Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
85. Hukuman Mami (part 2)


__ADS_3

Karen membuka popcorn dan menyodorkannya kepada Daniel. Dokter itu hanya memandangi popcorn di tangan Karen.


"Oh iya." Karen mengeluarkan hand sanitizer. "Mana tanganmu."


Daniel pun membersihkan tangannya dan memakan popcorn itu. Karen sudah hapal hampir semua kebiasaan Daniel.


Sebaliknya, Daniel juga begitu walau masih banyak hal yang perlu dicocokkan antara mereka berdua. Paling tidak, mereka telah saling mempelajari dan hingga saat ini pun mereka masih saling mengamati kebiasaan.


Pengeras suara mengumumkan panggilannya kepada para pemilik tiket menonton kala itu. Mereka dan yang lain memasuki studio 2 di mana film yang akan ditonton itu diputar.


"Waktu kuliah, kamu sering nonton?" tanya Karen.


"Ya."


"Sama siapa?"


"Sendiri."


Oh my, kenapa jadi sedih begini sih. (Karen)


"Pacar kamu? Katanya kamu pernah pacaran?"


"Itu sebenarnya kamuflase. Dia bukan pacar betulan. Dia sahabatku yang butuh status aja buat melindungi diri dari mantannya yang masih ngejar-ngejar dia."


Wanita berambut merah itu pun menggenggam tangan Daniel. "Sekarang nggak boleh sendiri, kalau nonton harus sama aku."


~


Selesai menonton, Daniel mengantar Karen pulang. Dia sendiri masih menginap di rumah orang tuanya.


***


Hari minggu, Karen, Inda dan Citra berenang di Hotel Grand Astan di mana expo kuliner seminggu lalu dihelat.


"Makasih ya Bos udah traktir kami berenang," kata Citra.


"No problem, lagian ini gratis kok. Kan waktu aku ke sini, aku dapet voucher renang gratis," kata Karen sembari menikmati jus jeruk di pinggir kolam.


Udah kuduga sih, si Bos nggak bakal sebaik itu. (Inda).


Karen melirik Inda yang berekspresi cemberut.


"Lagi ngebatin apa kamu, Cat? Pasti mau bilang aku pelit ya?"


"Enggak lah Bos, justru sebaliknya. Aku lagi bersyukur punya bos yang baiknya selangit," Inda melontarkan pujian palsu berlebihannya.


"Eh Bos, Haris itu akrab banget ya sama Mbak Olive." Citra mulai bergosip.


"Mbak Olive si penulis yang akhir-akhir ini bermasalah itu?" kata Karen.


"Iya kayaknya, Cit. Aku juga beberapa kali mergokin mereka ngomong privat di pojokan.


"Akrab sebagai apa ya kira-kira? Bukannya Mbak Olive itu udah berkeluarga? Anaknya udah lumayan besar," kata Karen.


"Hal kayak gitu kan nggak pandang status. Mau udah nikah puluhan tahun atau punya anak segudang juga nggak bakal inget kalau udah keblinger," oceh Inda.


"Tapi gini ya 2 dayang-dayangku, yang kalian lihat belum tentu seperti yang kalian duga. Aku baru aja ngalamin dan ternyata semua salah besar. Lebih baik kita lihat aja dan jangan berasumsi apa-apa dulu sebelum bener-bener jelas," tuah Karen.


Citra dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ayo nyebur, Bos Black Widow." Inda menarik tangan bosnya dari kursi santai di pinggir kolam.


Karen pun turun. "Mulai sekarang kalian juga boleh panggil aku Mrs.Ironman."


Citra dan Inda saling berpandangan. "Hah?!"


~


Setelah berenang, Karen langsung menuju rumah mertuanya. Dia mengetuk pintu rumah itu.


Kebetulan, Mami Seli yang membukanya.

__ADS_1


"Hai, Mam--"


Mengetahui Karen yang datang, dia langsung menutup pintu itu lagi.


Karen tidak menyerah, dia memukul-mukul pintu itu.


Mami Seli membukanya lagi. "Mau apa?!"


"Mau ketemu suamiku dong, Mamiku tersayang," rayu Karen.


"Kalian kan lagi dihukum!"


"Tapi, Mi, hukumannya kan Daniel nginep di sini aja. Kemarin Mami nggak ngelarang aku datang. Aku masih menantu Mami satu-satunya lho heheh." Karen berusaha membuat Mami tertawa tapi gagal total.


Mami Seli masih cemberut. "Asal kamu tahu ya, Mami masih marah soal kontrak-kontrakan kalian itu! Nikah kok kontrak, emangnya rumah kontrakan?"


"Kontraknya udah aku robek-robek terus aku bakar lho, Mi. Nih kalau nggak percaya, lihat aja di video ini." Karen memutarkan video dia sedang merobek dan membakar kontrak itu.


Mami Seli mencibirkan mulutnya. "Bisa aja nanti kamu bikin lagi!"


Mendengar Karen datang, Daniel berjalan menuju pintu depan.


"Enggak, Mi, bener. Aku cinta sama anak Mami, please ijinin ketemu. Beneran nggak pake kontrak-kontrakan lagi."


Mendengar pengakuan cinta itu, Daniel tersipu.


Menyadari kedatangan Daniel, Mami Seli tambah gencar mencegah Karen masuk. Dia berusaha menutup pintu itu lagi. Namun, Karen menahan pintu itu sehingga terjadi dorong-dorongan sengit.


Akh, dia memang hobi dorong-dorongan pintu. Mami pasti kalah, aku aja kalah waktu itu. (Daniel).


Daniel mengingat saat dirinya dan Karen saling mendorong pintu ruang buku.


"Daniel! Bantuin!" teriak Mami Seli.


Daniel bergegas bergabung dengan aksi dorong pintu itu. Dia menarik pintu itu ke dalam hingga terbuka.


"Daniel! Maksudnya bantu Mami, bukan bantu istrimu! Hih!" protes Mami Seli, kesal.


Karen mengeluarkan obat dari tasnya. "Aku bawa obat Daniel lho, Mi."


"Daniel juga punya obat, kamu pikir Mami nggak tahu?"


"Tapi yang ini beda, Mi. Ini obat jangka panjang. Dan kata dokter, cuma aku yang bisa sembuhin Daniel," Karen meyakinkan Mami Seli.


Mami Seli menatap Daniel tajam. "Bener begitu Niel?"


Daniel mengangguk.


"Bener dong, Mi, dokternya aja ngasih obat ini ke aku lhoh, bukan ke Daniel langsung. Jadi, pengobatan Daniel itu tanggung jawabku sepenuhnya, Mi." Mata Karen memberi kode pada Daniel untuk membantu.


Daniel menaikkan bahunya.


Eh iya, dia kan lagi mode patung anubis. (Karen).


Mami Seli berpikir-pikir. "Ya udah, kalian boleh ketemu. Tapi, kamu tunggu dulu 1 jam di ruang TV," kata Mami Seli kepada Karen. "Dan kamu, tunggu di kamar selama 1 jam. Baru kalian boleh ketemu."


Mami Seli menarik Daniel masuk ke kamarnya.


Karen ditinggal sendirian di ruang TV.


Huh, biar tahu rasa kalian. Makanya jangan main-main sama Mami. (Mami Seli).


"Ndoro Mami, saya bikinin minum buat Non Karen ya, kasihan." Mbok Idah meminta ijin.


"Hah Simbok, pake kasihan sama anak itu. Yah, nggak apa-apa, bikinin aja."


Mbok Idah pun membuatkan menyajikan minuman dan cemilan untuk Karen.


Papi Danu masuk ke dalam rumah sembari menenteng koran yang dia baca di taman samping.


Dia berjalan melewati ruang televisi dan menyapa Karen. "Hai Ren, nunggu Daniel ya?"

__ADS_1


"Iya, Pi. Tadi udah ketemu sebentar tapi kata Mami kalau mau ketemu lagi, aku disuruh nunggu di sini satu jam lagi."


Papi Danu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu sana ke taman samping, lewat pintu depan biar nggak ketahuan Mami. Nanti Daniel Papi suruh ke sana."


"Oh, iya Pi." Karen menurut kata Papi.


Papi Danu pun melewati kamar Daniel yang dijaga oleh Mami Seli di depan pintunya.


"Mami, ngapain?"


"Jaga tawanan."


"Mami istirahat sana, nanti encok lho berdiri terus. Biar Papi yang gantiin."


"Iya deh, tapi inget, jangan sampai pergi. Oke, Pi?"


"Beres!" Papi Danu mengacungkan jempolnya.


Setelah Mami masuk ke dalam kamarnya, Papi Danu masuk ke kamar Daniel.


"Sssttt, sana ke taman samping, lewat pintu depan aja. Karen ada di sana."


"Oh iya, Pi. Makasih, Pi," kata Daniel sembari bangkit dan keluar dari kamar.


Papi Danu berdiri di depan kamar Daniel sembari membaca koran.


Di taman samping, Karen dan Daniel bertemu. Karen mengeluarkan botol kecil air mineral dan obat dari dalam tasnya dan meminta Daniel meminumnya.


"Nah, kamu udah minum obat. Kamu bakal baik-baik aja."


Daniel mengangguk.


"Eit, nggak boleh ngangguk."


"Iya." Namun, Daniel masih merasakan sesak.


Tenang Ren, harus sabar. Yang pertama belum berhasil nggak apa-apa. (Karen).


Dia menggenggam tangan Daniel dan mengusap dada Daniel.


~


Di dalam rumah


Mami Seli keluar dari kamar untuk menemui Karen. Dia terkejut karena tidak ada siapa-siapa di ruang televisi. Kemudian dia menemui Papi Danu di depan kamar Daniel.


"Papi, Karen di mana? Dia pulang?"


"Nggak tahu tuh, Mi." Papi berbohong.


Mami Seli menatap Papi Danu, curiga.


"Apa, Mi?"


"Minggir!"


Papi Danu salah tingkah sendiri kemudian menyingkir dari depan pintu karena tak kuasa dengan pelototan Mami Seli.


Benar dugaannya, Daniel juga tidak berada di kamar.


"Papi! Kan tadi Mami udah bilang jangan sampai Daniel pergi!"


"Lhoh, emang Daniel nggak ada di kamar? Kapan keluarnya? Papi nggak tahu lho."


"Hayah, belagak bloon lagi! Di mana mereka, Pi?"


Sekali lagi Papi Danu tidak kuasa melihat mata Mami Seli yang hampir keluar dari tempatnya, mengingatkannya pada topeng Leak dari Bali yang menyeramkan.


Dengan terpaksa Papi bicara, "Di-di taman samping."


to be continued...

__ADS_1


Jogja, July 13th 2021


__ADS_2