Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
32. Kontrak Pernikahan


__ADS_3

Karen menyantap makanan dengan emosi. Di depannya, laki-laki yang baru saja dinikahi tidak melihatnya sama sekali.


Dentingan sendok, garpu dan piring tak henti berbunyi. Karen sangat kesal hingga lupa bahwa misinya adalah hidup dengan mengabaikan Daniel.


Kenapa aku marah? Kayaknya sisi lain diriku masih berharap Daniel bisa peduli sama aku. Jangan harap, Karen! Lihat sendiri dengan mata kepala gimana sikap orang di depanmu ini. (Karen).


Setelah semuanya selesai sarapan, mereka menikmati fasilitas hotel sebelum nanti check out tepat pukul 12 siang.


Karen memilih berenang, Daniel mengikutinya. Walau bagaimana pun dia berusaha menjadi suami yang baik mendampingi istri.


Karen berganti pakaian renang yang sudah dia bawa dari rumah. Saat dia keluar dari kamar mandi, Daniel memelototi baju renang yang bagian bawahnya di atas lutut itu.


Daniel terlihat tidak suka. "Ada yang lain?"


"Emang kenapa? Ini udah termasuk sopan lho, yang lain pakai bikini."


Daniel menggeleng. "Ganti!"


Astaga, ribet banget tuh orang. Padahal ini juga tertutup. (Karen).


"Aku nggak punya yang lain, Niel."


Daniel mengangguk, "Sewa!"


Akhirnya Karen menyewa baju renang dari hotel. Daniel memilihkan baju renang untuknya yang berlengan panjang. Bagian kaki tertutup hingga ke bawah, lebih mirip baju diving.


Daniel sendiri menggunakan baju renang yang tertutup. Namun, tetap saja bagian perutnya terlihat berlekuk membuat Karen menelan ludahnya.


Andai kamu itu nggak ketus, udah aku makan kamu, Niel. Hih, kenapa sih orang ngeselin malah punya body dan tampang sempurna gitu? (Karen).


"Bisa renang?" tanya Daniel.


"Bisa lah," jawab Karen, singkat dan agak ketus.


Mendengar konfirmasi bahwa Karen bisa berenang, Daniel berpindah ke kolam yang dalam dan meninggalkan Karen sendiri.


Kampret! Dia tanya karena mau renang di kolam dalam sendiri ternyata. Kirain perhatian mau ngajak renang bareng. (Karen).


Mereka pun berenang sendiri-sendiri di kolam terpisah. Karen berusaha menetralkan perasaan kesalnya.


***


Berenang ternyata membuat pikiran Karen segar kembali. Mereka pun berkemas dan check out dari hotel.

__ADS_1


Karen dan Daniel langsung pulang ke rumah Daniel. Mereka akan tinggal di sana.


Baju-baju Karen telah diantarkan Mama Puri dan Kendrik ke rumah Daniel. Mereka membereskan baju Karen dibantu oleh Bu Minah.


Tanpa banyak bicara, pasangan yang baru menikah itu memasuki rumah Daniel kemudian memasuki kamar yang bernuansa merah. Desainnya sangat unik, tapi rapi.


Keadaan rumahnya ini sangat kontras dengan yang dikatakan Daniel tempo hari saat tidak mengijinkan Karen mampir dengan alasan rumah berantakan.


Setiap Karen memegang furniture di rumah itu, tangannya merasakan bahwa permukaan barang-barang di rumah itu tanpa debu dan kotoran sedikit pun.


Di kamar, banyak sekali terpajang miniatur dan souvenir superhero Ironman dari berbagai ukuran. Dari yang bisa digenggam dengan tangan hingga yang sebesar anjing golden.


Untunglah tidak ada yang seukuran manusia. Karen pasti akan ketakutan jika ada.


Di kamar yang cukup luas itu sudah tersedia kamar mandi di sisi kiri, di tengah terdapat cermin dan closet (kamar pakaian) berada di sebelah kanan.


Ranjangnya unik karena berbentuk melingkar. Karen mengedarkan pandangan dengan takjub yang disembunyikan.


Daniel ke dapur untuk makan siang.


Buset, bener-bener dingin orang itu. Bahkan aku nggak ditawarin makan. (Karen).


Dari pada kelaparan menunggu ditawari makan, Karen menyusul dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dia makan sambil memandangi Daniel yang berkonsentrasi penuh pada makanannya.


"Ehem, Daniel, habis makan, aku mau ngomong."


Daniel mendongakkan kepala, memandang Karen kemudian memgangguk. Bahkan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut Daniel.


Usai makan siang, mereka berpindah ke ruang televisi. Karen menganggap ini buang-buang uang sebenarnya karena di kamar juga ada televisi.


Karen menyodorkan kertas yang berisi perjanjian pernikahan kepada Daniel. "Ini perjanjian kita selama menikah."


"Perjanjian? Kalau prenup udah terlambat, kita udah resmi nikah."


"Bukan, ini perjanjian personal antara kita berdua aja. Ingat, kamu dulu janji mau ngabulin permintaanku kan kalau udah nikah? Nah, permintaanku adalah perjanjian ini."


Daniel berpikir ini tidak masuk akal. Namun, dia tetap harus meladeni keinginan istrinya itu. Karen membaca dengan keras dan memperjelas maksud perjanjiannya satu persatu.


"Yang pertama, kita tidak usah membahas perasaan masing-masing. Kita sama-sama tahu kalau pernikahan ini karena perjodohan. Aku udah tahu kamu nggak suka sama aku, dan aku nggak suka sama kamu. Jadi dari pada membuang waktu dan bisa aja saling menyakiti, lebih baik nggak usah diomongin. Aku kasih tahu ya, aku nggak pernah ditolak cowok, jadi kalau kamu nggak suka sama aku, simpen aja di hati."


Nggak pernah ditolak? Tapi kenapa kamu nggak bisa cari jodoh sendiri? Aneh. (Daniel).


"Yang kedua, pernikahan jadi-jadian ini berlaku satu tahun masa percobaan. Jika nggak ada kecocokan, kita pisah baik-baik dan tidak saling menyulitkan proses perceraian."

__ADS_1


Jadi-jadian? Jadi dia nganggep ini pernikahan bohongan? (Daniel).


Daniel marah dalam hatinya. Dia menganggap pernikahan ini sangat sakral meski karena perjodohan. Sedangkan istrinya ternyata tidak menganggap serius pernikahan ini.


"Yang ketiga, jangan pernah bilang ke orang jika kita ini dijodohkan. Itu untuk menjaga nama kamu mau pun namaku."


Bagi Karen, perjodohan itu sesuatu yang kurang keren. Baginya, dia tampak seperti orang yang tidak mampu mencari pasangannya sendiri.


Padahal, memang begitu kenyataannya. 2 tahun ini sebelum menikah dengan Daniel, dia memang tidak menemukan satu pun laki-laki yang cocok.


"Keempat, kita boleh memiliki hubungan dengan orang lain di luar sana asal masih dalam batas wajar. Jadi, kita tetap boleh punya pacar asal tidak melampaui batas."


"Itu yang mau aku tanyakan," kata Daniel sembari melototi kertas itu. "Kenapa begitu? Lalu buat apa menikah kalau masih berhubungan dengan orang lain."


"Begini, pernikahan ini kan hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Kalau kita nggak saling cocok, kita boleh menjalin hubungan dengan orang lain, biar nanti kalau masa perjanjian ini habis dan kita cerai, sudah ada orang yang menunggu."


"Kenapa musti nunggu setahun? Langsung cerai aja kalau udah punya hubungan dengan orang lain."


"Akh ya nggak bisa gitu. Pernikahan di bawah satu tahun itu mau dibilang apa sama orang-orang?"


"Oke!" Dengan raut wajah datar, Daniel meletakkan kertas perjanjian itu dan menerawang. "Aku juga punya permintaan."


"Oke, asal itu masuk akal. Kamu tulis aja biar sama-sama kita tandatangani."


Daniel tidak menjawab dan langsung masuk ke kamarnya. Dia membuka laptop miliknya dan berpikir apa yang akan dia ketik di sana.


Setelah mantap dengan tulisannya, dia mencetak dan membawanya ke ruang televisi. Karen menerima kertas itu yang bertuliskan hanya satu kalimat.


'Menjalankan kewajiban dan hak suami-istri sebagaimana mestinya'.


"Ini, gimana maksudnya?" Karen bukan tidak mengerti tetapi dia heran kenapa permintaan Daniel begitu.


Apa Daniel menganggap pernikahan ini serius dan menjadi satu-satunya pernikahan dalam hidupnya?


To be continued...


Jogja, May 6th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta


find me on YouTube: Tita Dewahasta

__ADS_1


__ADS_2