
Bulan ketiga pernikahan
Mami sudah tidak terlalu mencampuri urusan Karen dan Daniel. Mereka sempat bersikap agak kaku. Seiring berjalannya waktu, hubungan Karen dengan Mami Seli telah membaik.
Akan tetapi, Mami Seli namanya kalau tidak ingin tahu tentang kehidupan sang anak. Dia tetap memantau keadaan melalui Daniel. Dia selalu bertanya dan memberi nasihat kepada Daniel.
Dokter spesialis jantung itu dengan sabar menghadapi semua pertanyaan Mami Seli sesering apa pun dilontarkan. Sedangkan hubungan Karen dan Daniel masih sama, hanya jalan di tempat dan belum berkembang.
Meski Daniel beberapa kali tepergok* memberikan perhatian lebih kepada Karen secara tidak langsung, sikap Daniel belum berubah. Malah, sekarang dia semakin hemat bicara kepada istrinya.
Karen sempat beberapa kali tersentuh karena perhatian Daniel yang tidak ditunjukkan itu. Namun, melihat sikapnya yang makin tak acuh, Karen masih belum tertarik memberikan hati dan cinta untuk Daniel.
~
Kesehatan pernapasan Daniel semakin mengkhawatirkan. Dia sering mengalami kesulitan bernapas meski durasinya tidak lama.
Kenapa napasku sering sesak? Apa aku terkena penyakit seperti spesialisasi yang kugeluti? Tapi penyakit jantung kan nggak nular, beda dengan spesialisasi penyakit lain yang menular. (Daniel).
Meski tidak menular, bukan tidak mungkin seorang dokter spesialis jantung terkena penyakit jantung. Tentu bukan karena tertular oleh pasien, tapi bisa saja bawaan, keturunan, atau pun gaya hidup.
Daniel menelaah gaya hidupnya yang sudah sehat. Dia tidak minum minuman beralkohol, tidak merokok, tidak mengonsumsi kopi atau pun minuman bergula lebih. Dia juga tidak banyak mengonsumsi junk food mau pun fast food. Dia memakan makanan cepat saji hanya sesekali saja.
Makanan yang dia makan sehari-hari adalah makanan rumahan dan buah-buahan. Dengan kondisi Karen yang sensitif terhadap pemanis buatan dan penyedap, semua produk pemanis di rumah Daniel diganti dengan pemanis organik. Penyedap rasa yang digunakan juga telah diganti dengan kaldu jamur non MSG.
Dia juga melakukan olahraga sehingga kehidupannya bisa dikategorikan bergaya hidup sehat.
Seingatku, aku udah berusaha sesehat mungkin. Akh, tapi siapa tahu. Mendingan periksa. (Daniel).
Dia pun melakukan general check up di rumah sakit tempatnya bekerja. Hasilnya baik, tidak ada tanda-tanda sakit pada jantung, paru-paru mau pun lambung (beberapa organ dalam yang ditandai dengan sesak napas).
***
Akhir minggu ini, Karen dan Daniel menginap di rumah orang tua Daniel. Setelah beberapa saat Karen menahan rasa penasaran karena sempat saling bersikap kaku dengan Mami, kini dia bertekad ingin menginterogasi Mami.
Mumpung udah damai lagi, hari ini juga aku harus dapet info tentang Daniel versi emaknya. (Karen).
Setelah makan malam, semua penghuni menikmati acara televisi kecuali Stella. Dia harus belajar ekstra.
Karen mendekati Mami. "Mami, boleh ngomong sebentar?"
"Iya, Ren. Ada apa?"
Daniel dan Papi sudah menatap Karen dengan canggung. Namun, Karen tidak peduli lagi. Rasa penasaran sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
Dia mengajak Mami untuk pergi dari ruang televisi. Mami pun menyetujui dan memilih kamar untuk mengobrol dengan menantunya itu. Mereka duduk di sofa di dalam kamar Mami Papi.
"Ehm, aku pengen tahu kisah Daniel soal pemukulan di SMA, sama kepindahan Daniel ke SMA Vincitore, Mi. Terus terang, dari dulu aku pengen tahu soal itu."
Mami mendadak sedih dan berusaha menghindar. "Err ... Mami sakit kepala, Ren. Bisa keluar dulu, nggak?"
"Mi, please, tolong banget. Mami udah nutupin banyak hal tentang Daniel dari aku. Tentang ruangan komik itu dan tentang ini. Setiap kali aku tanya, Mami pasti menghindar. Mami sekeluarga udah tahu semua tentang aku. Nggak ada yang aku tutupin sama sekali. Kenapa aku nggak boleh tahu tentang Daniel? Kesannya Mami jebak aku biar bisa terima Daniel."
Mami tertunduk, berpikir panjang.
Mungkin memang udah saatnya Karen tahu. (Mami Seli).
"Baik, Mami akan cerita semuanya sebisa dan semampu Mami. Tapi sebelumnya, Mami pengen tahu apa yang udah kamu dengar tentang Daniel?"
"Aku tahunya Daniel mukul salah satu siswa, lalu dikeluarin dari sekolah. Itu aja, Mi."
Mami menghela napas sangat dalam. "Daniel itu cerdas. Tapi dia nggak punya kemampuan sosial. Dia nggak punya banyak teman. Suatu saat, di kelas Daniel diadakan ulang harian. Dia dimintai contekkan, tapi menolak. Setelah ulangan selesai, Daniel dibawa ke belakang sekolah untuk dihajar siswa itu. Tapi karena badan Daniel tinggi besar, justru dia yang menang."
Karen menyimak, tapi masih belum puas. "Kalau gitu seharusnya nggak sampai dikeluarin, kan?"
Mami Seli tersenyum pedih dan menangis. "Itulah sakitnya Mami denger gosip yang nggak sesuai fakta. Daniel itu nggak pernah dikeluarin dari sekolah. Mami yang pindahin dia dari sana."
Karen menenangkan Mami, mengelus punggung wanita tua itu.
Mami membuka lemari dan mencari-cari sesuatu di sana. "Ini, Ren, foto Daniel waktu itu."
Mami sangat sedih, tapi berusaha mengatur napas agar bisa menuntaskan cerita kepada Karen. "Waktu perkelahian yang pertama, Daniel yang menang. Dan siswa itu nggak begitu parah. Dia hanya terkena pukulan Daniel di pipi dan kaki. Hari berikutnya, siswa itu ngajak temannya 1 geng untuk mengeroyok Daniel."
Karen memejamkan mata dan membayangkan kengerian keadaan Daniel waktu itu. "Ini foto dari siapa?"
"Ini dipotret sama bapak-bapak yang nemuin dia di belakang sekolah."
"Apa Mami lapor polisi waktu itu? Ini udah penganiayaan, kan?"
"Hoah." Mami menghela napas seolah menyiratkan kejengkelan. "Itulah Daniel. Udah kayak gini, dia nggak mau perkarain ini ke polisi. Padahal bapak-bapak yang nemuin dia bersedia jadi saksi." Mami mengambil foto yang lain. "Ini waktu dirawat di rumah sakit."
Dalam foto itu, darah Daniel sudah dibersihkan dari wajah. Luka-luka telah dijahit dan diperban.
"Daniel korban kan, Mi? Terus kenapa Mami nggak mau cerita? Daniel bukan anak nakal, Mami nggak perlu malu untuk cerita."
"Mami minta maaf, Mami nggak bermaksud nggak jujur. Bukan juga karena malu. Tapi karena hati Mami sakit banget kalau ingat peristiwa itu, Ren. Susah untuk Mami bercerita kayak gini."
Karen mengusap bahu Mami. "Maaf ya, Mi, kalau aku bikin Mami mengenang masa sedih. Terus kenapa Mami nggak ngelurusin gosip yang beredar?"
__ADS_1
Mami yang masih berlinangan air mata itu tersenyum perih. "Sekeras apa pun Mami menjelaskan, semua orang nggak ada yang percaya. Mereka menyambung-nyambungkan runtutan peristiwa dan mengambil kesimpulan versi mereka sendiri."
"Terus yang ngeroyok Daniel, mereka dihukum sama pihak sekolah, kan?"
"Mami kurang tahu, Ren. Waktu itu mereka datang ke rumah sakit untuk minta maaf dan minta kami nggak perkarakan ke polisi. Mami Papi waktu itu tetep mau lapor, tapi Daniel yang cegah. Terus Mami minta pihak sekolah untuk menghukum mereka, setelah itu Mami fokus pindahin sekolah Daniel, udah nggak pantau perkembangan. Ada guru yang ngabarin kalau mereka udah dihukum, tapi dihukum seperti apa, Mami nggak tahu."
Karen berusaha menerima semua penjelasan Mami. Masih banyak yang mengganjal di hatinya terutama kata-kata Haris. Dia bilang bahwa pasti Mami Seli akan menempatkan Daniel sebagai korban.
"Mi, ehm ... maaf, tapi agak kurang masuk akal kalau Mami nggak ceritain ini ke aku dari awal. Kalau Mami cerita, aku kan nggak bakal salah paham mengira kalau Daniel itu anak nakal dan kejam."
"Ren, udah Mami bilang, Mami nggak kuat mengingat kenangan buruk anak kesayangan Mami. Dan lagi, mau Daniel di posisi korban atau pun pem-bully, pendapat akhir ya akan tetap negatif kok. Kalau Daniel di posisi pem-bully, dia akan dinilai anak nakal yang susah diatur. Kalau Daniel di posisi korban, dia akan dinilai sebagai anak yang lemah dan tidak punya teman."
Iya juga sih. (Karen).
"Apa dia nggak punya teman sama sekali, Mi?"
"Punya, tapi nggak banyak. Dia itu, Mami sama Papi pernah mengira dia itu punya kelainan Asperger Syndrome karena dia susah untuk bersosialisasi. Tapi ternyata bukan, dia hanya introvert."
"Introvert? Tapi dia kadang bawel kalau cerita tentang yang dia suka."
"Itu dia, Mami juga heran. Biasanya orang introvert hanya bisa cerewet di depan orang dekat. Tapi Daniel bisa juga bicara panjang lebar di depan orang asing asal topiknya yang dia suka. Kami mengira dia ambivert. Tapi ambivert itu justru lebih fleksibel, nggak seperti Daniel. Jadi Mami nggak tahu apa namanya."
Karen terdiam mendengar penjelasan itu.
Mami yang sudah mereda tangisnya itu memegangi kedua bahu Karen. "Mami sedikit tahu bagaimana susahnya kalian beradaptasi. Mami cuma berharap kamu bisa kuat."
Mereka menyudahi pembicaraan.
Karen berjalan menuju kamar sembari masih berpikir-pikir apa benar penjelasan dari Mami Seli. Tapi dari foto yang ditunjukkan, sepertinya cerita dari Mami bisa dipertanggungjawabkan.
Masalahnya, akhir-akhir ini Daniel malah lebih jarang ngomong sama aku. Jauh lebih parah dari awal kami ketemu dan awal-awal menikah. Sekarang, setelah ngomong, dia pasti langsung pergi. Entah kenapa. (Karen).
Karen membuka pintu kamar. Daniel sudah terlelap. Meski belum sepenuhnya lega mendengar cerita Mami Seli, pandangan Karen terhadap Daniel telah berubah. Dia memperhatikan suaminya yang terlelap itu dengan penuh iba.
Ternyata kita sama-sama pernah di-bully. Bahkan kamu jauh lebih parah. (Karen).
Dia mengingat-ingat letak luka di dalam foto yang dia lihat tadi dan mengusap rambut Daniel. Ya, bekas jahitan itu berada di kepala sebelah kiri. Dia menelusuri bekas jahitan itu dengan jarinya.
Poor little baby. Nggak kebayang gimana sakitnya kamu waktu itu. Aku nggak mikir kalau kamu lemah kok, kamu justru kuat bisa memaafkan orang yang udah jahatin kamu. (Karen).
to be continued...
Jogja, June 19th 2021
__ADS_1
***
Tepergok* : tertangkap basah (bentuk baku dari 'kepergok')