
Menyaksikan Daniel tidur seperti bayi, Karen mengambil ponsel dan memotretnya. Untuk pertama kali gambar diri suaminya masuk ke dalam ponsel Karen. Sebelumnya, dia sama sekali tidak pernah memotret atau pun menyimpan foto Daniel.
Karena gemas melihat wajah dokter dingin yang sedang tidur itu, Karen mengacak wajah Daniel. Dokter itu terbangun, sedangkan Karen buru-buru menutup matanya dan pura-pura tidur.
Aneh, kayak ada yang pegang-pegang mukaku tadi. Akh, mimpi yang berasa nyata kali ya. (Daniel).
Dia kembali tidur.
***
Minggu pagi.
Seperti biasa, Daniel dan Stella akan pergi ke pasar.
Tidak biasanya Karen mengikuti mereka di belakang.
"Kenapa Kak Ren?"
"I-K-U-T, ikut." Karen tersenyum lebar tanpa dosa.
Tumben. (Stella).
Tumben. (Daniel).
"Ayo Kak," ajak Stella. Meski merasa aneh kakak iparnya tiba-tiba tertarik ikut, Stella tetap senang akhirnya dia akan pergi ke pasar dengan sesama wanita.
Mereka bertiga pun berangkat berjalan kaki ke pasar tradisional. Karen sangat penasaran, apa yang membuat kakak-beradik itu hobi ke pasar.
Stella dan Karen berada di depan sedangkan Daniel berjalan di belakang mereka.
"Kak Niel, kok diem aja sih?"
Daniel tersenyum kaku. Kemudian Daniel berjalan lebih cepat sehingga dia berada di depan menjauh, menjauh dan semakin di depan meninggalkan Karen dan Stella.
"Lhah, kakakmu kan emang pendiem. Mau ada orang jungkir balik juga dia diem aja tuh." Karen berkisah.
"Mana ada, dia itu bawel minta ampun. Lebih bawel daripada Mami. Ceramah terus kerjaannya."
"Oh ya? Kalau sama aku, dia itu sehari paling banter keluarin 3 kata."
"Mungkin karena aku adiknya kali dia jadi bawel banget."
Sesampainya di pasar, Daniel sudah membeli beberapa jajanan pasar dari para penjual yang sudah tua.
"Mbak Stella, sama sodaranya ya?"
"Iya Bu, ini istrinya Kak Daniel." Stella memperkenalkan kepada penjual jajanan langganan.
"Oh, wah, Mbak Karen ya."
"Ibu tahu nama saya?"
"Iya, kan Mas Daniel yang cerita kalau istrinya namanya Mbak Karen, orangnya cantik. Ternyata emang cantik. Beruntung lhoh punya suami kayak Mas Daniel. Saya selalu dikasih lebih sama Mas Daniel."
Karen mengangguk-angguk.
"Mana Daniel?" Karen mencari suaminya yang menghilang dari pandangannya.
"Itu dia, Kak." Stella menunjuk kakak laki-lakinya yang sedang membeli minuman agak jauh di seberang sana.
"Stell, kok nggak beli makanan di booth-booth yang itu?" Tanya Karen sembari menunjuk stand makanan modern.
"Kakak mau beli? Ayo aku temenin."
__ADS_1
"Enggak, pengen tahu aja, kok belinya cuma di pembeli yang udah lansia gini?"
"Kak Daniel bilang kalau ibu-ibu yang udah lansia ini bener-bener butuh nafkah, mereka udah lanjut usia aja masih cari nafkah sendiri. Misalnya ibu yang jual klepon itu," bisik Stella, "beliau itu hidup sendiri, suaminya udah meninggal lama dan nggak punya sanak saudara, kasian banget."
Wow. (Karen).
Dalam imajinasi Karen, seketika muncul cincin halo di atas kepala Daniel. Karen mengucek matanya menyadarkan diri sendiri.
"Tapi yang booth modern itu juga butuh nafkah Stel, mereka juga nafkahin keluarga."
"Iya Kak, Kak Daniel juga nyuruh larisin yang booth modern. Cuman, meski beli yang di booth modern, harus tetep larisin penjual yang tua-tua itu."
Setelah selesai berbelanja, mereka berjalan kaki untuk pulang ke rumah.
Apa di pasar deket rumah kami, Daniel juga beli jajanan pasar dari penjual-penjual lansia ya? (Karen).
~
Sampai di rumah, di meja makan, Karen memandangi suaminya dengan mata mengernyit. Daniel yang sedang menikmati jajanan pasar itu tidak sadar diperhatikan oleh istrinya.
Bisa-bisanya ada orang baik kayak kamu tapi kakunya kayak kanebo kering. Kakunya sama aku doang pula. Sama Stella, Mami, Papi, Mama, bahkan Kendrik, kamu baik dan bawel. Kamu juga kompak sama dua curut sahabat doktermu itu. (Karen).
Cincin halo di kepala Daniel muncul kembali dalam bayangan Karen. Kini, ditambah wajah Daniel yang tampak berkilauan penuh bintang.
Karen pun menampar pipinya sendiri.
Jangan jatuh cinta, Ren. (Karen).
"Kenapa Kak Ren, kok nampar pipi sendiri?" Stella keheranan dengan tingkah kakak iparnya itu.
"Oh, ehm, ada nyamuk tadi," jawab Karen sekenanya.
~
Sepanjang perjalanan, berkali-kali Karen menatap Daniel.
Kudanil, patung anubis, kanebo kering, tembok dikasih nyawa. (Karen).
Meski dalam hati berusaha mengumpat Daniel dengan semua jurus yang sering dia gunakan, di bibir wanita itu tersungging senyuman kecil. Hati dan pikirannya sekarang sedang sangat tidak singkron.
Hatinya bersimpati sepenuhnya kepada Daniel, pikirannya tidak. Pikirannya terdiri dari campuran rasa tidak terima harus suka kepada Daniel, orang yang selama ini memiliki image menjengkelkan bagi Karen, dan rasa gengsi karena harus suka duluan.
Karen, ingat, dia itu benci sama kamu. Jangan jatuh cinta, nanti sakit hati. Eh, tapi kan dia diam-diam perhatian sama aku. Hash, itu bukan perhatian, kalau dia ditanyain pasti jawabnya karena kewajiban suami harus tahu istrinya bla bla bla ... (Karen).
Sampai di rumah, Daniel menuju ke ruang komik dan mengambil beberapa eksemplar komik untuk dibaca di kamar. Dia membacanya di sofa di samping tempat tidur.
Karen juga ikut membaca komik. Namun dia kesulitan berkonsentrasi. Pikirannya tertuju pada Daniel. Dialog dalam komik yang dia baca berubah menjadi nama Daniel, Daniel dan Daniel. Matanya juga tidak bisa diajak kompromi karena selalu melirik dan melihat Daniel.
Dia menutup komik itu dengan frustasi. Kemudian dia menggaruk-garuk kepalanya sambil berdecak kesal.
Kenapa dia? Biasanya baca komik itu dengan khidmat dan nggak mau diganggu. Kenapa malah kayak orang yang lagi banyak pikiran begitu? (Daniel).
Karen menyalakan laptopnya dan membuka aplikasi pemutar musik. Dia juga menghubungkannya dengan speaker ruangan.
Dia langsung menekan tombol play tanpa memperhatikan list lagu yang ada karena sudah banyak sekali lagu yang dia masukkan ke dalam list itu.
Diputarlah lagu pertama.
🎶You're just too good to be true
🎶Can't take my eyes off you
🎶You'd be like heaven to touch
__ADS_1
🎶I wanna hold you so much
(Can't Take My Eyes Off You - Muse version)
Aaarrrggghhh, kenapa lagu ini sih. (Karen).
Dia merasa tersindir dengan lagu itu karena sedari tadi dia sulit melepas pandangannya dari Daniel.
Dia memencet tombol next.
🎶Just the way you say hello
🎶With one touch I can't let go
🎶Never thought I'd fall in love with you
(Because Of You - Keith Martin)
Astaga, kenapa lagunya jatuh cinta jatuh cinta semua sih. Lagu lokal aja deh. (Karen).
Karen memencet lagi tombol next sampai mendapatkan lagu dari penyanyi lokal.
🎶Menatap langkahmu
🎶Meratapi kisah hidupmu
🎶Terlihat jelas bahwa hatimu
🎶Anugerah terindah yang pernah kumiliki
(Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki - Sheila On 7).
"Aaarrrggghhh." Tak sadar Karen berteriak. Dia menutup matanya dengan tangan kanannya.
Dia pun mematikan pemutar musik itu karena semua lagu dalam listnya kebanyakan adalah lagu cinta. Kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Melihat istrinya berteriak kecil dan menutupi wajahnya, Daniel mendekat dan melihat wajah Karen dari jarak yang dekat.
Karen terkejut. "Hoah, Kudanil!" Jarak dekat antara keduanya membuat jantung Karen berdegup tambah kencang.
Daniel memeriksa suhu badan Karen dengan meletakkan punggung tangannya di kening istrinya.
Nggak panas kok. (Daniel).
Dia pun keluar dari kamar menuju ruang buku untuk mengembalikan komiknya. Karen mengikuti di belakang.
Karena merasa diikuti, Daniel berhenti hingga Karen menabrak badannya. Dia berbalik dan memandang Karen keheranan.
Kenapa aku jadi ngintilin dia gini sih. (Karen).
"Ehm...ehm... Aku...aku mau ke dapur, mau minum, hehehem. Aku sign kiri dulu ya, bye." Karen belok ke dapur untuk menyelamatkan diri.
Di dapur, dia meminum air putih dan menenangkan dirinya.
Sialan si patung anubis! (Karen).
to be continued...
Jogja, June 21st 2021
***
find me on Instagram: @titadewahasta
__ADS_1