
Mami Seli menuju taman samping dengan tergesa-gesa. Dia geram anak dan menantunya tidak menuruti hukuman. Ditambah Papi Danu yang malah membantu mereka.
"Hey hey, bandel ya, kalian! Udah dibilangin 1 jam lagi, pada nggak bisa sabar? Pada nggak hargain Mami?"
Karen dan Daniel tidak berani menjawab. Mereka hanya menunduk seperti anak-anak sedang tertangkap basah melakukan kesalahan.
Mami Seli melihat tangan Daniel dan Karen saling bertautan, bergandengan.
Apa mereka beneran udah saling cinta? Eits, ingat! Menantuku ini jago acting. Cuma beginian aja, bisa aja dia acting. Hohow, tidak semudah itu kalian membodohi Mami. (Mami Seli).
"Kalian udah ngelanggar hukuman Mami! Hukuman Mami yang tadi, batal! Ya sudah, mumpung di taman, hukumannya ganti ini." Mami mengambil 2 gunting besar tanaman dari teras samping dan memberikannya pada Karen dan Daniel. "Itu tanaman udah pada tinggi, sana dirapiin!"
"Bebebejdiuwhajosjksohahiowoygsjahshsjuwksodh." Karen meracau.
"Apa? Jangan ba bi bu aja, sana mulai pangkas itu tanaman." Mami beranjak pergi memasuki rumah. "Lumayan lah nggak usah manggil tukang kebun," bisik Mami Seli.
Daniel menurut saja dan mulai memangkas.
Sedangkan Karen merasa letih dengan hukuman fisik. Pagi tadi, dia baru saja berenang dengan Inda dan Citra yang menguras sebagian besar tenaganya.
Sekarang harus mengeluarkan tenaga lagi.
"Niel, ayo duduk aja dulu, nanti aja kita pangkas."
"Kamu duduk." Daniel menyuruh Karen duduk saja.
"Nggak mau sendiri, ayo kamu ikut duduk. Ini lanjut nanti aja." Karen menarik lengan Daniel.
Mereka pun duduk di kursi taman itu.
Mami Seli mengintip dari jendela tepat di belakang mereka. Dia juga membuka sedikit jendela itu untuk mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan.
"Mami ...," panggil Stella.
"Sssttt, diam, Stel!"
Stella bergabung bersama ibunya itu.
"Mami ngapain sih ngelihatin orang pacaran?"
"Sssttt nggak usah banyak nanya, kalau mau ikut lihat, diem!"
Stella pun diam.
Di kursi itu Daniel dan Karen bersenda gurau. Wajah Daniel tampak ceria meski tidak terlalu banyak bicara. Sesekali tangan Karen mendarat di kepala Daniel dan mengusapnya. Daniel merangkul Karen.
Emang udah kayak suami istri sungguhan sih. Stop, jangan dulu berasumsi. Observasi dan investigasi dulu. (Mami Seli).
Sejurus kemudian, Daniel dan Karen berciuman. Mami Seli kaget dan menutup mulutnya.
Stella ternganga dengan pemandangan itu.
Mami Seli pun buru-buru menutupi mata Stella dengan tangan.
"Heh, kamu jangan lihat adegan yang begituan!"
"Mami singkirin tangannya akh! Stella udah sering lihat kali, yang begituan mah biasa."
Mami Seli pun menarik Stella dan menjauh dari sana agar leluasa berbicara dengan suara lantang.
"Biasa gimana? Kamu lihat siapa?"
"Lihat di drakor. Di drakor baru yang judulnya 'Never Teles', adegan begitu banyak Mi."
"Apa?! 'Never Teles'? Judul apaan tuh? Never itu tidak pernah, teles itu basah, jadi 'Tidak Pernah Basah'? Maksudnya musim panas?"
"Mana kutahu apa arti judulnya, ikh Mami!"
"Hey, kamu itu masih di bawah umur, belum boleh lihat begituan. Mulai besok, Mami tambah ketat awasin tontonan kamu!"
"Yah, Mami! Tapi temenku pada nonton drakor, Mi. Masak aku nggak? Nanti aku nggak nyambung kalau ngobrol sama mereka."
"Pokoknya, nggak boleh! Nanti cari drakor yang nggak ada adegan begituan!"
"Mana ada."
"Apa! Jadi semua drakor ada adegan kayak gitu? Kalau gitu, kamu dilarang nonton semua drakor!"
"Eh nggak dink, Mi. Ada yang enggak kok. Ampun, Mi."
__ADS_1
"Sini pinjem laptop sama printer." Mami ke kamar Stella dan menggunakan laptop.
"Mami mau nyortir tontonan Stella sekarang?"
"Sssttt jangan ganggu Mami. Urusan drakor, Mami urus nanti. Ini hal penting lain. Tolong isiin kertas di printer, Stell."
~
Di taman samping
Setelah duduk-duduk berdua di kursi taman, Daniel berdiri dan akan melanjutkan memangkas tanaman.
"Mau apa, Niel?"
Daniel menunjuk tanaman di sana.
"Jawab dong!"
"Pangkas tanaman."
Karen berdiri dan ikut memangkas di samping Daniel.
"Ayo, Niel. Tanya aku sesuatu. Nggak bakal kenapa-kenapa, kan udah minum obat."
Sembari memangkas, Daniel memandang Karen, mencari ide untuk ditanyakan. "Ehm, tadi nggak keringin rambut?"
Karen pun meraba rambut basahnya. Rambutnya memang tebal. Oleh karena itu butuh waktu lama untuk kering alami.
"Oh, ini tadi aku habis berenang sama Inda, Citra juga. Nggak sempet pulang ngeringin rambut dulu, langsung ke sini. Jelek ya?"
"Berenang?"
"Iya, kenapa?"
"Kolamnya nggak kotor?"
"Enggak, kolamnya bersih kok." Karen melihat Daniel mengernyitkan dahinya sembari melihat ke bagian bawah tubuh Karen. "Oh 'itu', aku udah nggak haid. Itu kan seminggu yang lalu. Nggak bakal bikin kolam kotor, tenang aja."
Mereka saling berpandangan.
"Kenapa, Niel? Ada yang aneh? Kok berhenti mangkasnya?"
Daniel menggandeng tangan Karen dan menariknya pergi dari sana memasuki rumah.
"Eh eh, Niel, mau ke mana?"
"Kamar!"
Belum mencapai tempat yang dituju, mereka sudah dihadang Mami Seli.
"Eits, mau ke mana kalian?" Cegat Mami sembari mengamati tangan anak dan menantunya yang bertautan.
Gandengan mulu, nggak capek apa tuh tangan? (Mami Seli).
"Ehm, ke kamar, Mi," jawab Karen.
"Mau apa?”
"Istirahat dong, Mi. Emang apa lagi, hehem ...," jawab Karen sembari tersenyum canggung.
"Tanamannya belum selesai dipangkas, kalian udah mau pergi aja. Kalian nggak bisa selesaiin 1 hukuman pun dari Mami ya?!"
"Maaf, Mi," kata Daniel.
"Ya udah, ganti lagi! Mumpung di deket dapur, noh kalian berdua cuci piring kotor yang numpuk."
Mami Seli segera pergi dari sana.
Mereka pun menuju ke dapur.
Daniel dan Karen mencuci piring kotor sembari bercanda sehingga tidak sadar Mami Seli masuk ke dapur dan mengamati mereka berdua dari meja makan di belakang mereka.
"Mami tuh kalau marah lama ya Niel?"
Daniel mengangguk.
"Hey, nggak boleh ngangguk."
__ADS_1
"Iya."
"Ceritain dong dulu gimana kamu dimarahin Mami."
Daniel menarik napas dalam untuk berbicara. "Aku pernah buat kesalahan, Mami diemin aku sebulan."
"Hah? Mami bisa diem? Luar biasa!" pekik Karen.
Heh? (Mami Seli).
"Iya. Tapi meski diem, Mami tetep ngurus semua keperluan, bantuin semua kegiatanku. Mami tetep ibu yang paling baik."
Hahah, anakku emang anak baik. (Mami Seli).
"Tapi ini mau sampai kapan? Gimana kalau kita kasih Mami obat tidur? Terus, kita pulang ke rumah."
Apa! (Mami Seli).
"Di sini dulu nggak apa-apa." Daniel memang penurut dan tidak keberatan menjalani hukuman dari Mami Seli.
"Tapi kan nggak bebas. Kalau di rumah kan kita bisa ...."
"Ehem ... bisa apa?" Mami Seli akhirnya bersuara.
"Hoah, Mami. Ehm bisa ... bisa baca komik bareng. Iya kan, Niel?"
"I-iya," jawab Daniel.
"Ma-Mami sejak kapan ada di sini?"
"Kasih tahu nggak ya?"
Gawat, Mami udah denger apa aja tadi? (Karen).
Daniel dan Karen masih berdiri terpaku tidak mengira Mami Seli memperhatikan mereka.
"Duduk!" kata Mami Seli.
Mereka berdua duduk di hadapan Mami Seli.
"Maafin kami Mi, apa pun yang Mami dengar tadi, pokoknya kami cuma bercanda." Karen berusaha menyelamatkan diri.
"Kamu mau ngasih Mami obat tidur?"
"Iya, eh enggak, eh iya, itu maksudnya biar Mami istirahat. Aku perhatiin Mami kurang istirahat." Karen beralibi.
"Bisa aja kamu nyari alasan. Nih, Mami tambah hukuman kalian!"
Mami Seli menyodorkan 2 kertas yang dilipat rapi.
Haduh jangan-jangan kontrak tandingan. (Karen).
Karen dan Daniel membuka kertas itu. Ternyata itu adalah print out booking pesawat ke Jogja untuk penerbangan sore ini.
"Maksudnya gimana ini, Mi? Kami dibuang ke Jogja?"
Mami Seli menepuk dahinya. "Ini hukuman dari Mami, kalian harus honeymoon ke Jogja, berangkat sore ini!"
Karen dan Daniel saling berpandangan. Mereka bingung harus bahagia atau harus bersedih.
"Sore ini? Tapi kerjaan ...."
"Namanya juga hukuman. Pokoknya kalian atur tetekk bengek kerjaan kalian yang penting nanti sore kalian berangkat ke Jogja. Hotel juga udah Mami booking. Kalau hukuman kali ini kalian langgar, Mami marah besar! Cepet sana siap-siap!"
to be continued...
Jogja, July 14th 2021
***
👰Karen: Hore honeymoon ke Jogja 🥰, mampir ke rumah Author akh!
👸 Author: Kamu tahu kan kalau mau mampir ke rumah eike harus bawa apa?!
👰Karen: Siyap! Bawain bikini kan? 👙 👙
👸Author: Iya eh, bukan! Bawa makanan yang banyak. Eike tunggu di Yogyakarta International Airport!
👰Karen: Asyik mau dijemput Author yeaaayyyy.
__ADS_1
👸 Author: Enak aja! Eike ke bandara bukannya jemput elu, eike mau jajan soto deket situ, nah kamu yang bayar.
👰Karen: 😒