Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
3. Umur Berapa Menikah?


__ADS_3

"Ren ... Karen." Mama Puri berusaha mengajak bicara.


Karen terus terdiam dan menyetir dengan tatapan kosong. Mama Puri dan Kendrik terus bertanya-tanya dalam hati apakah separah ini orang yang memikirkan kapan akan menikah. Mama Puri merasa bersalah sendiri. Meski dia tidak pernah menanyai Karen tentang pernikahan, dia pernah menanyakan pertanyaan mematikan itu pada anak temannya, anak saudaranya dan pada pemudi lain yang menginjak usia 24 ke atas.


Niatnya hanya basa basi mencari topik pembicaraan. Dia sama sekali tidak bermaksud menghakimi atau menekan orang-orang itu. Namun, ternyata dampaknya begitu besar. Dia membayangkan apakah orang-orang yang pernah dia tanyai juga stres seperti Karen? Dia amat menyesal sekarang.


Masih ada ribuan topik pembicaraan yang bisa dibicarakan, tidak perlu menanyai hal sensitif dan pribadi itu. Di masa mudanya, Mama Puri tidak mengalami hal serupa karena dia dimudahkan urusan jodohnya oleh Tuhan.


"Karen sayang." Mama Puri berbicara selembut mungkin.


Anak perempuannya itu tidak bergerak sama sekali.


"KARENINA DAMARTYA!"


"Hoah! Kaget, Ma! Apaan sih teriak-teriak gitu?" Akhirnya Karen berbicara juga. Ada kelegaan di hati Mama Puri melihat sang anak merespon.


Dia mengelus-elus dadanya. "Syukur kamu nggak kenapa-kenapa."


"Emangnya aku kenapa, Ma?" Karen bingung sendiri.


Apa dia tadi nggak sadar diajak ngomong dan dipanggil-panggil? (Mama Puri).


"Mama tadi panggil-panggil kamu, ngajak ngomong kamu, tapi kamu nggak jawab. Mama kira kamu stres karena peristiwa tadi di acara trah," kata Mama Puri masih sambil mengelus-elus dadanya, lega.


Karen meminggirkan mobil.


"Lhoh, kok berhenti, Ren? Apa biar Ken aja yang nyetir?"


Wajah Karen berubah menjadi sedih. "Aaarrrggghhh ... aku kesel! Malu!" Karen berteriak disusul bulir bening keluar dari matanya.


Dia membenamkan wajah di lipatan tangan di atas kemudi.


~


Di rumah


Ibunya bersyukur berhasil pulang dengan selamat meski jantungnya hampir terlepas. Karen menyetir dengan tidak stabil. Namun, dia juga tidak mau digantikan Kendrik. Kini, Karen hanya duduk di ruang televisi memandangi layar besar dalam keadaan mati. Dia duduk di lantai bersandar pada sofa. Tatapannya kosong.


Mama Puri membuatkan teh hangat agar Karen lebih rileks. "Minum tehnya, Ren!"


"Hm ...." Karen meraih teh itu dan meminumnya. Dia sedikit merasa rileks seperti yang diharapkan sang ibu.


Mama Puri yang duduk sofa itu sedikit lega, tapi masih takut untuk mengajak bicara anak perempuan satu-satunya itu.


Karen menyandarkan kepala ke kaki Mama Puri. "Ma, dulu Mama nikah umur berapa?" Dengan nada lemas Karen bertanya.


"Ehm, nggak penting, Ren. Jaman Mama sama jaman kamu kan beda," jawabnya dengan hati-hati, takut Karen akan membandingkan dengan kehidupannya.

__ADS_1


"Mama! Kok jawabnya gitu sih? Aku kan nanya umur berapa Mama nikah. Jawabnya angka."


"Ehem ... Mama berumur 23 tahun waktu nikah."


Benar saja, Karen membandingkan kehidupan ibunya dengan miliknya sendiri.


Umur 23 tahun aku ngapain sih? Apa aku nggak punya pacar waktu itu? (Karen).


Mama Puri memberi petuah. "Setiap orang itu lini masanya beda-beda, jadi jangan gunakan standar orang lain. Kamu punya standar dan lini masamu sendiri."


Karen menghela napas panjang berkali-kali seolah tak menggubris petuah ibunya. "Kok aku nggak laku-laku sih, Ma? Aku kurang cantik? Apa aku operasi plastik aja kayak artis-artis di drama?"


"Hush, jangan aneh-aneh. Kamu itu cantik, karir bagus, prestasi waktu sekolah dan kuliah dulu juga bagus. Sabar aja!"


"Aku nerusin S2 aja sama S3 ya buat ngisi kekosongan."


Sekalian cari jodoh juga. Eh, itu yang utama, kuliahnya sampingan. (Karen).


"Jangan dulu!" larang Mama Puri dengan keras.


"Kenapa, Ma? Biasanya Mama mendukung soal pendidikan. Kan dulu Mama yang bilang kalau aku sama Kendrik harus lulus kuliah."


"Kalau S2 sama S3 nanti dulu. Nanti cowok tambah keder kalau kamu tinggi-tinggi sekolahnya, apalagi kamu punya perusahaan sendiri."


Mendengar itu, raut wajah Karen berubah menjadi sedih kembali dan hampir menangis. "Aku nggak serius pengen kuliah, Mama. Aku cuma pengen ngisi waktu aja sambil cari kenalan."


Karen mulai terisak. "Terus gimana dong, Ma? Apa kita ke dukun aja biar aku dikasih jimat atau apa gitu."


"Tambah ngaco aja sih, Ren?! Nggak boleh! Dosa! Doa aja yang rajin, Mama juga doain kamu terus."


"Aku udah doa terus, Mama. Komat-kamit tiap malam tapi belum dikasih jawaban juga."


"Tapi kan kuliah kamu lancar, kerjaan lancar. Mendingan kamu fokus aja ke perusahaan kamu! Nanti kalau udah waktunya, jodoh pasti datang."


"Nggak mau! Aku udah nggak pengen karir! Aku tuh pengen ngurus suami sama ngurus anak."


"Hish, kamu mau ngurus suami sama anaknya siapa?"


Tangis Karen tambah keras, karena ibunya tidak mengerti maksudnya. "Ya suami dan anakku lah, Ma!" teriak Karen seiring dengan tangisnya yang semakin menjadi.


Salah ngomong. (Mama Puri).


~


Malam hari


Karen sudah tenang dari segala kesedihan dan amukannya. Dia mencoba berpikir jernih dan rasional.

__ADS_1


Gimana caranya kenal sama orang baru? Di lingkaran pertemananku nggak ada yang cocok, jadi harus cari orang baru. Tapi gimana caranya? (Karen).


Dia masuk ke kamar Kendrik dan membuka pintunya lebar-lebar. Meski mereka saudara kandung, tapi orang tua mereka mengajarkan untuk tidak seruangan berdua saja. Atau, minimal tidak menutup pintu kamar jika mereka harus berbincang di dalam kamar. Kendrik sedang mengerjakan tugas kuliahnya di atas meja belajar.


"Ken."


"Hm ...."


"Kamu punya temen yang jomblo nggak?"


"Banyak."


"Kenalin!" Karen tiba-tiba antusias.


"Kak, sadar umur napa! Temen-temenku ya rata-rata seusiaku lah, 20 tahun."


"Cih, ya udah, bukan temen deh. Kakak tingkat ada nggak?"


"Kakak tingkat paling tua yang masih ngampus maksimal umurnya 24. Masih lebih muda dari kamu."


Karen baru menyadari usianya bahkan sudah lebih tua dari pada usia mahasiswa aktif angkatan tertua. Tentunya mahasiswa yang dimaksud adalah yang masuk pada tahun yang semestinya, bukan mahasiswa dari program kelanjutan study yang biasanya adalah karyawan atau pegawai yang meneruskan jenjang kuliahnya.


"Cinta kan nggak pandang usia, Ken."


Kendrik tergelak. "Hahaha. Oke, let's say cinta nggak pandang usia. Mungkin jodoh kamu lagi sibuk belajar buat ujian kelulusan SMP, atau lagi sibuk main mainan superhero atau lagi baca komik di taman bacaan."


Karen melirik adiknya dengan kesal.


"Kalau bener begitu, kamu mau nunggu jodoh kecilmu itu, Kak?"


"Ya, jangan yang jauh juga selisihnya."


"Lhoh kan topiknya 'cinta nggak pandang usia'. Kalau kamu masih mikirin selisihnya, berarti itu mematahkan hypothesis kamu sendiri," kata Kendrik.


"Iya sih. Ehm, menurut kamu, cinta itu harus pandang usia?"


"Iya lah. Kakak kan perempuan, jodohnya minimal seumuran. Lebih bagus lagi yang lebih tua. Tapi ya jangan jauh-jauh juga selisihnya." Kendrik seolah lebih tahu tentang jodoh yang cocok daripada kakaknya itu.


"Hah, nyatanya mau yang muda, seumuran atau pun lebih tua, nggak ada satu pun yang jadi pasanganku."


"Kalau aku nikah duluan gimana, Kak?" kata Kendrik, serius.


"Apa! Kamu itu masih kuliah, Ken! Dan jangan berani-berani langkahin aku!"


To be continued...


Jogja, April 3rd 2021

__ADS_1


__ADS_2