Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
61. Boneka


__ADS_3

"Wah, itu udah lewat sih, Non. Pindahnya kan kelas 2 sebelum saya kerja di sana. Saya cuma dapet cerita aja dari Mbok Idah. Kasian Den Daniel."


"Ha? Kok kasian? Orang dia yang mukul kok."


"Saya juga kurang tahu jelasnya, Non. Pokoknya Mbok Idah bilang kasian gitu doang."


Dalam pikirannya, dia membenarkan omongan Haris. Mami Seli memang menempatkan Daniel sebagai korban. Tidak heran melihat sifat Mami yang terlalu mencitai anaknya.


Demi mendapatkan menantu saja, Mami merahasiakan beberapa hal termasuk ruangan berisi komik itu. Meski pernikahan ini hanya batu loncatan bagi Karen, dia tetap merasa tidak senang dengan ketidakjujuran Mami tentang Daniel.


"Ya udah, Bi. Saya mau lanjut baca." Karen kembali ke posisi favoritnya ketika membaca komik yaitu tengkurap dengan bantal untuk menyangga dada.


Bibi Sum mengambil foto Karen diam-diam. Tapi dasar Bibi Sum yang lupa tidak mematikan flash, Karen jadi tahu dirinya sedang dipotret.


"Ikh, Bi Sum, kok motret-motret saya sih? Jangan-jangan Bi Sum suka nyimpenin foto saya? Ngefans ya?"


"Eh enggak, Non, maaf. Bukan buat saya kok."


"Hah? Buat siapa Bi? Jangan main-main ngasih foto saya ke orang lhoh, nanti kalau buat kejahatan gimana? Hapus, Bi!"


Karen merebut ponsel Bibi Sum untuk menghapus foto dirinya di sana. Namun, dia mendapati layar yang sedang terbuka adalah aplikasi Chatsapp. Ternyata foto itu permintaan Daniel melalui Chatsapp.


Hah? Daniel? (Karen).


"Oh, buat Daniel. Ehm, saya pinjem handphone-nya sebentar ya, Bi."


Karen membuka history chat Bibi Sum dengan Daniel.


📱Daniel: Jangan lupa nanti nginep di rumah ya Bi. Nanti masuknya jangan berisik, Karen tadi lagi tidur.


📱Bibi Sum: Iya, Den.


📱Daniel: Udah sampai belum, Bi?


📱Bibi Sum: Baru aja sampai, Den.


📱Daniel: Karen lagi nggak mau makan, nanti tolong dimasakkin yang dia suka.


📱Bibi Sum: Iya, Den.


📱Daniel: Karen lagi apa, Bi?


📱Bibi Sum: Lagi baca komik di ruang buku, Den.


📱Daniel: Tolong fotoin ya.


📱Bibi Sum: 🖼️


Ternyata sedari tadi, pesan yang masuk adalah chat dari Daniel. Jantung Karen sedikit berdesir membaca pesan-pesan itu.


~


Di sebuah resort di kawasan berbukit, camping tahunan Rumah Sakit Keluarga Bahagia diadakan.


Tenda didirikan di area perkemahan yang terdapat di halaman samping resort. Namun, tenda itu hanya digunakan untuk tidur malam saja. Kegiatan makan malam dan mandi dilakukan di dalam resort.


Malam itu seusai kegiatan api unggun dan unjuk bakat, Daniel, Nathan dan Dion berada di depan sisa-sisa api unggun. Sedangkan karyawan yang lain sudah masuk ke tenda masing-masing.


Nathan mendapat telepon dari Lana, istrinya.


📞"Halo, apa sayangku?"


📞"Besok kalau pulang bawain buah yang banyak di situ."


📞"Iya, besok aku beliin. Masih mual nggak?"

__ADS_1


📞"Sekarang udah enggak. Tadi mama bikinin rujak mangga."


📞"Althan nggak rewel, kan?"


📞"Nggak kok. Ya udah, aku boboin Althan dulu."


Dion membakar jagung, sementara Daniel masih sibuk dengan ponselnya.


"Than, inget nggak camping sebelum ini? Lu masih galau sama Lana hahaha," kenang Dion.


"Inget lah, seumur hidup nggak bakal lupa gimana perjuangan gue."


"Eh sekarang udah mau dua aja anak lu."


Daniel terkejut mendengar itu.


Dia memang belum mengetahui istri Nathan hamil lagi. Malah, Karen yang sudah mengetahui lebih dulu karena Inda berteman dengan Lana. Dan Karen tidak pernah bercerita kepada Daniel.


"Oh, aku belum cerita ya, Niel. Tuh bini Nathan hamil lagi. Emang dia nih gaptek, nggak ngerti alat kontrasepsi!" kata Dion.


"Bukan gaptek, tapi emang mau berkembang biak dengan maksimal." Nathan tertawa kecil. "Niel, kok nggak semangat, kenapa? Lagi berantem sama istri?"


Daniel mengangguk. "Dia ... marah."


"Kurang service kali kamu." (Dion).


"Heh, mana ada pengantin baru kurang service, yang ada over service." (Nathan).


"Oh, iya juga. Nah mungkin itu, terlalu rajin kali?" (Dion).


"Sampe lecet-lecet?" (Nathan).


"Hush, jangan samain sama elu. Lu kan tahu Pretty Boy ini kalem, pasti dia lembut nggak kayak elu." (Dion).


"Eit, jangan pergi! Cerita, Niel," bujuk Dion.


"Gimana biar dia nggak marah?"


"Klasik, minta maaf sampai memohon-mohon." (Dion).


"Kalau perlu pake obat mata biar bisa nangis bombay." (Nathan).


"Peluk paksa sampai dia maafin." (Dion).


"Beliin makanan kesukaan." (Nathan).


"Beliin benda yang istimewa." (Dion).


"Beliin bunga, kasih kartu permintaan maaf." (Nathan).


***


Paginya.


Para karyawan rumah sakit berjalan-jalan untuk menikmati pemandangan matahari terbit di bukit. Setelah itu mereka sarapan pagi dan melakukan kunjungan ke museum.


Daniel membeli beberapa buah souvenir untuk Karen.


"Niel, kamu mau minta maaf pake barang ginian?"


"Iya, kenapa?"


"Aku nggak tahu sih karakter Karen. Tapi yang aku maksud barang istimewa bukan ini. Perempuan biasanya suka benda lucu. Masak kamu kasih pajangan museum begini?" kata Dion.


"Benda lucu, atau benda branded juga bisa," tambah Nathan.

__ADS_1


"Tuh, Niel, kasih boneka gede," saran Dion.


Karena bingung, Daniel membeli pajangan dan boneka besar. Namun, dia tidak membeli barang branded.


Istrinya pernah mengatakan bahwa dia tidak begitu suka dibelikan barang branded. Selain itu, Karen lebih suka membeli barang keperluannya sendiri.


Dia hanya memiliki beberapa barang branded untuk mensahkan predikatnya sebagai bos. Itu pun hanya seharga 5 jutaan. Tidak pernah dia membeli yang lebih mahal dari itu. Dia lebih suka brand lokal untuk mendukung UKM (Usaha Kecil Menengah).


~


Daniel pulang ke rumah pukul 16.30.


Karen sudah pulang dari kantor lebih dulu. Kini dia sedang membaca komik di ruang buku. Daniel masuk ke ruangan itu.


Karen berdiri, tapi bukannya menyambut, dia bermaksud meninggalkan ruang itu dan bersikap tak acuh kepada Daniel.


Daniel menariknya, mencegah wanita berambut merah itu pergi. Karen menatap suaminya dengan kesal.


"Apa?" tanya Karen, ketus.


"Maaf."


"Gitu doang?"


Kemudian Daniel menyerahkan bungkusan besar berisi boneka itu.


"Apa ini?" Dia membuka bungkusan itu. "Boneka? Kamu pikir aku anak kecil?"


~


Malam hari


Di kamar, Karen memandangi pajangan yang dibelikan oleh Daniel yang membuat moodnya berubah menjadi lebih baik, pajangan patung anubis.



"Pppfffttt."


Boneka yang dibelikan juga tak kalah membuatnya geli sendiri, boneka kudanil. Dia mencubit-cubit kepala boneka itu.


"Pppfffttt. Dasar kudanil, laki-laki paling ngeselin, nggak bisa senyum, nggak bisa ngomong."



Dia meletakkan pajangan di meja kemudian tidur memeluk boneka kudanil besar itu. Boneka yang berbahan lembut itu sangat nyaman dan membuat tidur Karen lebih nyenyak.


Daniel masuk ke kamar untuk beristirahat setelah merasakan sesak napas sejenak di ruang buku. Dia memandang takjub Karen yang tidur lelap memeluk boneka pemberiannya.


Sungguh mengherankan, tadi dia marah dikasih boneka ini. Akhirnya sekarang dipeluk juga. (Daniel).


to be continued...


Jogja, June 18th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta


***


ada yang mau tahu camping tahunan Rumah Sakit Keluarga Bahagia yang sebelumnya? Baca ya di novel sebelumnya "Jiwa Jiwa Yang Suci", kisah Lana dan Nathan.


ini dia cuplikannya


__ADS_1


__ADS_2