, andai kamu tahu aku nggak sepenuh hati jalanin pernikahan ini. Ribut dan seru-seruan sama Daniel itu mustahil banget. Udah berkali-kali jalan sama Daniel tetep aja dia kayak tembok. (Karen).


"Aku sama Daniel bakal tinggal seatap, itu aja yang beda. Selebihnya nggak akan ada yang beda. Kita berdua tetep bakal ketemu dan seru-seruan."


"Ya tetap beda, Kak. Nanti kalau kamu hamil dan punya anak, kamu pasti sibuk ngurus si kecil. Tapi nggak apa-apa sih, aku bakal seneng jadi om. Nanti aku ajak dia main."


Hah? Anak? Aku malah nggak kepikiran sampai ke sana. Aku sibuk mikirin pesta sampai lupa tentang itu. Tapi kayaknya mama dan tante Seli nyantai aja soal anak, nggak perlu panik. (Karen).


"Perkara anak itu rahasia Tuhan, Ken. Belum tentu kami langsung dikaruniai anak. Jadi, jangan berharap lebih ya. Takut mengecewakan."


Kendrik mengangguk.


"Ken, I love you. Apa pun yang terjadi, aku sama mama selalu dukung kamu. Segera bangkit ya!"


"I love you too. Makasih ya kakakku," kata Kendrik sembari menggenggam tangan kakaknya.


Karen keluar dan kembali ke kamarnya. Sementara Kendrik berusaha memejamkan mata. Namun, belum genap 10 menit terpejam, mata itu terbuka dengan semangatnya. Tubuhnya juga langsung tegak terduduk.


Revisi skripsi, semangat! Cepat lulus! Jangan mikirin Monica terus. (Kendrik).


To be continued...


Jogja, April 30th 2021


***


PENGUMUMAN


Halo readers tercinta sebelumnya mohon maaf saya membuat pengumuman di akhir bab ini karena jika dibuat tersendiri nantinya merusak nomer yang ada di sistem dan bikin eike bingung tralalaπŸ˜‚.


Ada beberapa hal yang eike sampaikan kepada para readers (entah ada atau tidak ada, pokoknya eike percaya diri bahwa ada yang baca novelku ini - ngototπŸ˜‚)


Novel ini alurnya akan eike bawa slow tidak terburu-buru seperti novel sebelumnya Jiwa Jiwa Yang Suci. Jadi, episodenya akan sedikit lebih panjang. Eike usahakan up tiap hari.


Tapi eh tapi, author juga bekerja sebagai entertainer (penyanyi) yang sometimes marathon dan full di venue, kadang ada hari yang skip, mohon dimaklumi ya. (Iya, authornya merangkap jadi penyanyiπŸŽ€πŸŽ™οΈ, yang penasaran sama suara kaleng rombeng eike bisa check di youtube Tita Dewahasta yawww., berikanlah sumbangan view kamu buat eike yang fakir viewers ini πŸ˜­πŸ˜‚)


Kemudian, konflik dalam novel ini ringan-ringan aja, bukan yang penuh trik jahat-jahat gitu. Keadaan ekonomi para tokoh juga sebisa mungkin biasa aja (bukan selevel crazy rich yang bisa beli pulau pribadi πŸ˜‚πŸ˜­πŸ˜₯).


Konflik utama di novel ini adalah perjalanan cinta Karen dan Daniel yang nantinya saling cinta. (iya, nanti mereka akan saling cinta seperti di novel perjodohan yg lain yg ujungnya cinta juga. tapi, percayalah, proses dan perjalanan cinta tiap novel itu berbeda2 dan itulah sisi menariknya.)


Ada juga side conflicts tapi tetep centernya adalah Karen dan Daniel.


Sebisa mungkin eike menyuguhkan konflik yang wajar (ya tetep ada aneh-anehnya dikit kayak author yang sedeng bin konslet iniπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚).


Oh iya, untuk para readers yang belum baca novel sebelumnya, silahkan dibaca ya, judulnya "Jiwa Jiwa Yang Suci" yang menceritakan perjalanan kisah cinta Nathan dan Lana (temennya Daniel).

__ADS_1


Sekiman, eh sekian😍😍😍


__ADS_2