
"Bi Suuum, Bi ...." Karen berteriak memanggil ART. Tapi percuma, sekarang sudah pukul 16.30, Bibi Sum sudah pulang ke rumahnya sejak tadi.
Awas aja kalau si patung Mesir purba itu pulang, aku bejek-bejek sampai habis. (Karen).
Tidak lama, terdengar mobil memasuki halaman rumah. Karen sudah mengumpulkan seluruh tenaga untuk dilampiaskan kepada Daniel seperti Son Go Ku (dalam serial Dragon Ball) sedang mengumpulkan seluruh kekuatan untuk mengeluarkan jurus Kamehame.
Bila dilihat dengan kacamata batin, kepala Karen sudah mengeluarkan kepulan asap yang berasal dari bakaran emosi di kepalanya. Dia sudah berada di depan pintu, melipat kedua tangannya di dada.
Begitu pintu itu dibuka, bukan Daniel yang terkejut, justru Karen yang mendapat surprise sore itu. Daniel tidak sendiri, dia bersama Nathan dan Dion.
"Hai, Karen ... apa kabar?" sapa Nathan.
"Ha-hai, Dokter Nathan." Dengan terpaksa Karen menurunkan emosinya.
"Halo, Nyonya Daniel, lama nggak ketemu," sapa Dion. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu di pesta pernikahan.
"Ha-halo, Dokter Dion, mari masuk!"
Mereka bertiga pun masuk.
Daniel mengulurkan tangannya. Dengan enggan, Karen menjabat dan mencium punggung tangan itu. Sebelum melepaskan tangan dari ritual salaman, dia meremas tangan Daniel sekuat tenaga.
"Argh ...." Daniel mengerang sembari mengibaskan tangan.
"Bro, bini gue nggak pernah cium tangan gue," bisik Nathan kepada Dion.
"Sama, bini gue juga nggak pernah tuh. Ajaib si Daniel, cuma dia yang bisa bikin bini takluk." Dion juga keheranan.
Karen menarik Daniel ke dapur. "Mereka mau ngapain?" bisik Karen.
"Makan malam," jawab Daniel.
"Apa! Kamu ngundang mereka makan malam di sini? Berarti aku harus masak?" Karen marah dalam bisikannya.
Daniel mengangguk.
Karen sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan emosi, tapi tidak bisa leluasa karena ada Nathan dan Dion di ruang televisi.
"Aaarrrggghhh!" teriak Karen sembari mengacak-acak rambut Daniel.
Karen dan Daniel keluar membawa minuman untuk Nathan dan Dion. "Sorry kalau denger teriakanku tadi, ada laba-laba jadi kaget hehe."
Nathan dan Dion hanya mengangguk sembari tersenyum seperti menahan tawa.
"Niel, rambutmu kenapa?" tanya Nathan.
Daniel menggeleng sambil merapikan rambut.
"Buwahahah, ternyata dia satu spesies sama kita, Bro, takut bini," kata Dion pada Nathan.
"Lu aja, gue enggak tuh," bantah Nathan.
"Hayah!"
Di dapur, Karen kebingungan akan memasak apa.
Masak apa ya? Yang mudah, cepet, simple. Nah, nasi goreng. Biarin dah yang penting ada makanan. (Karen).
Dia segera menyiapkan bumbu dan bahan. Tepat pukul 18.00, makanan sudah siap lengkap dengan puding sebagai makanan penutupnya. Mereka pun makan bersama.
Setelah makan dan menonton film, Nathan dan Dion berpamitan dan keluar dari rumah itu. Daniel pun ikut keluar.
Karen menarik lengan Daniel. "Mau ke mana?"
__ADS_1
"Nganter."
"Apa! Emang mereka nggak bawa mobil sendiri?"
Daniel menggeleng.
Karen mendongakkan kepala keluar dan melihat kanan kiri. Benar, hanya ada mobil Daniel.
Berrr-renggg-sekkk! Kapan aku ngamuknya kalau begini? (Karen).
Dia merebahkan diri di kasur baru di kamat sembari menerawang kenapa sepertinya suaminya itu begitu benci kepada dirinya. Dia pun begitu kesal terhadap sang suami.
Di matanya, Daniel semakin menyebalkan. Apa pun yang dilakukan Daniel membuat Karen geram.
Kilas balik
(tadi pagi, saat Daniel di rumah sakit).
Pikiran Daniel terus tertuju pada kasur dan sprei yang terkena noda darah itu. Hingga saat makan siang, dia makan dengan terburu-buru.
"Niel, pelan-pelan napa makannya! Nggak bakal ada yang minta juga," kata Dion.
"Kenapa, Niel ... kepikiran apa? Lagi tengkar sama bini?" tanya Nathan.
Daniel menggeleng.
Sembari makan siang, kepala Daniel terus berpikir.
Kalau pun spreinya dicuci, darah itu tembus ke bawah sampai ke kasur. (Daniel).
Setelah selesai makan siang, Daniel melirik jam tangan. Jam 12.30, masih ada sisa waktu istirahat. Dia pun pergi dari rumah sakit.
"Niel, ke mana?" teriak Dion.
"Toko kasur," jawab Daniel.
Sore saat jam pulang, Nathan, Dion dan Daniel berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
"Stres, Bro, pengen refreshing ke mana gitu," keluh Dion.
"Iya nih. Ke mana ya?" Nathan menerawang.
Tiba-tiba Daniel yang berjalan di belakang mereka menyerobot. "Ke rumahku?"
"Tumben nawarin duluan?" Dion keheranan.
Daniel mengangguk dan tersenyum.
"Pengantin baru mau pamer apa di rumah?" (Nathan).
"Mungkin mau pamer kamar berantakan habis buat ehem-ehem." (Dion).
"Atau mau pamer masakan bini yang enaknya selangit." (Nathan).
"Pamer foto nikahan yang dipajang gede di ruang tamu." (Dion).
"Ehem ...." Daniel berdehem menghentikan ocehan dua sahabatnya.
"Haih, mau pamer apa juga boleh, yang penting kita ngumpul dan makan gratis," kata Nathan.
Kilas balik selesai
***
__ADS_1
Karen menunggu Daniel pulang sembari terus berusaha menjaga mata agar tetap terbuka. Dia sudah sangat mengantuk karena kelelahan bekerja dan memasak. Tapi kemarahannya juga tidak bisa dia tunda lagi.
"Hoaaam ...." Karen menguap panjang.
Tenaganya sudah benar-benar habis. Dia pun tertidur lelap.
Tidak lama, Daniel pulang. Dia membuka kamar dengan hati-hati. Melihat Karen sudah tertidur, dia mengelus dadanya sendiri, lega.
Tiba-tiba mata Karen terbuka, tapi tidak sepenuhnya. Matanya hanya mampu terbuka sedikit. Dia berdiri dan menunjuk wajah Daniel.
"Kamuuu ...." Karen meracau. Badannya bergoyang-goyang seperti orang sedang mabuk. Dia berada dalam keadaan antara sadar dan tidak.
"Ren?"
"Kudanil brengsek!" Badan Karen terhuyung-huyung dan hampir ambruk ke lantai. Daniel menangkap dan menggendongnya ke tempat tidur.
Kelihatannya badannya kecil, ternyata berat juga. (Daniel).
Karen langsung terlelap lagi dengan cepat. Dengkuran keras juga terdengar. Raga wanita itu sangat lelah sehingga dengkurannya memekakkan telinga.
Daniel menyelimuti Karen kemudian tidur di sebelahnya. Namun, dengkuran Karen sungguh membuatnya tidak bisa tidur.
Dia menutup wajahnya sendiri dengan bantal, tetap saja terdengar. Baru kali ini Karen mendengkur sekeras ini.
Dia capek banget ya? (Daniel).
Tidak cukup dengkuran itu mengganggu Daniel, masih menyusul suara gesekan gigi Karen. Seseorang yang sedang memendam emosi biasanya menggesekkan gigi sangat kuat ketika tidur hingga menimbulkan bunyi keras.
Apa ini? Aku nggak bisa tidur. (Daniel).
Dia hanya berguling ke kanan dan ke kiri, tak bisa terlelap juga. Dia berpindah ke sofa di sebelahnya sembari menutup telinga.
Tidak ada perubahan, dia belum bisa memasuki alam tidur. Dia berpindah tempat lagi ke suatu tempat di mana dengkuran Karen tidak begitu terdengar.
***
Keesokan pagi
Pukul 6.30 pagi Karen membuka mata dan melihat Daniel tidak ada di kamar. Dia berpikir mungkin Daniel sudah berangkat bekerja.
Dia pun mandi dan menuju walk in closet untuk berganti baju.
"Aaarrrggghhh ...." Karen menjerit saat memasuki ruang pakaian. Daniel berada di sana dengan bantal dan selimutnya. "Kudanil! Kenapa tidur kamar baju?"
To Be Continued...
Jogja, May 21st 2021
***
Hai readers, terimakasih untuk yang sudah membaca karyaku.
Sampai di sini, perkenalan personality kedua tokoh utama ini author anggap cukup ya.
Daniel pendiam tapi bisa bawel kayak kereta api kalau ngomongin sesuatu yang sesuai dengan minat dia, sangat cerdas, obsessive cleaning, agak sulit beradaptasi, kadang tidak mengerti istilah idiom, kadang tidak mengerti sarkasm. Nanti di episode nun jauh berikutnya akan author jelasin kenapa Daniel memiliki sifat-sifat itu. (tapi ntar banget hihi😂).
Karen cenderung serampangan namun pekerja keras dan sangat berani mengambil risiko dalam berbisnis demi memajukan usahanya, kreatif, bawel, sering over react, suka memanggil orang dengan panggilan aneh (dia juga maunya dipanggil dengan panggilan unik oleh orang dekat), heboh.
Episode-episode sebelumnya sudah berkonflik ringan antar suami istri ini yang bergelut dengan sifat-sifat pasangan yang baru diketahui secara gamblang setelah menikah.
Berikutnya akan ada konflik yang sedikit lebih besar. (sedikit aja ya, author usahakan konfliknya sewajar mungkin).
Keep reading❤️❤️❤️
__ADS_1
find me on Instagram: @titadewahasta
find me on YouTube: Tita Dewahasta