
Melihat banyak pasangan dan keluarga sedang berbahagia di mall itu, Karen tidak lagi ingin berlama-lama di sana. Ditambah dengan rencana lamaran seorang crazy rich kepada kekasihnya benar-benar membuat Karen ingin pergi ke tempat yang jauh.
Dia bukannya tidak senang melihat orang lain bahagia tetapi dia juga ingin mempunyai apa yang dipunyai oleh orang itu. Dia menginginkan cinta. Cinta dari seorang pendamping hidup. Karena cinta sahabat dan keluarga saja tak cukup baginya.
Dia memacu mobil lebih kencang. Tak lama, dia sudah sampai di tempat yang dituju, rumah orang tuanya. Mama Puri sudah menyediakan kue tart di kulkas. Kendrik sedang mengerjakan tugas kuliahnya.
"Karen! Astaga, kamu bikin Mama khawatir. Sedari tadi handphone-mu nggak bisa dihubungin. Habis dari mana?!" Mama Puri sudah memberondong pertanyaan karena Karen sulit dihubungi.
Melihat ibunya, Karen berlari dan memeluknya erat-erat. "Mamaaaa, jodohin aku Ma, please please, hiks ...." Sembari sesenggukan, Karen menyampaikan permintaan terdalamnya, memohon untuk dijodohkan.
Kendrik mendengar teriakan Karen kemudian keluar dari kamar untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakaknya. "Kak, selamat ul--"
Belum sempat Kendrik menyelesaikan kalimatnya, Mama Puri memberi kode. Mereka pun menenangkan Karen.
Beberapa saat kemudian, Mama Puri mengajak Karen berbicara serius. "Kamu kepengen dijodohin sama siapa?"
"Ya pokoknya sama lawan jenis, Mama."
"Kalau nggak cocok, gimana?"
"Cari yang cocok, Ma. Masak iya nggak ada satu pun yang cocok."
"Lhoh, dulu kan kamu yang selalu nolak kalau Mama ajak ketemu teman-teman Mama, katanya takut dijodohin sama orang asing, takut nggak cocok."
"Mama tuh mau nggak sih jodohin aku? Kok alasannya banyak bener!"
"Ikh, kamu marahin Mama begitu, Mama berubah pikiran lho."
"Jangan, Ma! Jodohin aku, jodohin aku! Kalau nggak mau, aku panggil Mama jadi Emak nih, biar jadul. Emak, aku pengen kawin! Tolongin cari calon mantuuu!"
"Haish, kalau Siti Nurbaya nangis dijodohin, kalau kamu nangis minta dijodohin. Bener-bener kebalikan."
"Habis gimana sih, Mak? Aku udah usaha nyari kok ya nggak dapet-dapet. Mungkin emang aku nggak mampu cari jodoh sendiri, musti dibantu orang lain."
Mama Puri berpikir-pikir bagaimana cara mencarikan calon untuk Karen. Tentu ajang pertama yang terpikir untuk mencarikan jodoh adalah reuni. Tahun lalu, ada yang telah berhasil menjodohkan anak mereka.
"Nanti kalau ada acara reuni, Mama coba tanya-tanya kalau ada yang lagi cari calon buat anaknya."
__ADS_1
"Kalau ada, sebulan langsung nikah ya, Mak."
"Astaga, cepet amat Ren! Kamu tuh meski ngebet, tapi harus dipikir juga lho ya. Jangan sampai kamu asal pilih orang." Mama Puri khawatir Karen mendapat orang yang tidak tepat.
"Iya, nanti dipikir juga kali, Mak."
"Ya udah, Mama usahain. Sekarang, panggil 'Mama' lagi."
"Iya. Terima kasih ya, Mama sayang yang cantik."
"Eh, rambutmu jadi kayak habis kebakaran gitu."
"Keren kan, Ma? Udah kayak Black Widow belum?"
***
Waktu reuni Mama Puri pun tiba. Dia menghadiri reuni akbar itu sembari membawa foto Karen dengan pose paling cantik. Karen memutuskan untuk tidak ikut. Dia memasrahkan pada Mama Puri. Tak disangka, tahun ini ada 3 lelaki dan 2 perempuan anak teman sekolah Mama Puri yang akan dijodohkan.
"Sssttt, aku sengaja bikin group kecil khusus buat perjodohan anak-anak kita. Tahun lalu, ada yang sudah berhasil. Nah, tahun ini peminatnya bertambah. Semoga membantu putra putri kita yang sedang mencari pasangan," kata ketua panitia perjodohan kecil yang memisahkan diri dari acara reuni yang besar itu.
5 orang tua kandidat ditambah ketua panitia kecil perjodohan duduk di sebuah meja bundar. Meja itu terletak di pojok aula besar di mana acara itu dihelat.
Para orang tua dari kandidat ini terdiri dari berbagai angkatan.
"Nggak ngira, Jeng Puri, kalau kita di group kecil ini," sapa Bu Seli, kakak angkatan selisih 4 tahun dari Mama Puri. Di sekolah, mereka tidak sempat bertemu karena saat Bu Seli lulus, Mama Puri masuk.
"Iya ya, Mbak, kemarin-kemarin nggak kepikiran mau daftarin Karen untuk cari jodoh di sini. Ini anaknya sendiri yang minta."
"Wah, bagus itu, ada kesadaran. Anak saya, Daniel, udah 34 tahun, belum menikah juga. Ini udah perjodohan yang 3 yang diikuti. 2 yang udah lewat, gagal semua. Semoga kali ini ada yang cocok."
Ketua panitia perjodohan memberikan foto yang sudah dikumpulkan. Foto kandidat wanita dicetak rangkap 3 untuk diberikan pada pihak laki-laki.
Foto kandidat laki-laki dicetak rangkap 2.
"Ini waktunya nggak usah lama-lama ya, seminggu nanti kita berkumpul kembali. Kalau ada yang saling memilih, bisa dipertemukan. Nah ke depannya, terserah kebijaksanaan masing-masing keluarga. Panitia cuma bantu sampai di situ aja," jelas Pak Purnomo, ketua panitia perjodohan.
"Terus, nanti kandidat yang tidak terpilih bagaimana, Pak Pur?" tanya Mama Puri.
__ADS_1
"Nanti, untuk yang saling memilih, sepasang kandidat itu akan dieliminasi. Sisanya bisa mengulangi proses. Jika dalam tahap pertama ini belum ada yang match sama sekali, bisa kita ulang lagi prosesnya dari awal."
Tahap awal memang hanya dari foto. Kemudian mereka akan dipertemukan dan selanjutnya terserah mereka akan lanjut atau tidak.
Mama Puri membawa 3 foto itu ke rumah Karen. Dalam hati dia berdoa agar salah satu dari 3 foto itu nanti akan menjadi menantunya. "Menurut kamu gimana, Ken?" tanya Mama Puri sembari menunjukkan 3 foto itu kepada Kendrik yang sedang mengemudi.
"Menurutku, gantengan aku, Ma," jawab Kendrik, santai.
"Hih, mana yang cocok buat kakakmu?"
"Mana kutahu, nanti biar si Koreng sendiri yang milih. Kan bukan aku juga yang mau dijodohin." Meski intuisi Kendrik kuat, dia tidak mau mendahului kakaknya yang akan dijodohkan itu.
Karen sudah menunggu di gazebo ketika Mama Puri dan Kendrik tiba.
"Gimana gimana gimana, Ma?" sambut Karen, bersemangat.
"Sabar, ini fotonya."
Mama Puri kemudian menjelaskan langkah-langkah selanjutnya untuk mengikuti perjodohan kecil itu.
Aku harus pilih dari fotonya aja? Gila! Mana orangnya cakep semua. Cakep tapi pada dijodohin hahah, ironis. Eh, ya ampun nggak ngaca banget aku ini. Aku juga dijodohin. Kami ini sekumpulan orang yang nggak mampu cari jodoh sendiri. (Karen).
Karen mengira dengan mengikuti perjodohan ini akan mengurangi beban hidupnya. Ternyata, baru tahap memilih saja dia sudah pusing.
"Pilih mana yang membuat kamu tertarik. Begitu tahap awalnya. Kan jodoh harus yang bisa bikin kamu tertarik." Mama Puri memberi nasihat kepada putrinya yang nampak kebingungan itu.
"Semuanya menarik secara penampilan. Bisa nggak sih ketemu dulu?"
"Aturannya nggak gitu Ren. Tahap awal dari foto aja."
Hah pusing! (Karen)
To be continued...
Jogja, April 16th 2021
***
__ADS_1
find me on Instagram: @titadewahasta