Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
52. Daniel Ngambek


__ADS_3

"Kenapa, Kak Ren? Dua bulan ini kamu seneng, kan?" Kendrik meneruskan pertanyaannya.


Mendengar pertanyaan itu dada Karen terasa terhujam dalam-dalam. Berkali-kali dia juga bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia bahagia? Air mata tak mampu lagi terbendung di pipinya.


"Lho lho, kok malah nangis?" Kendrik mendekat dan mengusap bahu kakaknya.


Daniel mendengar dan menyaksikan Karen menangis saat dipertanyakan kebahagiaannya setelah menikah. Dia merasa muak melihatnya yang membuat dia segera pergi dari sana sebelum mendengar Karen bercerita tentang rumah tangga.


Kendrik menarik Karen untuk duduk di pinggir rumah mereka. "Nah, sekarang ceritain, Kak!"


"Jangan kasih tahu Mama!" Kalimat klasik mengunci mulut menjaga rahasia diucapkan Karen kepada Kendrik.


Kendrik mengangguk.


"Awalnya, waktu dijodohin, aku yakin bisa cinta sama Daniel. Tapi setelah beberapa kali ketemu, nggak ada chemistry. Terus aku maksain untuk tetep nikah sama dia karena usiaku semakin bertambah. Aku nggak mau terus-terusan denger nyinyiran orang. Rencananya, aku anggap ini sebagai batu loncatan dan aku mau cuekkin dia. Ternyata aku nggak bisa. Aku tetep pengen orang yang hidup sama aku itu peduli sedikit lah sama aku."


"Tunggu, 'batu loncatan'? Maksudnya kamu suatu saat bakal pisah sama Kak Daniel?"


Karen mengangguk.


"Astaga, Kak! Kamu nggak kasian sama dia? Apa dia tahu kalau suatu saat Kakak mau ninggalin dia?"


"Tahu, kami udah sepakat kok. Ditambah lagi, ternyata dia itu nggak seperti yang kamu lihat. Kamu mungkin mikir kalau dia itu pendiam, baik. Ternyata, dia itu kejam. Dulu dia pernah mukulin orang sampai dia dikeluarin dari sekolah. Dia dulu sekolah di SMA kita, dikeluarin, terus lanjutin ke SMA Vincitore."


"Apa?" pekik Kendrik, terkejut.


"Iya, Ken, kamu nggak salah denger."


Dalam penglihatan Kendrik, Daniel adalah orang yang baik meski tidak pandai bergaul. Dia juga tidak memiliki feeling yang buruk meski intuisinya tidak 100% benar. Sebelumnya, dia yakin Daniel orang yang tepat.


Namun, melihat kakaknya menyedihkan seperti ini membuat dia ragu akan feeling-nya sendiri. Dia berpikir kemungkinan intuisinya sudah tidak setajam dulu sehingga dia salah membaca karakter Daniel.


"Terus terang, Kak, dari semua orang yang berusaha kasih semangat aku untuk bikin proposal lagi, baru Kak Daniel yang benar-benar bisa bikin aku niat bangkit. Karena dia kasih solusi."


"Itu dia, Ken. Dia bisa se-cocok itu sama kamu. Tapi sama aku, dia seolah benci banget. Dia nggak pernah nyapa duluan. Dia nggak pernah ngobrol ringan sama aku. Nggak pernah pengen tahu aku ini gimana dan seperti apa. Mungkin dia cocok jadi saudara kamu atau bahkan sahabatmu, tapi sebagai suamiku, nggak tahu lah ...." Karen memegangi kepalanya.


Kendrik hanya bisa mengangguk karena dia tidak mengerti persoalan rumah tangga. "Ehm ... tentang dia yang katanya kejam. Selama 2 bulan ini, kamu pernah lihat sendiri atau ngalamin dipukul atau diapain sama dia?"


"Sama sekali nggak pernah. Kebanyakan dia diem dan nggak pernah marah."


"Apa mungkin dulu dia khilaf dan sekarang udah berubah? Orang kan bisa berubah, Kak."


Karen merenungi kemungkinan itu. Apa mungkin Daniel bukan bengal tetapi terpaksa karena membela diri? Akan tetapi pikiran itu masih saja dapat ditepis oleh fakta lain yaitu dikeluarkannya Daniel dari sekolah. Sekolah tidak akan main-main dalam mengeluarkan siswa.


Sementara ini, meski Karen memikirkan segala kemungkinan, hasilnya tetap sama bahwa Daniel dulunya adalah anak nakal dan kejam. Karen juga memikirkan kemungkinan lain yaitu kepribadian ganda atau mungkin juga psikopat.

__ADS_1


***


Di dalam kamar, Daniel merebahkan diri di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar itu. Dia terus mengingat ekspresi Karen saat ditanyai oleh Kendrik.


Ditambah, air mata istrinya yang menganak sungai membuatnya merasa sangat sedih, marah dan kesal bercampur menjadi satu.


Aku nggak pernah maksa kamu untuk nikah sama aku. Kalau kamu semenderita itu hidup sama aku, kenapa harus menunggu lama? Kamu bisa tinggalin aku kapan aja. (Daniel).


***


Karen dan Kendrik memasuki rumah dan bersiap untuk makan malam. Karen masuk ke dalam kamar untuk mengajak suaminya makan malam bersama yang lain.


"Kudanil, ayo makan!" ajaknya.


Daniel yang biasanya menjawab dengan anggukan atau bahasa non verbal lain, kali ini tidak menggubris Karen. Dia bahkan tidak melirik Karen sama sekali dan langsung pergi ke ruang makan.


"Daniel, makan yang banyak ya!" kata Mama Puri.


"Iya, Ma."


"Tenang, Ma! Daniel makannya banyak dan semua jenis makanan dia mau. Favorit dia pare, Ma. Besok-besok boleh lho Mama masakkin pare yang banyak," kata Karen sembari tersenyum menang.


Daniel tidak menanggapi omongan Karen sama sekali.


Daniel mendongak. "Enggak, Ma."


"Lhoh, Ren, untung belum Mama masakkin pare. Kamu ikh jahil," protes Mama Puri.


Karen memandangi Daniel yang sedari tadi melengos dan menghindari pandangannya. Tidak biasanya dokter itu menyanggah perkataan Karen. Biasanya dia hanya pasrah dan meng-iyakan apa pun yang dikatakan Karen apalagi di hadapan Mama Puri mau pun Mami Seli.


Setelah usai makan malam bersama, Daniel berpamitan untuk tidur lebih dulu. Karen segera menyusul.


"Kudanil, kamu kenapa? Kok cuek? Eh, maksudnya, kok lebih cuek dari biasanya?"


Daniel tidak menjawab dan memunggungi Karen.


Tidak habis akal, Karen menarik badan Daniel agar berhadapan dengannya. "Kamu marah sama aku?"


Daniel hanya memberikan tatapan dingin dan mengerutkan keningnya.


Iya, dia marah. Belum pernah dia bermuka jelek begini. Tapi kenapa? (Karen).


"Aku salah apa, Niel? Apa karena pare?"


Daniel membalikkan badan, kembali memunggungi Karen, membiarkan istrinya merasa bersalah dan penasaran.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, mereka pulang ke rumah.


Di rumah mereka sendiri pun begitu. Seharian Karen diabaikan oleh Daniel.


Ternyata, marahnya seorang pendiem itu begitu ya? Tambah diem. (Karen).


Pikiran Karen kembali berkecamuk mencocokkan sejarah Daniel dengan fakta yang dia lihat sekarang. Sangat tidak cocok antara kekejaman yang pernah dilakukan suaminya di masa lalu dengan kemarahannya di masa sekarang.


Kemarahan Daniel hanya diekspresikan dengan mengabaikan Karen, itu saja. Dia bahkan tidak menyentuh Karen sama sekali, sangat jauh dari kata kejam.


"Niel, aku salah apa? Apa karena kamu benci pare tapi aku ngomong sama mama kalau kamu suka?"


Daniel menengok dan menatap Karen.


Jadi, dia tahu kalau aku nggak suka pare? Kenapa dulu dia masakkin pare dan kemarin dia ngomong gitu ke mama? Forget it, bukan itu alasanku marah. (Daniel).


"Ups, ahahah, aku tahu kamu nggak suka pare, jadi aku ngerjain kamu gitu deh. Aku ngaku salah, maafin aku ya?"


Daniel bergeming, betah dalam mode patung.


"Ngomong dong, Niel! Minimal jawab 'ya', 'hm', 'nggak', ngangguk atau geleng-geleng kayak biasanya."


Karen baru menyadari bahwa bahkan kata-kata singkat yang sering Daniel lontarkan itu sangat berharga.


"Eh, Niel, musuhnya Tony Stark yang bisa numbuhin anggota badan yang kurang sempurna itu siapa namanya?"


"Aldrich Kill--" Hampir saja Daniel terpancing. Dengan cepat dia melengos.


"Aldrich Killian, ya?"


Daniel pun beranjak pergi agar tidak terpancing lagi.


***


Pada jam makan malam, Daniel belum juga muncul. Karen mencari-cari suaminya ke sekitar rumah, tapi nihil. Akhirnya dia makan malam sendiri.


Pada jam tidur malam, Daniel belum juga kembali. Bahkan bantal dan selimutnya tidak berada di atas tempat tidur. Karen menelpon berkali-kali, tapi tidak dijawab. Pesan di Chatsapp pun tidak dibaca.


Astaga, minggat ke mana tuh manusia jadi-jadian. Aneh juga, minggat kok sempet-sempetnya bawa bantal sama selimut. (Karen).


to be continued...


Jogja, June 11th 2021

__ADS_1


__ADS_2