Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
54. Grocery Shopping


__ADS_3

"Ha-hai, Bi," sapa Karen, canggung.


Mereka bertiga pun diam. Terjadi kebekuan sejenak. Karen segera berusaha memecah kebekuan itu.


"Ehm, Bi Sum, bisa keluar sebentar? Sa-saya mau ngomong sama Daniel." Karen berusaha tetap tenang walau sedikit tergagap.


"Ba-baik, Non, saya keluar dulu." Tanpa sadar, Bibi Sum tertular, ikut tergagap.


Kemudian dia keluar dari ruang makan sekaligus dapur itu.


Karen menutup wajahnya dengan tangan. "Aduh, kenapa aku nggak lihat ada Bi Sum. Jadi nggak mood marah."


Daniel hanya menghela napas di depan Karen dan melanjutkan sarapannya.


Kalau kamu tahu udah lebih dari sekali aku gendong, gimana marahnya kamu? Untung aja waktu itu kamu setengah sadar. (Daniel).


Karen segera mandi. Saat dia kembali ke ruang makan untuk sarapan, Daniel sudah tidak berada di sana.


"Bibi, minta tolong ke sini sebentar, Bi."


"Iya, Non." Bi Sum memasuki ruang makan.


"Ehm ... tadi Bibi denger apa aja?" Karen masih mencari celah siapa tahu Bibi Sum terlewat mendengarkan percakapannya dengan Daniel.


"Saya cuma denger kalau semalam Den Daniel gendong Non Karen terus Non Karen marah-marah. Itu aja kok, Non."


"Ehem ...." Karen siap mengarang cerita. "Begini ceritanya, Bi. Saya sama Daniel semalem lagi berantem, jadi saya marah waktu dia gendong saya. Kalau lagi nggak marah, saya biasa aja kok."


"Oh gitu, Non. Kirain. Semoga segera baikkan sama Den Daniel ya, Non."


"Iya, makasih ya, Bi. Oh iya, Bibi pegang kunci ruang pojok itu? Tolong duplikatin 1 lagi buat saya ya."


"Lhoh, tapi pesennya Ndoro Mami, Non Karen nggak boleh ke masuk ke sana."


"Tenang aja, Bi. Tadi malem saya udah masuk ke situ kok. Isinya komik sama buku, kan? Besok saya yang ngomong sama Mami kalau saya udah masuk ke situ."


Buset lah, sampai Bi Sum juga dipesenin biar nggak bolehin aku masuk. (Karen).


~


Kantor Ren's Writer


"Bos Black Widow, ini ada client baru dari website BallJud. Gimana, Bos?" kata Citra.


"Aku cek dulu website-nya kayak gimana."


Karen membuka alamat website itu dan memperhatikan bisnis apa yang dijalankan oleh calon client-nya. Dia memperhatikan menu demi menu pada website itu.


Dia pun mengirim pesan lewat chat intranet ke komputer Citra.


🖥️Karen: Cit, yang BallJud jangan diterima. Kirim e-mail permintaan maaf.


🖥️Citra: Kenapa, Bos?


🖥️Karen: You know the rules. Itu website judi. Kita nggak terima website judi.


"Maaf ya, Ris. Nih baca sendiri! Si Bos nggak ijinin terima BallJud jadi client," kata Citra kepada Haris.

__ADS_1


"Ya udah, nggak apa-apa. Nanti aku coba ngomong langsung siapa tahu dia berubah pikiran," jawab Haris sembari berlalu masuk ke ruangan Karen.


"Ren, kenapa BallJud nggak diterima? Itu website punya temenku," protes Haris.


"Itu emang udah aturan di sini, Ris. Kalau usahanya judi atau produk-produknya seperti minuman keras dan teman-temannya, aku nggak mau terima."


"Kamu niat bisnis, nggak? Client ini berani bayar mahal lho. Bisa ningkatin profit kamu. Kalau yang ini hasilnya bagus, di belakangnya nyusul banyak client serupa."


"Sebelumnya makasih banget, Ris, kamu bukan bagian marketing tapi bisa datangin client. Tapi maaf, usahaku bukan untuk hal-hal begitu. Di sini khusus usaha halal aja."


"Kamu belajar bisnis dari mana sih? Kok kolot amat?"


"Ini bukan masalah kolot atau bukan, ini masalah prinsip. Kamu udah tahu kan berapa keluarga yang hancur karena berjudi? Berapa orang yang bunuh diri karena kalah judi? Kamu boleh bilang aku kolot, tapi aku tetep nggak bisa terima client dari BallJud atau mana pun yang usahanya judi atau jualan miras."


Haris akhirnya menyerah karena tidak bisa meyakinkan Karen. "Oke. Ya udah aku ke studio dulu."


"Sorry ya, Ris."


"It's okay," kata Haris sembari berdiri dan pergi.


Dengan sedikit kesal Haris pergi dari kantor dan menuju studio.


"Cat Woman, nanti sore aku mau belanja bulanan. Mau ikut sekalian nggak?"


"Nggak lah, Bos, aku belanja bulanan selalu sama Soni. Eh, emangnya Bos Black Widow belanja sendiri?"


Emang belanja bulanan harus sama suami ya? Baru tahu. (Karen).


"Aku ... kemarin-kemarin Daniel sibuk. Ini nanti aku tanya dia, kalau nggak sibuk, aku belanja bareng sama dia."


Sepertinya kondisi keduanya yang telah saling membuat marah dianggap impas.


~


Sore hari, Karen dan Daniel berada di sebuah supermarket. Karen berada di depan troli, sedangkan Daniel berada di belakang troli.


Karen mengambil barang kemudian diletakkan di troli di belakangnya tanpa tahu apa yang dilakukan Daniel pada beberapa barang yang diambilnya tadi.


Diam-diam Daniel menukar beberapa item belanjaan yang dipilih oleh Karen. Tapi sebenarnya Daniel tidak berniat 'diam-diam' dalam menukar item belanjaan itu. Memang sudah tabiatnya melakukan segala hal dalam mode 'minim suara'.


Di tengah asiknya berbelanja, seorang teman lama menyapa Karen.


"Karen!"


"Mika!" Karen menoleh dan memekik gembira. "Niel, aku ketemu temenku bentar. Kamu ke kasir sendiri ya. Eh jangan lupa beli strawberry dan mangga."


Daniel mengangguk.


Karen menghampiri temannya yang juga sedang berbelanja. Mereka mengobrol panjang, lebar dan tinggi hingga menghasilkan volume jika itu rumus matematika.


Daniel telah selesai membayar belanjaan dan bersiap untuk pulang. Tapi, Karen masih saja mengobrol dengan teman lamanya itu. Obrolan itu berawal dari A hingga Z tentang dunia kerja hingga dunia perpancian dan per-keset-an.


Sungguh membuat Daniel mati gaya. Namun, tak perlu terlalu khawatir karena sesungguhnya Daniel memang menyukai mode patung yaitu: freeze, diam tidak melakukan apa-apa.


10 menit Daniel menunggu, akhirnya dia keluar dari supermarket dan menunggu di mobil.


"Ren, suamimu mana?" Mika menyadari suami Karen menghilang.

__ADS_1


"Lhah, nggak tahu."


"Ya udah sana disusulin, marah kali karena kita kelamaan ngobrol."


Gawat kalau dia marah, bisa-bisa makhluk yang emang patung itu jadi mematung lagi. Hahah gimana sih bahasaku kok belepotan. (Karen).


Mereka berpisah dan melanjutkan kegiatan masing-masing.


Karen menuju ke mobil dan berharap Daniel ada di sana.


"Nah, bener kamu di sini. Kamu marah ya karena aku lama?"


Daniel menggeleng.


"Mika itu tinggal di sini tapi sering tugas keluar kota, jadi jarang ketemu."


"Hm ...."


"Nggak peduli ya? Iya iya, temenku dan ceritaku itu nggak ada yang penting buat kamu," kata Karen penuh sindiran tajam.


Sindiran yang ditujukan kepada Daniel itu malah membuat dirinya terkejut sendiri. Pasalnya, sedari awal mereka memang mereka tidak saling peduli.


Entah kenapa Karen mengucapkan sindiran itu yang justru terdengar ingin dipedulikan oleh Daniel.


Mika itu temenmu yang ngasih kado kotak berwarna biru yang tadinya kukira komik. Ternyata isinya lingerie. Aku tahu dari chat yang dia kirim ke kamu. (Daniel).


Sesampainya di rumah, Karen membuka belanjaan dan mulai menata bahan makanan di rak dapur. Dia kaget melihat sebagian isinya bukan yang dia pilih tadi.


Astaga, orang itu emang benci banget sama aku ya? Niat banget bikin aku marah tiap hari. (Karen).


"Kudaniiil!!!"


Mendengar teriakan itu Daniel segera ke dapur mendatangi Karen. "Ya?"


"Mana jus jeruk merk Pupil Orang kesukaanku? Terus mana mie instan merk ADC? Kok jadi merk Lestarimi sama jus Buahkita? Kamu sengaja banget sih bikin aku marah terus?!"


Daniel menggaruk alisnya.


"Cepet jawab! Jangan diem doang! Kenapa kamu ganti minuman sama makanan yang aku pilih?"


Daniel menghela napas berkali-kali, seperti sedang berusaha keras untuk berbicara. "Kamu alergi aspartam, kamu selalu pusing setelah minum jus merk Pupil Orang. Kamu sensitif sama MSG, kamu juga selalu pusing dan mual setelah makan mie ADC."


Karen terkejut mendengar penuturan Daniel yang begitu detail tentang dirinya yang bahkan dia sendiri tidak menyadari.


"Oh, ehm ... iya juga sih."


Seketika, Karen merasa dirinya konyol. Dia memang selalu merasa pusing setelah meminum dan memakan beberapa makanan dengan merk tersebut, tapi tetap saja ingin membelinya.


Mirip lah dengan orang yang 'sudah tahu dosa' tapi tetap dilakukan. Alasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah karena rasanya enak (meski efeknya tidak enak).


"Oke lah, kalau gitu. Ini juga nggak apa-apa."


Daniel mengambil air mineral dari dalam kulkas dan keluar dari dapur. Dadanya terasa sedikit sesak. Dia meminum air itu untuk menenangkan diri dan beristirahat di kamar.


To be continued...


Jogja, June 13th 2021

__ADS_1


__ADS_2