
Sore hari, Karen iseng mampir di rumah singgah. Entah angin apa yang membuatnya ingin bertemu Lana dan Asa.
Setelah seminggu yang lalu mengorek kisah perjuangan cinta Inda, dia ingin mendengar kisah Lana dengan Nathan, dan Asa dengan Dion.
Meski dia pernah mendengar cerita tentang Lana dan Nathan dari Inda, dia tetap ingin mendengar dari sumbernya secara langsung.
Dia tiba di rumah singgah disambut senam para ibu-ibu muda yang hamil (penghuni rumah singgah).
"Wah rame, ya." Karen takjub melihat para ibu itu di aula ruang utama.
"Tiap Sabtu kayak gini, Ren," jelas Lana sembari menggendong Althan.
"Mbak Asa nggak ikut senam, Mbak?"
"Enggak deh, lagi lemes," jawab Asa sembari duduk di dekat Karen.
Mereka duduk di lantai yang beralaskan karpet sembari menonton televisi meski suaranya tidak terdengar karena tertutup musik pengiring senam.
Tidak lama, senam itu selesai.
"Kamu kenapa, Ren, kok tumben ke sini sendiri? Nggak bawa kendaraan pula," tanya Lana.
"Nggak apa-apa, aku lagi pengen cari temen rumpi aja."
Asa dan Lana saling berpandangan. Mereka tahu jika seorang wanita bertingkah tidak biasa itu menandakan sedang ada yang tidak beres.
Karen memandangi perut Asa yang besar. Dia juga memandangi Lana yang sedang memangku Althan sembari bermain-main dengan mainan bayi.
Wajah Asa dan Lana selalu cerah tanpa mata besar karena menangis. Itu menandakan mereka selalu bahagia, pikir Karen.
"Aku iri sama kalian. Kalian harmonis banget sama suami masing-masing. Kayak nggak pernah ada masalah."
Tiba-tiba Asa dan Lana tertawa.
"Itu cuma kelihatannya aja. Kami juga sering ribut, Ren," terang Asa.
Asa dan Lana kemudian menceritakan perjuangan masing-masing.
Asa dan Dion selalu dicecar oleh orang tua karena bertahun-tahun menikah belum juga punya momongan. Asa bahkan pernah meminta cerai karena tidak tahan. Namun, akhirnya mereka bersatu kembali dan berusaha bersama untuk mendapatkan keturunan. Baru di tahun ke 10 pernikahan mereka Asa hamil.
Lana menceritakan bagaimana dia pernah diusir dan dipecat dari tempat kerja karena hamil tanpa suami. Saat itu dia hamil sebelum menikah dengan Nathan. Dia pun bingung akan tinggal dan bekerja di mana. Namun, kemudian Nathan menemukannya. Mereka pun menikah.
Karen tersenyum mendengar cerita mereka berdua.
"Yah, walau ada susahnya, at least kalian sama-sama berjuang."
Lana dan Asa berpandangan lagi.
"Memangnya kamu sama Daniel kenapa, Ren? Cerita aja, kan katanya cari temen rumpi hihi," canda Lana.
Karen pun menceritakan tentang sakit Daniel kepada Lana dan Asa. Dia juga mengeluhkan bahwa dia harus berjuang sendiri untuk menyembuhkan Daniel.
Nathan dan Dion sedari tadi duduk di sofa yang ada di belakang mereka sembari memegang ponsel sendiri-sendiri.
"Si Pretty Boy payah," bisik Dion.
Karen melanjutkan kisahnya. "Sekarang udah seminggu kami nggak tinggal bareng."
"Ha?" Lana dan Asa terkejut.
Nathan dan Dion di belakang mereka juga terkejut namun menutup mulut mereka sendiri-sendiri agar tidak berteriak.
__ADS_1
"Kok bisa sampai pisah rumah? Dia tinggal di mana sekarang?" tanya Lana.
"Dia tinggal di rumah orang tuanya. Kami lagi dihukum sama ibu mertuaku."
Lana dan Asa masih melongo. Dalam benak mereka masih bertanya-tanya kenapa bisa dihukum? Dan kenapa orang tua Daniel begitu ikut campur hingga menghukum pasangan suami istri itu.
Karen membaca itu dari wajah Lana dan Asa. Namun tidak mungkin menceritakan semua secara terbuka tentang kontrak pernikahan itu.
"Hehehem ...." Karen tertawa canggung. "Intinya, aku sama Daniel ngelakuin kesalahan besar terus dihukum sama Mami."
"Apa kalian ber-- Eh tapi kan kalian suami istri, yang begitu bukan kesalahan, kan? Itu malah kewajiban." Asa menebak-nebak.
"Tapi kalian masih saling cinta, kan?" tanya Lana.
Karen melihat langit-langit ruangan itu. "Cinta sih iya. Tapi kayaknya cinta juga nggak cukup. Butuh perjuangan. Aku capek kalau harus berjuang sendiri. Seminggu ini aja kami nggak saling kontak."
Untuk ke sekian kalinya Asa dan Lana terkejut.
Begitu juga Dion dan Nathan di sofa belakang. Nathan pun menarik Dion keluar dari ruangan melalui pintu di dekat sofa.
"Tuh idola lu si Pretty Boy jenius tapi masalah perempuan dia guobl*k," kata Nathan.
Sedangkan Dion mencari-cari nomor ponsel Daniel dan menelponnya.
📞"Halo."
📞"Hey gobl*k, eh maaf, latah gara-gara Nathan tadi bilang gobl*k. Heh, kamu tuh kebangetan ya diemin istri seminggu."
📞"Dia emang lagi nggak mau diganggu."
📞"Bukan begitu. Kalau perempuan bilang begitu itu butuh dibujuk, dirayu, pokoknya butuh dikasih perhatian. Ya aku maklum kamu nggak lihai dalam urusan begituan karena penyakit kamu tapi sekarang waktunya berubah, jangan biarin Karen berjuang sendiri."
📞"Kamu tahu penyakitku dari mana?"
Nathan merebut ponsel Dion.
📞"Dan bakso ya, yang komplit mienya campur, minumnya es cendol."
📞"Bakso?"
📞"Baksonya buat aku sih heheh."
Dion merebut kembali ponselnya. "Heh, ini lagi situasi genting lu malah minta bakso."
📞"Ehem halo Daniel, buat aku baksonya yang banyak ya."
"Heh, kok kamu ikut-ikutan minta bakso? Katanya genting?!"
📞"Eh iya, maaf. Pokoknya kamu ke sini ya Niel. Bawa bunga. Ingat ya, bunga! Dan bakso hehehe."
Mereka masuk dan kembali duduk di sofa.
Lana, Asa dan Karen masih melanjutkan cerita mereka.
"Tapi, menurutku ya, Dokter Daniel mau ke psikiater berarti dia juga berjuang lho meski nggak kentara. Dia berusaha keras melawan penyakitnya kan demi kamu. Itu juga berjuang meski berjuangnya beda dari laki-laki kebanyakan," ujar Lana.
"Menurutku perjuangannya malah so sweet banget ketimbang si dua buaya darat tukang ngegombal itu," kata Asa. Dia tidak sadar dua orang yang dimaksud ada belakangnya.
"Buaya darat itu maksudnya kita, Bor?" bisik Nathan.
"Bukan lah, gue kan garangan."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Daniel datang.
Karen tidak tahu kedatangan Daniel. Dia hanya mengira suara mobil yang masuk adalah relawan rumah singgah yang lalu lalang.
Dion dan Nathan keluar melalui pintu di dekat sofa.
"Naaah udah datang Mr.Ironman, sini baksonya," Nathan mengambil bakso yang dibawakan oleh Daniel.
Dion melihat di tangan Daniel ada seikat bunga mawar yang mungil. Di tangan lainnya dia membawa boneka anime.
"Astaga, kamu mau ngerayu dia pake ini?" Dion menunjuk boneka anime berambut kuning itu.
Daniel mengangguk.
"Akh, ya udah, yang penting ada bunganya. Ayo masuk." Dion dan Nathan menggiring Daniel untuk masuk. "Hey Ren, lihat siapa yang dateng!"
"Mr.Daniel Stark dateng, Ren!" teriak Nathan.
"Da-Daniel?" Karen terkejut.
Tahu dari mana aku di sini? Akh pake nanya lagi, ya jelas dari dua dokter itu lah. (Karen).
Karen melihat dua barang yang dibawa Daniel dan berbinar-binar melihat boneka anime di tangan Daniel.
"Wah, Hiruma Yoichi!" pekik Karen sembari merebut boneka itu dari tangan Daniel.
Asa, Lana, Dion dan Nathan hanya hening melihatnya.
"Nggak usah heran, mereka memang punya dunia sendiri, Bro," kata Nathan.
Asa mendekati Daniel dan meminta bunga yang menganggur itu. "Yang ini dari pada nganggur, buat aku boleh?"
Daniel mengangguk.
Dion memberi kode agar yang lain meninggalkan Karen dan Daniel. Mereka butuh privasi untuk bicara.
Karena di aula itu tetap saja ramai, Daniel mengajak Karen ke taman belakang. Mereka duduk di kursi taman.
"Aku nggak tahu kalau di belakang ada taman." Karen takjub dengan apa yang dilihat saat ini.
Daniel juga mengedarkan pandangannya. Sore itu cahaya matahari mulai redup sehingga tidak terasa panas di taman.
Mereka berdua terdiam. Karen sibuk memandangi boneka di tangannya.
"Aku punya pertanyaan," kata Daniel.
Karen menoleh pelan seperti video yang diberi efek slow motion. "Kamu habis minum obat? Katanya kamu nggak mau terus-terusan minum obat?"
"I don't care. Yang penting aku bisa ngomong sama kamu."
"Kalau gitu, aku juga punya pertanyaan."
"Apa?"
"Kamu dulu dong, kan kamu duluan yang pengen nanya tadi."
Daniel bersiap mengatakan sesuatu yang nampaknya berat. "Are you giving up?"
to be continued...
__ADS_1
Jogja, July 11th 2021