
Pukul 5 pagi, Daniel dan Karen dibangunkan oleh dering telepon di ponsel Daniel.
Dokter itu menjulurkan tangan hendak mengambil ponselnya di meja. Namun, tangan Karen dengan sigap mencegahnya.
"Jangan diangkat Niel! Itu pasti Mami, kan? Mau ngecek kita pake video call, kan?"
"Mungkin."
"Mami pasti ngecek."
Daniel mengangguk.
"Apa kamu nggak malu sama Mami? Dia milihin baju yang ... super slutty. Dia ngecek pake video call, dulu dia ngunciin kita, dia tahu segala ... hmmmppphhh ...."
Daniel membungkam bibir Karen dengan bibirnya.
"Puahhh, nah ini juga! Kenapa kamu suka banget berhentiin aku ngomong pake ciuman?"
"Ehm, new hoby."
"At least, let me finish my word!"
"Oh, nggak suka?"
Waduh, kalau aku bilang nggak suka bisa-bisa dia berhenti cium aku. (Karen).
"Ehm, ya, ehm, bukannya nggak suka sih ...."
"Jadi?"
"Pokoknya aku lebih suka kalau aku ngomong sampai titik dulu."
Tapi aku lebih suka cium kamu waktu kamu ngoceh. Nggak tahu kenapa. (Daniel).
Deringan telepon di ponsel Daniel berhenti. Daniel hendak mengambil ponselnya namun masih ditahan oleh Karen.
"Jangan telepon balik sekarang. Paling nggak, nanti jam 7 kalau kita udah mandi dan pakai baju, nggak kayak begini ...."
Daniel hendak mencium istrinya lagi, tapi tangan Karen menahannya.
"Eits, jangan cium dulu! Aku belum selesai ngomong. Dan, menurutku, Mami terlalu ikut campur urusan rumah tangga kita."
Daniel mengangguk. Mereka terdiam sejenak.
"Aku udah selesai ngomong, Niel, nggak jadi cium?"
"Oh." Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Karen, namun tidak ada lagi chemistry di sana sehingga dia tidak sampai menyentuhkan bibirnya di bibir istrinya. "Ehm ...."
"Kehilangan momen?"
Daniel mengangguk.
"Oke deh, ralat. Kamu boleh cium aku waktu aku lagi ceramah dan ... hmmmppphhh."
Karen kena lagi.
Apa boleh buat kalau dia lebih suka begini. Mungkin gerak bibirku kalau lagi ngomong itu seksi kali ya? Seksi konsumsi. (Karen).
"Dan cukup sampai di sini Mami ikut campur urusan ranjang kita, privasi tahu!"
Daniel mengangguk dan kembali tidur bersama istrinya itu.
Yah siapa yang bisa nyalahin Mami ikut campur, kita kan emang nggak beres sedari awal, apalagi Mami tahu tentang kontrak itu. (Daniel).
Mami emang belum tahu kalau aku dan Daniel sebelumnya udah pernah .... Ditambah Mami baca kontrak itu pasti dia nggak percaya kalau aku sama Daniel udah .... Akh, gimana caranya ngasih tahu Mami tapi jangan sampai bikin aku jadi obyek begini. Didandanin pake lingerie macam begitu, malu kalik! Tapi, yah hasilnya oke juga sih. BOMAT! (Karen).
Padahal panggilan telepon itu belum tentu dari Mami Seli. Mereka saja belum melihat call log di ponsel Daniel. Dia bahkan sama sekali belum menyentuh ponsel itu sedikit pun.
Namun, Karen yakin 100% yang menelpon adalah Mami Seli. Siapa lagi yang menelpon Daniel di saat pagi buta jika bukan Mami Seli.
~
Pukul 8 pagi Karen dan Daniel telah rapi. Mereka juga sudah bersarapan di resto yang berada di hotel itu.
Mereka berada di lobby saat Mami Seli kembali menelpon. Daniel menatap Karen, meminta persetujuan.
"Angkat aja."
__ADS_1
📞"Halo, Daniel, kenapa video call Mami tadi pagi nggak diangkat? Kenapa handphone Karen juga susah dihubungi? Kalian mau bertingkah lagi ya?"
📞"Maaf Mi, ehm kami tadi pagi ...."
"Bilang aja masih tidur," bisik Karen.
📞"Masih tidur, Mi."
Daniel menyingkir ke titik yang agak sepi karena di lobby sedang banyak orang.
📞"Eh Niel, Mami tanya ya, apa kalian itu beneran saling cinta? Mami kemarin udah sedikit percaya, tapi Mami ragu lagi."
📞"Iya Mi, harus gimana buktiin ke Mami?"
📞"Apa kalian udah pernah berhubungan?"
Mami Seli akhirnya menanyakan dengan bahasa lugas. Dia sudah tidak dapat bersabar lagi untuk memastikan hal itu.
📞"Papi lagi apa?" Daniel mengalihkan perhatian Mami.
📞"Jangan ngalihin perhatian. Jawab Mami, apa kalian ...."
📞"Stella minta oleh-oleh apa?"
📞"Daniel Putra Mandala! Jangan alihin perhatian Mami!"
📞"Mami, bisa nggak kita jangan ngomongin itu?"
📞"Kenapa memangnya? Oooh,kalian mau bodohin Mami lagi kayak kemarin?"
📞"Nggak, Mi. Aku jawab, tapi habis ini tolong jangan bahas masalah itu lagi ya? Aku sama Karen nggak nyaman."
📞"Oke, asal jawaban kamu bagus."
📞"Udah, Mi."
📞"Udah apa?"
📞"Yang Mami tanyakan tadi, aku dan Karen udah ...."
📞"Udah apa, ngomong yang jelas! Kamu kira Mami nggak tahu kalian sering ngambil celah? Bisa aja kalimat lengkap kamu itu 'aku dan Karen udah makan'."
📞"Mami nggak percaya! Tadi pagi aja kamu nggak jawab video call Mami!"
📞"Kami malu, Mi."
Akhirnya Mami Seli menutup teleponnya.
Daniel menggaruk-garuk kepalanya.
Gimana biar Mami percaya. (Daniel).
~
Karen keluar dari hotel selama Daniel berbicara kepada Mami Seli. Lobby sedang ramai karena banyak pengunjung yang sedang check-in.
Saat dia keluar dari pintu hotel, sekilas dia melihat kelebat orang yang familiar. Namun, sayang, dia tidak sempat memperhatikan wajahnya.
Dia hanya melihat punggungnya dari kejauhan.
Kok kayaknya familiar, siapa ya? (Karen).
Tidak lama Daniel mendekat, dia telah selesai berbicara dengan Mami Seli.
"Mami bilang apa, Niel?"
"Mami belum percaya."
Mereka pun memilih pergi dan memikirkan masalah Mami Seli nanti sepulang dari berjalan-jalan.
Tempat-tempat wisata sudah menunggu untuk dikunjungi dan cuaca sedang cerah.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah wisata klasik Jogja yaitu Kraton dan alun-alun. Di sana mereka melihat bangunan kraton yang indah.
Sembari belajar sejarah, mereka menikmati pemandangan indah di sana. Terdapat juga foto-foto lama dari jaman penjajahan yang nilai sejarahnya sangat tinggi.
Selesai menikmati keindahan kraton, mereka menuju ke alun-alun kidul. Ada 2 pohon beringin besar di sana. Konon katanya, orang yang dapat melewati 2 beringin kembar itu dengan mata tertutup, segala keinginannya akan terpenuhi.
__ADS_1
Karen dan Daniel juga mencobanya meski tidak berhasil melewatinya.
Setelah itu mereka menuju ke obyek wisata candi Prambanan, dan Kaliurang.
Hari pertama itu mereka habiskan dengan mengunjungi tempat wisata klasik di Jogja.
***
Hari berikutnya
Jam 5 pagi, Daniel dan Karen kembali dihujani deringan telepon dari Mami Seli. Ponsel Karen berdering, namun karena keduanya masih terlelap, panggilan telepon itu terlewat.
Beralih ke ponsel Daniel. Begitu seterusnya hingga pasangan suami istri itu terbangun.
"Pasti Mami," kata Karen.
"Gimana?"
Karen berpikir-pikir. Bulan madunya di Jogja adalah jasa Mami Seli. Di hari pertamanya kemarin, dia merasa sangat bahagia mengunjungi berbagai tempat wisata bersama suaminya.
Kegiatan liburan bersama suaminya itu membantu proses bonding dan penyembuhan Daniel.
Ya udah lah, apa salahnya diangkat, bikin mertua seneng. (Karen).
"Ya udah, angkat aja."
Daniel menerima panggilan telepon itu.
🎥"Halo! Kok baru diangkat?! Baru bangun Niel?! Kamu kan biasanya jam 4 udah bangun?! Apa karena menghindari telepon dari Mami?!"
Kebiasaan Daniel bangun jam 4 untuk menghirup udara pagi saat ini sedang terdistrak dengan kegiatan barunya dengan istrinya.
Babak baru hubungannya dengan Karen membuat salah satu alur dan jadwal dalam hidupnya sedikit berubah.
🎥"Maaf Mi, baru bangun."
🎥"Karen mana?"
Karen memberi kode kepada Daniel untuk menunggu sebentar. Dia membetulkan selimut yang menjadi satu-satunya penutup badannya saat itu.
Dia menarik napas dalam berkali-kali.
Tahan malu, tahan malu, tahan malu. (Karen).
Karen mengangguk kepada Daniel. Dokter itu mengarahkan kameranya kepada Karen.
🎥"Ha-halo Mi, maaf baru bangun."
Karen tertunduk malu. Namun pemandangan yang menurut Karen dan Daniel memalukan itu justru menjadi kebahagiaan untuk Mami Seli. Dia langsung sumringah.
🎥"Naaah, Mami nggak jadi marah deh. Ya udah segitu aja. Bye bye."
Seharusnya cukup kan? Semoga Mami tepat janji habis ini nggak ikut-ikutan lagi. (Daniel).
~
Kantor Ren's Writer
"Jadi, Karen sekarang lagi liburan sama Daniel?" Haris baru mendapat kabar liburan Karen.
Dia mengira memarin seharian tidak muncul di kantor hanya karena tidak berangkat. Pesan Chatsapp nya pun tidak dibalas.
"Iya, padahal 2 hari yang lalu baru aja renang sama aku dan Citra, eh sorenya langsung pergi. Dadakan kayaknya."
Padahal seminggu kemarin dia pisah rumah sama Daniel kan? (Haris).
Haris tahu Daniel dan Karen pisah rumah selama seminggu dari Stella. Dia bertukar kabar dengan saudaranya itu. Stella mengabarkan bahwa Daniel tinggal di sana tanpa Karen.
Selama seminggu Daniel dan Karen pisah rumah, Haris yakin mereka akan segera bercerai. Namun, perjalanan honeymoon Karen dan Daniel membuatnya kaget dan marah.
to be continued...
Jogja, July 19th 2021
***
Hai readers, lama tak jumpa.
__ADS_1
Mohon maaf author saat ini akan slow update ya, karena... titik titik...
Pokoknya semangat semuanya yaaawww...