
Setelah drama alarm semalam, hari senin ini Karen dan Daniel kembali bekerja.
Karen mulai menyiapkan baju Daniel. Dia membuka lemari baju milik suaminya yang sangat rapi. Kemeja-kemeja sudah digantung dan sudah halus kainnya. Bibi Sum sudah menyetrika semua baju, Karen tinggal menyiapkan saja.
Hari ini, dia memilih kemeja berwarna biru tua. Setelah itu, dia mencari dasi yang ternyata sangat sulit dicari. Dia mengira dasinya disimpan di tempat yang sama dengan baju-baju yang lain. Ternyata tidak, Karen kesulitan mencari.
Matanya menangkap sebuah kotak di atas lemari yang terlihat seperti tempat dasi. Dia pun naik ke kursi agar bisa mencapai kotak tersebut. Benar adanya, itu adalah kotak dasi.
Dia lega akhirnya bisa menemukan tempat penyimpanan dasi. Dipilihlah sebuah dasi yang senada dengan kemeja biru tua yang tadi telah disiapkan.
Daniel baru saja mandi dan keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan kaos dan celana panjang rumahan. Padahal di rumah milik sendiri, tetapi Daniel memang selalu rapi. Dia tidak pernah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja seperti kebanyakan orang.
Daniel menerima kemeja yang diulurkan Karen kemudian mengenakannya. Setelah itu, tangan Karen memegangi dasi dan siap untuk mengalungkan di leher Danie. Tanpa diduga, tangannya disingkirkan oleh dokter itu.
"Lhoh, kenapa? Nggak pake dasi?"
Daniel menggeleng.
Kemarin saat membicarakan kontrak, jelas-jelas Daniel memita dipakaikan dasi setiap hari. Karen baru tersadar setelah mengingat-ingat saat mereka dalam proses perjodohan. Mereka sering bertemu untuk makan di luar. Memang tidak pernah sekali pun Daniel mengenakan dasi.
Sialan, aku baru inget kalau dia nggak pernah pakai dasi. Terus ngapain dia bikin aturan itu? Ini juga nyari dasinya susah payah sampai manjat-manjat. Apa dia ngerjain aku? (Karen).
Dasi itu dibantingnya ke atas tempat tidur. Dia pun bergegas mandi dan bersiap untuk bekerja.
Daniel sudah berada di ruang makan untuk sarapan. Bi Sum telah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Karen menyusul, mereka pun makan bersama dalam keheningan. Karen masih kesal kepada Daniel masalah dasi. Sedangkan Daniel merasa tidak berdosa dan makan dengan polos.
Setelah selesai, mereka menuju mobil masing-masing. Tidak lupa Daniel mengulurkan tangan. Karen tak bereaksi. Sejenak dia lupa permintaan Daniel yang minta dijabat tangannya dan dicium setiap kali akan bekerja dan pulang dari bekerja.
"Apa? Jabat tangan?"
Daniel mengangguk.
Karen baru ingat aturan Daniel itu. Dia pun meraih tangan Daniel, menjabat dan mencium tangan harum itu. Tidak hanya mencium, Karen juga menggigitnya karena kesal.
"Aaawww ...." Daniel mengerang.
"Eh, maaf maaf Niel, habis tanganmu wangi dan lembut, aku kirain Marshmello. Hehehem." Karen tertawa sinis penuh kemenangan. Dia pun pergi lebih dulu dengan mobilnya.
Astaga, kenapa dia ini? Udah tambah gigitan aja sekarang. (Daniel).
Dipandanginya bekas gigitan Karen di punggung tangan.
Di perjalanan, Karen bahagia sekali bisa membalas Daniel yang telah membuatnya kesal pagi ini.
***
Kantor Ren's Writer...
__ADS_1
Karen dengan ceria memasuki kantor. Masih tersisa kebahagiaannya membalas Daniel tadi. Para karyawan sudah menunggu dan mengucapkan selamat sekali lagi untuk Karen.
Sementara Inda dan Citra sibuk menggoda Karen setelah wanita nyentrik itu sampai di ruangan. "Gimana, Bos Black Widow, pertandingannya siapa yang menang?"
Karen tidak menjawab dan hanya melirik Inda dengan mata yang menyipit.
"Iya, Bos, gimana? Tadi malam nggak balas chat pasti lagi ehem-ehem ya? Buwahahah ...." Citra tidak kalah penasaran disambut tawa balasn dari Inda.
"Heh, kalian ini mau tau aja. Sini sini aku bisikin," kata Karen sembari tangannya melambai 2 bawahan sekaligus sahabatnya itu mendekatkan telinga.
Mereka pun menurut saja.
"Rahasia! Cepetan sana kerja!"
"Akh, si Bos, nggak seru!" kata Citra sambil keluar dari ruangan bosnya itu.
"Bos, Citra udah pergi. Ceritain dong, ke aku aja. Aku janji nggak bilang siapa-siapa."
"Hish, nggak mau."
"Tapi dari raut muka Bos yang ceria dan bahagia, kayaknya malam pertama berjalan lancar ya, Bos? Jawab dong, Bos."
Karen mengangguk-angguk dan mengulurkan jempolnya, berlagak sudah melalui malam pertamanya dengan Daniel.
Padahal, melihat punggung Daniel saja belum pernah. Saat berenang di hotel, Daniel menggunakan pakaian renang yang mirip baju diving, tertutup.
Saat setelah mandi pun Daniel sudah mengenakan pakaian lengkap. Tidak hanya diri Karen, mata Karen pun masih suci.
***
Saat jam makan siang, Daniel, Nathan dan Dion sudah berada di kantin. Daniel dengan wajah yang tidak bersahabat, menyodorkan dua jam beker digital di atas meja kantin.
Nathan dan Dion tertunduk sambil saling menyikut. Sesekali mereka melirik Daniel yang masih saja berwajah seram.
Karena belum ada yang bicara, Daniel mengetuk meja itu dua kali.
"Ide Dion, Niel!" Nathan membela diri.
"Nathan yang beli." Dion tak kalah.
"Eh, alarmnya bunyi pas kalian lagi ngapain?" (Nathan).
"Pasti pas lagi ehem-ehem ya?" (Dion).
"Gimana reaksimu pas kaget? Langsung cut?" (Nathan).
"Kalau masih lanjut, kamu hebat, Pretty Boy!" (Dion).
Tiba-tiba Daniel menggebrak meja dan pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Niel, tunggu dong," kata Nathan sambil mengejar.
"Maafin kami, Niel." Dion memasang wajah memelas dengan tangan menjura.
"Lagian kalau kamu jantungan karena alarm itu kan nggak apa-apa, bisa kamu obatin sendiri. Kamu kan ahli jantung hehe."
Daniel tetap lurus berjalan tanpa menghiraukan mereka.
"Niel, kami mau ngelakuin apa aja asal kamu maafin kami," mohon Dion.
Daniel pun berhenti dan menatap mereka berdua. "Apa aja?" tanya Daniel.
Eh kok perasaanku nggak enak ya? (Dion).
Dion dan Nathan sudah ada di parkiran, Daniel bersiap memberikan hukuman untuk dua dokter usil itu. Mereka masing-masing membawa satu alarm yang didekatkan ke telinga mereka.
3 ... 2 ...1 ....
Alarm itu berbunyi keras selama 15 detik.
"Aaarrrggghhh, Niel udah ya, berisik." Nathan meringis, sudah tidak kuat menahan suara di dekat daun telinganya.
"Udah ya, Niel, kami janji nggak ngerjain kamu lagi," teriak Dion.
"Pppfffttt ...." Daniel tertawa kecil. "Oke!" Dia pun menyudahi hukuman itu dan membantu mematikan alarm.
Dua alarm itu disita Daniel. Dia pun pergi ke ruangannya.
Nathan dan Dion masih di parkiran sembari mengorek telinga mereka. "Sakit kuping gue," kata Dion.
"Ide lu sih, ngamuk kan si Ironman," kata Nathan.
"Hayah, elu belinya semangat 45 juga!"
Malik, petugas security rumah sakit, mendekati mereka berdua. Dia merasa terhibur melihat tontonan gratis dua dokter dihukum oleh Daniel. Pasalnya, dia sering dijahili Nathan dan Dion.
"Haha, ada apa, Dokter? Simulasi alarm kebakaran ya? Lagi pelatihan K3?" ledek Malik sembari tertawa bahagia di atas penderitaan dokter-dokter itu.
"Ndyasmu! Kamu mau juga?" kata Nathan kesal.
"Jangan kaget kalau nanti di pos satpam aku pasangin yang lebih ngeri dari ini," ancam Dion.
"Jangan, Dok! Ampun, Dok! Saya balik ke pos, Dok. Dadah ...." Malik buru-buru pergi.
to be continued...
Jogja, May 11th 2021
***
__ADS_1