
Setelah dari rumah sakit, Daniel dan Karen akan mendaftarkan pernikahan mereka di kantor catatan sipil. Hal itu mereka lakukan berdua saja.
Sorenya, Mami Seli dan Mama Puri mengikuti mereka untuk fitting baju pernikahan dan test make up.
Capek banget pengen istirahat. Ngurus nikahan ternyata segini ribetnya ya. (Karen).
Mereka sampai di butik anak teman Mama Puri.
"Ini lho Mbak, butik anak teman saya. Udah terkenal. Ibunya juga desainer, tapi dia rekomendasiin punya anaknya aja buat nikahan Karen dan Daniel," kata Mama Puri sembari menunjuk papan nama 'Sakura Bridal Couture'.
"Oh ya, saya juga sering denger. Punya anak temennya Jeng Puri ternyata."
Karen mencoba gaun yang dipilihkan oleh Mami Seli. Dia berganti baju dan keluar dari ruang fitting.
"Wah, cantik banget Karen," puji Mami Seli dengan mata berbinar-binar.
Daniel juga sedang mencoba tuxedo putihnya di ruang fitting untuk pria. Dia ditunggui oleh Mama Puri. Daniel pun keluar dari ruang fitting itu.
"Nak Daniel, ini pas sekali. Kelihatan gagah, ayo ke tempat Karen."
Daniel dan Karen saling bertemu dengan menggunakan baju pernikahan. Mami Seli pun menitikkan airmata.
"Tenang, Mbak Seli," hibur Mama Puri.
"Maaf, maklum, Jeng, udah lama saya pengen lihat Daniel menikah. Jadi terharu banget," ungkap Mami Seli.
"Eh kok kalian berdua cuma diem begitu, ayo coba digandeng." Mama Puri mengatur gaya Daniel dan Karen.
Tangan Karen dengan gemetar meraih lengan Daniel.
Gemeteran, maklum baru sekali ini fitting baju pernikahan. Plus belum makan juga sih. (Karen).
Mereka berdua kemudian difoto oleh Mama Puri dan Mami Seli.
"Mbak, serasi banget mereka. Eh ayo kita pulang, udah hampir malam ini, Mbak," ajak Mama Puri.
"Ah, iya. Terus test make up-nya gimana?" tanya Mami Seli.
"Test make up-nya biar besok saya sendiri aja, Tante. Saya udah hubungin MUA-nya kok," kata Karen.
Mereka pun berkendara untuk mengantar Karen dan Mama Puri pulang.
"Tante, apa kita mampir ke rumah pribadinya Daniel dulu? Saya belum pernah ke sana," usul Karen.
"Jangan, nanti kalau habis nikah kan kalian tinggal di sana juga. Tiap hari kamu bakal lihat dan tinggal di rumah itu kok hehe ...." Mami Seli agak panik.
Dia takut Karen akan membatalkan pernikahan jika tahu Daniel memiliki koleksi mainan yang sangat banyak. Hobi itu dianggap kurang menarik oleh banyak wanita.
Kamar Daniel juga sangat unik dengan warna dominan merah. Kebanyakan, wanita juga tidak menyukai model kamar Daniel.
Karen menurut saja dengan apa yang dikatakan Mami Seli. Namun, dalam hatinya, dia curiga.
Kenapa Tante Seli jadi panik? Emang apa yang disembunyiin di rumah Daniel? (Karen).
__ADS_1
"Kalau gitu nanti mampir saja dulu ke rumah saya ya, Mbak, ngobrol-ngobrol sebentar."
"Ya ya, setuju," jawab Mami Seli.
Mereka pun mampir.
Di ruang tamu itu, Mami Seli melihat-lihat album foto yang ada di sana, sementara Mama Puri dan Karen menyiapkan teh dan makanan kecil. Mami Seli terbelalak kaget melihat foto Karen bersama dengan Haris yang pernah dimuat di majalah lokal.
"Pppsssttt, Niel, ini kan Haris," bisik Mami Seli.
Daniel mengangguk.
Ingatan Mami Seli berkelana menggali memori saat-saat orang tua Haris membanggakan foto ini di hadapan keluarga. Orang tua Haris saat itu juga mengatakan bahwa Daniel adalah anak yang cerdas, tapi tidak akan sepopuler dan sekeren Haris yang merupakan pemain basket sekolah.
Juga, jalinan asmara Haris dan Karen waktu itu menjadikan Haris nampak sangat menonjol dengan predikat atlet pintar dan dikagumi wanita.
Kok aku bisa nggak tahu kalau si gadis cheerleader ini adalah Karen? Ya iyalah, udah 10 tahun lebih, penampilan Karen juga udah berubah. (Mami Seli).
Tiba-tiba Mami Seli tertawa kecil. "Hihihi hihihi ...."
"Mi?" Daniel meminta penjelasan.
"Lucu aja, Niel, ini dulu yang dibangga-banggain, sekarang malah mau jadi istri kamu. Si Haris juga belum nikah sekarang. Nggak kebayang gimana mereka kalau kita kasih undangan nikahan kamu nanti."
Kenapa Mami jadi begitu? Sebenernya tujuan pernikahan ini apa sih? Malah jadi ajang persaingan popularitas. (Daniel).
Mami Seli pernah bilang bahwa dia ingin Daniel bahagia dan tidak sendiri lagi. Tetapi nampaknya, Mami Seli juga 'sambil menyelam minum air laut'. Dia berharap Daniel bahagia, tapi juga ingin membanggakannya di hadapan keluarga.
Apalagi ternyata calon istri Daniel adalah gadis cheerleader populer yang dulu pernah dibanggakan oleh keluarga Haris. Mama Puri dan Karen datang membawakan teh dan cemilan. Mami Seli buru-buru mengembalikan album foto di tempatnya.
"Daniel dan Karen, sana kalian ngobrol di teras aja. Kami berdua mau nerusin musyawarah tentang pernikahan kalian nanti." Mama Puri mengusir mereka dari ruang tamu.
Mereka menurut dan pergi keluar dari rumah itu.
"Niel, kenapa aku nggak boleh mampir ke rumahmu?"
"Ehm ...." Daniel tidak bisa menjawab.
"Kamu piara anjing?"
Daniel menggeleng.
"Ular?"
Daniel menggeleng sembari berjalan mundur karena Karen terus maju mendekatinya seperti orang yang sedang mengancam.
"Kura-kura? Oh, kamu punya tuyul?"
Daniel menggeleng.
"Terus kamu sembunyiin apa? Kenapa aku nggak boleh lihat rumah kamu dan kenapa Tante Seli panik tadi?"
"Ehm, rumahku lagi berantakan," jawab Daniel sekenanya.
__ADS_1
"Oh. Kamu takut ketahuan kalau rumah kamu kayak kapal pecah?"
Daniel mengangguk.
Padahal, Daniel adalah orang yang sangat rapi. Dia selalu meletakkan barang pada tempatnya. Tidak pernah ada baju tidak terlipat di rumah Daniel. Furniture di rumahnya juga tidak diperkenankan sekedar berpindah sudut.
Jika sedikit saja berantakan, dia tidak akan tidur dengan tenang. Berbeda dengan Karen yang tidak terlalu rapi. Standar rapi Karen adalah seperti manusia pada umumnya. Sedangkan Daniel memiliki standar yang tinggi karena dia termasuk obsessive cleaning.
"Eh, Pinky Boy," panggil Karen dengan suara meledek plus tersenyum menang
Aku nggak pernah dipanggil Pinky Boy. Dion panggil aku Pretty Boy tuh. (Daniel).
Daniel diam saja, tidak mau melihat Karen. Dia melihat sekeliling seolah tidak mendengar suara wanita itu.
"Aku tahu, rumahmu pasti warnanya pink ya, makanya Tante Seli malu mau bawa aku mampir ke rumahmu."
Silahkan kamu mengarang indah, nggak ada yang bener satu pun. (Daniel).
Karen geram melihat Daniel diam saja.
"Daniel!"
"Ya?" Daniel menengok.
Akh, wajah tampan tapi ngeselin itu, huh, bisa nggak sih kamu cinta sama aku, baik sama aku? Biar kita sama-sama enak. Sandiwara dikit napa. Pura-pura baik kek. (Karen).
"Ehm, aku cantik nggak?" tanya Karen sambil tersenyum lebar.
Daniel kaget dengan pertanyaan itu. Dia melirik Karen dengan tatapan aneh.
"Jawab, Niel!"
Daniel mengangguk.
Sialan, manggut-manggut doang. (Karen).
"Niel, kalau aku sama Stella, cantikkan siapa?"
Kalau ini nggak bisa kamu jawab pakai anggukan kan? (Karen).
"Ehm, semua."
****, 'semua'? Gitu doang? Hey Karen, kamu ngarepin apa emangnya dari makhluk ini? Mendingan balik ke mode anggap dia angin kentut. (Karen).
Karen menarik napas dalam-dalam dan mencoba tersenyum mengabaikan segala sikap Daniel.
To be continued...
Jogja, April 28th 2021
***
hai readers, mohon dukungannya untuk karyaku ini dengan memberikan like, komen, gift dan vote. terimakasih.
__ADS_1
find me on Instagram: @titadewahasta
find me on YouTube: Tita Dewahasta