
• preface •
Ini adalah episode terakhir. Seperti yang sudah saya infokan sebelumnya bahwa endingnya ada 2 yaitu happy ending untuk tokoh utama dan sad ending untuk supporting character.
...🕯️🕯️🕯️...
Kendrik dan Mama Puri untuk sementara waktu tinggal bersama Karen dan Daniel. Kandungan Karen tinggal menunggu hari saja. Dia membutuhkan orang untuk mendampingi jika sewaktu-waktu si junior memberi sinyal akan keluar dari alam rahim.
"Ren, Ken, Mama baru aja dapat kabar kalau Om Priambodo masuk rumah sakit."
"Astaga! Sakit apa, Ma?"
"Belum tahu. Mama mau ke sana, kalian baik-baik di rumah ya."
"Biar dianter Kendrik, Ma."
"Hee, jangan! Terus kamu sama siapa kalau sewaktu-waktu mau brojol? Lagian Batalu kan sekitar 1 jam dari sini, pulang pergi 2 jam. Lama. Biar Mama bareng sama saudara yang lain aja."
Mama Puri pun bersiap dan pergi.
~
"Ken, yuk ke pantai. Mumpung masih jam 9 pagi."
"Oke," jawab Kendrik sembari mengambil ponselnya, siap menelpon kakak ipar.
"Eit, jangan telpon Daniel! Pasti nggak diijinin. Inget nggak tadi pagi dia bilang apa?"
"Kalau gitu ya di rumah aja, Kak."
"Ken, please! Kakakmu ini bosen banget pengen main ke pantai. Lagian dari kemarin belum ada tanda-tanda melahirkan. Kayaknya masih lama deh."
Setelah perdebatan panjang dengan Kendrik, akhirnya adiknya itu kalah. Dia pun menuruti keinginan kakaknya untuk pergi ke pantai.
Pantai yang dipilih Karen adalah pantai di kawasan Gunung Timur yang medannya paling mudah di antara pantai lain yang medannya sulit. Itu pun memakan 1 jam perjalanan. Yang lain? Bisa 2 jam hingga 3 jam dengan jalanan yang membuat jantung deg-degan.
Sesampainya di pantai, Karen menikmati pemandangan.
Melihat pantai indah itu, dia merasa bahagia dan rileks. Suara deburan ombak menenangkan dirinya. Percikan air laut menimbulkan rasa segar di badan dan wajahnya. Menenangkan, menyenangkan.
Kelas hypnobirthing yang dia ikuti selama kehamilan membuatnya lebih mudah masuk ke gelombang otak alpha. Bila sebelumnya dia hanya mendengarkan suara ombak melalui gawai, kali ini audio alam itu dia dengarkan secara langsung.
Kendrik memandangi kakaknya yang duduk sembari memejamkan mata dan tersenyum itu. Tanpa sadar dia pun ikut tersenyum. Dalam hatinya dia mendoakan kakaknya mendapatkan hidup yang bahagia.
Karen membuka mata. "Ken, kamu punya planning apa dalam waktu dekat ini? Mau kerja atau bikin usaha? Atau mau nikah?"
"Hahaha," gelak Kendrik.
"Sampai sekarang belum punya pacar?"
Kendrik menggeleng.
"Ceritain sih kisah kamu, kamu nggak pernah cerita-cerita. Apa nggak ada seseorang yang menarik buat kamu?"
"Ada. Tapi dia baru lulus SMA."
"Yaelah, kalau udah ada yang kamu suka, coba deketin."
"Nanti kalau momennya tepat aja. Sekarang aku fokus jagain kamu sama keponakanku," katanya sembari memandang perut besar Karen.
2 bulan lalu saat dia sedang mengurus yudisium dan wisuda, dia melihat sesosok gadis yang merenggut perhatiannya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Melihat gadis itu, dia merasa bahwa mereka berdua memiliki benang takdir yang begitu kuat. Bukan sekedar kisah roman picisan atau perasaan suka.
Bukan. Lebih dari itu. Kendrik dapat merasakan keanehan getaran saat menatap si gadis yang belum dia ketahui namanya itu.
Namun, untuk saat ini, apalah yang akan dia lakukan. Tak ada. Dia tidak tahu di mana gadis itu tinggal, tidak tahu nomor ponselnya, bahkan nama yang pernah dia dengar entah nama asli atau bukan.
Mirip dengan Daniel saat mulai tertarik pada kakaknya? Mungkin. Tapi dia dengan kakak iparnya jelas berbeda.
"Kalau kamu, gimana akhirnya bisa jatuh cinta sama Kak Daniel yang dulu kamu bilang ngeselin itu?"
Karen memegangi perutnya, merasakan tendangan-tendangan dari si kecil yang nanti akan diberi nama Darren, bukan Karel apalagi Kadal.
"Misteri. Aku nggak tahu juga gimana dan kapan tepatnya aku bisa cinta sama kakak iparmu itu." (Hanya author yang tahu).
Dia mensyukuri setiap apa yang telah digariskan. Dia juga mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. (Kecuali tentang keluar tanpa ijin karena bahkan detik ini pun Karen masih bengal dan bebal. Sempat berhenti bengal saat dulu dia mengalami kecelakaan. Sekarang, kambuh lagi).
Si kecil Darren di dalam perut kembali menendang. Karen yang awalnya kegelian, sekarang meringis.
Aaawww, ehm ini Braxton Hick*. (Karen).
Tak ingin membuat adiknya khawatir, dia menahannya. Dia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan amat perlahan seperti yang biasa dia lakukan di kelas hyphnobirthing.
Makin lama, kontraksi itu konstan dan berulang. Itu bukanlah Braxton Hick.
Dengan gemetar dia memberitahu Kendrik. "Ken, perutku."
"Kenapa, Kak?" Mata Kendrik pun fokus pada perut Karen yang meruncing. "Itu kenapa kok bisa naik-naik?" tanya Kendrik yang menangkap perbedaan gerakan dibanding hari-hari biasa ketika janin itu menendang.
Nyeri mulai terasa. "Mulai sakit, Ken."
Mereka pun bergegas menuju mobil. Kendrik memapah kakaknya yang sudah tidak kuat berjalan sendiri itu.
Sembari menyetir dan berusaha menenangkan diri, Kendrik membuka Tugel Map untuk mencari pusat kesehatan terdekat. Ada.
Namun, setelah Kendrik mengkonfirmasi, pusat kesehatan itu setingkat pustu (puskesmas pembantu) yang tak cukup tenaga dan alat untuk menangani kelahiran.
Beberapa kali lewat, semuanya unit kecil.
Sementara itu, Karen semakin kesakitan. Seolah melengkapi rentetan peristiwa menegangkan, nun jauh di depan sana terdapat rambu tidak boleh melintas.
Jembatan yang akan dilalui sebagai jalan pulang ternyata ambrol. Rupanya beberapa saat setelah mereka lewat tadi pagi, jembatan itu mengalami kerusakan.
Beberapa orang terlihat sibuk membereskan puing-puing jembatan. Dinas terkait sepertinya belum tiba. Rambu yang dipasang saja adalah rambu dadakan seadanya. Tidak ada orang berseragam, hanya warga-warga sipil yang berusaha mengamankan tempat.
Kendrik pun dengan sigap mencari jalan memutar. Lebih sepi...
Lebih jauh...
Jantungnya sudah berdebar sangat kencang. Kepanikan melanda.
__ADS_1
"Kak Ren?"
Karen terus mengatupkan bibirnya. Sakitnya begitu progresif yang semakin lama meningkat rasa sakitnya.
Dengan gemetar, Kendrik berusaha mencari rumah sakit terdekat di Tugel Map. Tak ada. Semuanya pustu. Ada rumah sakit besar di pusat kota Gunung Timur tapi justru memakan waktu 2 jam untuk mencapainya.
Rumah sakit yang terdekat dari sana hanya Rumah Sakit Keluarga Bahagia tempat Daniel bekerja. Letak rumah sakit itu memang berada di pinggir selatan kota Koja yang berbatasan dengan wilayah Gunung Timur.
Kini, Kendrik fokus dengan tujuannya yaitu Rumah Sakit Keluarga Bahagia.
"Kak, basah," kata Kendrik sembari melihat keadaan kakaknya yang ternyata sudah merembeskan amnion** di kakinya.
Karen tak mampu bicara. Dia hanya mengangguk sembari menahan sakit.
Air ketuban bisa habis kan? Aku harus cepat. (Kendrik).
"Nggak tahan, Ken, tolong," katanya dengan terbata dan dengan sisa tenaga.
Tak tahan ...
Air amnion terus mengalir keluar dari tubuhnya ...
Sakit ...
Dengan kecepatan tinggi Kendrik memacu kendaraannya. Jalan asing memutar itu lebih sepi dari jalan utama yang mereka lewati tadi. Kanan kiri sawah dan kebun. Persimpangan jalan nyaris tak terlihat karen rimbunnya tanaman.
Sampai pada suatu pertigaan yang tak tertangkap matanya, hal nahas harus terjadi.
Sebuah sepeda motor keluar dari pertigaan itu. Kecepatan tinggi tak memungkinkan Kendrik untuk membanting setir ke mana pun.
Kecelakaan tak dapat terhindarkan ...
Suara keras benturan dua kendaraan terdengar ...
Kendrik menengok ke belakang melihat orang yang dia tabrak tadi.
Tergeletak, tapi sepertinya masih bergerak. Sepertinya.
Tuhan tolong dia, aku harus bawa kakakku ke rumah sakit. (Kendrik).
Kemudian melihat kakaknya yang menahan kesakitan disertai air yang membasahi kursi mobil itu.
Insiden itu pun membuat kontraksi yang Karen rasakan semakin sakit. Air amnion tersedot gravitasi disertai goncangan menjadikannya semakin cepat keluar.
Kendrik bingung harus bagaimana.
"Ke-ken ...," pekik Karen saat Kendrik melajukan lagi kendaraan itu.
Kendrik frustasi dalam kondisi genting itu. Namun, kakaknya sudah harus ditolong.
"Aku bawa kamu ke rumah sakit dulu, nanti aku balik ke sini lagi. Aku tanggung jawab apa pun tuntutan orang itu. Yang penting kamu sampai rumah sakit dulu," katanya sambil melajukan mobil.
Karen mulai menangis. Bukan menangisi rasa sakitnya. Namun, menangisi orang yang ditabrak dan adiknya sendiri.
~
Sesampainya di IGD rumah sakit, Karen segera dinaikkan di brankar untuk ditangani. Kendrik menitip pesan kepada perawat untuk memberitahu Daniel di polinya.
Nathan yang sedang berjalan ke IGD tak sengaja bertemu dengannya.
"Hey, Ken. Ada apa? Kok di sini?"
"Kak Ren mau melahirkan," jawabnya sembari napasnya tak teratur karena tangis.
"Kenapa kamu sampai kayak gini? Tenang Ken, orang melahirkan emang sakit."
"Bukan. Aku tadi nabrak orang waktu antar ke sini. Aku tinggalin karena mau memastikan Kak Ren melahirkan dengan selamat. Setelah ini aku nggak tahu bakal gimana nasibku. Mungkin dihajar massa."
"Ssshhh, jangan ngomong gitu. Bisa diselesaikan baik-baik, Ken. Tenang, duduk." Nathan menepuk bahu Ken, turut prihatin dan menenangkan.
~
Sementara itu Daniel bergegas ke ruang bersalin untuk mendampingi Karen. Diraihnya tangan wanita yang sedang bertaruh hidup dan mati untuk melahirkan buah hati mereka.
Karen masih belum bisa tenang dari tangisannya. Beberapa saat ditunggu, tangisannya belum mereda, malah semakin terisak.
"Niel," panggil Dion disertai kode untuk berbicara sebentar. Dia berbisik, "Tenangin istrimu, Niel."
"Apa nggak mungkin menangis saat melahirkan. Nggak apa-apa, kan?"
"Kalau air mata haru dan mild itu wajar. Kalau sampai meraung kayak gini bisa habis tenaganya. Napasnya juga bisa tersengal."
"Ketubannya gimana?"
"Normalnya akan habis 24 jam sejak rembes, biasanya masih banyak waktu. Tapi ini lumayan banyak yang keluar. Pembukaannya juga hampir sempurna. Kalau dia habis tenaga buat menangis, nggak kuat nanti. Sekarang, cepet tenangin dia!"
Nathan pun masuk ke ruang bersalin. Dia menarik Daniel dan Dion keluar sebentar sementara Karen ditemani bidan.
"Karen sama Kendrik tadi kecelakaan di jalan," kata Nathan.
Daniel dan Dion terkejut, tapi juga menjelaskan kenapa ketuban begitu cepat berkurang, bukaan begitu cepat meningkat dan kontraksi sedikit berlebihan.
Saat terjadi kecelakaan tadi, pembukaan Karen yang memasuki 5 itu melonjak menjadi 9. Sangat cepat dan berisiko pendarahan.
Untunglah dari kecelakaan tadi baik Kendrik mau pun Karen tidak mengalami cedera.
Daniel kembali ke ruang persalinan, sekuat tenaga menenangkan Karen, menjanjikan bahwa sang adik akan baik-baik saja.
"Niel, belum juga tenang. Gimana? Dikit lagi bukaan 10, ketuban berkurang terus, harus cepat."
Daniel memejamkam mata sejenak. Bisakah dia menenangkan Karen dalam waktu yang tersisa sedikit ini? Atau lebih baik operasi?
Sementara itu, bidan yang turut membantu persalinan sedang memeriksa denyut jantung bayi dengan fetal doppler.
Daniel membuka mata dan mantap untuk memilih persalinan normal.
Dia meraih tangan istrinya lagi dan membisikkan kalimat dengan lebih pelan dan lembut. "Ssshhh, kita pikirkan Kendrik nanti. He is okay outside. Sekarang pikirkan Darren. Kasihan dia. Dia ingin segera ketemu kita."
Tangan Daniel mengusap mata Karen yang basah sekaligus membimbing mata itu agar terpejam. Dia berharap istrinya bisa cepat rileks dengan mata terpejam.
Karen pun mengangguk. Dia mengatur napas agar berhenti menangis.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa. Tarik napas," bimbing Daniel.
Terdengar napas Karen tersengal karena isakan. Cukup sulit menstabilkan napas karena dia juga harus menahan dari reflek mengejan. Reflek ini didapat secara otomatis karena bayi yang mendorong dari dalam.
~
Di luar ruangan, Kendrik masih frustasi. Badannya gemetaran. Sebagai manusia biasa, dia merasakan takut. Takut jika orang yang ditabrak sakit hingga mengalami cacat, takut korban mengajukan tuntutan yang di luar akal, takut dirinya tidak selamat jika dihajar massa dan takut terjadi sesuatu pada persalinan kakaknya.
Dia bertekad, setelah dipastikan anak kakaknya lahir, dia akan segera pergi dari sana.
~
Proses persalinan berjalan dengan lancar meski sempat tersendat. Bayi mungil yang panjangnya 53 cm itu sekarang merangkak-rangkak di dada Karen mencari makanan pertamanya, ASI.
Daniel mengecup kening istrinya sembari mengusap punggung makhluk kecil nan lucu itu.
...Selamat datang ke dunia 'Darren Byakta Mandala'....
...Jadilah anak yang taqwa, berbakti dan bermanfaat bagi manusia lainnya....
Daniel memandangi wajah pucat istrinya dengan penuh rasa syukur. Karen telah mengubah banyak hal di hidup Daniel.
Tadinya dia hanya hidup sendiri, tak terpikir akan memiliki pendamping hidup ...
Memimpikannya pun tak berani ...
Kehadiran Karen dengan cintanya telah membuatnya tersadar.
Ternyata, ada cinta yang tak memiliki alasan.
Cinta yang tak butuh kata 'karena' ...
Cinta yang menerimanya apa adanya ...
Bahkan berjuang bersama ...
Karen juga tak pernah terpikir akan mencintai Daniel pada akhirnya.
Tak pernah terpikir pria yang tidak menyenangkan, kaku dan pendiam itu menyimpan luka di masa lalu.
Tak pernah terpikir pria yang seperti patung itu ternyata memiliki hati yang hangat.
Dia akhirnya jatuh cinta tanpa paksaan ...
Menerima semua kekurangan pria itu ...
Kini, dia melahirkan anak yang akan dia jaga dengan segenap hidupnya.
Diam-diam, Kendrik melihat Daniel, Karen dan bayi mungil itu dari sela pintu yang sedikit terbuka. Terukir senyum kecil di bibirnya yang masih gemetaran.
~
Beberapa saat kemudian dia beranjak pergi.
"Ken! Kendrik!" panggil Dion yang membuat langkah Kendrik terhenti. "Tolong kakakmu, dia pendarahan. Darah persediaan di rumah sakit nggak ada yang AB. Darahmu AB kan?"
Gimana ini, aku bakal lebih lama di sini. Gimana orang itu? Ya Tuhan, kirimkan orang untuk menolong orang itu. (Kendrik).
Sekali lagi dihadapkan dua pilihan yang sulit. Namun, nyawa kakaknya juga sedang di ujung tanduk. Dia pun segera mengikuti Dion untuk diambil darahnya.
Setelah proses pengambilan darah selesai, dia bergegas pergi. Tak bisa ditunda lagi.
~
Karen dengan bibir yang telah memudar warnanya karena kehilangan banyak darah itu berkali-kali berbisik menyebut nama adiknya.
"Kendrik ...
Kendrik ...
Kendrik ...."
~
Mobil Kendrik melesat dari rumah sakit. Dalam hatinya dia memanjatkan doa agar kakaknya segera pulih dan pendarahannya segera dapat diatasi dengan baik. Dia juga berdoa agar orang yang dia tabrak dapat selamat.
Masing-masing akan menghadapi takdir hidupnya sendiri-sendiri ....
...• THE END •...
...• THE END •...
...• THE END •...
...Jogja, August 28th 2021...
Author ucapkan beribu-ribu terimakasih untuk yang telah sudi membaca karyaku yang berjudul 'Emak Aku Pengen Kawin' ini.
Author juga memohon maaf sebesar-besarnya jika ada yang kurang berkenan.
Setelah ini, Author akan merilis novel terbaru yang fokus pada kehidupan Kendrik setelah peristiwa ini. Genrenya akan jauh berbeda. Emak Aku Pengen Kawin ini bergenre komedi romantis, sedangkan novel yang berikutnya: roman, action.
PS: akan ada extra part ya, wait❤️.
~
possible question:
thor thor, kok korbannya nggak sekalian diangkut sama Kendrik ke rumah sakit?
answer:
dalam keadaan genting dan panik, kadang orang tidak dapat berpikir secara logis sehingga tidak sempat terpikir oleh Kendrik untuk sekalian membawa korban itu ke rumah sakit, ditambah kondisi Karen sangat kesakitan.
~
foot note:
* Braxton Hick: kontraksi palsu
** amnion: air ketuban
__ADS_1