Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
33. Tinggal Di Rumah Daniel


__ADS_3

"Kamu pernah lihat kehidupan rumah tangga, kan? Orangtuamu contohnya."


Karen mengangguk.


"Aku ingin yang seperti pada umumnya begitu."


Karen langsung reflek memegang kancing bajunya. "Termasuk kegiatan suami istri yang 'itu'?"


"Ya, jika kedua pihak saling mengijinkan."


"Tapi kan ...."


"Aku bilang, jika kedua pihak saling mengijinkan. It's a conditional sentence [Itu kalimat bersyarat]."


"Oh, oke. Fair enough [Cukup adil]. Terus yang lain misalnya apa? Mending kamu tulis detil di sini daripada aku kesusahan memahami maksud kamu."


"Nggak usah. Kamu paham kan yang dilakukan istri di rumah?"


"Tapi kalau beres-beres rumah dan masak, aku nggak bisa. Aku kan kerja juga."


"Aku punya pembantu. Dia datang pagi dan pulang jam 3 sore. Dia yang akan memasak sarapan, membersihkan rumah dan mencuci baju. Tugas kamu cuma memasak makan malam dan membersihkan kamar."


"Selain itu?"


"Selain itu aku mau kamu berperilaku selayaknya istri: memasangkan dasi, membawakan tas kerja, menyiapkan baju, mencium tanganku saat aku mau pergi atau pulang, memberi kabar jika kamu mau pergi ke mana-mana, tidak ke mana-mana jika aku tidak memberi ijin pergi dan akses tak terbatas pada handphone."


"Lhoh, berarti nggak punya kebebasan dong?"


"Ijinku murah dan mudah, kamu cuma perlu kasih kabar. Dan, tempat yang kamu datangi bukan yang aneh-aneh. Aku bertanggung jawab atas kamu, jadi jangan berbuat yang macam-macam dan memalukan."


"Kalau aku punya pacar?"


"Lakukan sesukamu, tapi jangan kebablasan dan jangan ketahuan orang lain."


Karen mengangguk-angguk. Sepertinya bisa diterima akal sehat meski pada bagian hubungan suami-istri, dia masih merasa risih. Tapi kata-kata 'jika kedua pihak memberi ijin' membuatnya masuk akal. Tidak ada yang dirugikan jika itu dilakukan dengan sukarela.


Mereka pun menandatangani surat perjanjian bermaterai itu.


Setelah membicarakan tentang perjanjian pernikahan itu, Daniel langsung pergi ke kamar. Karen menyusulnya.


"Niel, soal tempat tidur, gimana?"


"Di sini."


"Sa-satu ranjang?"


Daniel mengangguk.


Gawat, masak seranjang? Kalau dia macem-macem gimana? (Karen).


Daniel pergi ke walk in closet untuk mengambil bantal panjang dan guling. Karen mengerti. Nantinya, Daniel akan menjadikan bantal-guling itu sekat tidur di antara mereka.


Setelah itu, Karen menghabiskan waktu dengan bekerja. Dia mengedit artikel-artikel yang sudah menumpuk. Acara pernikahan membuat pekerjaannya harus tertunda.


Sebenarnya, segala pekerjaan itu telah diserahkan kepada Citra dan Inda. Tapi karena bulan ini pekerjaannya sangat banyak, tangan Karen tidak bisa tinggal diam.


***


Jam menunjukkan pukul 5 sore. Karen mengakhiri pekerjaannya dan bersiap untuk mengerjakan tugas pertama sebagai istri yaitu memasak makan malam.

__ADS_1


Daniel di mana sih? Dari tadi nggak kelihatan. (Karen).


Daniel entah berada di mana, Karen tidak melihatnya sedari tadi. Dia pun langsung pergi ke dapur. Dibukanya lemari es lebar-lebar. Aneka sayuran ada di sana. Melihat bahan sayuran yang melimpah, dia memutuskan untuk memasak capcay.


Aroma masakan mampu mengundang Daniel untuk datang ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan itu.


"Niel, dari mana a-" Karen menghentikan pertanyaannya.


Ngapain aku nanya? Bodo amat dia dari mana. (Karen).


"Nggak jadi nanya. Makan aja, keburu dingin!" Karen mengambil piring untuk mereka berdua.


Mereka pun makan malam dengan sangat khidmat, tidak ada satu kata pun keluar dari mulut keduanya. Setelah itu, mereka bersiap untuk tidur malam.


Suami dinginnya itu sudah berganti baju dengan baju tidur. Dia menengkurapkan diri di kasur. Meski sudah sempat beristirahat di hotel, tapi tetap saja badannya merasakan kelelahan.


Karen menyusul di sebelahnya. Dia meletakkan guling di antara tempat mereka agar tidak bersinggungan.


"Pijitin punggungku!" pinta Daniel.


"Ha? Oh, ya, oke."


Karen teringat permintaan Daniel, pasti dia ingin dipijat oleh istrinya seperti suami-suami pada umumnya. Dia sering melihat adegan pijat-memijat orang tuanya ketika papanya masih hidup. Namun, dia sendiri tidak pernah memijat orang.


Karen mulai memijat. Suaminya meringis kesakitan merasakan pijatan Karen yang seumur-umur baru pertama kali dilakukannya itu.


10 menit berlalu, pijitan Karen tidak berubah. Tetap tidak enak.


"Udah udah!" kata Daniel sambil menahan sakit.


"Enak?"


Daniel mengangguk.


Ternyata aku pinter mijit juga ya. Dia keenakan sampai ngorok tidurnya. (Karen).


Karen kesulitan tidur. Hari-hari sebelum menikah, dia selalu tidur sendiri. Dan malam ini dia harus tidur bersebelahan dengan orang lain.


***


Keesokan hari


Mentari pagi menyapa alam semesta. Semua orang membuka mata dengan semangat dan siap menjalani kehidupan. Namun, tidak dengan Karen yang pukul 7 masih tertidur pulas. Adaptasi terhadap kehidupan barunya sebagai istri ternyata membuat siklus tidur kacau.


Daniel sudah mandi dan bersiap untuk sarapan. Meski hari minggu, dia tetap disiplin bangun pagi dan sarapan tepat jam 7.


"Pagi Den Daniel," sapa Bibi Sum. Bibi Sum adalah asisten rumah tangga yang membantu Daniel merawat rumah.


Menjelang pernikahan Daniel dan Karen, Bibi Sum sempat khawatir akan kehilangan pekerjaan. Untunglah Daniel tetap membutuhkan jasanya.


"Pagi, Bi. Masak apa?"


"Kesukaan Den Daniel, nasi goreng telor ceplok."


Daniel tersenyum kemudian mulai sarapan.


"Oh iya, istri Aden nggak sarapan sekalian?"


"Masih tidur," jawab Daniel singkat.

__ADS_1


Bibi Sum sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Karen. Saat pesta, baik ART Daniel mau pun Karen, keduanya diberi tugas untuk menjaga rumah masing-masing sehingga belum bertemu majikan baru.


Sementara itu, Karen baru membuka mata pada pukul 7.30 pagi. Dia bergegas bangun dan mandi. Setelah itu dia menuju ruang makan.


"Pagi, Non, saya Bi Sum yang bantu-bantu di sini."


"Pagi, Bi, saya Karen."


"Silakan, Non Karen, makan pagi dulu."


"Daniel di mana, Bi?"


"Den Daniel jalan-jalan pagi, Non. Kalau hari Minggu Aden memang suka jalan-jalan atau naik sepeda keliling kompleks di sini. Kadang sampai jalan besar juga."


"Oh ...." Karen mulai menyantap nasi goreng telur ceplok buatan Bi Sum. "Ehm ... kalau Bibi, datang tiap hari?"


"Iya, Non, saya tiap pagi ke sini, masak. Nanti siang beres-beres rumah sama kebun. Sore saya pulang. Jadwalnya sih jam 3 sore, tapi Aden sering nyuruh saya pulang siang kalau udah selesai semua kerjaannya. Mari, Non, saya permisi mulai beres-beres dulu."


Setelah selesai menyantap makanannya, Karen keluar rumah dan memandang sekeliling. Dia memejamkan mata, manikmati udara pagi sembari merentangkan tangannya.


Tidak lama, Daniel pulang dengan banyak bungkusan plastik di tangan. Dia melewati Karen tanpa menoleh sedikit pun.


Apa aku ini makhluk tak kasat mata? Dilihat aja enggak. (Karen).


Dia mengikuti Daniel yang menuju dapur membongkar bungkusan plastik berisi makanan itu dan memasukkannya ke kulkas.


"Beli apaan tuh?" tanya Karen.


"Makanan."


"Makanan apa?"


"Jajanan pasar."


"Namanya?"


"Nggak tahu."


"Kamu itu ibaratnya listrik, sebulan paling bayar 15 rebu, hemat banget!"


Mendengar itu, Daniel menaikkan alisnya.


Karen keluar dari dapur menuju ke kamar. Di dalam kamar, Karen melihat-lihat koleksi figur Iron Man milik Daniel di dalam almari kaca. Dia berusaha membuka almari pajangan tersebut kemudian mengambil 2 figur yang kecil dan berbalik.


Betapa kagetnya dia. Daniel ternyata berdiri di belakangnya dengan tangan dilipat di dada. Ekspresi wajah dokter itu datar, sangat sulit untuk dibaca.


Apa dia marah aku pegang-pegang mainannya? (Karen).


To be continued...


Jogja, May 7th 2021


***


find me on Instagram @titadewahasta


find me on YouTube Tita Dewahasta


__ADS_1


__ADS_2