Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
42. Mantan Kekasih


__ADS_3

Karen menghubungi Haris kembali melalui telepon.


πŸ“ž"Halo Ris, aku tadi udah diskusi sama asistenku. Kami mau ketemu kamu nanti di jam makan siang. Oke?"


πŸ“ž"Aku punya ide yang lebih bagus. Gimana kalau nanti kamu sekalian jemput aku di airport. Habis itu kita omongin tentang itu sambil makan siang."


πŸ“ž"Oh, ehm, oke, nanti kami jemput kamu."


πŸ“ž"Enggak enggak, kamu sendiri aja!"


πŸ“ž"Kenapa?"


πŸ“ž"Flight dari Spore ke sana itu 2 jam. Setelah perjalanan aku bakal kecapekan. Aku nggak mau keadaanku yang berantakan dilihat orang lain."


πŸ“ž"Aku kan juga orang lain. Nggak malu sama aku?"


πŸ“ž"Kamu kan nikah sama saudaraku, jadi udah bukan orang lain lagi dong."


πŸ“ž"Iya ya, oke deh. Aku jemput."


Kata-kata Haris yang mengatakan bahwa mereka saudara berhasil meruntuhkan hipotesis Karen tentang motif Haris ingin bergabung dengan perusahaannya.


Dia memberi tahu Inda tentang rencana pertemuannya dengan Haris siang ini.


"Bos Black Widow, dia siapa sih kok Bos udah kenal?"


"Haris."


"Maksudnya, hubungannya apa sama Bos?"


"Dia saudara Daniel."


"Owalah, kok nggak bilang dari tadi. Tahu gitu langsung rekrut aja nggak usah repot-repot buka lowongan segala."


"Hush, ya tetep buka lah. Kita tetep lihat kualitas. Ehm, nanti aku sendiri aja, kamu di kantor handle kerjaan."


***


Karen menunggu Haris di bandara seperti sedang menunggu seorang kekasih. Dia sendiri tidak percaya akan kembali berhubungan langsung dengan mantan kekasih yang sudah lama dia lupakan.


Fotonya memang masih ada di sebuah album di rumah orang tua Karen. Tapi itu pun hanya sebatas simpanan kenangan Karen yang pernah berprestasi. Kebetulan Haris juga berprestasi sehingga mengharuskan mereka berfoto berdekatan.


Kini, pikiran Karen melayang ke sana ke mari. Jika benar Haris nanti bekerja dengannya, apakah kisah lama akan terulang?


Jika memang harus terulang, Karen menyesalkan beberapa bulan ini di mana Haris justru tidak pernah hadir dalam kehidupannya. Andai saja dia lebih cepat datang kembali ke kehidupan Karen, dia tidak harus menikah dengan Daniel.


Aku terlalu PD. Kalau pun dia datang duluan, memangnya dia mau langsung menikah? Belum tentu juga kan? (Karen).


Tak lama, yang ditunggu pun datang. Haris dengan kacamata hitam bertengger di hidung tanpa merosot berhasil menyihir kaum hawa yang melihatnya. Juga busana yang dia kenakan yaitu kaos putih, celana jeans hitam, sepatu kulit hitam dan jas hitam membuat penampilannya terkesan elegan.

__ADS_1


"Hai, Ris ... capek?"


"Banget, pegel."


"Mau makan sama istirahat di mana?"


"Yang jelas yang kursinya sofa, biar bisa istirahatin punggung. Ehm, restoran donat apa namanya, nah Duncan Lucknut, boleh itu."


"Oke."


Mereka memasuki mobil Karen.


"Kamu kasih tahu suamimu kalau hari ini kita ketemuan?"


"Oh iya. Aku lupa belum kasih tahu dia. Tapi nanti aku kasih tahu Daniel kok."


"Oh ...." Haris mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto selfie mereka berdua di dalam mobil Karen.


"Eh, ngapain foto segala? Jangan di-upload di media sosial lho."


"Hahah, ini koleksi pribadi kok, nggak untuk dipublikasi," sanggah Haris sembari mengirimkan foto itu kepada Daniel. Dia sengaja tidak memberi caption apa pun pada gambar itu dan membebaskan penerimanya berpikir sesuka hati.


Daniel memandangi foto itu.


Karen nggak kasih tahu aku kalau dia pergi sama Haris? (Daniel).


Tidak lama Karen mengirim pesan Chatsapp.


πŸ“±Daniel: Oke.


Di Duncan Lucknut, Karen dan Haris memesan makanan.


"Kita mulai Ris, aku penasaran banget kenapa kamu mau kerja di tempatku. Selain karena kerjaan, apa kamu punya motif lain?" tanya Karen secara frontal.


Ya, aku penasaran sama pernikahan kamu dan Daniel. Anggap aja aku ini lagi kayak nelayan, sekali dayung, 2-3 pulau terlampaui. (Haris).


Haris tersenyum penuh makna. "Alasanku murni karena kerjaan aja."


"Terus, kenapa di perusahaanku yang kecil ini? Sebelum ini, kamu kerja di mana? Dan kamu habis dari luar negri juga. Kayaknya sih kamu nggak butuh-butuh amat sama kerjaan di tempatku."


"Sebelum ini aku trader forex ...."


"Nah kan, kamu trader udah pasti banyak uang, kurang apa?" Karen memotong pembicaraan.


"Denger dulu penjelasanku. Aku memang pernah jadi trader yang hebat. Client-ku banyak yang profit besar-besaran. Aku juga, banyak income. Tapi pernah juga loss. Dan kebanyakan mereka nggak ngerti apa itu investasi. Mereka mikirnya uang yang mereka investasikan itu pinjaman sehingga aku musti kembaliin. Padahal, investasi itu bisa untung dan bisa rugi. Udah risiko."


"Jadi kamu dikejar-kejar untuk balikkin duit?"


"Enggak, aku udah balikkin kok. Tapi cukup di situ, cukup tahu bahwa mainin duit orang yang nilainya lebih dari 100 juta itu bikin beban pikiran."

__ADS_1


Karen mengangguk-angguk. "Kamu rugi dong kembaliin uang orang sampai ratusan juta?"


Haris menggeleng. "Yang sampai loss itu bisa dihitung dengan jari. Jadi, nggak begitu berasa. Tapi di dunia perdagangan valuta asing kayak gitu, jantung rasanya mau lari ke sana ke sini. Tiap menit mikirin fluktuasi yang berubah setiap saat, mikirin loss atau profit. Nggak tenang."


"Jadi kamu mulai karir baru jadi fotografer?"


"Nggak juga. Motret itu salah satu hobi yang terlupakan. Jadi, menjadi fotografer kamu ini aku anggap sedang piknik kehidupan atau yah ... escaping from reality."


"Berarti kamu cuma sebentar bantu aku?"


"Soal waktunya, kita lihat nanti. Dan apa kamu mau pakai sistem kontrak dengan tenggat waktu atau gimana?"


Karen menghela napas panjang.


Jadi aku lagi hire orang yang bahkan dari awal udah berencana untuk keluar? (Karen).


"Aku jadi bingung. Jujur aja aku seneng kamu mau kerja sama, karena kandidat lainnya nggak ada yang sebagus kamu. Tapi dari awal aja kamu kayak udah mau langsung keluar, gimana aku bisa tenang nantinya."


"Tenang aja, aku orangnya gampang dibuat betah. Apalagi ini sekaligus hobiku. Kerja sesuai hobi itu surga."


Karen mengangguk dan berpikir-pikir.


"Ehm, oke, spesial buat kamu, aku bebasin tanpa kontrak. Tapi tolong, seenggaknya 1 bulan. Dan kalau kamu mau memutuskan keluar, kasih tahu aku jauh-jauh hari."


"Wow, ternyata sebagai bos dan mantan pacar, kamu baik banget Ren," puji Haris. Kemudian dia mengulurkan untuk berjabat tangan. "Deal?"


"Deal." Karen menjabat tangan itu.


Haris berpindah posisi duduk ke sebelah Karen dan mengambil foto selfie lagi. Kali ini mereka duduk berdekatan.


"Apaan, Ris? Kamu hobi banget selfie sih!"


"Ini tanda kesepakatan kita, ayo pose yang bagus. Cheers."


Mereka berdua tersenyum ceria dalam foto itu.


Lagi-lagi Haris mengirimkan foto itu kepada Daniel tanpa sepengetahuan Karen dan tanpa caption apa pun.


"Oh iya, nantinya kalau kerja sama kita selesai, kamu lanjut trading?"


"Enggak. Aku punya beberapa aset tanah, ruko dan gerobak. Setelah dari perusahaan kamu, aku mau buka usaha kulier. Tapi waktunya nanti tergantung seberapa betah aku jadi fotografer kamu."


"Hebat."


"Itu juga nanti aku bakal butuh bantuan kamu untuk pembuatan konten usaha baruku. Jadi sama-sama untung kan kita?"


Karen tersenyum dan mengangguk senang. "Betul. Kamu bener-bener well prepared ya."


"Dan aku punya feeling kalau aku bakal betah banget di sini," kata Haris.

__ADS_1


To be continued...


Jogja, May 24th 2021


__ADS_2