
Tora menelpon dan mengajak untuk bertemu lagi. Karen menyetujui. Pertemuan berikutnya pun berlanjut.
***
Dalam 1 bulan , mereka telah sangat dekat. Sudah tak terhitung berapa kali mereka bertemu. Rasa dalam hati Karen telah berkembang menjadi rasa cinta. Cinta kilat yang dirasakan oleh Karen terbentuk dari kebiasaan mereka bertemu ditambah dengan perlakuan Tora yang istimewa.
Tora memperlakukan Karen seperti ratu. Dia memberikan apa pun yang Karen butuhkan. Kadang, dia juga menyuapi Karen jika dia sedang tidak memiliki napsu makan.
***
Kantor Ren's Writer
Di kantor kecilnya, Karen bukannya bekerja, dia malah termangu memikirkan Tora. Wajah dan nama itu kian mendominasi hari-harinya. Dia memandangi Inda, anak buahnya yang merupakan seorang content writer merangkap sekretaris, merangkap pula sebagai sahabat Karen.
Mereka bekerja dalam satu ruangan. Sedangkan tim penulis yang lain bekerja di cubicle mereka masing-masing.
"Nda, lagi ngapain?"
Bos yang aneh nanya gitu, padahal matanya melotot lihat aku lagi di depan laptop. (Inda).
"Kerja lah, Bos."
Karen seperti terkaget dan menepuk dahinya. Tentu Inda sedang bekerja. Dia di kantor sedang berkutat dengan laptopnya, seruangan dengan bosnya sendiri pula, apalagi yang dikerjakannya selain bekerja?
Karen berdiri mendekati meja Inda dan duduk di dekatnya. "Nda, kamu punya pacar?"
"Belum, Bos."
Bosku lagi aneh, dirinya sendiri nggak punya pacar, malah nanya-nanya bawahannya punya pacar atau enggak. (Inda).
Karena melihat tingkah bosnya yang aneh sebulan ini, Inda memberanikan diri bertanya. "Ehm, Bos, akhir-akhir ini Bos lebih cerah dan kelihatannya seneng. Apa Bos udah melepas status jomblo?"
Wajah Karen berubah menjadi bimbang. "Hufh, itu yang lagi aku pikirin. Aku ini masih jomblo apa enggak sih?"
"Lha malah balik nanya. Apa Bos udah punya kesepakatan sama seseorang untuk pacaran?"
Karen menggeleng.
"Ya berarti masih jomblo!" kata Inda dengan suara mantap.
Kecoak buntung! Mantep bener ngomong bosnya jomblo. (Karen).
Inda hampir tertawa, tapi diurungkan saat melihat ekspresi kesal sang bos. Tangannya reflek menutup mulut.
Salah ngomong aku, jangan pecat aku ya, Bos! (Inda).
"Berapa kali sih kita jalan sama cowok sebelum mengungkapkan cinta?"
__ADS_1
Inda sedikit mengerti sekarang kenapa bosnya nampak lebih bahagia. Bosnya sedang jatuh cinta. "Kalau rata-rata saling kenal jadi teman selama kurang lebih setahun, lalu meningkat jadi date selama 2 atau 3 bulan kayaknya cukup. Itu kalau standar budaya timur."
Karen merasa tidak tahu diri. Dia baru mengenal Tora selama 1 bulan tapi sudah memikirkan kelanjutan hubungan dan keseriusan Tora. Di sisi lain hatinya, dia memburu ingin segera ke level berikutnya.
Dia memiliki keyakinan bahwa dia dan Tora berkenalan karena sama-sama ingin mencari pasangan.
Kan nggak mungkin kami kenalan di dunia maya terus dibela-belain ketemu di dunia nyata cuma buat dijadiin teman biasa. (Karen).
"Kalau standar barat gimana?" Karen masih terus bertanya.
"Kalau budaya barat alurnya lain. Kalau dari awal berteman ya akan berteman sampai akhir. Jarang ada yang ngubah status sahabat jadi cinta."
Karen memperhatikan Inda dengan seksama. "Terus, mereka dapat pasangan dari mana?"
"Mereka sangat mengutamakan pandangan pertama. Misal di sebuah tempat umum ada yang shining shimmering splendid, mereka akan langsung kenalan lalu ngajak nge-date."
Mungkin itu yang sedang dialami Karen. Dia mengenal Tora tidak dari lingkaran pergaulan. Jadi hampir pasti tujuannya adalah pencarian cinta.
"Terus, kapan mengungkapkan cinta?"
"Kalau di negara barat, ungkapan cinta itu nanti bahkan kalau udah jalan bertahun-tahun."
Sebenarnya pengetahuan-pengetahuan tentang kultur barat dan timur itu sudah diketahui Karen. Namun, saat hatinya sendiri sedang dipenuhi rasa cinta dan bimbang, otak dan logikanya seakan berjalan tersendat.
Oh iya, kalau di negara barat, aku dan Tora udah dianggap pacaran. Istilahnya 'dating' atau 'going out together'. Tapi di sini butuh deklarasi ungkapan cinta sebelum masuk ke status pacaran. Aku mau pakai style barat atau style timur? (Karen).
Dia bekerja setengah hati hari itu karena pikirannya tertuju pada Tora.
~
Karen melihat-lihat media sosial Faecesbook di mana dia dan Tora dipertemukan. Karen membaca status Tora yang diunggah lebih dari beberapa hari yang lalu.
Bimbang tak bertepi... (Status Faecesbook Tora).
Apa dia juga lagi ngerasain apa yang aku rasa tentang hubungan ini? (Karen).
Dia membuka kolom komentar yang berada di bawah status itu. Banyak sekali komentar di sana. Namun, salah satu komentar menarik perhatiannya. Komentar itu datang dari akun bernama 'Robie'.
Duh, yang lagi mikirin mbaknya. (Komentar Robie).
Sssttt... Kalau ngerti, diem. Jangan berisik. (Balasan Tora).
Hayah, anak sekos juga tahu lah. Kan kamu pajang fotonya di PC. Itu tuh foto yang di depan museum. (Komentar Robie).
Hehe. (Balasan Tora).
Foto di depan museum? Karen ingat sekarang. Mereka memang pernah pergi bersama ke museum dan berfoto bersama di depan gedung itu. Tapi dia ragu, apakah dia yang dimaksud? Karena, foto di depan museum bisa juga dia lakukan dengan orang lain.
__ADS_1
Dia sangat penasaran dengan foto yang dimaksud Robie, teman satu kos Tora. Untuk memastikannya, dia harus berkunjung ke kos Tora. Sebulan mereka dekat, Karen belum pernah berkunjung. Juga sebaliknya, Tora sama sekali belum pernah dia bawa ke rumah atau pun rumah orang tuanya.
Dia mengirim pesan Chatsapp kepada Tora.
📱Karen: Sibuk apa? Aku mau ke kos kamu boleh?
📱Tora: Lagi benerin revisi nih. Ke sini aja. Aku kasih mapnya.
Saat istirahat siang, Karen pergi ke kos Tora yang terletak di dekat kampusnya. "Hai, aku bawain jus."
"Makasih, Ren. Ayo masuk!"
Setelah meminta ijin dari penjaga kos, Karen diperbolehkan masuk. Pintu kamarnya dibuka lebar. Untuk pertama kalinya Karen masuk ke kamar Tora. Kamar itu tergolong rapi untuk ukuran laki-laki.
Tiba-tiba dia teringat Kendrik. Adiknya itu juga tergolong rapi. Hanya, jika sedang banyak kegiatan atau sedang stres, kerapian itu berubah menjadi kandang babi.
"Kamu nggak kerja hari ini?" Karen penasaran.
"Masuk sore kok. Aku lagi rapiin revisian dulu."
Terlihat komputernya sedang digunakan untuk mengedit revisi skripsinya dengan aplikasi Microhard Word. Karen ingin sekali meminimize dan melihat wallpaper dekstop-nya.
Akh, tapi kalau dia tahu aku datang, pasti diganti kan? Masak iya mau kepergok aku? (Karen).
Karen berpikir keras alasan apa yang akan dia gunakan untuk meminjam komputer Tora. Salah-salah, dia malah dianggap pengganggu yang menghambat revisi skripsinya.
"Udah berapa persen skripsinya?"
"85%, mungkin sidangnya bulan depan kalau revisi ini disetujui." Tora menoleh ke arah Karen. "Doain ya, dan jangan lupa datang ke sidangku!"
Karen mengangguk.
Kemudian dia mengedarkan pandangan ke tembok di kamar kos itu. Tidak ada foto terpajang di sana. Hanya beberapa poster group band tertempel.
"Ren, aku ambil buku dulu ya di lantai 2, di kamar temenku. Bentar kok."
Karen mengangguk.
Ini kesempatannya untuk melihat komputer Tora diam-diam. Dia hanya akan melihat wallpaper komputer itu sebentar dan mengembalikannya ke keadaan semula. Dia mengendap-endap kemudian me-minimize jendela aplikasi Microhard Word itu.
Benar saja, foto yang dipasang sebagai wallpaper adalah foto mereka berdua saat berkunjung ke museum beberapa waktu lalu. Wajah Karen langsung menghangat bersemu merah di pipi.
To be continued...
Jogja, April 6th 2021
***
__ADS_1