
"Untuk menstimulasi agar dia bisa bicara dengan Anda, ajak bicara terus menerus. Tanyakan hal yang butuh jawaban panjang. Tanyakan kesukaannya. Oh iya, Anda juga dapat menggunakan hal negatif untuk membuatnya bereaksi."
"Hal negatif seperti apa?"
"Hal negatif itu seperti kedekatan Anda dengan laki-laki lain tapi itu akan memicu konflik jadi cari yang lebih simple, misalnya mengagumi aktor tampan. Intinya, cemburu tidak selamanya buruk, kadang bisa juga membantu. Kemudian, tunjukkan kalau Anda kesulitan mengerjakan sesuatu, minta dia membantu."
Karen mengangguk.
Ingatan Karen kembali ke masa kecilnya bersama Kendrik. Mereka seperti anjing dan kucing jika di rumah, setiap hari ribut dan tidak pernah akur.
Tapi jika ada anak lain yang berani mengganggu Kendrik, dia akan menjadi malaikat penjaga yang paling setia untuk adiknya.
Gangguan dari anak lain itu yang mungkin dimaksud oleh dokter itu, begitu dalam pikiran Karen.
Mereka mengakhiri konsultasi hari itu.
Karen keluar dari sana kemudian mengajak Daniel pulang ke rumah.
~
Dalam perjalanan, Karen terdiam. Cintanya untuk Daniel memang tidak diragukan lagi. Akan tetapi, untuk memimpin perjuangan itu, Karen merasa sedikit berat.
Di luar sana, banyak pasangan yang kesulitan bersatu. Namun, kedua pihak saling memperjuangkan sehingga seberat apa pun akan terasa indah pada akhirnya.
Sedangkan Karen, dia merasa harus berjuang sendiri.
Sesampainya di rumah, mereka berdua dikejutkan oleh mobil Mami Seli yang sudah terparkir di sana. Karen dan Daniel saling menatap.
Mami masih marah apa udah reda ya? Seharusnya kalau udah ganti hari udah reda kan marahnya? (Karen).
Mereka memasuki rumah. Papi Danu sedang menonton TV saat Karen dan Daniel masuk.
"Oh, Niel, Ren." Papi Danu berdiri dan mendekati Karen dan Daniel. "Mami tadi malam marah. Tadi habis dari rumah sakit dan kantor Karen, kalian nggak ada jadi kami ke sini. Sekarang Mami di kamar kalian, dari tadi belum keluar."
Mereka berdua memasuki kamar.
Mami Seli sedang memegang kontrak pernikahan antara Karen dan Daniel dengan raut wajah yang mengerikan. Daniel yang meletakkan kontrak itu di atas meja tempo hari.
Namun, karena di hari terakhir expo Karen pergi, pikiran Daniel terpusat pada pencarian Karen dan melupakan bahwa kontrak itu masih tergeletak di sana.
"Kalian!"
"Ma-mami, kami bisa jelasin Mi."
"Nggak usah dijelasin Mami juga bisa baca! Kalian pikir menikah itu main-main? Pantas aja kalian nggak berlaku seperti suami istri yang lain."
Mereka diam, tidak berani berbicara melihat ke arah Mami. Mami benar-benar geram, tampak dari gerak tubuhnya yang bahkan bergetar saat menyiapkan kalimat berikutnya.
"Mami tahu kalian dijodohkan, tapi kan perjodohan ini nggak dipaksakan! Kalau memang kalian nggak saling suka, kalian boleh nolak kok. Kenapa malah mengambil jalan sulit begini?"
"Mami ...." Karen berusaha bicara.
"Ditambah lagi berita bohong kehamilan kamu!"
"I-itu ...."
"Diam!"
Mami Seli mengatur napas untuk meredakan emosi dan menentukan hukuman apa untuk mereka berdua.
"Mulai hari ini, Daniel sementara tinggal di rumah Mami Papi," kata Mami, masih dengan suara bergetar.
"Tapi aku nggak mau, Mi," kata Daniel sembari menahan sakit di dadanya. Meski tidak berbicara kepada Karen, dia tetap akan merasakan sakit jika menyadari keberadaan Karen di sekitarnya.
"Kalian ini, udah bikin kesalahan sebesar ini masih bisa membantah! Pokoknya, Mami mau Daniel ikut Mami Papi pulang. Kerja dari sana dan pulang ke sana sementara waktu. Mami tunggu di mobil." Mami beranjak hendak keluar dari kamar. "Kalau kamu sampai nggak ikut Mami, kamu boleh berhenti jadi anak Mami."
Mami langsung pergi dari sana dan menunggu di mobil.
Tinggallah Daniel dan Karen di kamar. Mereka hanya terdiam, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
__ADS_1
"Niel, kamu ikut aja. Mami marah banget," kata Karen sembari menunduk.
Daniel mengangguk dan menyiapkan pakaian.
Diamnya Karen sepulang dari psikiater menandakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Meski tak saling bicara, Daniel mengerti. Lebih tepatnya, dia kembali merasa rendah diri dengan keadaannya dan pasrah.
Dokter itu keluar dari closet membawa koper pakaian. Karen masih duduk sembari menunduk di atas tempat tidur. Daniel pergi dari sana.
~
Dalam perjalanan ke rumah Mami Papi
"Niel, semalam sebenernya Mami udah reda marahnya. Mami mikir-mikir semalaman suntuk, apa mungkin Karen sangat ingin hamil sampai bikin berita bohong itu. Mami jadi kasihan dan pagi ini rencananya Mami mau ketemu kalian buat kasih motivasi. Ternyata malah Mami nemuin hal yang lebih besar. Mami nggak tahu harus ngomong apa lagi." Mami mengelus dadanya.
"Itu salah paham ...."
"Salah paham gimana? Mami baca semuanya dan kalian berdua tanda tangan!"
Katanya nggak tahu musti ngomong apa lagi, tapi masih ngomong terus dari tadi. (Papi Danu).
"Apa bener kalian bakal cerai kalau udah setahun pernikahan?"
Sebenarnya, Daniel merasa pernikahannya bukan pernikahan kontrak lagi. Apa lagi setelah saling menyatakan cinta dengan istrinya.
Namun, sepulang dari psikiater, dia ragu lagi. Dia tidak meragukan dirinya karena dia jelas-jelas mencintai istrinya.
Dia meragukan Karen.
"Aku juga nggak tahu, Mi."
Mami menghela napas. "Ini sudah bulan ke tiga. Tiga setengah malahan, sebentar lagi bulan keempat. Kalau memang kalian nggak saling cinta, ya sudah nggak usah saling menyiksa diri. Nggak usah nunggu setahun. Kalau mau pisah, pisah aja secepatnya."
"Kami saling cinta, Mi, tapi awalnya memang ...."
"Udah udah, lain kali aja kamu jelasin. Mami udah cukup banyak nerima berita mengejutkan sejak semalam. Jadi cukup dulu, otak Mami panas rasanya."
***
Haris sengaja tidak segera ke studio, dia menunggu Karen datang ke kantor terlebih dahulu.
Karen datang ke kantor pukul 8 lebih. Dia memasuki ruangannya diikuti Haris.
"Kamu udah berhenti jadi karyawan rajin? Kemarin jam segini kamu udah di studio," kata Karen.
"Takut lihat liveshow orang lagi ciuman aja makanya aku ke kantor dulu mastiin kamu udah di sini."
Karen menatap Haris dan menaikkan 1 alisnya.
"Ngomong-ngomong, aku terlalu meremehkan Daniel selama ini. Ternyata laki-laki nerd itu jago nggombal ya sampai-sampai kamu bisa maafin perselingkuhannya."
Daniel itu bahkan harus minum obat untuk bisa ngomong sama aku, bisa-bisanya orang ini bilang dia jago nggombal. (Karen).
"Itu semua salah paham, Ris, dia nggak selingkuh."
"Oh ya? Dia bilang apa? Apa dia bilang itu bukan dia dan cuma mirip doang? Kamu percaya?"
"Itu emang dia. Tapi dia masuk ke kamar hotel itu untuk ...." Tiba-tiba Karen terhenti.
Itu kelemahan suamiku, ngapain aku umbar di depan dia. (Karen).
"Untuk?" Haris mengejar.
"Untuk ngobrol sama teman barunya dari Surbaya. Ada kok videonya dia di kamar itu, rame-rame."
Haris mengangguk dengan raut wajah kesalnya.
Inda masuk ke ruangan Karen. Haris pun pergi dari sana tanpa berpamitan.
"Dari mana, Cat?"
__ADS_1
"Dari minimarket sebelah, Bos Black, nih beli mie cup buat sarapan. Bos mau nggak? Aku beli 3."
"Boleh."
Inda menghidupkan dispenser di ruangan itu.
"Eh Bos, naik apa ke sini? Kok mobilnya nggak kelihatan?"
"Naik bus."
"Apa? Bos Ren's Writer naik angkutan umum!"
"Kenapa emangnya? Dosa?"
"Bukannya dosa sih Bos."
Inda hanya membayangkan betapa mencoloknya penampilan bosnya yang nyentrik, berambut merah, bermake up dan berkacamata hitam berada di antara para penumpang bus lain yang rata-rata pelajar dan pegawai kantor.
"Mobilku masih dibawa Kendrik. Di rumah adanya mobil Daniel yang manual. Aku nggak bisa nyetir mobil manual."
"Oh. Kok nggak naik taksi online, Bos?"
"Nggak tahu tadi tiba-tiba pengen aja naik bus. Lagian naik bus cuma 5.000. Kalau naik taksi 25.000 sampai sini."
Buset lah bosku ini, pemilik perusahaan omsetnya jutaan, pelitnya minta ampun. (Inda).
"Kamu pasti ngebatin kalau aku pelit, ya?"
"Nggak tuh Bos, sok tahu deh."
"Itu bukan pelit ya, tapi money management. Dulu waktu aku ngerintis usaha, modalnya ya dari hasil berhemat."
Lampu LED di dispenser itu pun berganti warna menjadi hijau. Inda menuangkan air panas ke dalam 2 cup mie.
"Eh Cat, kamu dulu sama Soni penuh perjuangan nggak sih akhirnya bisa nikah gini?"
"Terus terang nggak begitu berat perjuangannya, termasuk lancar." Inda memberikan mie cup kepada bosnya.
"Beruntung kamu."
"Bisa dibilang beruntung. Tapi nggak juga sih. Kami kan sempet pacaran diam-diam. Kita hampir sama lho, Bos Black, kan Bos juga pacaran diam-diam sama Dokter Daniel."
"Kalian berdua, dua-duanya berjuang?"
Inda mengangguk sembari menyuapkan mienya. "Iya Bos. Terutama waktu mau nikah, banyak cobaan. Plus masalah finansial juga. Kami ngumpulin duit bareng buat resepsi. Rasanya berat, tapi nyenengin akhirnya bisa seatap bareng."
Karen memakan mienya sembari melihat kontak Chatsapp di ponselnya. Dia hendak mengirim pesan kepada Daniel, tapi urung.
to be continued...
Jogja, July 10th 2021
***
Hai readers, have a great day.
Ini author mau sedikit menjelaskan tentang selective mutism ya. Object yang membuat orang berpenyakit SM ini beda-beda. Untuk Daniel, dia mute jika berhadapan dengan orang yang dicintai. Ada juga yang mute ketika bertemu orang yang dibenci, atau just random people.
Ini ada contoh di dalam serial 'The Big Bang Theory' seorang ahli astrofisika bernama Rajesh Koothrappali memiliki penyakit ini. Penyebab mutenya adalah wanita. Jadi setiap bertemu wanita, dia diam.
(Serial ini komedi, jadi bawaannya ngakak terus😂)
yang penasaran bisa nonton di link youtube ini ya
Berikut ini juga adalah penggambaran orang dengan Selective Mutism dalam film pendek berjudul 'Stuck In Mute'. Kalau yang ini menyoroti kesulitan yang dihadapi oleh seorang yang mengidap Selective Mutism. Yang ingin menonton, scan link youtube ini ya. (author sih nangisðŸ˜ðŸ˜)
__ADS_1