
"Oh, ehm, iya juga ya." Karen pasrah karena Daniel memang benar. Dia masih takjub dengan kata-kata Daniel yang baru saja terlontar.
Ternyata dia juga bisa ngomong sepanjang itu. Ya iya lah, dia dokter. Pasti dia kasih penjelasan ke pasien juga, kan? (Karen).
Daniel membuka album foto di tangannya. Isinya adalah foto liburan sekeluarga. Foto itu nampaknya belum lama diambil. Penampilan Karen sudah sedewasa sekarang, Kendrik juga. Hanya saja rambutnya masih hitam.
Ternyata kamu memang lebih cocok berambut merah. (Daniel).
Selesai melihat album yang pertama, Daniel meletakkannya ke tempat semula dan mengambil album yang lain. Album itu berisi kegiatan Karen semasa SMA. Di halaman pertama terpajang foto Karen yang sedang menjadi cheerleader. Daniel tidak terlalu asing dengan kepopuleran Karen saat SMA.
Meski saat itu dia sedang kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran, tapi dia mendengar rumor tentang si gadis cheerleader yang berprestasi itu. Dia sering masuk majalah lokal. Tidak pernah mengira bahwa mantan siswi populer itu berada di sampingnya.
Dia membuka halaman berikutnya. Di sana terdapat gambar Karen yang sedang menerima penghargaan yang diberikan oleh kepala sekolahnya dalam upacara. Karen turut melihat foto yang sedang dilihat oleh Daniel dengan panik. Karena pada halaman ketiga, ada fotonya bersama sang mantan kekasih sewaktu SMA.
Foto itu sebenarnya bukan foto pribadi mereka berdua. Waktu itu, tim basket dan tim cheerleader berfoto bersama seusai bertanding. Karen dan mantan kekasihnya berdiri bersebelahan. Daniel pun membuka halaman ketiga. Karen menelan ludah dengan susah payah.
Dia nggak bakal tahu kalau itu mantan pacarku kan? Itu kan foto beramai-ramai. Jadi, tenang tenang tenang. (Karen).
Daniel mengenali wajah itu. Laki-laki di samping Karen adalah Haris, mantan kekasih Karen, yang juga adalah kerabat Daniel. Dia ingat saat dulu foto tersebut diterbitkan di majalah lokal, kerabatnya menunjukkan dan membanggakan kepada semua orang.
Dia mengamati foto itu dan menerawang jauh ke masa-masa majalah itu terbit. Tertulis juga di artikel yang menyertai bahwa Karen dan Haris berpacaran.
Oh, mereka si dreamy couple. (Daniel).
Karena terlalu lama Daniel memandangi foto itu, Karen semakin panik. "Kok nggak dibuka ke halaman berikutnya, Niel?"
Mendengar itu, Daniel malah menutup album foto itu dan mengembalikan ke tempatnya.
"Niel, kamu mau tanya sesuatu soal aku?"
Iya. Kamu dulu pacaran dengan Haris sampai menjadi pasangan impian, kenapa sekarang mau dijodohkan dengan aku? Sekitar 2 tahun yang lalu kamu ke rumah sakit bersama laki-laki, kenapa kamu malah mau menikah dengan aku? Kenapa nggak nikah dengan dia aja? (Daniel).
Daniel menggeleng.
"Kamu nggak penasaran dengan calon istrimu?" Karen agak naik pitam.
Jika dilihat dari luar, Daniel sepertinya sama sekali tidak bersemangat menjalani perjodohan ini dan hanya seperti robot yang menaati peraturan atasannya.
"Ehm, kenapa kamu mau dijodohkan dengan aku?" Akhirnya Daniel membuka suara. Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan Karen saat makan siang kemarin.
"Karena, mungkin udah garisnya begitu."
__ADS_1
Daniel mengangguk. "Oke."
Dia nerima jawaban nggak bermutu kayak gitu? Ikh. Sabar Karen, sabar. (Karen).
Dia menenangkan diri agar tidak marah-marah. Dia juga mengumpulkan kembali kekuatan pura-pura bahagianya karena dia sedang berada di rumah orang tuanya, tidak ingin membuat ibunya khawatir. Dia harus menelan pil pahit melihat calon suami yang sangat tidak peduli apa pun tentang dirinya.
Mungkin, dokter itu juga tidak begitu peduli spesies apa yang akan dinikahi. Yang penting adalah menuruti keinginan keluarganya untuk menikah. Begitu pikir Karen.
Tidak lama, makan malam sudah siap. Mama Puri memanggil semua untuk bergabung di meja makan. Karen menyiapkan acting termutakhirnya.
"Ayok Niel, kita makan," ajak Karen dengan cara bicara seceria mungkin.
"Ya."
Ya, ya, ya. Kayak lagi interview aja. (Karen).
"Sini, Niel, duduk dekat aku!" kata Karen sambil menyiapkan tempat duduk untuk Daniel di dekatnya.
Daniel menatap Karen keheranan. Saat di ruang tamu, Karen tidak seantusias ini. Sekarang, sikapnya sangat manis.
"Nak Daniel, Tante belum tahu makanan kesukaan kamu jadi Tante masakin kesukaannya Karen. Semur ayam."
Daniel mengangguk sambil tersenyum.
Hati Karen kesal tetapi wajahnya dipakaa tersenyum. Dia juga dengan semangat mengambilkan lauk dan minum untuk Daniel. Dia mengambilkan 3 potong ayam sekaligus ke atas piring Daniel. "Ini ya Niel, dihabiskan biar sehat dan kuat."
Kuat kayak batu, hahaha. Kamu nggak mau makan sebanyak ini, kan? Kalau mau protes, ayo ngomong sama aku! (Karen).
"Eh, kok banyak amat ngambilin ayamnya, nanti Daniel kekenyangan lho." Mama Puri menyingkirkan 2 ayam di piring Daniel.
"Buat aku sini, Ma!" kata Kendrik.
Karen tambah kesal karena tidak hanya ibunya, adiknya pun menyelamatkan Daniel malam itu. Akhirnya Karen menyerah dan menghentikan keinginannya menjahili Daniel. Kendrik dan Mama Puri terlihat bersemangat. Hal itu sangat membuat Karen heran.
Apa sih yang bikin mereka suka sama manusia batu ini? Apa cuma aku yang kesel sama dia. Bikin naik darah. (Karen).
Setelah mereka selesai makan, Daniel bersiap untuk pulang. Kendrik, Karen dan Mama Puri mengantarkannya sampai di pintu depan.
Dengan semangat Karen mengucapkan salam perpisahan. "Hati-hati ya Niel, bye," ucap Karen.
Daniel hanya sedikit menarik bibirnya untuk tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Salam buat Mbak Seli ya, Nak Daniel," kata Mama Puri.
"Iya, Tante," jawab Daniel.
"Kapan-kapan ke sini lagi ya, Kak Niel."
"Iya, Ken."
Luar biasa, dia jawab semua orang kecuali aku. (Karen).
Mobil Daniel pun berlalu.
"Kamu sama dia cocok banget, Ren. Dia anaknya baik," puji Mama Puri.
"Iya, Ma. Aku juga sukak banget-banget sama dia," kata Karen, sarkas.
Dia mungkin bisa mengelabuhi Mama Puri, tapi segala kepura-puraan itu tidak lolos dari mata sang adik. Kendrik menariknya ke ruang televisi, sementara Mama Puri ke dapur untuk membereskan bekas makan mereka.
"Apa sih, Ken?! Aku mau bantu Mama beres-beres meja makan," protes Karen.
"Senyum palsumu itu nggak bisa disembunyiin dari aku, Koreng! Ayo ngomong!"
"Ehm, aku, aku lagi usaha biar ...." Karen ragu untuk memberitahu adiknya. "Aku takut kalau nanti aku jadi istri yang kurang sempurna."
"Itu sih udah pasti."
"Adik kampret!"
"Kak," kata Ken sembari mengarahkan wajah Karen kepadanya. "Aku yakin Kak Daniel orang baik dan pantes untuk Kakak." Kemudian dia berlalu pergi ke kamarnya.
Nasihat kamu itu misterius dan dramatis, udah gitu nyelonong pergi pula. Hah. Daniel kelihatannya emang orang baik, tapi kita kan nggak tahu aslinya gimana. Buktinya dia kejam sama aku, cuekkin aku melulu. Belum jadi cinta, udah patah hati duluan. (Karen).
To be continued...
Jogja, April 21st 2021 (9 Ramadhan)
***
hai readers, mohon dukungannya untuk karyaku ini ya. berikan like, gift dan vote. terimakasih
find me on Instagram: @titadewahasta
__ADS_1
find me on YouTube: Tita Dewahasta