Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
67. Insecure


__ADS_3

Jantung Karen berdetak lebih kencang dan kencang saat Daniel berada sangat dekat dengannya.


Karena sepertinya Karen tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, laki-laki itu pun menuju posisi untuk tidur membelakangi sang istri.


Karen yang juga membelakangi suaminya, memeluk dan menggigit-gigit boneka kudanil dengan frustasi.


Aaarrrggghhh, bisa gila lama-lama kalau kayak gini. (Karen).


***


Pagi hari


Tidur Karen semalam tidak tenang. Sedikit-sedikit dia memandangi wajah suaminya dengan debaran jantung yang tidak menentu. Dia pun bangun lebih siang dari biasanya.


📞"Halo, Den Daniel."


📞"Iya, Bi, ada apa?"


📞"Mohon maaf Den, saya sakit, hari ini ijin nggak berangkat ya. Ini saya mau diantar ke puskesmas dekat rumah untuk berobat."


📞"Oh ya, Bi. Nggak apa-apa. Cepet sembuh ya, Bi."


Karena Karen belum bangun, Daniel membuat sarapan di dapur. Dia memilih memanggang sosis, roti dan keju karena harus mengejar waktu untuk pergi bekerja.


Selesai menyiapkan sarapan, Daniel menyantap makanan. Biasanya, saat Daniel tengah menikmati sarapan, Karen menyusul. Namun, hari itu, sudah lewat jam biasanya Karen belum juga muncul.


Daniel kembali ke kamar dan mendapati Karen masih bersembunyi di balik selimut.


"Ren," panggil Daniel sembari mengguncang badan Karen.


"Hm ...." Dengan malas Karen membuka mata dan melihat jam dinding. "Aku nggak enak badan, nggak masuk kantor. Udah chat orang kantor tadi malem."


Daniel pun mengambilkan sarapan untuk dimakan di kamar.


"Kok bukan Bi Sum aja yang ngambilin? Kamu berangkat kerja aja."


Karen membuka ponselnya. Bibi Sum juga meminta ijin kepadanya melalui Chatsapp.


"Oh, Bi Sum sakit, ya? Kamu kok belum berangkat, Niel? Nanti telat lho."


Daniel menggeleng.


"Kamu mau rawat aku?"


Daniel mengangguk.


Karen kemudian mendorong Daniel untuk keluar dari kamar. "Kamu mendingan berangkat kerja aja! Kasih waktu buat jantungku istirahat."


"Hm?" Daniel melotot mendengar Karen ingin mengistirahatkan jantungnya karena konsekuensinya: mati.


"Maksudnya, sakitku sekarang ini nggak parah, nggak perlu dirawat segala."


Daniel sudah berada di luar kamar, Karen menutup pintu itu. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan.


Dokter itu keluar dari rumah untuk berangkat bekerja. Saat membuka pintu rumah, dia dikejutkan oleh Haris yang sudah berdiri di sana dengan seikat bunga dan sekantong buah.


"Ris?"


"Oh hai, Niel. Kok masih di rumah. Kirain kamu udah berangkat ke rumah sakit," katanya sembari melihat jam tangan.


"Kamu ngapain?"


"Aku nengok Karen, katanya sakit."


"Tahu dari mana istriku sakit?"


"Dari Inda."


"Kamu kenal Inda?"


"Iya lah, aku kan kerja di tempat Karen. Apa Bos Karen nggak pernah cerita? Hm, atau dia emang pengen rahasiain ya? Gawat dong, berarti aku buka rahasia."


Daniel kaget, tapi wajahnya datar sehingga tidak terbaca kekagetannya. Dia memperhatikan halaman rumah, tidak ada kendaraan terparkir di sana. "Kamu nggak bawa kendaraan?"

__ADS_1


"Motorku lagi masuk bengkel jadi aku naik taksi."


Karena mendengar suara orang berbicara, Karen membuka pintu.


"Oh, ada Haris. Ngapain?"


"Jenguk, katanya kamu sakit."


"Sebenernya aku nggak sakit-sakit amat sih. Tapi ya ayo masuk!" katanya kepada Haris. "Niel, kamu berangkat sana! Udah telat lho."


Haris masuk ke dalam rumah dengan pintu depan tidak ditutup. Melihat itu, Daniel sedikit tenang dan berangkat ke rumah sakit.


~


Rumah sakit Keluarga Bahagia


Daniel baru saja menyelesaikan konsultasi dengan pasien pertama.


Dia berpikir keras tentang istrinya yang mengaku sedang sakit padahal sama sekali tidak ada tanda sakit, hanya terlihat kurang tidur. Kemudian kedatangan Harus yang tiba-tiba mengagetkannya tadi. Haris dan Karen kompak menyuruh dia segera pergi.


Daniel menyambung-nyambungkan runtutan peristiwa dan berakhir dengan kesimpulan bahwa kejadian itu bukanlah kebetulan. Karen dan Haris sengaja ingin bertemu di rumah, pikirnya.


Dia menjadi tidak tenang dan gelisah.


"Dok, sakit?" tanya perawat.


Daniel mengangguk. "Saya telpon dokter Zelani untuk gantiin saya hari ini, tolong pasien yang sedang mengantri diinformasikan ya."


"Baik, Dok."


Daniel segera memacu mobilnya menuju ke rumah.


Sampai di depan rumah, pintu utama dalam keadaan tertutup.


Kemudian, dari kamar terdengar suara musik hip hop yang diputar dengan volume yang lumayan keras.


Melihat keadaan itu, pikiran Daniel traveling ke mana-mana. Dia teringat saat kuliah dulu. Dia pernah mengunjungi temannya yang tinggal di kos.


Temannya itu memutar musik dengan keras di kamarnya. Dan ternyata dia sedang nananina dengan pacarnya.


Dia membuka pintu, tidak terkunci.


Dengan langkah tergesa, dia menuju ke kamar. Dalam pikirannya, sudah terbayang macam-macam kelebat kemungkinan apa yang dilakukan kedua orang yang pernah memiliki hubungan spesial di masa lalu itu.


Dadanya terasa sesak dan napasnya tersengal. Sampailah dia di pintu kamar. Dia membuka pintu itu dan ....


Dia mendapati Karen sedang menggaruk-garuk kepalanya sembari menggeleng-geleng frustasi di depan cermin.


"Hoah, Kudanil! Huh hah, bikin kaget aja!" Karen terkejut dengan kedatangan suaminya. Suara mobil tidak terdengar karena suara musik lebih mendominasi.


Daniel mengedarkan pandangan. Tidak ada Haris di sana. Ketegangan di badan pun berkurang dan perlahan menghilang. Dia melepaskan napasnya, lega.


"Haris?" tanya Daniel.


"Aku suruh kerja lah, kan aku bosnya."


Karen sedikit kesal Daniel pulang. Dia ingin menumpahkan dan mengekspresikan segala rasa di hati yang belakangan tidak jelas. Namun, gagal karena si pembuat jantung berdebar itu malah berada di dekatnya sekarang.


"Kamu, kenapa pulang?"


Daniel menggeleng. Kemudian menuju ke walk in closet untuk berganti baju dengan baju rumahan.


~Kilas balik saat Haris menjenguk Karen tadi pagi~


Setelah Daniel pergi bekerja, Haris dan Karen duduk di ruang tamu.


"Ini buat kamu." Haris memberikan bunga dan buah.


"Makasih banget, Ris."


"Kamu nggak kelihatan sakit." Haris mengamati Karen.


"Secara fisik emang nggak sakit, tapi pikiranku sungguh sangat sakit jadi pengen istirahatin jantung dan pikiran."

__ADS_1


"Kamu sendirian?"


"Eh iya, ART lagi ijin sakit hari ini, aku sendirian di rumah. Udah sana, kerja."


"Nanti dong, tuan rumah belum kasih teh atau apa gitu."


"Aku ini sakit dan ARTku juga nggak ada. Aku lagi sendirian di rumah, nanti ada setan lewat."


"Nggak bakal ada setan lewat kali, kan aku setannya."


"Pergi nggak lu?"


"Iya iya aku pergi, Bos galak. Bentar, pesen taksi dulu. Motorku lagi perawatan di bengkel, maklum motor gede mahal."


"Nggak nanya tuh!"


"Hahah, kalau galak gitu jadi imut deh Bos," goda Haris.


"Imut-imut gundulmu! Udah sana, tunggu taksinya di luar!"


"Galaknya ... padahal aku ke sini bawain bunga sama buah lho, kok digalakkin?"


"Bukan masalah galak, aku ini istri orang dan lagi sendirian di rumah, jadi kamu buruan pergi sebelum digrebek orang se-kompleks!"


"Iya iya, aku pergi."


Haris pun pergi.


Karen ke kamar dan melihat dirinya di cermin. Dia menelaah kehidupan rumah tangga yang sudah berjalan 3 bulan.


Dia memikirkan laki-laki yang tinggal bersamanya selama 3 bulan ini. Mereka bahkan tidak hanya seatap, tapi se-ranjang.


Kami tidur seranjang lhoh, meski kami menikah karena perjodohan, apa sisi dia sebagai laki-laki nggak keder gimana gitu tidur seranjang sama aku selama 3 bulan? Waktu di rumah Mami itu dia sempet jadi agresif sih, tapi itu kan hasil dari Mami ngasih obat. Kalau dia sendiri secara alami, masak iya nggak tertarik sama aku? Sama sekali? (Karen).


Memikirkan hal itu membuat pikiran tambah stres. Dia menghidupkan laptop dan memutar musik dengan kencang.


Kali ini dia tidak memutar musik mellow seperti sebelumnya. Dia tidak ingin terlalu menghayati dan memikirkan perasaannya kepada Daniel.


Dia memilih musik hip hop, sebuah musik yang lagu-lagunya jarang membahas tentang cinta sedih atau pun kebucinan.


Dia kembali ke depan cermin dan berjoget seperti yang dia lakukan dulu ketika menjadi cheerleader. Dia merasa bayangan dirinya di cermin masih cantik dan menarik. Tarian yang dia lakukan pun sangat gemulai (menurutnya).


Aku ini nggak jelek. Dan aku ini mantan cheerleader lhoh cheerleader! Camkan itu! Masak sih dia sama sekali nggak ngelirik aku? Waktu SMA, aku ini jadi rebutan tahu! Dan kamu Kudanil nggak tahu diri, seranjang sama aku tiap hari, sedikit aja nggak tergoda gitu? Dasar patung anubis. (Karen).


Lagu pun berganti. Sebuah lagu yang dulu pernah membuatnya insecure, kini terputar tanpa sengaja.


🎶Mas, opo aku iki


🎶Isih kurang ayu


🎶Opo kurang seksi to mas


🎶Kurang ayu kurang seksi


🎶Kurang ayu kurang seksi


🎶Kurang ayu kurang seksi


('Kurang Sexy'-Soimah)


"Aaarrrggghhh." Karen menggaruk kepala dan menggeleng-geleng.


Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar.


"Hoah, Kudanil! Huh hah, bikin kaget aja."


~Kilas balik selesai~


to be continued...


Jogja, June 25th 2021


***

__ADS_1


find me on Instagram: @titadewahasta


__ADS_2