
"Nanti sore kamu mau ke expo nggak?"
"Enggak deh. Tolong kamu fotoin aja pas dia di sana sama pas dia pergi! Mulai nanti sampai bebrapa hari ke depan, pokoknya sampai expo-nya selesai. Jangan lupa fotonya dikasih time marker."
Saat Haris mengirim foto di expo, Karen berencana mengirimi chat seperti kemarin dan membuat collage foto sebanyak mungkin.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke ... ada lah."
Haris mengangguk dan keluar dari ruangan Karen.
Anggoro, Citra dan Inda sedang berbincang bertiga. Sementara pegawai yang lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Pppsssttt." Mereka tiba-tiba menghentikan aktivitas mengobrol saat Haris keluar.
"Kenapa? Kok langsung pada diem? Lagi ngomongin aku ya?" Pertanyaan Haris serasa seperti tembakan yang tepat sasaran.
"Hahaha, kepedean, Mas Haris. Orang kami lagi ngomongin artis Reki Raditya, itu lho dia digosipin punya anak di luar nikah," kata Anggoro.
"Oh, kirain lagi ngomongin aku. Habis, aku dateng kalian langsung diem." Skak!
"I-itu kan emang wajar kalau ada orang datang itu gosipnya harus di-pause dulu," kata Citra.
"Aku ke studio dulu. Daaahhh!" pamit Haris.
"Daaahhh," kata Anggoro, Citra dan Inda.
~
Sore hari, Karen mendatangi rumah singgah. Dia menemui Nathan dan Dion untuk meminta keterangan tentang expo yang sedang berlangsung.
"Kenapa, Ren?" tanya Nathan yang baru saja berganti baju.
Dion menyusul.
"Aku mau tanya. Dokter Nathan sama Dokter Dion kebagian tugas konsultasi di kuliner expo Hotel Grand Astan?"
Nathan dan Dion mengangguk.
"Kalian ketemu Daniel?"
"Enggak, Ren. Kami kan beda shift. Nathan pagi jam 9 pagi sampai jam 12 siang, aku jam 12 sampai jam 3, Daniel jam 3 sampai tutup jam 6. Aku sempet ketemu sih waktu pergantian shift, tapi cuma bentar banget," jelas Dion.
"Kalau aku sama sekali nggak ketemu, aku kan pagi," kata Nathan.
"Kalian tahu nggak habis dari sana dia ke mana? Pernah cerita?"
Nathan dan Dion saling bertatapan.
Waduh, tanda-tanda. (Nathan).
Si pretty boy pergi tanpa pesan? (Dion).
Mereka berdua menggeleng, ragu.
Mereka berdua ini sahabatnya. Pasti kalau dia bertingkah, mereka melindungi Daniel. (Karen).
Karen mengangguk-angguk. "Ya udah kalau kalian nggak tahu."
"Emang kalian kenapa, Ren? Cerita aja," pinta Dion.
"Nggak apa-apa kok. Oh iya, aku punya permintaan khusus. Tolong jangan kasih tahu Daniel kalau aku ke sini, ya! Please ... ini rahasia."
Nathan dan Dion bertatapan lagi, kemudian mengangguk bersamaan.
"Eh, Lana sama mbak Asa mana?"
"Itu di bangunan utama, lagi main sama Althan. Ke sana aja!" kata Nathan sembari menunjuk bangunan utama di rumah singgah itu.
Karen bercengkerama bersama dua wanita yang sedang hamil itu hingga sore hari. Dia juga menemui remaja-remaja putri penghuni rumah singgah yang sedang memperjuangkan nasib anak dalam kandungan mereka.
__ADS_1
***
Beberapa hari berjalan dengan ritme yang hampir serupa. Bedanya, Karen keluar dari kamar lebih siang. Dia sengaja menunggu Daniel berangkat ke rumah sakit agar tidak bertemu dengannya.
Di hari terakhir expo, Karen membuka mata jam 7 pagi. Dia terbelalak kaget melihat meja di kamarnya. Di sana tergeletak kontrak pernikahannya dengan Daniel.
Karen mengambil dan membaca kembali kontrak itu. Matanya sampai pada poin nomor 4 yaitu Karen dan Daniel boleh memiliki pasangan di luar.
Dalam keadaan seperti ini, rasanya poin itu lah yang ingin ditekankan oleh suaminya. Dia merasa semua kejadian ini saling berkaitan dan memang benar Daniel memiliki kekasih di luar sana.
Dia mau negasin kalau kami boleh punya pasangan di luar ya? Semua rentetan peristiwa ini emang bener aksi dia selingkuh dan karena poin ke 4 ini aku nggak punya hak ngelarang dia berhubungan sama perempuan lain. (Karen).
Air mata Karen menetes lagi.
~
Sore hari, setibanya di rumah sepulang dari bekerja, Karen membereskan baju ke dalam koper. Dia berencana untuk pergi dari rumah itu entah untuk berapa lama.
Dia memandangi kembali kontrak pernikahannya dengan Daniel yang berada di atas meja.
Aku udah nggak tahan lagi. Aku pergi dulu untuk istirahatin pikiran. (Karen).
Dia memasukkan koper itu ke dalam mobil.
Bibi Sum datang jam 6 sore dan memasak makan malam untuk Karen.
Seusai makan malam, dia bersiap untuk pergi.
"Non, mau ke mana?"
"Pergi aja, Bi."
"Hati-hati ya, Non."
Karen mengangguk.
Bibi Sum tidak menyaksikan Karen memasukkan koper ke dalam mobil. Dia pikir kepergiannya hanya sebentar seperti kemarin-kemarin.
~
Dia pun membangunkan Bibi Sum di kamar belakang.
"Bi, Karen di mana?"
Dengan mata menyipit, Bibi Sum berbicara, "Lhoh, Non Karen belum pulang?"
"Dia pergi? Ke mana?"
"Nggak bilang sih, Den. Tapi kemarin-kemarin juga pergi tapi sebentar-sebentar. Biasanya jam 7 atau 8 udah sampai rumah. Maaf tadi saya ngantuk sekali Den, jadi nggak nungguin Non Karen Pulang."
"Ya udah nggak apa-apa, Bi."
Daniel kembali ke kamar dan mencoba menelpon Karen. Tidak tersambung. Dia merebahkan diri di atas tempat tidur sembari memandangi langit-langit kamar itu.
Di mana dia? (Daniel).
Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kemudian masuk kembali ke closet untuk berganti baju.
Lhoh, di mana koper baju Karen? (Daniel).
Dia baru menyadari bahwa koper baju istrinya tidak berada di sana. Tangannya meraih gagang pintu lemari dan membukanya. Baju Karen sudah tidak berada di sana.
Astaga, ke mana dia? Apa dia kabur dari rumah? Atau lagi liburan? (Daniel).
Sekali lagi dia mencoba menelpon Karen, tapi belum juga tersambung.
Dia menghubungi Lana untuk mencari informasi nomor ponsel Inda. Setelah mendapatkan nomor ponsel Inda, Daniel terhenti sejenak.
Kalau dia marah dan sedang bersama Inda, pasti Inda nggak akan kasih tahu aku. (Daniel).
Daniel berpikir-pikir sejenak kemudian memutuskan untuk langsung mendatangi tempat-tempat yang dia duga sebagai tempat Karen pergi.
__ADS_1
Sebelum pergi, dia menuju kamar mandi sebentar. Di kamar mandi, dia tambah terkejut. Kepergian Karen yang sudah mengejutkan itu belum ada apa-apanya dibanding apa yang dia temukan di sana.
Dia menemukan test pack yang hasilnya positif.
Karen hamil? (Daniel).
Dia memasukkan test pack itu ke dalam sakunya kemudian segera pergi. Kali ini Daniel bergerak lebih cepat untuk menemukan Karen.
Dia mendatangi rumah Inda. Namun, Karen tidak ada di sana. Inda menyarankan untuk mendatangi rumah Citra, Daniel mengikuti arahan Inda.
Masih nihil, tidak ada Karen di rumah Citra.
Dia pun ke rumah Mama Puri dan Kendrik.
📞"Ken, aku perjalanan ke rumah."
📞"Lhoh, kenapa Kak Niel? Ada barang yang kebawa aku?"
📞"Enggak. Mama udah tidur?"
📞"Belum, lagi nonton serial di tv kabel."
📞"Begini, kamu jangan ngomong keras-keras ya. Karen lagi nginep di situ, nggak?"
Kendrik memeriksa kamar lama Karen, kamar Mama Puri, dan semua ruangan di rumah itu.
📞"Enggak, dia nggak ada di sini. Emangnya Kak Ren nggak ada di rumah ya?"
Kendrik menepuk dahinya sendiri.
Ya iyalah dia nggak ada di rumah. Kalau ada, ngapain Kak Daniel ke sini malem-malem. Ha?! Apa?! Kak Ren nggak ada di rumah?! (Kendrik).
Kendrik terkaget dan agak terlambat memberi respon.
📞"Iya, Ken. Karen nggak ada di rumah, aku lagi nyari dia."
📞"Pergi ke mana ya?"
Kendrik menepuk dahinya lagi.
Ya kalau dia tahu, nggak bakal bingung nyariin to ya. Kenapa aku mendadak lemot gini sih? (Kendrik).
📞"Aku nggak tahu. Bentar lagi sampai. Kamu ikut aku cari dia, ya."
📞"Oke, Kak. Aku tunggu aja di luar biar Kak Niel nggak diinterogasi sama Mama."
Kendrik berganti baju.
"Ken, mau ke mana malem-malem? Belum lama pulang udah mau pergi lagi."
"Ada yang kelupaan skripsiku, Ma. Ini perginya sama Kak Daniel lagi kok."
"Akh yang bener?"
Suara mobil Daniel sudah terdengar.
"Itu udah dateng, intip aja, Ma, kalau nggak percaya. Tapi jangan suruh Kak Niel mampir soalnya buru-buru."
Mereka berdua keluar membuka pintu rumah. Daniel menongolkan kepalanya sedikit dari jendela dan tersenyum kepada Mama Puri.
Bener kok, bareng Daniel. (Mama Puri).
"Ya udah, ati-ati! Kalau udah selesai cepet pulang, ya!"
"Beres, Ma."
Kendrik berlari menuju mobil Daniel.
to be continued
Jogja, July 6th 2021
__ADS_1