
"Kamu kerja di mana sekarang, Ren?"
"Aku buka usaha sendiri, agensi artikel SEO."
Pimpinan perusahaan artikel SEO dengan seorang dokter? Terlalu jauh dunianya. Biasanya dokter menikah dengan perawat, petugas dinkes, sesama dokter, atau dokter wanita dengan prajurit negara. (Haris).
Meski pikiran Haris mengkotakkan jenis pekerjaan dengan peluang profesi pasangan, di lapangan, semua teori itu patah oleh takdir. Jika memang takdirnya, apa pun profesinya bisa saja jadi pasangan.
"Aku penasaran, kamu sama Daniel kenalnya di mana? Soalnya di keluargaku nggak pernah ada slentingan Daniel pacaran atau tunangan. Tiba-tiba aja 2 minggu yang lalu ada undangan nikahan."
Shitt, dia kayaknya ngerti situasiku. (Karen).
"Ceritanya panjang."
"Persingkat dong!"
Di tengah mereka ngobrol, minuman pesanan Haris datang. Dia memesan jenis minuman yang sama dengan milik Karen.
"Ehm, kami sebenarnya udah lama kenal. Tapi kami cuma berteman. Terus ya nikah. Kamu tahu kan tren masa kini, nikah dengan teman," kata Karen sembari menenggak mojito-nya.
Haris juga meneguk minumannya. "Ya, aku cuma penasaran. Tapi ya udah kalau kamu nggak mau cerita. Fyuh, jadi inget jaman SMA."
"Jaman SMA udah lewat lama, Bung. Nggak usah diungkit-ungkit!"
"Hahaha, panik ya. Tenang, aku nggak ngungkit soal kita kok. Kita inget temen-temen kita yang konyol aja. Kamu inget si Macan yang dulu preman sekolah? Masak sekarang jadi isilop?"
"Hahaha, kok bisa sih berandal begitu jadi isilop?"
"Bisa lah, asal ada ...." Haris menjentikkan jarinya. "Tahu, kan? Apa sih yang nggak bisa dibeli dengan kertas kecil printing bolak balik itu?"
"Terus, ehm ... Yura. Kamu tahu gimana kabarnya?"
Haris tersenyum penuh kemenangan. " Dia hancur sehancur-hancurnya hahahah ...."
"Buwahahaha ...." Karen tertawa lepas, tapi beberapa detik kemudian terdiam. "Kenapa kita ngetawain kesengsaraan orang sih? Jahat kita ini."
"Akh, dia dulu jahatin kamu sampai kamu malu di depan kelas, bikin kamu nangis, bikin kamu sempet drop nggak berani masuk sekolah segala. Menurutku, keadaan dia sekarang ini sepadan."
"Dan dulu kamu ngelabrak dia, wow you were my hero, tepuk tangan," kata Karen sembari bertepuk tangan.
"Hahah, siapa yang terima pacarnya di-bully begitu."
Tiba-tiba Daniel datang dan bergabung bersama mereka. Sedari 5 menit yang lalu Daniel sudah memperhatikan mereka dari jauh. Melihat mereka mengobrol asyik sembari tertawa-tawa, Daniel penasaran. Dia pun mendekat.
Saat Daniel duduk di tengah candaan, Haris dan Karen langsung terdiam.
Kenapa aku berasa hina dan nista begini, kayak pasangan selingkuh tertangkap basah. (Karen).
"Niel, aku nggak sengaja ketemu istrimu di sini tadi," ucap Haris mencoba memecah kekakuan sekaligus melepaskan semua tuduhan yang mungkin akan ditujukan kepadanya.
Daniel mengangguk khas karakternya yang tidak banyak bicara.
__ADS_1
Karena suasana menjadi tambah tidak nyaman, Haris pun pergi untuk kembali ke kamarnya.
Tinggal Daniel yang memandangi Karen dengan ekspresi datar. Kemudian dia seperti mengendus-endus bau di sekitar meja.
"Kamu minum alkohol?" tanya Daniel.
"Enggak, aku minum virgin mojito, nggak pake alkohol."
Daniel mengambil gelas Karen, menghirup bau dari minuman itu, dan mencicipinya sembari matanya tajam memandang Karen. Memang tidak mengandung alkohol sama sekali.
Kemudian dia mengambil gelas bekas minum Haris dan menghirup aromanya. Ya, milik Haris mojito dengan racikan asli memakai rum.
Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Niel, kamu tahu nggak sih kalau Haris itu mantan pacarku?"
Daniel mengangguk.
"Jadi kamu udah tahu? Kenapa nggak kasih tahu aku?"
"Agar?"
"Paling enggak, aku bisa persiapkan mental kalau ketemu dia."
Mental yang kayak gimana? Kalian lama nggak ketemu aja langsung ngobrol akrab begitu. (Daniel).
"Maaf."
"Terus, kamu tahu dari mana kalau Haris itu mantanku? Nggak mungkin dari Mama, kan? Tadi Mama juga kaget lihat Haris datang."
"Majalah? Majalah apa ... oh, majalah lama? Dari mana kamu punya majalah lama?"
Daniel menggeleng. "Dulu, ibunya nunjukkin ke seluruh keluarga."
"Hah? Jadi seluruh keluargamu tahu kalau kami dulu pacaran?"
Daniel menggeleng.
"Terus? Jelasin dong jangan cuma geleng-geleng doang."
"Aku dan Mami aja yang ingat karena lihat foto di album waktu kita fitting baju pernikahan."
Karen serta merta berdiri, langsung meninggalkan Daniel di meja itu. Dia masuk ke kamar hotel kemudian merebahkan diri di atas ranjang. Entah kenapa dia kesal Daniel tidak memberitahu tentang Haris kepadanya.
Kok aku kesel ya? Apa aku nyesel nikahnya sama Daniel bukan sama Haris? Kalau dia kasih tahu lebih awal, mungkin aku bisa minta kontak Haris, bisa balikkan dan bahkan mungkin aja nikahnya sama Haris. (Karen).
Daniel memasuki kamar, Karen berdiri dan hendak pergi lagi.
"Ke mana lagi?"
"Aku ke lobby, duduk-duduk di sana."
__ADS_1
Daniel hendak mengikutinya.
"Stop, Niel, kamu istirahat aja! Jangan ngikut aku!"
Ekspresi kesal Karen berhasil menghentikan Daniel. Dia pun tidur karena badannya sudah kelelahan.
Karen duduk di sofa yang berada di lobby hotel, masih kesal. Beberapa saat dia berada di sana.
Meski kesel, tapi kayaknya balikkan sama Haris juga nggak bener deh. Udah lah. Jam berapa ini, Daniel udah tidur belum ya? (Karen).
Jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Karen melihat Chatsapp Daniel yang ternyata sudah tidak online sejak tadi. Kemungkinan Daniel sudah tidur. Dan memang Daniel tidur sedari mereka sampai di kamar tadi.
Karen memasuki kamar dan melihat suaminya sudah terlelap. Dia lega. Kemudian dia pun tidur di sofa yang ada di kamar itu.
Besok pagi, aku harus bangun lebih pagi dari dia. Jangan sampai ketahuan aku tidur di sofa. (Karen).
***
Keesokan harinya, jam 7 pagi Karen baru saja bangun dari tidur malam. Sedangkan Daniel sudah tidak berada di kamar hotel.
Sialan, dia duluan yang bangun. Eh, dia ke mana ya? (Karen).
Dia segera membersihkan diri dan keluar mencari Daniel. Dia menuju lounge dan lobby, tapi suaminya tidak ada di sana.
Kemudian dia masuk ke resto hotel. Daniel bersama Mami Seli, Papi Danu, Stella, Mama Puri dan Kendrik sedang sarapan.
Brengsek, semua udah kumpul kecuali aku. Sengaja nggak bangunin aku ya? Mau balas dendam karena semalam aku tinggal ke lounge? (Karen).
"Karen, udah bangun? Sini makan, kata Daniel kamu tidurnya nyenyak banget, nggak tega mau bangunin," kata Mama Puri.
Karen mengangguk.
Nggak tega? Cih! Sok perhatian. (Karen).
Karen memandang Daniel dengan tajam penuh dendam.
"Sini, Nak Karen! Emang pesta pernikahan selalu melelahkan, ye kan? Apalagi buat mempelai wanitanya hehe, iya kan Jeng Puri." Mami Seli bergurau dengan candaan dewasa membuat Karen melotot.
Mama Puri malah menanggapinya dengan candaan juga hingga mereka berdua mengobrol berbisik-bisik asik sambil tertawa-tawa.
Karen malu sendiri seolah semalam sudah melakukan dosa besar. Padahal dia semalam pergi ke lounge dan mengobrol bersama Haris (yang mana tidak kalah memalukannya karena terasa seperti pasangan selingkuh ke-gep suami sendiri).
Karen pun duduk tepat di depan Daniel. Suami barunya itu tampak sangat menikmati makan dan tidak memperdulikan dirinya yang datang.
Bangkee! Dilihat aja enggak. Curiga deh, jangan-jangan bola matanya emang nggak bisa diputer buat ngelihat aku! (Karen).
To be continued...
Jogja, May 5rd 2021
***
__ADS_1
find me on Instagram @titadewahasta
find me on YouTube Tita Dewahasta