Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
100. Pergi Tanpa Ijin


__ADS_3

Dari jalan besar, mereka harus memasuki gang kecil untuk mencapai rumah Olive sehingga mobil Karen diparkir di tepi jalan. Mereka berjalan kaki dan akhirnya sampai.


Di sana, tampak seorang gadis kecil sedang bermain di teras. Karen mengenali wajah itu dari foto yang diperlihatkan Olive. Wajah itu bahkan semalam sudah mampir ke mimpi Karen.


Karen mendekati dan menatap gadis kecil itu. Hatinya seketika teriris melihat di lehernya tersemat benda berwarna biru, di hidung tersemat selang.


"Halo, kamu pasti Meylani," sapa Karen.


Meylani mengangguk. Neneknya pun keluar dari rumah. Mereka berbasa-basi dengan ibu Olive / nenek Meylani tersebut.


"Maaf ya Bu Karen, Bu Inda, Meylani kesulitan bicara. Dia masih pakai kanul di leher untuk jalan napasnya."


Karen mengangguk-angguk. "Kalau selang di hidung itu selang apa, Bu?" tanya Karen yang penasaran melihat selang yang lebih besar dari selang oksigen itu. Selama ini Karen belum pernah melihat selang seperti itu.


Pastinya bukan selang oksigen kan? Nggak terhubung ke tabung. (Karen).


"Oh itu selang NGT, untuk makanan," jawab nenek Meylani.


Inda menutup mulutnya dengan tangan.


"Bu, boleh tahu dek Meylani minumnya susu apa?"


Nenek Meylani menyebutkan merk susu yang asing di telinga Karen. Susu itu susu khusus. Meylani tidak diperbolehkan mengonsumsi susu biasa.


Karen dan Inda pun berpamitan sejenak untuk membeli susu itu di apotek terdekat. Beruntung, tidak jauh dari sana ada sebuah apotek dan minimarket. Namun, kedua tempat itu berada di seberang jalan besar sehingga mereka harus menyeberang.


Karen ditemani Inda membeli susu dan beberapa perlengkapan untuk Meylani.


Nahas, ketika menyeberang jalan untuk kembali ke rumah Olive, sebuah motor dengan kecepatan tinggi kehilangan kendali dan menabrak tubuh Karen.


Karen terhempas di atas aspal dengan tangan menyangga badannya. Pengendara motor itu langsung pergi begitu saja.


"Ya ampun, Bos!" pekik Inda, terkejut dan khawatir.


Dia pun membantu Karen berdiri. Beberapa orang yang menyaksikan itu berkumpul dan menolong Karen.


"Mbak nggak apa-apa?" tanya seorang warga.


"Nggak apa-apa kok Pak, cuma lecet-lecet," jawab Karen.


Dia meyakinkan warga bahwa dia tidak apa-apa. Kemudian mereka pergi.


"Bos yakin nggak apa-apa?" tanya Inda sembari memeriksa tubuh Karen.


"Kakiku kayaknya perih, Cat."


"Aku beliin obat di apotek ya, Bos."


"Jangan, nggak usah. Aku jadi ngeri lihat orang nyebrang jalan. Kita ke mobil aja, ada obat sama perban kok."


Mereka masuk ke mobil untuk mengobati luka Karen di tangan dan kakinya. Ternyata lecet di tangan Karen lumayan lebar. Inda mengobati luka Karen dengan seksama.


Saat memandangi Inda yang mengusap luka dengan kapas, entah kenapa tiba-tiba Karen teringat wajah suaminya.


Kenapa inget Daniel ya? Astaga! Daniel tadi nggak ijinin aku pergi. (Karen).


Karen baru menyadari kesalahan terbesarnya, pergi tanpa ridho suami. Meski niatnya adalah untuk berbuat baik, tetap saja harus mendapat ijin dari suami.

__ADS_1


"Bos, Bos tunggu di mobil aja biar aku yang anter barang-barang ini."


Karen mengangguk.


Inda pergi sejenak untuk mengantar barang-barang tersebut dan kembali ke mobil untuk pulang.


***


Keesokan harinya


Karen bangun pukul 6. Terdengar suara air di kamar mandi pertanda suaminya sedang mandi.


Daniel belum tahu bahwa Karen mengalami kecelakaan. Semalam, Karen menggunakan piyama lengan panjang dan celana panjang sehingga tidak terlihat lukanya.


Pagi ini, badan Karen terasa sakit semua sehingga kesulitan bergerak. Beberapa erangan lolos dari mulutnya.


Daniel yang baru saja selesai mandi mendekati Karen. "Kenapa?"


Karen menggeleng. "Nggak apa-apa kok. Ehm, aku mau mandi."


Karen mencoba berdiri. Namun, dia malah merasakan nyeri yang teramat sangat membuat wajahnya berekspresi kesakitan.


Daniel memeluk Karen membuat istrinya itu makin kesakitan namun ditahan. Lama-lama Karen tidak tahan juga dan menjerit.


"Aaawww, aaarrrggghhh ...."


Daniel melonggarkan pelukannya dan memperhatikan Karen. Tangannya tak sengaja meraba lengan kiri yang diperban.


"Apa ini?"


"Astaga!"


Karen hanya menunduk, benar-benar tidak berani mengucapkan apa-apa. Daniel membuka baju dan celana Karen. Terlihatlah lengan yang diperban dan badan Karen yang penuh dengan lebam biru. Daniel hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan nanar.


Dia mengambil kotak obat, mengganti perban dan mengoleskan obat pada lebam biru di badan Karen. Setelah itu, dia memakaikan baju kembali dengan hati-hati. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Daniel.


Karen pun menangis. Dia merasa bersalah sudah pergi tanpa ijin suaminya.


"Kenapa bisa begini?" Akhirnya Daniel bertanya.


"Aku kemarin ke rumah Mbak Olive terus ketabrak motor waktu nyebrang jalan." Akhirnya Karen mengatakan yang terjadi dengan isak tangis yang tersisa.


"Tanpa seijinku?"


"Maaf, aku nggak ngulangi lagi. Kalau kamu nggak ijinin pergi, aku nggak bakal pergi."


"Kamu habis keguguran. Aku nggak ijinin kamu pergi biar kamu istirahat. Nggak ada niat penjarain kamu di rumah. Kalau kamu sehat, kamu bebas kemana yang kamu suka."


Karen mengangguk. Dia tidak lagi berniat pergi jika tidak mendapat ijin dari sang suami.


"Sekarang tambah luka-luka ini. Kamu benar-benar harus di rumah dulu."


Karen mengangguk lagi.


***


Dua hari kemudian, Karen sudah lebih baik. Lebam di tubuhnya hanya tinggal warna saja, sudah tidak ada rasa sakit (kecuali dipencet lah yaw, pasti masih sakit). Luka di tangan dan kaki juga sudah mulai mengering. Daniel sudah mengijinkannya untuk pergi ke kantor.

__ADS_1


Hal pertama yang dilakukan di kantor adalah menyidang Linggom dan Neni. Ternyata Neni cukup tahu diri. Dia memberikan surat resign sebelum dikeluarkan oleh bosnya itu. Karen pun memberikan uang pesangon untuknya.


Tinggal Linggom yang kini ada di hadapan Karen.


"Ayo Nggom, kasih alasan yang bagus."


"Nggak punya Bos, sa-saya cuma pengen duit tambahan aja buat penuhin gaya hidup."


"Kalau gitu, menurut kamu sanksinya apa? A. Mau keluar sendiri kayak Neni, atau B. Mau dikeluarin?"


"Ini pertanyaan kuis? Kalau jawabannya tepat, dapat hadiah?"


"Kuis kuis mbahmu! Ayo pilih sebelum kesabaranku habis."


"Keluar sendiri aja deh, Bos."


Karen memberikan uang pesangon untuknya. "Pilihan bagus, aku masih mau kasih surat rekomendasi buat kamu sama Neni karena kalian tahu diri. Tahu nggak sih, sebenernya kalian juga boleh terima job dari luar, itu terserah selama nggak ganggu kinerja di sini. Tapi kesalahan kalian itu karena nggak bisa bagi waktu antara job dari sini dengan job dari luar jadinya kinerja kalian di sini mleyot. Itu bikin nama Ren's Writer dipertaruhkan."


Linggom pun segera pergi dari sana.


Karen memanggil Olive ke ruangannya. "Mbak Olive, begini. Kalau Mbak Olive butuh job tambahan, Mbak boleh kok minta ke Inda. Sebenarnya aku ngeplot job kalian itu biar kalian nggak stres. Tapi kalau punya kebutuhan dan pengen nambah job juga boleh banget. Dan aku juga sampein ke Linggom tadi, boleh ambil job dari luar, asal nggak atas nama Ren's kalau itu website judi dan produk haram, dosa tanggung sendiri. Dan asal, kerjaan yang di sini jangan sampai kacau."


Olive mengangguk. "Sanksi untuk saya apa Bos?"


"Sanksinya kamu harus mau nerima uang dari aku buat pengobatan Meylani."


"Nggak usah Bos, saya ...."


"Nggak boleh nolak, itu sanksi."


"Ba-baik Bos. Oh iya, makasih udah nengok Meylani. Ibu saya yang cerita."


Karen mengangguk.


"Ehm, nitip terimakasih juga buat dokter Daniel udah ngenalin ke yayasan Berkah Empek-Empek. Pengobatan Meylani terbantu banget."


Karen terkejut, dia tidak tahu soal itu. Daniel diam-diam membantu meski tidak secara langsung. Dia baru teringat suaminya mendirikan rumah singgah, pastinya Daniel memiliki banyak rekan yayasan.


"Ya, nanti aku sampaikan ke suamiku."


to be continued


Jogja, August 16th 2021


***


Yeay besok adalah hari kemerdekaan RI. Gimana readers sekalian, kita sorak-sorak yuk 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩


Oh iya, Author mau mendedikasikan tokoh Meylani kepada adik kecil yang menjadi inspirasi tokoh ini. Namanya dik MeyMey. Dia adalah warrior cilik yang memiliki penyakit hemangioma di lidah. Ibunya dan dia berjuang untuk kesembuhan dik MeyMey.


Saat ini keadaan dik MeyMey sudah sangat baik alhamdulillah, lubang napas di leher (trakeostomy) juga sudah ditutup dan bisa bernapas dengan normal. Mau tahu si cantik MeyMey itu seperti apa? Ini dia Instagramnya (sudah dapat ijin dari mamanya untuk posting di sini).



Dedikasi kedua author persembahkan untuk tokoh pendiri yayasan Dana Berkah Utama yaitu Ci' Funi. (Dalam novel Jiwa Jiwa Yang Suci dan Emak Aku Pengen Kawin, tokoh yang terinspirasi dari Ci' Funi adalah Feni. Yayasan dalam novel bernama yayasan 'Berkah Empek-Empek). Mau tahu kegigihan Ci' Funi dalam menolong adik-adik spesial dari seluruh penjuru negeri? Ini dia akun instagramnya: (sudah mendapat ijin dari Ci' Funi untuk publish di sini).


__ADS_1


__ADS_2