Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
73. Perubahan


__ADS_3

Rumah sakit Keluarga Bahagia


Pukul 3 sore, Daniel menyelesaikan pemeriksaan pasien. Saat itu sudah tidak ada pasien yang mengantri di poli.


Di antara map dan kertas-kertas yang ada di atas meja, ada sepucuk surat yang masih sangat rapi, pertanda belum tersentuh oleh Daniel sama sekali.


Dia pun membukanya. Saat membaca surat itu, Daniel terbelalak kaget. Dia ditugaskan oleh rumah sakit untuk mengisi konsultasi kesehatan di stand expo kuliner di Hotel Grand Astan.


Aduh, kok bisa dari kemarin nggak kebaca. (Daniel).


Dia pun segera pergi dari rumah sakit dan buru-buru menuju ke hotel. Karena saking terburu-burunya, dia lupa tidak memberitahu Karen bahwa dia akan pulang terlambat.


Sesampainya di hotel, dia menelpon Kendrik.


~


Karen sudah memasak dan menunggu dengan gelisah.


Chatsapp


📱Karen: Udah jam 5.30 kok belum pulang?


📱Daniel: Maaf, aku ngisi konsultasi kesehatan di kuliner expo Hotel Grand Astan. Seminggu ke depan pulang malam.


📱Karen: Oh, oke.


Kuliner expo di Hotel Grand Astan? Berarti dia bakal ketemu Haris dong ya? (Karen).


Tapi hal itu tidak dia pusingkan. Yang dia pikirkan adalah adiknya yang nanti tidak memiliki teman diskusi.


Chatsapp


📱Karen: Ken, Daniel seminggu ke depan pulang telat terus nggak bisa bantu diskusi kamu. Kalau mau datang, datang aja langsung tapi nggak bisa ketemu Daniel di rumah.


📱Kendrik: Iya, dia udah ngabarin kok Kak. Makanya aku nggak ke situ hari ini. Lagian ini udah tinggal dikit lagi.


Membaca chat dari Kendrik, Karen terkejut. Daniel sempat memberi kabar kepada Kendrik tapi sama sekali tidak ingat untuk memberi kabar kepada istri sendiri.


Tidak lama kemudian, Bibi Sum datang. Dia menjelaskan bahwa dia diminta menginap seminggu ke depan untuk menemani Karen di rumah. Meski kedatangan Bibi Sum karena Daniel mengkhawatirkannya, Karen tetap saja kesal.


Daniel memberi kabar pada Kendrik dan Bibi Sum, tapi dirinya dilewatkan.


Setelah makan dan menyelesaikan aktivitas hari itu, Karen tidur.


Daniel pun pulang ketika istrinya sudah terlelap.


***


Pagi hari saat Karen bangun, suaminya sudah tidak ada di rumah.


"Bi, Daniel berangkat jam berapa tadi?"


"Jam 7, Non. Sarapannya lebih pagi dari biasanya. Jam 6.30 udah sarapan, jam 7 udah berangkat."


Karen berpikir positif, mungkin memang keadaan mengharuskan Daniel berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam.


~


Kantor Ren's Writer


"Ris, gimana kemarin hari pertama expo?"


"Lancar, bagus, aku kenalan sama beberapa pemilik frenchise sambil mempelajari ketentuannya. Aku pelajari juga bisnis kuliner yang non frenchise kay- "


"Kamu ketemu Daniel nggak?"

__ADS_1


"Oh, dari tadi kamu cuma pengen tanya itu ya? Iya, aku ketemu."


"Ehm, expo-nya tutup jam berapa per harinya?"


"Jam 9 malem. Kenapa? Daniel pulang jam 3 subuh?"


"Nggak lah!"


Aku bahkan nggak tahu dia pulang jam berapa. Apa jangan-jangan pulang subuh beneran ya? (Karen).


Dia pun menanyakan kepada Daniel melalui Chatsapp.


📱Karen: Semalam jam berapa sampai di rumah?


📱Daniel: Jam 10.


Dia menghitung-hitung. Wajar Daniel sampai di rumah pada pukul 10 malam.


***


Pagi berikutnya dan selama 3 hari, timeline Karen dan Daniel masih sama. Daniel berangkat sebelum Karen bangun dan pulang setelah Karen tertidur.


Karen mencoba begadang untuk bisa menemui Daniel tapi belum berhasil karena dia terlalu lelah dengan pekerjaan di kantor yang bertambah parah kekacauannya.


Mereka berdua hanya saling bertukar kabar melalui chat. Itu pun sekenanya, hanya tentang pulang jam berapa, pergi jam berapa dan hal receh lainnya.


***


Pada hari ke empat, Karen berhasil bangun lebih pagi berkat alarm di ponsel. Dia dapat bertemu dengan suaminya dalam keadaan dua-duanya terjaga.


Itu pun Daniel sudah terlihat buru-buru karena waktu menunjukkan pukul 6.30


"Niel, ada yang pengen kamu omongin nggak?"


Daniel menggeleng.


Daniel memutar bola matanya ke atas, mengingat-ingat, kemudian menggeleng.


Seingatnya semua informasi sudah dia beritahukan kepada Karen.


Apa musti aku yang mulai ngomongin tentang malam itu? Apa kontraknya harus diubah? Atau dianggap nggak ada? Apa aku bakar? (Karen).


"Niel, aku mau ngomongin ...."


Belum selesai Karen bicara, Daniel sudah buru-buru pergi.


Karen berusaha memaklumi kesibukan suaminya. Namun, tidak dapat dipungkiri, dia tetap memiliki prasangka meski kecil.


Apa dia sengaja menghindar dari aku ya? Masak kebetulan habis peristiwa itu terus dia sibuk. (Karen).


~


Kantor Ren's Writer


"Pagi, Mas Ang," sapa Haris.


"Pagi, Mas! Wueh, cerah bener. Lagi happy?"


"Iya dong, tiap hari kita harus selalu happy," kata Haris sembari mempersiapkan kamera.


Haris tidak segera pergi ke studio, padahal Citra sudah memberi detil pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia sengaja menunggu Karen datang.


"Pagi, Bos. Akhirnya datang juga," sapa Haris kepada Karen yang baru saja tiba di kantor.


"Kenapa emangnya? Kok belum ke studio? Project-nya banyak lho hari ini. Kamu mau ke expo kan nanti?"

__ADS_1


"Iya." Haris mengikuti Karen ke ruangannya.


"Nda, bisa keluar sebentar?" pinta Haris.


Inda pun keluar dari sana, memberikan privasi untuk Haris dan bosnya.


Karen merasa heran. Pasalnya, tadi fotografer itu tidak mengatakan apa pun kemudian tiba-tiba saja meminta orang lain keluar dari ruangan agar dapat berbicara empat mata dengan Karen.


Karen masih menatap Haris, menunggu apa yang akan dikatakan. Haris menatap Karen sembari tersenyum seolah kabar yang dibawanya ini adalah kabar bahagia.


"Beberapa hari ini aku ketemu Daniel di Grand Astan." Haris membuka sembari membuka-buka gallery foto di ponsel.


"Dan ...?"


"Dan, kamu lihat sendiri aja." Haris menyodorkan ponsel.


Terpampang di pencitraan Daniel sedang berbincang dengan seorang wanita berpakaian rapi dan formal. Karen tidak mengenali wanita itu, tidak pula terlihat familiar.


Meski dia tidak hapal semua rekan Daniel di rumah sakit, dia mengingat sepintas wajah para pegawai karena mereka hadir di pernikahannya dengan Daniel.


Karen berusaha berpikir positif.


"Mungkin itu teman kerja atau kenalannya."


Haris tersenyum sinis. "Kalau bukan, gimana?"


Karen tidak menjawab, dia hanya terus memandang Haris dan beracting tegar.


Haris menggeser-geser file foto itu dan sampai pada sebuah file video. Dia memberi kode pada Karen untuk memutar video itu.


Dengan ragu-ragu, dia menyentuh tombol bersimbol segitiga menghadap ke kanan berwarna biru.


Video itu memperlihatkan Daniel dan wanita yang ada di foto tadi sedang berjalan menyusuri lorong hotel, menuju sebuah kamar. Mereka masuk, menutup pintu, dan video berakhir.


Perasaan Karen langsung tidak karuan sedangkan laki-laki di hadapannya justru tersenyum penuh makna.


Pikiran Karen menebak-nebak siapa wanita itu, apa hubungannya dengan Daniel, dan apa yang mereka lakukan berduaan di kamar hotel.


Melihat kekacauan di wajah Karen, Haris berusaha menghibur. "Tenang, Ren! Mau aku stalk mereka sedang apa di dalam? Atau mau kamu grebek sendiri?"


Karen tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu nggak usah khawatir, Ren. Aku ada di sini buat kamu."


Karen menatap Haris dalam-dalam. "Maksud kamu?"


"Kalau pun kamu harus pisah dari Daniel, aku bisa jadi pelindungmu yang berikutnya." Haris memegang tangan Karen, tapi dia mengibaskan tangan itu


"Uhm, err, bisa kamu kirim foto dan video tadi ke aku?"


"Kalau saranku sih kamu lebih baik nggak bawa file ini ke rumah. Kalau suatu saat Daniel tahu bahwa kamu tahu, dia bisa aja ngilangin jejak dan nyari-nyari alibi. Kamu pura-pura nggak tahu dulu aja sambil aku bantu kumpulin bukti, kalau udah lengkap baru kamu bisa gugat dia."


Karen mengangguk tegar meski hati terasa perih.


Dia telah banyak menyaksikan istri-istri kuat yang mampu 'main cantik' untuk mengungkap kasus perselingkuhan suami mereka. Mereka mampu meminggirkan rasa sakit dan tangguh mengumpulkan bukti-bukti agar suami mereka kalah di pengadilan.


Namun, rata-rata motif mengalahkan suami mereka di pengadilan adalah agar harta kekayaan suami dan hak asuh anak dapat dimiliki oleh pihak istri. Sedangkan Karen, penghasilannya saja di atas penghasilan Daniel. Anak pun mereka belum memiliki.


"Tapi buat apa aku menang gugatan, kami tinggal pisah aja kalau emang dia terbukti selingkuh. Aku nggak rugi apa-apa. Anak? Duit? Kami belum punya anak, dan duit? Kami punya sendiri-sendiri."


"Kalau menurutku sih, kalau pasangan curang begini, aku pilih ribut di pengadilan dan menang. Hasil akhirnya dibanding pisah baik-baik adalah sama, cerai. Tapi lebih puas bisa ngasih para pelaku curang itu shock therapy."


to be continued...


Jogja, July 2nd 2021

__ADS_1


***


__ADS_2