Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
39. Sulitnya Beradaptasi


__ADS_3

Daniel kembali pada komiknya.


Enteng amat dia langsung dengan santuynya baca komik lagi. (Karen).


Karen memelototi Daniel yang berkutat kembali dengan buku bergambar itu. Tak tahan dengan kesantaian Daniel, Karen merebut komik yang tengah dibaca suaminya.


Daniel terkejut, tapi tidak ada tanda-tanda akan marah. Dia hanya menghela napas.


Wow, komik ori ini, pake bahasa Inggris. Hebat juga dia. (Karen).


Tidak masalah bagi Karen membaca teks bahasa Inggris karena dia sendiri adalah lulusan sastra Inggris.


Karen menengkurapkan badannya dan membaca komik itu di hadapan Daniel. Sebenarnya sedang tidak begitu berminat membaca. Dia hanya ingin membuat Daniel marah. Dia pun menutup komik itu dan menyelipkan di bawah bantal.


Melihat tingkah istrinya, Daniel diam, tidak menunjukkan kekesalan. Dia hanya berkata-kata dalam hati, dengan bahasa kalbu yang tidak dapat didengar oleh orang lain tentunya.


Kalau nggak dibaca, ngapain ngrebut komikku? (Daniel).


Dia pun berdiri menuju meja dan mengambil 3 tas belanjaan Karen. Dia memeriksa barang yang dibeli Karen di mall bersama Inda tadi sore.


Dua tas berisi baju wanita tidak menarik perhatian Daniel sama sekali. Namun, satu lagi tas belanja berisi kaos couple membuat dahi Daniel mengernyit.


"Ren," panggil Daniel sambil menunjukkan kaos couple itu.


Karen yang sedang tengkurap itu menengok ke arah Daniel. "Bukan buat kamu."


"Terus ... buat?"


"Nggak buat siapa-siapa."


"Kamu punya ...."


Kaos couple bisa membuat dia berasumsi aku punya pacar, padahal belum. (Karen).


"Punya apa? Pacar? Enggak, aku nggak punya pacar."


"Terus ini? Ingat perjanjiannya, kan? Kalau kamu punya pacar, harus kasih tahu aku. Kalau enggak, perjanjiannya batal. Aku nggak mau sampai setahun, secepatnya aja kita ...."


"Stop stop stop, aku bener-bener belum punya pacar, Kudanil!"


Gila apa, baru beberapa hari nikah terus cerai? Bisa-bisa nggak ada lagi yang mau ngambil aku jadi istri nantinya. (Karen).


Daniel masih memelototi kaos couple itu.


"Itu ... itu ... buat kamu!" Karen bingung akan menjawab apa lagi untuk menyelamatkan perjanjian itu.


"Hm?"


"Iya, itu buat kamu. Kalau nggak mau ya udah nggak usah dipake. Gitu aja repot."


Tadi katanya bukan buat aku, sekarang buat aku. Dalam beberapa menit, statement kamu udah berubah gitu aja. (Daniel).


Dia dan si Cat Woman punya ilmu apa sih? Hari ini aku serasa dihipnotis ngelakuin hal yang aku nggak mau. (Karen).


"Oke," kata Daniel.


Dia pun melepas kaos yang dikenakannya dan mencoba kaos yang dibeli Karen. Wanita berambut merah yang sering mengaku sebagai Black Widow itu langsung menutup wajah dengan bantal.

__ADS_1


Daniel pun terkejut sendiri dengan refleknya berganti pakaian tadi.


Kecoak buntung! Mau pamer perut kotak-kotak? Apa mau simbiosis mutualisme karena tadi udah ngelihat bodyku yang aduhai ini? (Karen).


Daniel berlari menuju ruang ganti karena malu. Dia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja mencoba kaos itu saat Karen ada dalam satu ruangan dengannya.


Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Lumayan juga kaos itu, pikirnya. Setelah puas, dia berganti dengan kaos yang tadi dia kenakan, dan keluar dari ruang baju.


"Lain kali, ganti bajunya di closet jangan asal buka-buka!" protes Karen.


"Iya, maaf."


***


Keesokan paginya, Daniel terkejut melihat bercak darah di atas sprei, sedangkan Karen sedang berada di kamar mandi.


Pintu kamar mandi itu pun terbuka, tapi Karen belum keluar dari sana. Malah, sebuah pembalut bekas melayang dari kamar mandi ke tempat sampah, namun meleset.


Karen keluar dari kamar mandi.


"Eh, meleset!" kata Karen sembari memungut pembalut itu dan meletakkannya di tempat sampah.


Melihat kekacauan di sekitarnya, badan Daniel bergetar hebat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kamarnya akan seperti ini.


Dia yang sangat bersih, rapi dan cenderung memiliki sifat obsessive cleaning itu shock melihat manusia sekamarnya tidak serapi dia. Perubahan selalu memberikan ketegangan. Dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi.


Meski dalam kesehariannya sepertinya dia cuek dan dingin terhadap sekitar, tapi sebenarnya batinnya bergejolak hebat. Terlebih jika itu berhubungan dengan kebersihan dan tata letak furniture.


Karen berbalik dan mendapati suaminya berwajah datar dengan mata seperti singa mengamuk. Dia merinding dengan tatapan itu.


"Ma-maaf, Niel, udah aku taruh di tempat sampah kok."


"Spreinya nanti aku cuci sampai bersih, dan pake pewangi yang banyak."


Daniel mengangguk lagi kemudian beranjak ke kamar mandi.


Ajaib si Patung Anubis itu, jelas-jelas matanya serem banget, tapi ya cuma angguk-angguk doang dari tadi. (Karen).


***


Kantor Ren's writer


"Cat Woman, sekarang banyak order artikel yang minta ilustrasi gambar. Dan itu naikkin harga juga."


"Tenang, Bos Black Widow, kan ada mbah Tugel."


"Hashhh, mbah Tugel itu cuma search engine. Gambar yang muncul di situ ada pemiliknya. Masak kita mau ngambil punya orang melulu?"


"Lha terus maunya gimana, Bos?"


"Aku mau adain divisi baru khusus ilustrasi. Kita hire fotografer."


"Kalau fotografer doang kurang komplit lah, Bos, kalau ilustrasi kegiatan manusia kan butuh model juga. Modelnya mau pake siapa? Dan bayar juga kan? Kebanyakan belanja pegawai malah profitnya bisa turun lho."


"Hahah, kita pakai cara klasik. Pekerjakan orang yang udah ada. Kita semua akan jadi model jika karakternya pas dengan yang dibutuhkan."


"Jyah, nggak professional itu namanya, Bos."

__ADS_1


"Heh, Cat Woman! Kamu yang bilang nanti kebanyakan belanja pegawai bikin nggak profit, aku punya solusi malah komentar negatif!"


"Ma-maap, Bos Black Widow."


"Anggap aja jadi model itu side job kalian. Nanti ada komisi tambahan kok," kata Karen, manis sembari menaikkan alisnya dua kali.


Karen sudah lama memikirkan divisi barunya tersebut. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk mewujudkannya.


"Tempat fotonya gimana, Bos?"


"Tenang, udah aku pikirin."


Karen dan Inda pun bergegas pergi.


"Hai, Citra sayang ...." Karen menyapa bawahan sembari memandanginya dengan tatapan kucing lucu menggemaskan.


"Citra yang selalu cantik setiap saat ...." Inda menambahkan gombalan.


Hah, dua berandal ini, pasti ada maunya. (Citra).


"Ada apa, Bos Black Widow dan Cat Woman?" tanya Citra sembari melipat tangannya di dada.


"Kami mau pergi untuk urusan penting banget, kamu handle kerjaan kami berdua ya bye bye. Ada komisi tambahan buat kamu emuah ...," kata Karen sembari berjalan pergi.


Inda melambaikan tangan pada Citra sembari memajukan mulutnya mencium jauh.


"Tapi, Bos ...."


Terlambat, mereka berdua sudah lenyap dari pandangan.


~


Karen dan Inda menuju rumah pribadi Karen dan menyulapnya menjadi mini studio. Dia memperkerjakan beberapa orang untuk menata rumahnya.


Bu Minah membantu menyiapkan makanan untuk para pekerja itu. Hari ini Karen begitu bersemangat menaikkan level usahanya. Proses penataan itu tidak memakan banyak waktu karena kepiawaian para pekerja freelance yang disewa.


"Pas banget jam 4 udah selesai semua." Karen puas melihat rumahnya yang sudah berubah penataan menjadi mini studio.


"Selamat, Bos Black Widow, semoga Ren's Writer tambah maju."


Mereka pun pulang dari sana ke rumah masing-masing.


***


Tinggal mikirin mau masak apa buat si Patung Anubis itu. Karena di sebangsa patung, batu goreng juga pasti doyan kan? Hahah. (Karen).


"Hahahah ...." Karen tertawa sendiri memikirkan idenya.


Sesampainya di rumah, dia memarkirkan mobil dan memasuki rumah itu.


Hmmm, ada aroma apa ya? Kayak bau barang baru. (Karen).


Dia membuka kamar dan ternyata bau itu berasal dari dari kamarnya.


"Hah? Kasur baru? Sprei anti air? Daniel brengseeek!"


To be continued...

__ADS_1


Jogja, May 20th 2021


__ADS_2