Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
60. Daniel Pergi


__ADS_3

Waduh, Bos bakal ngamuk ini. (Inda).


"Aku denger semua, Cat Woman. Aku emang tukang ngamuk kok," kata Karen, masih dengan nada yang datar.


Inda dan Citra berpandangan.


"Bos kenapa? Kok nggak ada semangat gitu? Kami malah kangen Bos yang suka ngamuk lho," kata Citra.


Mereka pun masuk ke ruangan Karen menghibur bos mereka yang nampak sedih dan lesu itu.


Karen sedang merenungi 2 bulan kehidupan baru sebagai istri seorang dokter yang sangat dingin dan sulit diajak berkomunikasi. Awalnya dia mengira akan bisa dengan mudah mengabaikan keberadaan Daniel. Namun, ternyata sulit sekali hidup dengannya.


Mami yang beberapa kali beraksi, ditambah dengan pijatan Karen yang ternyata sangat tidak enak hingga membuatnya malu di hadapan mertua, masih ditambah persoalan kantor. Kini Karen sedang berada di titik jenuh dan lesu.


"Cerita aja, Bos," pinta Citra.


Karen hanya memandangi lantai dan akhirnya tidak kuat lagi menahan tangis.


"Nangis nggak apa-apa, Bos, biar lega."


Karen menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan. Sementara Inda dan Citra hanya bisa menemani. Mereka menunggu hingga Karen bercerita. Namun, bos mereka hanya menangis tanpa mampu bercerita detail persoalan rumah tangga Karen.


~


Sore di rumah


Karen tidak memasak. Dia juga tidak memiliki napsu makan. Mengurung diri di kamar adalah pilihannya saat ini. Tak ada suara ribut yang berasal dari omelannya seperti yang biasa terdengar setiap hari.


Daniel tidak berani memprotes. Dia memasak sendiri dan lebih awal dari pada jadwal memasak Karen. Jam 5 sore Daniel sudah selesai memasak. Dia mendatangi Karen yang sedang tengkurap di kamar.


"Makan, Ren," kata Daniel.


Karen menggeleng.


Mana ada makan malem jam segini? (Karen).


Dia pun terlelap.


Daniel mandi kemudian masuk ke walk in closet. Dia berada di dalam sana agak lama. Beberapa saat kemudian Daniel sudah rapi dengan membawa tas baju di tangannya. Dia meletakkan sebuah amplop berwarna coklat di samping Karen kemudian pergi dari sana.


~


Jam 7 malam, Karen membuka mata. Dia seperti orang linglung. Tidur melewati pergantian siang dan malam memang tidak baik. Dia sempat mengalami disorientasi dan mengira hari sudah pagi.


Dengan mata masih sulit dibuka, dia melihat amplop coklat di dekatnya.

__ADS_1


Amplop apa ini? (Karen).


Jantungnya berdegup kencang melihat amplop itu. Kemudian dia mencari Daniel, tapi tidak ada di kamar mau pun walk in closet. Dia masuk ke ruang buku, mengira dia di sana seperti tempo hari, tapi tidak ada.


Di garasi, mobil Daniel juga tidak ada. Dia kembali lagi ke kamar dan gemetaran memegang amplop coklat itu.


Daniel pergi dan ninggalin amplop ini. Apa ini surat gugatan cerai? (Karen).


Dia takut membuka amplop berukuran 11x24 cm di tangannya. Dengan jantung yang berdegup kencang, dia membuka amplop itu dengan sangat pelan dan hati-hati.


Ternyata isinya adalah surat edaran dari rumah sakit tentang camping tahunan yang diselenggarakan di sebuah resort. Karyawan rumah sakit ber-camping di sana. Dia merasa sedikit lega mengetahui isi surat itu.


Fyuh lega, untung Daniel nggak minta cerai sekarang. (Karen).


Tapi dia juga merasa gelisah. Beberapa hari ke depan, dia akan sendiri di rumah. Setelah sekian lama, dia tidak pernah tinggal sendiri di rumah.


Terakhir dia tinggal sendiri adalah ketika dia menjalin hubungan dengan Tora beberapa tahun yang lalu.


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, berikutnya terdengar langkah kaki orang masuk ke dalam rumah.


Siapa itu? Daniel camping dan baru pergi tadi sore. Nggak mungkin dia udah pulang secepet ini, kan? Hantu atau maling? (Karen).


Karen kembali gemetaran. Lututnya terasa lemas. Dia keluar dari kamar dengan ketakutan.


"Eh, maaf Non."


"Kok nggak panggil saya atau bilang permisi sih, Bi? Kan kaget, kirain tadi maling atau hantu."


"Tadi pesen Den Daniel masuk ke rumah jangan berisik gitu, soalnya Non Karen lagi tidur katanya."


"Bi Sum nginep di sini?"


"Iya Non, disuruh Den Daniel nemenin Non Karen. Non mau dimasakin apa? Biar saya yang masak."


"Nggak usah Bi, Daniel tadi udah masak kok."


"Katanya, Non lagi nggak napsu makan. Saya disuruh masak lagi yang Non Karen pengenin."


Karen menaikkan alis. Dia heran dengan kelakuan suaminya yang sangat dingin dan cuek, tapi juga peduli meski tidak pernah diperlihatkan secara langsung.


"Nggak usah, Bi. Saya makan yang dimasak Daniel aja biar nggak buang-buang makanan. Bibi udah makan belum? Ayo makan bareng."


Bibi Sum dan Karen makan bersama di ruang makan-dapur. Karen terkaget dengan masakan Daniel yang terasa enak. Ternyata laki-laki yang hemat bicara itu pandai juga dalam memasak.


Setelah selesai, Karen ke ruang buku untuk membaca komik. Bibi Sum mengikuti Karen untuk menemani. Ponsel Bibi Sum sedari tadi berbunyi. Dia sibuk membalas pesan Chatsapp sembari menemani Karen.

__ADS_1


Karen menyaksikan kesibukan Bibi Sum berbalas chat dengan iri.


Bi Sum aja ada yang perhatiin sampai daritadi handphonenya cetang ceting cetang ceting bunyi melulu. (Karen).


Dia memandangi ponselnya yang sepi tanpa ada yang mengirim pesan kepadanya. Karen menghilangkan penat dengan membaca komik kesukaannya.


"Eh, Bi. Kok Mami ngelarang saya buat masuk ruangan ini?"


Bibi Sum ragu-ragu untuk bercerita. Namun, dia pikir tidak apa-apa untuk cerita. Toh Karen sudah memasuki ruangan itu dan baik-baik saja. Malah Karen ikut membaca komik milik Daniel.


"Ceritanya begini, Non. Tapi jangan cemburu ya, Non, hehe."


"Iya, Bi. Tenang aja, saya nggak cemburuan kok."


Ngapain juga aku cemburu, howek. (Karen).


"Dulu itu Den Daniel dijodohkan. Terus calonnya mampir ke rumah ini. Waktu lihat koleksi mainan di kamar, masih baik-baik aja. Tapi begitu masuk ke ruangan ini, pada kaget aja ada ruang khusus komik begini."


"Itu cuma terjadi sama satu orang kan, Bi? Nggak semua perempuan anti komik kok."


"Memang nggak semua orang sih, Non, tapi kebetulan semua calon Den Daniel dulu begitu, makanya Ndoro Mami ngelarang."


Semua? Lebih dari satu? Masak calon istri dia dulu nggak ada yang suka komik satu pun? (Karen).


"Tapi ya ditambah mereka nggak tahan aja sama sikap Den Daniel yang kaku begitu kalau sama wanita." Bibi Sum melanjutkan, "Baru Non Karen aja yang bisa sampai menikah. Dan ya memang jodoh ya, ternyata hobinya sama."


Jodoh apaan? Kalau mau aku jadi jodoh Daniel betulan, aku harus berubah jadi patung Sphinx. (Karen).


"Bi Sum udah lama kerja sama Daniel?"


"Udah, Non. Sedari Den Daniel SMA kelas 3. Waktu itu Ndoro Mami melahirkan Non Stella. Nah Mbok Idah yang sebelumnya bantu kerjaan rumah ganti tugas jadi ngasuh Non Stella, saya yang beres-beres. Terus waktu Den Daniel udah kerja dan punya rumah sendiri, saya disuruh ikut Den Daniel."


"Bi Sum tahu ceritanya kenapa Daniel pindah SMA?"


to be continued...


Jogja, June 18th 2021


***


ps: jangan heran ART pake smartphone ya, ART author udah setengah baya juga udah bisa pake smartphone hihi peace✌️✌️✌️


***


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


__ADS_2