Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
22. Pernikahan Inda Dan Soni


__ADS_3

Karen pun ke dapur untuk membantu Mama Puri membereskan bekas makan malam.


"Ren ...." Mama Puri berbicara sembari tersenyum-senyum. "Kalau udah klik sama Daniel, nggak usah lama-lama. Sebulan lagi kalian nikah aja ya."


Ha? Tadinya aku yang pengen nikah, kenapa sekarang jadi emak yang ngebet? (Karen).


"Gini, Ma. Aku sama Daniel lagi coba lebih dekat. Kasih waktu beberapa hari ini ya. Nanti aku ambil keputusan setelah itu."


"Lhoh, masih ambil keputusan lagi? Kirain kamu udah mantep sama Daniel."


"Iya lah, Ma, yang dulu sekedar keputusan pilih foto. Sekarang kan udah kenal sama orangnya, nanti menentukannya lebih bisa obyektif lagi kalau udah ngerti karakter dia gimana."


"Akh, agak kecewa sih, soalnya Mama suka banget sama Daniel. Kamu tetep pilih dia ya!"


"Nggak janji ya, Ma."


"Tadi kamu seneng banget kok kelihatannya."


Karen hanya memandangi ibunya yang tidak mengerti bahwa dirinya hanya ber-acting.


"Tunggu aja keputusanku, Ma! Aku pulang ya!" Pekerjaan membereskan dapur telah usai, Karen pamit pulang.


~


Dalam perjalanan, Karen terus memikirkan Daniel.


Biasanya feeling Ken sangat kuat. Tapi dia tetap manusia, kan? Bisa aja dia salah tentang Daniel. Dia bilang Daniel orang baik, ya baik sih, tapi kayak gitu sama aku. (Karen).


Ponsel Karen berbunyi, sebuah panggilan telepon dari Mami Seli, ibu Daniel. Rasanya dia malas mengangkat telepon itu. Entah kenapa dia ingin mundur dari perjodohan ini.


Sampai di rumah, Bu Minah sudah menyambutnya. Karen masuk ke kamar dengan lesu. Di meja, dia melihat undangan pernikahan Soni dan Inda yang tinggal 2 hari lagi. Inda telah mengambil cuti sejak 3 hari lalu. Dia dan Soni sudah melangsungkan janji pernikahan di kampung halaman Inda. 2 hari lagi adalah acara resepsi yang akan diselenggarakan di Koja.


Kenapa aku nggak seberuntung Inda? Dia menikah dengan orang yang dicintainya. (Karen).


Dia berbaring dan membayangkan Daniel. Dari segi fisik, dia sangat bisa menyukai laki-laki itu. Bahkan saat pertama bertemu, dia sudah mengagumi wajah tampannya.


Daniel, aku mudah jatuh cinta. Kalau kamu bersikap baik sedikit aja sama aku, aku sekarang udah jadi bucin-mu yang paling setia. Kenapa kamu membuat semua ini jadi sulit? (Karen).


***


2 hari ini, Karen tidak mengaktifkan ponsel pribadinya. Dia hanya menggunakan ponsel kantor untuk keperluan pekerjaan. Dia sengaja menghindari ibu Daniel dan ibunya sendiri. Dia takut akan diminta kencan dengan Daniel lagi.


Hari pesta pernikahan Inda dan Soni telah tiba. Karen telah berdandan dengan cantik dan rapi. Pernikahan itu digelar di sebuah aula yang merupakan bagian depan sebuah museum. Tak heran, bangunan itu sangat klasik dan terasa keindahan klasiknya.


Kalau aja nanti aku menikah di sini. Dengan ... entah siapa. (Karen).

__ADS_1


Pernikahan itu berjalan dengan lancar. Musik mengalun pelan membuat suasana pesta menjadi syahdu.


Tiba-tiba Karen dikejutkan dengan kedatangan 5 orang yang 3 di antaranya tidak asing. Nathan, Dion, 2 orang wanita dan tentu saja Daniel. Karen lupa bahwa Soni adalah karyawan rumah sakit Keluarga Bahagia sama seperti Daniel.


Dia berusaha bersembunyi dari mereka. Dia menjauh dan menjauh. Namun, karena masih dalam satu aula yang sama, dia sangat mudah untuk ditemukan.


Dia pun pergi dan memilih menunggu di depan toilet wanita sembari mengawasi pergerakan 3 dokter itu. 2 orang wanita pun datang untuk menggunakan toilet. Mereka adalah Lana dan Asa, istri Nathan dan Dion.


Karena tidak saling mengenal, mereka hanya tersenyum kepada Karen yang berada di depan pintu toilet. Setelah selesai menggunakan toilet, mereka pun pergi.


"Nathan, aku boleh nggak warnain rambutku?" tanya Lana kepada suaminya.


"Kamu lagi menyusui, nggak boleh sembarangan pakai cat rambut!" jawab Nathan.


"Bukan sekarang maksudnya, nanti kalau Althan (anak mereka) udah besar," bujuk Lana.


"Aku juga ya, Mas." Asa tidak mau kalah.


"Kamu masih lama, Sayang. Masih hamil, nanti melahirkan, menyusui," kata Dion kepada Asa.


"Kok, pada mendadak pengen warnain rambur, kenapa?" Nathan penasaran.


"Aku tadi lihat cewek berambut merah, bagus banget." Lana bersemangat menceritakan wanita yang ditemui di toilet.


"Nggak tahu juga, tadi di depan toilet wanita," jawab Lana.


Nathan kemudian pergi ke toilet. Benar saja, memang Karen yang berada di sana. "Karen," sapa Nathan.


"Eh, Dokter Nathan."


"Kok di sini?"


"Ehm, aku agak sakit perut hehehem ...." Karen tertawa canggung.


"Kayaknya udah reda, udah nggak bolak balik ke toilet, kan?"


"Iya juga ya."


"Ayo, gabung! Aku kenalin temenku dan istriku," ajak Nathan.


Karen pun mengikuti Nathan sembari menundukkan kepalanya.


"Hai semua, kenalin ini bosnya Inda, namanya Karen," kata Nathan. "Karen, ini Dion, udah pernah lihat, kan? Ini Mbak Asa, istrinya. Ini Lana, istriku. Dan ini Daniel, pernah lihat juga kan waktu di depan rumah sakit?"


Karen menjabat tangan semua orang itu kecuali Daniel. Dia ragu-ragu.

__ADS_1


Jadi kamu nggak cerita kalau sedang dalam proses perjodohan dengan aku? Baguslah, aku juga nggak cerita ke siapa pun. (Karen).


Daniel dan Karen saling memandang dengan kaku. Akhirnya Karen mengulurkan tangan lebih dulu, Daniel menjabat tangan Karen.


"Than, udah yuk. Aku nggak tenang ninggal Althan lama-lama." Lana mengajak pulang.


"Ya, ayok. Aku sama Lana duluan ya," pamit Nathan kepada yang lain.


"Kami juga pulang duluan ya!" Asa berpamitan. "Ayo, Mas, kita beli es goreng, nanti kalau nggak dibeliin, anaknya ngileran lho," ajak Asa yang sedang ngidam.


Dion dan Asa juga pergi lebih dulu dari ruang pesta. Tinggal Daniel dan Karen berdua di antara kerumunan orang.


"Ehm, Niel, aku juga duluan ya, daa ...." Karen hendak melarikan diri dari keadaan canggung itu.


"Tunggu, kita ngomong sebentar! Di luar."


Tumben dia ngomong sama aku, berarti penting banget. (Karen).


Mereka sudah di luar aula itu sekarang. Karen diam menunggu Daniel berbicara.


"Kamu boleh membatalkan perjodohan kalau nggak suka. Tapi tolong beritahu ibuku dengan cara yang baik. 2 hari ini beliau terus berusaha menghubungi kamu, tapi kamu nggak jawab, bahkan sekarang sama sekali nggak bisa dihubungi."


Karen merasa takjub. Daniel berbicara lebih dari 10 kata kepadanya. Mendengar hal itu, Karen yang telah lesu dari perjodohan itu sedikit bersemangat kembali. Namun, belum sempat dia mengucapkan apa-apa, Daniel pergi.


"Aaak ...." Karen belum sempat mengucapkan 1 kata dengan lengkap, lawan bicaranya sudah menghilang dari hadapan bagaikan sulap besar Houdini.


~


Omongan Daniel bener juga. Aku sebelnya sama Daniel, jangan sampai ke orang tuanya. Kasihan ibunya. Terus perjodohan ini gimana ya? Akh, apa salahnya dicoba lagi. Lagian ini baru jalan 4 hari, siapa tahu Daniel berubah. (Karen).


Dia menghidupkan ponsel pribadinya yang sudah 2 hari dimatikan. Banyak sekali pesan masuk dari Mami Seli, Mama Puri dan Kendrik.


Halah, khawatir yang nggak maksimal. 2 hari ini nggak ada yang datengin aku ke rumah tuh. Padahal rumahku nggak jauh-jauh amat. (Karen).


To be continued...


Jogja, April 22nd 2021


***


hai reader, mohon dukunga karya saya ini dengan like, gift dan vote.


find me on Instagram: @titadewahasta


find me on YouTube: Tita Dewahasta

__ADS_1


__ADS_2