Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
71. Laendler


__ADS_3

Karen sedang merias wajah di kamar. Dia hanya menebalkan dan menajamkan beberapa bagian agar berbeda dengan riasan sehari-hari.


Dia mengenakan dress hitam yang panjangnya sedikit di bawah lutut. Beberapa aksesori emas juga terpasang di telinga, leher dan pergelangan tangan.


Daniel keluar dari closet dan telah siap dengan setelah jas dan kemeja hitamnya.


Mereka pun berangkat menuju restoran.


~


Karen dan Daniel keluar dari mobil dan melihat ke sekitar. Sudah banyak yang datang dan sedang mengantri untuk masuk.


Karen pun melingkarkan tangan di siku Daniel membuat suaminya itu menoleh meminta penjelasan.


"Yang lain juga gandeng tangan." Karen beralasan sembari memperlihatkan orang-orang di sekitar.


Dari kejauhan terlihat Lana dan Nathan yang sedang mengantri.


"Na, inget nggak dulu kita ke sini terus kamu jatuh." Nathan bernostalgia.


"Inget lah, udah dandan cantik eh nggak jadi masuk."


"Aku kasih tahu rahasia ya, dulu itu Dion sengaja dorong kamu biar kita pelukan hehe."


"Apa!" Lana mendadak kesal. "Kamu yang nyuruh?"


"Aku nggak nyuruh kok, suwer mewer ember. Tapi aku setujuin rencana dia waktu itu hehe, kan biar kita mesra."


"Ikh, mesranya nggak dapet, tapi aku sakitnya dapet!"


"Maaf ya sayang, aduduh mukanya jangan ditekuk gitu nanti dedek yang di dalam perut ikutan cemberut."


Daniel dan Karen menghampiri Lana dan Nathan. Mereka berempat masuk ke restoran itu. Di ruangan sudah banyak tamu.


Band klasik memainkan lagu-lagu khas untuk berdansa. Telah banyak juga tamu yang berdansa di tengah lantai dansa.


Mereka mengambil makanan yang sudah disediakan. Di hari biasa, restoran itu berkonsep fine dining. Namun karena malam itu adalah perayaan anniversary, pesta itu berkonsep standing party dengan buffet tapi tetap disediakan kursi di tepi dinding.


Mereka menikmati makanan sembari menyaksikan dansa klasik yang dilakukan oleh para tamu yang terdiri dari banyak komunitas dansa klasik.


"Hai,Bos Karen! Hai, Bro," sapa Haris yang mengagetkan Karen dan Daniel.


"Lhoh, kamu ngapain?" tanya Karen.


"Ya sama kayak kamu dong, emang nggak boleh?"


"Datang sama siapa?"


"Sendiri lah, laki-laki single mau datang sama siapa?"


"Kamu kenal sama siapa di restoran ini? Owner-nya?"


Haris mengangguk. "Iya, aku sekalian liat-liat konsep usahanya kayak gimana. Aku kan nantinya mau buka usaha kuliner."


Karen mengangguk.


"Kalau tahu kamu juga ke sini, tadi bareng aja."

__ADS_1


"Bareng gimana, aku bareng Daniel lah."


Daniel merasa sedikit terganggu dengan kedatangan saudaranya itu. Dia pun pergi dari sana untuk mengambil minuman.


Haris malah mengikuti langkah Daniel menuju meja minuman.


"Hei Bro, aku mau tanya sesuatu."


"Hm?"


Setelah mengambil minuman, mereka berbicara di dekat meja sembari melihat orang-orang yang berdansa.


"Ehem." Haris berdeham membersihkan tenggorokan seolah akan menyampaikan hal yang penting. "Jadi kapan kamu cerein Karen?"


"Apa?"


"Kenapa kaget? Aku tahu lho kalau kalian dijodohkan. Apa kalian saling cinta? Enggak, kan? Aku yakin enggak. Aku tahu tipe Karen itu seperti apa."


Daniel geram dalam diamnya. Dia menatap Karen di kejauhan sana dengan tatapan dan perasaan sendu kemudian meneguk minuman yang berada di tangannya.


Cinta? (Daniel).


"Setelah kalian cerai nanti, aku siap buat jagain dia."


"Itu tujuanmu kerja sama dia?"


"Enggak. Tadinya aku emang mau perdalam fotografi aja dengan kerja di tempat Karen. Tapi setelah tahu kalian dijodohkan, dan ngamatin kalian berdua, aku jadi semakin yakin kalau kalian memang nggak cocok dan nggak saling cinta."


Daniel kembali memandang Karen dari kejauhan. Dalam hatinya dia meng-iyakan kata-kata Haris. Pada awal pernikahan, mereka sangat tidak cocok. Kepribadian mereka sangat bertolak belakang.


"Kamu bahkan nggak mau cerita tentang gimana masa-masa kamu harus keluar dari SMA. Dia sampai harus nanya ke sana sini. Kenapa nggak mau cerita? Takut ketahuan kebobrokanmu?"


Peristiwa itu sungguh menyakitkan dan membuat kepribadiannya menjadi jauh lebih tertutup. Dia menjadi jauh lebih takut berteman.


Di SMA Vincitore tempat Daniel berpindah, dia hanya memiliki 'teman sekelas' yang mengenalnya hanya karena mereka sekelas. Tapi secara personal, Daniel tidak mengenal siapa pun. Dia makan siang di kantin sendirian, dia berganti baju olahraga sendirian, tidak pernah mengobrol dengan temannya.


"Gampang, Niel!inggal bikin gugatan, sidang, tanda tangan, selesai."


Menurut perjanjian Daniel dengan Karen, suatu saat nanti mereka akan bercerai. Dan dia telah menyetujui itu. Tapi entah kenapa mendengar Haris mengatakan itu, hatinya panas.


"Kamu lihat di layar itu, Niel?" Haris menunjuk layar di atas para pemain musik. Tertulis di sana 'next dance: Laendler'. "Laendler itu dansa favorit Karen. Kami pernah memainkan waktu SMA sampai kami jadi king and queen of the prom. Bisa dibilang kami itu 'dreamy couple'. Kamu ngerti kan maksudku? Kamu paham kan kalau dia lebih cocok sama aku? Dari dulu dia nggak suka laki-laki nerd kayak kamu."


Daniel memejamkan mata sejenak menahan amarahnya.


"Aku mau minta ijin, aku mau ngajak Karen turun ke lantai dansa dan bernostalgia," kata Haris sembari tersenyum penuh kemenangan.


Napas Daniel mulai tidak beraturan karena emosi. Dia memandang Haris dengan dada yang naik turun karena napasnya memburu.


"Gimana? Kamu kasih ijin, kan? Aku sopan lho minta ijin sama kamu. Ini karena kita masih saudara. Misalkan suami Karen itu nggak saudaraan sama aku, aku nggak bakal baik hati kayak gini."


Haris beranjak mendekati Karen untuk mengajaknya berdansa.


Dengan langkah cepat Daniel mengejar Haris dan meraih bahunya. "Nggak! Dia berdansa dengan suaminya."


Daniel pun mendekati Karen dan mengulurkan tangannya.


"Apa, Niel?" Karen terkejut dengan uluran tangan Daniel.

__ADS_1


Daniel menunjuk lantai dansa dengan sudut matanya.


"Dansa? Kamu bisa Laendler?"


Daniel mengangguk.


Mereka lupa Daniel pernah bersekolah di SMA yang sama meski akhirnya harus pindah. Mereka lupa bahwa guru tari mereka adalah orang yang sama sehingga apa yang dibanggakan Haris sebenarnya juga dipunyai oleh Daniel.


Karen pun mengulurkan tangan.


Jantungnya berdegup lebih kencang tapi dia terheran dengan raut wajah suaminya yang malah terlihat tidak sedang berbahagia.


Musik 3/4 mulai mengalun. Dansa asal Austria ini adalah dansa berpasangan yang sangat intimate. Karen dan Daniel beserta banyak pasangan dansa yang lain mulai menari.


"Kenapa, Niel? Kamu sakit?"


Sembari masih mengatur langkah dansanya, Daniel menggeleng.


Entah apa yang membuat Daniel menahan Haris mengajak istrinya berdansa. Dia merasa harus mencegah dan menggantikannya berdansa di lantai dansa yang disaksikan banyak orang. Padahal, menjadi pusat perhatian seperti itu sungguh sesuatu yang tidak dia sukai.


"Than, coba kita bisa dansa. Pasti so sweet kayak Daniel sama Karen." Lana terkagum melihat dansa yang dilakukan Daniel dan Karen.


"Misalnya bisa pun, kamu nggak boleh dansa. Ibu hamil muda nggak boleh pecicilan."


"Kalau udah hamil tua, boleh?"


"Ya tetep nggak boleh. Lagian kamu nggak takut nanti dikira kura-kura ikut dansa?"


"Aaarrrggghhh." Lana berdecak kesal. "Dansa, yuk!" ajak Lana.


"Baru juga dibilangin nggak boleh dansa malah ngajak," protes Nathan.


"Ya nggak yang kayak gitu, aku juga nggak bisa kali. Dansa aja, asal, pelan-pelan."


Nathan pun menyetujui. Tapi mereka memang tidak pernah berdansa jadi dansa mereka sangat kaku bahkan kaki mereka saling menginjak.


"Aaawww, sakit Than, jangan injek sih!"


"E eh, maaf maaf. Aaawww, kamu juga nginjek!"


Setelah beberapa kali saling menendang dan menginjak, akhirnya suami istri itu memutuskan untuk berhenti berdansa.


"Akh udahan aja deh, emang kita nggak bakat dansa. Malah kaki sakit kamu injekin mulu," ucap Lana, menyerah.


Sementara itu, Karen menikmati dansanya dengan Daniel apalagi pada saat-saat dansa itu mengharuskan mereka untuk berpelukan dan saling mendekatkan wajahnya.


to Be Continued...


Jogja, June 29th 2021



(visual dansa Laender dari film The Sound Of Music. -bukan visual Daniel Karen-.


Karen itu rambutnya panjang berwarna merah, tinggi 165.


Daniel berambut lurus agak bergelombang. Model rambut coma, tinggi 180.

__ADS_1


Dansa Laender yang asli sebenarnya tidak seperti di film TSOM. Namun, versi film itu sangat populer sehingga banyak yang mempelajari dansa ini versi film TSOM)


__ADS_2