
"Bos Black Widow, ada artikel acak-acakan lagi."
"Halah, bosen dengernya Cat! Kirim file-nya ke laptopku. Aku cek sendiri."
Inda pun mengirimkan artikel yang disebut acak-acakan. Karen ingin memastikan memang karyawannya yang melakukan kesalahan atau client-nya yang terlalu perfeksionis.
Dia memeriksa hasil tulisan itu. Mata Karen jeli meneliti artikel dengan diksi yang di luar kebiasaan itu.
"Cih! Ini sih pake article spinner."
"Kok Bos Black bisa tahu?"
"Yang ini aku spin 3 kali. Terus masing-masing hasilnya aku cek pake plagiarism checker. Salah satunya terdeteksi plagiat dari situ lain, 80%. Itu artinya dia memang nggak ngerjain artikel tapi bener-bener cuma spinning dari artikel lain."
"Oh, aku nggak kepikiran ngecek kayak Bos gini ya."
"Tolong panggil penulisnya."
Karen pun memberikan sanksi yang kedua untuk penulisnya yang sebelumnya sudah pernah melakukan kesalahan itu.
Selesai menceramahi penulis, dia membenamkan wajah di tangannya di atas meja.
"Aku terlalu fokus mikirin Daniel jadi kayak gini," bisik Karen.
Inda menangkap suara kecil itu. "Yah namanya suami emang harus dipikirin, Bos. Kadang jadi rada kacau itu biasa, namanya juga manusia."
Karen tidak memberi respon.
"Bos Black lagi sering berantem sama dokter Daniel ya?"
"Enggak sih, bukan berantem." Karen tersenyum kecil.
~
Rumah sakit Keluarga Bahagia
"Bro," sapa Dion kepada Nathan dan Daniel. "Ini ada undangan dari restoran fine dining. Mereka ngerayain anniversary." Dia memberikan satu untuk Nathan. "Nah, Niel! Kamu sama Karen nanti gantiin aku sama Asa, ya. Usia kandungan Asa udah masuk 6 bulan, nggak mau ke pesta dianya," kata Dion sembari memberikan 1 undangan kepada Daniel.
"Lhoh, kenapa nggak ikut? Kan tinggal duduk manis aja. Nggak apa-apa buat ibu hamil," kata Nathan.
"Kalau hari biasa sih mungkin dia mau. Tapi acara anniversary ini bakal ada beberapa komunitas dansa klasik yang langganan di sana. Bakalan jauh lebih rame dari hari biasanya. Biar Daniel aja sama Karen. Mau kan, Niel?"
"Iya, nanti aku bilang Karen." Daniel menerima undangan pesta itu.
"Bini gue pasti girang nih," kata Nathan.
"Iya gue tahu, kan dari kemarin dia ngeluh bosen terus, pengen pergi keluar. Ya gitu lah mamak-mamak punya bayi 5 bulan, kecapekan dan bosen."
"Nanti kalau anak kedua lahir, gimana dia ngomelnya ya? Pasti frekuensinya bertambah." Nathan menerawang.
"Hahaha hya jelas. Mau dinamain siapa Bro anak kedua?"
"Belum tahu, kalau elu, anak lu mau dinamain siapa?"
"Kalau perempuan Sandira, kalau laki-laki Sandro."
Nathan pun memandangi Daniel. "Niel, kalau kamu punya anak nanti mau dikasih nama siapa?"
"Aku? Ehm ...."
Anak? Nggak pernah kepikiran sampai ke sana sama sekali. (Daniel).
"Aku tahu, istrimu kan Karen, kamu Daniel, gimana kalau KA-DAL." (Dion).
"Buwahahah, ndyasmu Bro. Masak ngasih nama anak pake nama hewan." (Nathan).
"Lho jangan salah, banyak yang pake nama hewan lho. Contohnya Merpati, Elang, Pipit, Rajawali, Dino, Caty, Naga." (Dion).
__ADS_1
"Iya juga ya, tapi nggak ada yang ngasih nama anaknya Ayam, Bebek, Ular, Angsa, Kucing gitu ya? Akh pilih kasih." (Nathan).
"Ada juga nama buah: Cherry, Berry." (Dion).
"Aku tahu nama yang bagus buat anaknya Daniel. DAREN. Kalau ejaan Inggris ya D-A-R-R-E-N. Bagus kan?" (Nathan).
Daniel mengangguk sembari tersenyum tipis.
Daniel kemudian memotret undangan itu dan mengirimkannya kepada Karen.
📱Daniel: 🖼️
📱Daniel: Mau datang?
📱Karen: Nanti malam ya? Oke😊.
~
Sore hari di ruang buku
Kendrik mengerjakan skripsi di sana. "Dikit lagi udah lho ini Kak, mudah-mudahan di-approve. Habis itu tinggal penelitian aja."
"Kalau butuh bantuan buat penelitian ngomong aja, Ken."
"Oke, siap."
"Oh iya, nanti jam 7, aku sama Karen mau pergi ada acara. Kamu sampai jam set--"
Karen membuka pintu dan melongokkan kepalanya. "Niel, nanti dresscode-nya item kan?"
Daniel mengangguk.
Karen pun segera pergi.
"Kamu nanti sampai jam setengah 7 aja di sini ya, soalnya kami mau siap-si--"
Karen menongolkan kepalanya lagi. "Nanti jam berapa kita berangkatnya, Niel?"
Daniel memejamkan mata dan menarik napas terlebih dahulu. "Jam 7."
"Oke." Karen segera pergi ke kamar untuk menyiapkan gaun hitam, aksesori dan sepatu yang akan dikenakannya nanti.
Kendrik mengamati Daniel. "Kak Niel, sesak napas lagi?" Dia agak panik melihat kakak iparnya memegangi dada.
"Iya, dikit. Udah mulai biasa juga. Cuma sebentar."
"Kak Niel udah nemuin alergennya?"
"Belum." Daniel mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi note. "Aku catat semua di sini makanan yang aku makan, binatang yang aku pegang kalau-kalau aku alergi bulu, sama keadaan lingkungan saat aku kambuh, tapi belum nemu apa penyebabnya."
Kendrik juga mengeluarkan ponselnya. Ternyata dia diam-diam juga membantu kakak iparnya menemukan penyebabnya sering sesak napas.
Daniel memperhatikan catatan Kendrik yang sedikit berbeda dengan catatan miliknya. Beberapa yang sama adalah faktor lingkungan dan cuaca.
Kendrik menambahkan nama-nama orang yang ada di sekitar Daniel saat sakitnya kambuh. Namun, karena catatan itu dari sudut pandangnya, dia hanya mencatat ketika dia bersama dengan Daniel.
"Aku fokus ke hal lain sih. Mungkin nggak kalau alergennya manusia?"
"Ha? Siapa?"
Kebetulan Karen masuk lagi ke ruangan itu dan merangkul adiknya. "Niel, gimana kalau nanti Ken ikut?"
Daniel menggeleng.
Kendrik dan Daniel berhadapan.
Kemudian sudut mata Kendrik melirik ke arah Karen lalu kembali lagi ke Daniel, memberi kode.
__ADS_1
"Ikh, kok Ken jadi ketularan diem gini sih? Gawat kalau ada 2 patung anubis," canda Karen. Namun, candaannya itu belum mampu mencairkan suasana kaku di sana.
Kendrik dan Daniel masih bertatapan tajam.
"Kak Ren, sana pergi, siap-siap, dandan yang cantik. Aku tahu kalau kamu dandannya lama, jangan sampai bikin Kak Niel jamuran." Kendrik mendorong Karen untuk keluar dari sana.
Setelah itu Kendrik mengunci pintu ruangan. Dia menempelkan telinga pada daun pintu memastikan Karen sudah tidak berada di dekat sana.
"Alergennya Kak Ren," kata Kendrik, frontal dan to the point.
"Maksud kamu, aku alergi Karen?" Daniel mempertegas pernyataan Kendrik.
Kendrik mengangguk. "Coba lihat note-ku, lihat respon Kak Niel kalau berhadapan dengan Kak Ren. Timing-nya pas kan? Masak cuma kebetulan?"
"Tapi aku se-rumah sama kakakmu, makan satu meja, bahkan tidur se-ranjang."
"Ya bukan alergi yang begitu. Mungkin secara psikis."
"Aku belum pernah denger alergi yang begitu."
"Ibaratnya kayak siput yang dipegang langsung masuk ke cangkang, atau daun putri malu yang dipengang langsung menangkup daunnya."
"Tapi aku pegang Karen nggak apa-apa tuh."
"Aduh, itu perumpamaan gitu lho, Kak. Dari pada menduga-duga, mending kita ke ahlinya aja. Atau, Kak Niel baca-baca jurnal siapa tahu nemu jawabannya. Kalau mau ke ahlinya, aku temenin. I got your back [aku mendukungmu]."
Daniel mengangguk.
Kendrik tidak habis pikir pada kakak iparnya yang cerdas tapi kadang tidak mengerti perumpaan dan sarkas itu.
Namun, dia juga memiliki teman seperti Daniel di kampusnya. Orangnya cerda tapi saat diajak mengobrol ringan akan sangat sulit menerima. Kendrik pun memakluminya.
"Coba sekarang Kak Niel bikin catatan baru. Apa aku bener atau salah."
"Sebenernya nggak masuk akal sih ...."
"Coba dulu, Kak. Nggak da salahnya kan?" Kendrik menyela.
"Oke." Daniel mengangguk.
"Yang ini aku kirim ke Kak Niel ya." Kendrik mengirim catatannya melalui Chatsapp.
Kendrik pun berpamitan lebih cepat dari seharusnya, membiarkan kakak iparnya itu berpikir tentang pendapatnya.
Sembari melepas kepergian Kendrik di pintu depan, Daniel memperhatikan catatan Kendrik dan mengingat setiap kejadian yang tertulis di sana.
Nggak masuk akal, tapi ya udah lah, aku coba catat. (Daniel).
Dia menambahkan nama-nama orang yang berada di sekitarnya ketika dia kambuh.
to be continued...
Jogja, June 28th 2021
***
find me on Instagram: @titadewahasta
***
👰Karen: Hore aku mau ke pesta sama Daniel.
👸Author: Bungkusin rendang!
👰Karen: Mana ada rendang, Mbah. Itu restoran fine dining bukan rumah makan Padang. Gimana sih?
👸Author: Lhah, itu malah rendangnya gedhe banget kalau makan pake garpu sama pisau.
__ADS_1
👰Karen: Itu namanya steak, Mbah Thor, STEAK! 🍖