Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
93. Honeymoon Di Jogja (part 6)


__ADS_3

"Kenapa, Niel?" Karen bertanya dengan suara bergetar.


"Oh, itu, jam tangannya mirip," kata Daniel sembari memperlihatkan jam tangan miliknya.


Karen memutar bola matanya ke atas.


Mereka segera menuju ke sebuah kedai bakso yang tidak jauh dari hotel. Di tengah mereka menyantap bakso, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Daniel.


Karen memeriksa ponsel Daniel yang tadi dititipkan di tasnya itu. Tertera nama seorang wanita, 'Puspa Ps'. Agak tersentil hatinya, Karen membiarkan panggilan itu.


Suaminya tidak tahu ada panggilan telepon di ponselnya. Karen hanya melihat layar sepintas dari dalam tas sehingga tidak terlihat dia memegang ponsel siapa.


Dari namanya sih, kayak nama ibu-ibu. Mirip artis senior Titi Puspa. (Karen).


Tidak ingin lama-lama berprasangka, Karen langsung menanyakan kepada Daniel. "Niel, Puspa itu siapa?"


"Pasienku."


"Oh ...." Karen sedikit lega.


Pasien penyakit jantung umurnya 50 tahun ke atas kan umumnya? (Karen).


"Pasien kamu sering konsultasi lewat nomer handphone pribadi?"


"Iya."


Meski mendapat akses penuh untuk saling melihat ponsel, nyatanya mereka malah jarang memeriksa ponsel pasangan.


Karen merasa bersalah juga jika tidak memberitahu Daniel tentang panggilan tadi. Dia memberikan ponsel itu kepada Daniel.


"Tadi pasien kamu nelpon. Mau aku kasih ke kamu, keburu ditutup." Karen beralibi berharap Daniel tidak curiga Karen cemburu konyol.


Namanya juga Daniel, dia menerima begitu saja alasan Karen. Daniel memeriksa call log kemudian menelpon balik pasiennya.


Agak ramai di kedai itu, Daniel keluar dan menelpon di luar di titik yang tidak begitu ramai.


Tak lama Daniel kembali.


"Kenapa Niel? Apa pasien kamu lagi kambuh?"


"Nggak, dia tanya cara minum obat."


Karen yang tadi menunduk karena menikmati makanannya, perlahan mengangkat pandangannya dan menatap Daniel.


Cara minum obat? Kenapa kedengarannya mengada-ada banget sih? Kalau obat diminum kan ya tinggal taruh di mulut, minum air, selesai. Semua orang juga tahu, kan? (Karen).


"Maksudnya, dosisnya? Atau frekuensi minum obatnya?"


"Bukan, cara minumnya."


Karen memandangi Daniel yang sedang asyik menikmati bulatan bakso.


Apa Bu Puspa itu semacam pasien tante-tante ganjen? (Karen).


Cemburu menguras bak mandi.


Itulah yang dirasakan Karen saat ini. Pasien Daniel menelpon seolah hanya mencari-cari alasan agar dapat menggoda suaminya.


Tiba-tiba saja, Karen dengan cepat menghabiskan baksonya sehingga membuat Daniel keheranan. Biasanya dia lebih lamban daripada Daniel. Kali ini dia lebih dulu menyelesaikan santapannya.


Setelah habis, Karen memesan otak-otak. Dia melampiaskan rasa cemburunya dengan makan. Memang sudah kebiasaan Karen seperti itu jika gusar.


Untung makanan-makanan itu sangat pengertian sehingga mereka hanya lewat saja, tidak begitu banyak membentuk lemak. (Ya, paling-paling dikit di bagian tertentu).


(Beda sama author yang minum air putih aja jadi lemak di mana-mana -_-).


"Laper banget?" tanya Daniel yang belum bisa menangkap rasa cemburu Karen.


Karen mengangguk sembari melirik suaminya.


Kenapa sih aku cemburu sama ibu-ibu 50 tahun. Cemburu mengalahkan logika. Eits, ingat, Jenifer Lupis juga 50 tahun dan kesyantikannya paripurna. Dan perutnya ramping langsing nggak kayak perutku yang menggelambir kayak koyoran sapi. (Karen).


"Bu Puspa pasien kamu itu kayak apa orangnya, Niel?"


"Bu Puspa?" Daniel belum menangkap siapa yang dimaksud Karen. Sejenak dia berpikir. "Oh Puspa? Ehm, kayak perempuan pada umumnya." Daniel sendiri bingung bagaimana mendeskripsikannya.

__ADS_1


"Kok nggak pake 'Bu'? Emang berapa umurnya?"


"19 tahun."


"Apa?"


"19 tahun."


Aaarrrggghhh aku nggak budeg. (Karen).


Mendengar ternyata pasien Daniel itu masih di bawah 20 tahun, Karen semakin gusar. Muncullah pertanyaan-pertanyaan tentang pasien yang bernama Puspa tersebut.


"Orangnya cantik?"


"Iya."


Apa?! Barusan nggak salah denger suamiku muji perempuan lain di depan mukaku? (Karen).


Kaki Karen bergerak tidak beraturan, tidak sabar ingin segera pergi dari sana.


"Udah selesai belum makannya?" tanya Karen, ketus.


Sebenarnya dia juga bisa melihat sendiri bahwa Daniel belum selesai menyantap makanannya. Merasa ada yang tidak beres, Daniel segera mempercepat makannya.


Meski dia merasa ada yang tidak beres, kepekaan Daniel belum level tinggi sehingga tetap saja belum dapat menangkap kecemburuan Karen bila gejalanya tidak jelas begini.


Malahan, kepekaan Daniel kadang melenceng seperti drama bangkai cicak yang baru saja terjadi di kamar hotel mereka.


"Nanti habis makan bakso, kita langsung pulang ke hotel aja."


Padahal sebelumnya, mereka berencana menghabiskan malam dengan berjalan menyusuri jalan Malioboro dan menyicil berbelanja titipan oleh-oleh yang segudang. Karen membatalkan secara mendadak.


"Ren, kamu marah?"


"Nggak."


Fyuh, leganya. (Daniel).


Karen kini memegangi ponsel Daniel dan melihat-lihat Chatsapp milik suaminya itu. Langsung dilihatnya foto display picture akun Chatsapp Puspa.


Daniel sudah selesai menyantap baksonya. Mereka dalam perjalanan kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Tidak seperti saat berangkat tadi, Karen jual mahal tidak mau digandeng atau pun dirangkul.


Katanya nggak marah, tapi kok begini. (Daniel).


Sampai di kamar, Karen langsung merebahkan diri dan memunggungi Daniel. Dokter itu memeluk istrinya dari belakang.


"Marah kenapa, Ren?"


Karen menggeleng.


Daniel menghela napas panjang. "Aku nggak bakal tahu kalau kamu nggak ngomong." (Dia ini nggak ngaca ya?)


"Ngomong sama Puspa aja sana!"


"Puspa? Kamu cemburu?"


"Ternyata dia muda dan kamu bilang dia cantik!"


Daniel mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Terus, aku musti ngapain? Dia muda kan karena ibunya ngelahirin di tahun segitu. Dia cantik juga mungkin udah gen-nya. (Daniel).


Daniel belum tahu bahwa mengatakan wanita lain cantik di depan pasangan itu sama seperti menggali kubur sendiri.


Belum tuntas perkara ini, ada yang bergejolak di perut Daniel meminta untuk diikhlaskan keluar dari usus besarnya. Hanya saja waktunya kurang tepat di tengah kecemburuan istrinya itu.


Tidak! Pasukan di usus besar itu sudah saling dorong dan ingin segera mengucapkan selamat tinggal pada raga Daniel. Tidak tahan, Daniel ke kamar mandi.


"Ckckck, bisa-bisanya aku marah gini malah ditinggal!" Karen menggerutu lirih.


Dilihatnya ponsel Daniel yang menjadi sumber masalah hari itu. Seperti menyiramkan minyak ke dalam api, sebuah pesan Chatsapp dari Puspa masuk, siap membuat Karen tambah panas.


📱Puspa Ps: Terimakasih ya Dok udah telepon balik. 😋🤗


Karen memelototi pesan singkat itu dengan pikiran yang sudah mendidih.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Daniel keluar dari kamar mandi. Dengan pandangan serupa binatang buas, Karen menyambut suaminya.


Karen langsung melemparkan ponsel Daniel di tempat tidur ke arah Daniel. Lelaki itu mengambil dan membaca isi pesan Chatsapp yang sudah dalam keadaan terbuka.


"Tuh lihat! Kamu baca sendiri! Istri mana yang nggak cemburu kalau suaminya dapet chat kayak gitu dari cewek muda dan cantik!"


Daniel menggaruk-garuk kepalanya. Isi chat itu hanya ucapan terimakasih ditambah 2 emoticon.


"Ini cuma ucapan terima kasih, Ren."


"Gini ya, Niel, aku perempuan. Sesama perempuan, aku tahu kalau dia itu suka sama kamu. Perempuan itu kalau chat pakai emot-emot sok imut gitu pasti dia punya rasa suka. Dan ini apa?! Emot icon peluk!"


Daniel tidak menjawab. Apa pun jawabannya, Karen pasti akan tetap marah. Dia pun duduk di dekat istrinya.


Karen memukul suaminya itu dengan bantal. "Ngeselin, ngeselin, ngeselin, hih!"


Daniel berpikir keras. Waktu Karen cemburu kepada psikolog yang masuk bersamanya di kamar Hotel Grand Astan beberapa waktu lalu bisa dibilang sangatlah wajar.


Daniel memang terlihat masuk ke kamar hotel bersama seorang wanita (meski kenyataannya tidak seperti yang terlihat). Kecemburuan Karen saat itu sangat bisa dimaklumi.


Namun, untuk yang terjadi saat ini, Daniel tidak merasa dirinya bersalah. Sepertinya, Puspa memang menunjukkan ketertarikan kepadanya. Akan tetapi, Daniel tidak memberi respon apa-apa kepada gadis itu.


Logikanya bertarung keras dalam pikiran. Akal sehatnya terus mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah.


Lama diam-diaman di atas tempat tidur membuat mata mereka terpejam sedikit demi sedikit. Mereka pun terlelap dalam keadaan masih marah.


Punggung beradu punggung, persis seperti udang goreng di atas wajan teflon. Satu membungkuk ke sana, satu lagi membungkuk ke sana. Akh, malam yang runyam dan nganggur.


~


Mami Seli melihat-lihat status Chatsapp menantunya karena putranya sendiri jarang mengupdate status. Jadi, status Chatsappnya tidak dapat diandalkan untuk memantau keadaan.


Mami Seli tetap ingin mengawasi perkembangan anak dan menantunya. Bagaimana pun, Daniel sangat minim pengalaman tentang menghadapi pasangan.


Siang tadi, Karen masih mengupload foto kebersamaannya dengan Daniel. Tapi sore hingga malam, tidak ada jejak apa-apa.


Mungkin pada kecapekan. Akh, udah beberapa hari nggak grecokin mereka. Aku telpon deh. (Mami Seli).


~


Ponsel Daniel berdering. Pemiliknya bangun dari tidur dan menerima panggilan telepon itu dengan mata menyipit.


🎥"Halo Mi."


🎥"Halo Niel, jam 8 kok udah tidur. Karen mana?"


🎥"Ini." Daniel mengarahkan kamera ponsel ke balik punggungnya untuk memperlihatkan Karen.


🎥"Lhoh, mana, Niel? Kok nggak ada?"


Daniel pun menengok dan ibunya benar, Karen tidak ada di sana.


to be continued...


Jogja, August 2nd 2021


***


👸Author: Puspa itu cantik lho.


👰Karen: 😡


👸Author: Puspa itu idola di kampusnya lho.


👰Karen: 😡


👸Author: Dia itu pinter lho.


👰Karen: Authooorrr! Stop! Aku resign dari tokoh utama novel ini😡


👸Author: Eh jangan donk sayang. Tetep kamu yang teryahud buat yayang Kudanil.


👰Karen: Mi ayam!


👸Author: Oke, siap kirim.🍜🍜🍜. Eh bentar-bentar, kok jadi eike yang kena palak gini ya🤔😏.

__ADS_1


__ADS_2