Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
80. Menguji Kesabaran


__ADS_3

Pagi hari, Karen masih terlelap di pelukan Daniel.


Daniel bangun lebih dulu, menyingkirkan istrinya dengan hati-hati kemudian mandi.


Di dapur, Bu Minah sudah menyediakan sarapan seperti permintaan mereka semalam.


Daniel sudah berada di dapur menunggu Karen untuk sarapan.


Tidak lama, Karen juga sudah dalam keadaan siap dan berada di dapur. Dia duduk di kursi di depan Daniel.


"Janjian sama psikiaternya jam berapa, Niel?"


Dengan wajah datarnya, Daniel hanya menatap Karen.


"Jam 7.30?"


Daniel menggeleng.


"Jam 8?"


Daniel mengangguk.


"Kamu udah balik ke mode patung anubis ya?"


Daniel mengangguk lagi.


Karen berdiri dan berpindah ke kursi di samping Daniel. Dia mencium pipi suaminya itu. Daniel terkejut hingga menjatuhkan garpu dari tangan.


"Wah, aku cium di pipi aja sampai jatuhin garpu begitu. Sayangnya nggak aku rekam semalam kamu ngapain. Pasti kamu udah lupa."


Aku cuma kaget. Aku juga ingat semuanya. Tanpa obat pun aku bisa begitu kalau suasananya mendukung. Kamu lupa ya? Dan ini pagi hari, kamu ngarepin yang kayak gimana? (Daniel).


Mereka pun telah selesai bersarapan, tapi masih berada di ruang makan.


"Pretty Boy," panggil Karen sembari tersenyum meledek.


Karen tahu Daniel tidak akan membalasnya. Sebenarnya, dia bisa menjawab. Namun, dia harus merasakan sesak napas nantinya.


Daniel hanya melirik istrinya itu.


"Pinky Boy, heheh." Karen meledeknya lagi. Dia merasa bebas memanggil Daniel apa pun karena akan sulit bagi Daniel membalasnya.


Kamu ngeledek? Apa aku jatuh cinta pada wanita yang salah, ya Tuhan. (Daniel).


Daniel berkata dalam hati sembari menatap ke langit-langit.


Karen melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 7.40.


"Udah 7.40. Niel, ayo berangkat."


Mereka berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Sembari berjalan, Karen terus-terusan mengoceh meledek Daniel.


Kamu bener-bener nguji kesabaran ya? (Daniel).


Lama-lama Daniel gemas juga melihat istrinya yang mengoceh sedari tadi.

__ADS_1


"Pinky, pretty, pinky, pretty, pinky, pretty ... hmmmppp."


Daniel menarik lengan istrinya dan mencium bibirnya yang otomatis membuatnya langsung terdiam.


Tiba-tiba pintu depan dibuka oleh Haris. Sial baginya harus menyaksikan pasangan suami istri itu berciuman di depan mata. Apalagi pemain utama wanitanya merupakan mantan terindah.


Haris hanya bisa memandang bengis adegan yang menimbulkan bunyi cup cup cup itu. (Sebenarnya lebih dari itu, lebih seperti bunyi orang ******* jelly, pyuk pyuk pyuk, akh gimana sih).


"Ehem." Haris menginterupsi.


Daniel dan Karen mengakhiri kegiatan senam bibir itu. Mereka salah tingkah sudah tertangkap mata oleh orang lain.


"Har-Haris, pagi amat ke sini," kata Karen, malu-malu.


Haris tidak menggubris perkataan Karen. Dia fokus pada mereka berdua yang bersikap mesra. Terakhir kali bertemu, Karen masih mengumpulkan bukti untuk menggugat suaminya. Karen juga masih bersedih saat di kantor tempo hari.


Kenapa mereka bisa baikkan di tengah perselingkuhan Daniel? Laki-laki nerd ini udah ngomong apa buat yakinin Karen? (Haris).


Haris hanya memandangi dua orang itu bergantian.


"Uhm, kemarin ada yang belum selesai motret karena hari terakhir expo jadi aku buru-buru ke hotel," jawab Haris, seperti orang yang sedang kebingungan. "Kamu nggak ke kantor?"


Karen menggeleng. "Mungkin telat atau sekalian nggak ke kantor. Aku pergi sama Daniel."


"Bukannya lagi banyak yang nggak beres di kantor? Kamu mendingan ke kantor deh."


"Tapi aku mau ...."


Belum selesai Karen bicara, Daniel merangkulnya dengan erat dan membawanya pergi dari sana.


Bangsatt. (Haris).


~


Di sebuah rumah sakit khusus psikiatri, Daniel dan Karen melakukan konsultasi dengan seorang psikiater.


"Kondisi Bapak Daniel ini jarang terjadi. Biasanya selective mutism terjadi sejak masa anak-anak. Tapi karena bapak Daniel tidak diatasi sejak dini, jadi berlanjut hingga dewasa."


"Bisa disembuhkan kan, Dok?" tanya Karen.


"Sangat bisa. Kondisi Bapak Daniel tidak begitu parah. Dia bahkan masih bisa berbicara kepada Anda meski pun hanya sedikit dan hanya sesak napas sebentar."


"Memangnya yang lain separah apa, Dok?"


"Yang lain bisa sama sekali tidak bicara sedikit pun. Bahkan bisa saja pingsan."


Karen mengangguk.


"Untuk pengobatannya, kita butuh kerjasama Anda sebagai istrinya," kata dokter itu sembari mengambil obat, kemudian duduk lagi. "Bapak Daniel bisa keluar sebentar, saya harus bicara dengan Ibu Karenina."


Daniel keluar dari ruangan itu. Setelah memastikan Daniel keluar dan tidak mendengar pembicaraan mereka, dokter itu mulai menjelaskan.


"Setelah beberapa hari berkonsultasi dan mengamati, obyek yang menjadikan Bapak Daniel mengalami kebisuan adalah orang yang dicintai. Itu juga sebabnya orang tuanya tidak mengetahui karena saat menyukai seseorang, kita semua jarang kan curhat kepada orang tua," kata dokter itu sembari sedikit tertawa.


"Oh. Hehem ... iya juga ya, Dok."

__ADS_1


"Didukung dengan kepribadian Bapak Daniel yang memang tertutup. Saat remaja dan mulai punya perasaan suka kepada lawan jenis, dia tidak mengatakan kepada siapa pun tentang perasaannya. Saat berhadapan dengan orang yang dia sukai, dia terdiam. Orang lain mengira dia diam karena memang pendiam. Makanya, sulit dideteksi. Dan karena itu jugalah orang dengan selective mutism sulit mendapatkan pasangan."


Karen mengerti sekarang kenapa Daniel sangat sulit mendekati wanita.


"Kenapa Daniel musti keluar, Dok? Terus kenapa obatnya dikasih di sini, nggak diresepin terus beli di apotek?"


"Akan saya jelaskan satu persatu. Pertama, peran Anda sangat penting. Selective mutism dapat sembuh tanpa obat sekalipun asal lingkungan mendukung. Dan Anda adalah kunci pengobatannya."


"Ha? Saya?"


"Iya. Selama ini, psikis Bapak Daniel menganggap Anda sebagai ancaman sehingga membuatnya cemas hingga sesak napas. Tapi, melihat dari hubungan kalian yang sudah sampai melakukan hubungan suami-istri, berarti tidak butuh waktu lama karena secara alami dia sudah mulai menerima kehadiran Anda bukan sebagai ancaman."


Mendengar itu, pipi Karen memerah. Sebagai orang yang tidak berkecimpung di bidang sains, membicarakan hal seperti itu sangat membuatnya malu. Sedangkan di kalangan sains seperti obstetric and gynecology, biology, psikiatry, dll, hal itu bukanlah hal yang tabu.


"Uhm, dulu waktu awal menikah, dia bisa bicara dengan saya. Kenapa beberapa waktu setelah itu dia jadi semakin parah?"


"Itu karena meningkatnya perasaan terhadap Anda namun tidak mendapatkan respon dari Anda. Apalagi dia pernah melihat Anda menangis saat menceritakan kehidupan pernikahan Anda kepada adik Anda."


Karen mengernyit. Dia tidak merasa Daniel memergokinya menangis saat mencurahkan isi hatinya kepada adiknya.


Oh, waktu itu, waktu dia tiba-tiba marah. Ternyata dia mergokin aku nangis waktu curhat sama Kendrik. (Karen).


Dokter itu melanjutkan, "Semakin dia mencintai Anda, ditambah semakin besar penolakan Anda, gejalanya semakin parah. Tapi karena kemudian Anda memberikan respon, maka jalan untuk kesembuhan bisa terbuka lebar."


Karen mengangguk-angguk. "Apa yang bisa saya lakukan, Dok?"


"Anda harus memberikan perhatian yang lebih setiap harinya sampai dia yakin bahwa Anda mencintai dia. Yakinkan bahwa Anda memiliki perasaan yang sama sehingga dia merasa nyaman. Dia berbicara nyaman kepada keluarga intinya kan? Itu karena tidak ada yang lebih mencintai dia selain keluarga. Maka dari itu, Anda sebagai orang asing yang baru saja masuk ke kehidupannya, harus bisa meyakinkan sampai level bawah sadarnya."


"Level bawah sadar?"


"Keluarganya tidak selalu mengucapkan bahwa mereka mencintai Bapak Daniel, kan? Tapi secara bawah sadar, Bapak Daniel percaya mereka mencintainya."


"Apa itu artinya saya harus agresif?"


"Bisa dibilang begitu, tapi tidak perlu berlebihan juga. Buat dia nyaman di dekat Anda, tenangkan dia."


Mendengar itu, Karen merasa ragu.


Jadi, aku yang harus berjuang? Sendiri? (Karen).


Menyadari ekspresi bimbang Karen, dokter itu memberikan motivasi.


"Begini, Bu. Memiliki anggota keluarga atau pasangan yang 'lain' dari yang lain memang berat. Yang kita bisa lakukan adalah menerima keadaannya dan men-support dia."


Karen mengangguk lesu.


"Ini adalah obat untuk Bapak Daniel. Ini isinya tepung terigu."


"Hah?"


"Itu yang harus Anda rahasiakan. Kita akan memanfaatkan placebo effect. Setiap setelah minum obat ini, yakinkan dia bahwa dia telah minum obat dan akan baik-baik saja di dekat Anda."


to be continued...


Jogja, July 9th 2021

__ADS_1


__ADS_2