Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
30. Wedding Day


__ADS_3

Di sebuah hotel, malam hari, pernikahan Karen dan Daniel diselenggarakan. Jumlah undangan tidak begitu banyak. Mereka hanya mengundang orang-orang terdekat saja.


Daniel dan Karen belum bertemu sejak pernikahan kurang sehari dilaksanakan.


Kini mereka masing-masing bersiap. Daniel bersama MUA dan para best men (di luar negeri hanya 1, tapi di sini semua pendamping pengantin laki-laki di sebut best men) yaitu Dion dan Nathan.


Karen bersama MUA dan bridesmaids yang hanya 2 orang (di luar negeri, umumnya bridesmaids ada 4 dengan 1 maid of honour) yaitu Citra dan Inda.


Fotografer sudah siap di sana untuk mengabadikan moment persiapan hingga akhir acara nanti.


"Nggak usah gugup, Niel! Udah hafal kan line kamu?" tanya Dion.


Padahal Daniel datar-datar dan biasa saja, tidak ada kegugupan tergambar di wajahnya. Namun, entah hati Daniel seperti apa, sulit dibaca melalui ekspresi datarnya.


Nathan memijat bahu Daniel. "Jalannya nggak usah cepet-cepet, kasihan Karen pakai gaun panjang."


Daniel tersenyum geli. "Iya, aku nggak bakal lari."


Semua sudah rapi. Kendrik sudah siap menggandeng Karen dan memasrahkan kepada Daniel.


"Koreng, cantik," puji Kendrik melihat kakaknya sudah selesai dirias dan mengenakan gaun yang indah.


Kendrik menggandeng Karen melalui karpet merah, berjalan pelan menuju Daniel yang telah menunggu. Musik mengalun syahdu mengantarkan langkah Karen dan Kendrik. Semua hadirin berdiri menyambut sang mempelai wanita.


Kemudian Kendrik menyerahkan Karen kepada Daniel di setengah perjalanan sembari mengatakan, "Tolong jaga kakakku ya!"


Daniel menerima tangan Karen. "Iya, Ken."


Daniel dan Karen berjalan berdua di tengah para hadirin yang berdiri memberi hormat atas kedatangan mempelai.


Sejurus kemudian, setelah janji suci dan penandatanganan peresmian pernikahan di catatan sipil, mereka sudah sah menjadi suami istri dan menempatkan diri di kursi pelaminan bersama orang tua Daniel dan orang tua Karen dengan posisi ayah digantikan oleh Kendrik.


Mereka siap menerima jabatan tangan dari para hadirin yang kurang lebih hanya 400 orang saja. Saudara-saudara yang telah berada di lokasi pernikahan sejak sore hari telah berpamitan satu persatu.


Kini mereka menunggu saudara dan tamu undangan yang belum hadir. Mila, suami dan anaknya pun hadir di sana.


"Selamat ya, akhirnya, nikah juga kamu Ren setelah 2 tahun sejak kamu nyebarin rumor mau nikah. Selanjutnya, aku tunggu kabar hamilmu ya."


Meski sudah sama-sama berkeluarga, tak membuat mereka surut dalam persaingan kehidupan.


"Makasih ya, Mil. Jangan kuatir, aku bakal punya anak 5 buat bikin boyband."


Setelah Mila berlalu, tampak seseorang yang tidak asing bagi Karen, mantan kekasihnya!


Astaga, ngapain Haris dan ibunya datang ke nikahanku. Aku kan nggak ngundang dia. (Karen).


Karen panik karena tidak mempersiapkan diri untuk moment kaku bertemu mantan di pernikahannya sendiri. Saat maju untuk memberi selamat, Mami Seli menyapa mereka. Barulah Karen mengerti bahwa Haris adalah kerabat Daniel.


"My Bro, selamat ya," kata Haris sembari menjabat tangan Daniel.


Daniel mengangguk. "Makasih, Ris."

__ADS_1


"Ren, lama nggak ketemu. Selamat ya, aku kaget lho kamu nikah sama saudaraku," kata Haris memberi selamat. Tak terdengar nada-nada sarkas, dan ungkapan kekagetannya terlihat sangat alami seperti kagetnya Karen sekarang.


"Makasih, Ris. Aku juga nggak tahu kalau Daniel masih saudaraan sama kamu."


Ternyata setelah mereka sedikit mengobrol, rasa canggung itu hilang juga. Malah, Karen lebih nyaman dari pada mengobrol dengan Daniel.


Seketika Karen tertunduk. Ada sedikit rasa sesal di sana. Teringat masa-masa saat dia dan Haris saling jatuh cinta. Sekarang, hati Karen sedang hampa meski ada seorang laki-laki yang berstatus suami di sampingnya.


Bagaimana pun juga, Haris adalah mantan kekasih. Artinya, mereka pernah ada di titik ketidakcocokan yang membuat mereka harus berpisah.


***


Pesta telah usai. Keluarga inti semuanya menginap di hotel di kamar biasa. Sedangkan Karen dan Daniel mendapat kamar bridal suite yang telah didekor khusus untuk pengantin.


Karen dan Daniel memasuki kamar itu.


Karen masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru, membersihkan make up, mandi dan mengenakan baju casual.


Sedangkan Daniel sedang merebahkan diri di atas bed, masih dengan tuxedo-nya.


Beberapa saat kemudian Karen keluar dari kamar mandi. Daniel memandanginya keheranan.


"Mau ke mana?" tanyanya.


Tumben nanya. (Karen).


"Aku mau keluar aja, cari angin."


Ya Tuhan, beneran musti jawab? Kenapa tiba-tiba dia kepo sih? Kemarin-kemarin aku mau jungkir balik juga cuek-cuek aja. (Karen).


"Ke lounge hotel. Emangnya kenapa sih? Kemarin-kemarin aku mau ke mana-mana nggak pernah kamu tanya tuh!"


"Sekarang aku suamimu. Kamu jadi tanggung jawabku. Kalau kenapa-kenapa, aku harus bilang apa sama Mama dan Kendrik?"


Iya juga sih. (Karen).


"Uhm, aku cuma mau ke lounge," Karen menurunkan nada suaranya.


Daniel melihat jam tangannya. "Ini udah jam 9 malam."


"Aku di sana cuma sampai lounge tutup." Karen menggunakan kata 'cuma' agar terdengar tidak begitu lama. Padahal, hingga lounge tutup itu berarti dia akan menghabiskan malamnya di sana.


"Lounge tutup jam 1.45 dini hari!"


"Kalau gitu, jam 12 aku balik ke kamar."


Daniel melipat kedua tangannya di dada dan menampilkan wajah tidak bersahabat.


"11?"


Daniel mengangguk. Lalu, dia mendorong badan Karen keluar kamar dan menutup pintunya dengan agak keras.

__ADS_1


Kecoak buntung! Kirain tadi nggak rela aku pergi, akhirnya ngusir juga. (Karen).


Karen menuju lounge hotel, memesan makanan dan minuman di sana. Saat pernikahan berlangsung, Karen tidak banyak makan. Alhasil, dia kelaparan.


Spaghetti dan mojito pesanannya datang juga. Dia menyantap makanan itu sembari terus berpikir bagaimana cara menghindari Daniel dari 'malam pertama' di hotel itu.


Nggak ada gunanya juga menghindar terus. Besok-besok juga bakal se-rumah sama dia. Cuman yah, paling enggak sampai aku keluarin surat perjanjian. Sebenernya kalau dia nggak cinta sama aku, dia nggak bakal ngajakin berhubungan juga kan? Tapi kata orang, laki-laki bisa melakukan itu tanpa perasaan, jadi harus jaga-jaga. (Karen).


"Hai, Ren," sapa seorang pria yang langsung menempati sebuah kursi kosong di meja Karen.


Karen mendongak dan melihat asal suara itu. "Haris, kok di sini?"


"Iya, besok aku mau ke Spore lewat bandara Koja International Airport."


"Sekarang udah nggak tinggal di Koja ya?"


"Enggak, aku sekeluarga pindah ke Purwaja setelah rumah kami kena pelebaran jalan."


"Kirain kamu bakal cari rumah di sini. Kenapa pindah ke sana? Nggak ada perumahan relokasi?"


"Nggak ada. Semua yang kena dikasih dana kompensasi aja. Waktu itu aku mikirnya mendingan pindah sekalian ke tempat baru, suasana baru."


Karen manggut-manggut.


"Kok malah di sini sendiri, Daniel mana?" tanya Haris, penasaran ada pengantin baru bukannya bermesraan dengan suami.


"Ada tuh di kamar. Daniel tahu kamu nginep di sini?"


"Tahu. Kemarin udah telponan sama Tante Seli. Dia juga nawarin diri buat antar ke bandara, tapi yah, kalian kan baru aja nikah, gelar acara. Aku nggak mau ngrepotin. Besok aku naik taksi aja."


Karen manggut-manggut kembali sambil pikirannya melanglang buana.


Daniel itu tahu nggak sih kalau Haris mantan pacarku? Kenapa nggak bilang sama aku kalau mereka saudaraan? (Karen).


"Tadi belum dijawab, kenapa kamu malah di sini sendiri?"


"Oh, ehm, tadi waktu pesta, aku nggak selera makan, makannya dikit. Sekarang kelaperan hehe."


Jawaban itu belum memuaskan pikiran Haris. Rupanya dia cukup pandai membaca situasi.


Kalau laper kan bisa berdua sama Daniel makan di sini. Hotel ini juga nyediain room service, kenapa nggak minta diantar ke kamar? (Haris).


To Be Continued


Jogja, May 3rd 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta


find me on YouTube: Tita Dewahasta

__ADS_1


__ADS_2