
"Ehm, err kenapa Niel? Niel?" Karen mengguncang-guncang lengan Daniel.
Dokter itu pun tersadar. "Oh, itu, sepatunya bagus."
Doweng. Hish, kirain apa. (Karen).
Karen merasa lega sekaligus ingin sekali menepuk jidat suaminya itu. Dia khawatir setengah mati suaminya akan mengenali mantan pacarnya, ternyata suaminya fokus pada sepatu yang dikenakan.
Mereka pun pergi dari hotel.
~
Kantor Ren's Writer
Anggoro mengendap-endap dan berusaha menguping pembicaraan antara Haris dan Olive. Meski dua orang yang sedang menjadi target investigasinya berbicara dengan volume yang kecil, Anggoro tetap bisa mendengarnya.
Dalam investigasi gosip, telinga manusianya seketika berubah menjadi vulcan hearing seperti dalam film Star Trek, menangkap suara sekecil apa pun.
"Was wus was wus poiuytrewqasd." (Olive).
"Was wus was wus zxcvbnmlkjhgf." (Haris).
Oh, gitu. (Anggoro).
Pria itu manggut-manggut sendiri mendengar targetnya berbicara. Tidak lama kemudian, dia menyudahi investigasinya dan kembali ke meja kerja.
Citra mengajaknya untuk ke ruangan Inda yang menjadi satu dengan ruangan bos mereka. Di dalam ruangan, Inda sedang sibuk bekerja.
"Pppsssttt, Nda, nih Mas Ang baru aja nguping Haris sama Olive. Aku lihat tadi Mas Ang manggut-manggut. Ceritain yang Mas Ang dengar dong!" todong Citra.
Inda menghentikan pekerjaannya dan turut memperhatikan Anggoro.
Anggoro membetulkan kerah bajunya seperti hendak berbicara panjang lebar. "Pertama-tama marilah kita panjatkan ..."
"Hey Mas Ang, ini bukan lomba pidato. Cepet ngomong!" (Inda).
"Jadi, hubungan mereka bukan hubungan asmara." (Anggoro).
"Jadi, hubungan mereka itu apa?" (Citra).
"Tepatnya belum tahu juga." (Anggoro).
"Halah! Ternyata belum tahu! Lha terus ngapain konferensi sekarang?" (Inda).
"Nih dia yang buru-buru nyuruh aku ke sini," kata Anggoro sambil menunjuk Citra.
"Eheheh, maaf. Habis Mas Ang manggut-manggut, kirain udah tahu." Citra merasa bersalah telah menggeret Anggoro ke ruangan itu dan berperan serta memberikan informasi prematur. Dia menggaruk-garuk kepalanya.
"Udah, berhenti garuk-garuk kayak lutung gitu, nanti gundulmu lecet. Yang penting info pentingnya dapet, target kita nggak punya hubungan percintaan." (Anggoro).
Dua orang di hadapan Anggoro bukannya puas dengan informasi itu. Mereka justru tambah penasaran.
"Kok malah makin penasaran, ya?" (Inda).
"Betul, Nda! Kalau perselengkian malah wajar. Kalau bukan, jadinya apa dong?" (Citra).
"Apa mungkin mereka itu agen rahasia?" (Inda).
"Mafia?" (Citra).
"Dewa yang nyamar jadi manusia?" (Inda).
"Mata-mata alien?" (Citra).
"Udah, udah, malah pada menyalurkan hobi berkhayal. Kalian tunggu aja, kalau aku selesai investigasi, aku konferensi. Yuk kita tos dulu." Anggoro menyodorkan tangannya di tengah diikuti Inda dan Citra.
~
Jogja
Objek pertama yang dikunjungi sepasang suami-istri itu adalah Monumen Jogja Kembali yang di dalamnya ternyata tidak hanya monumen dan museum saja. Di pelataran luar terdapat banyak lampion dengan berbagai bentuk yang akan indah jika dinikmati pada malam hari.
Sayangnya, mereka mendatangi tempat itu di siang hari sehingga tidak dapat menikmati keindahan lampu lampion.
Tempat kedua adalah Taman Pintar yang terletak tidak jauh dari hotel. Di sana, mereka menikmati berbagai wahana pengetahuan yang dikemas secara menyenangkan seperti sedang bermain.
Sore hari, Karen dan Daniel telah pulang dari 2 tempat wisata itu.
__ADS_1
Daniel sedang membersihkan diri di kamar mandi. Karen merebahkan diri melepas lelah sembari melihat-lihat galeri foto di ponselnya yang dipenuhi foto mereka berdua.
Karen memandangi foto suaminya yang tampak bahagia menemukan mainan favoritnya. Sebelum sampai di hotel tadi, mereka menyempatkan diri mampir di toko mainan.
Dan Daniel benar-benar berbinar melihat helm Ironman yang mirip dengan aslinya.
Dasar mr.Kudanil Stark. (Karen).
Karen tersenyum geli melihat foto suaminya.
Tak lama, Daniel keluar dari kamar mandi. Giliran Karen kini yang membersihkan diri.
Karena sangat bahagia dengan liburan ini, dia pun bersenandung sembari menggosok badannya dengan busa sabun.
"Syalalala nanana ....🎶"
Namun, di tengah kebahagiaan yang dia rasakan, dia teringat pria menyebalkan yang beberapa hari ini berseliweran dalam jangkauan matanya. Tanpa sadar, di tengah senandungnya, dia mengumpat.
"Syalalala 🎶 nanana🎶, kecoak buntung! Bangk3 cicak! Mati kau mati kau .... Syalalala nanana."
Di luar kamar mandi, Daniel mendengar nyanyian dan umpatan Karen. Dia mendekatkan telinganya ke depan pintu kamar mandi.
Dia membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci itu dan menongolkan kepalanya.
"Hoaaa, Kudanil! Apaan sih?!"
Dengan wajah tanpa dosa, Daniel mengelilingkan pandangan ke atap, kemudian matanya menyapu dinding, dan yang terakhir lantai.
Tentunya si pemakai kamar mandi yang sedang mandi itu tidak luput dari mata Daniel. Meski tujuannya bukanlah untuk melihat itu, tapi dia sabar, penuh kepasrahan dan dengan sepenuhnya tabah melihat pemandangan bonus itu.
"Hey, ngintipin orang mandi?" sergah Karen.
"Oh, maaf."
Meski bibirnya mengucap maaf, kepala Daniel belum juga beranjak dari sana dan malah terpaku melihat Karen yang dipenuhi busa sabun.
"Ikh, maaf doang tapi malah melotot begitu! Sana, out frame!" Karen mendorong kepala Daniel dengan tangan dan menutup pintu kamar mandi. "Gangguin orang lagi konser tunggal aja. Tuh kan jadi lupa liriknya sampai mana tadi, syalalala nanana ....🎶" Karen melanjutkan senandungnya.
Di atas tempat tidur, Daniel sudah rapi dengan baju casualnya. Dia dan Karen berencana untuk menikmati bakso. Tinggal menunggu Karen selesai mandi, mereka akan segera pergi.
"Kamu tuh jangan gangguin aku mandi. Mandi itu konser. Karena nyanyi itu bakatku yang emang harus dipendam. Aku cuma bisa konser di kamar mandi karena orang-orang pada nggak tahu suaraku bagusnya di mana."
Daniel mengangguk.
Tumben dia nggak nyosor. (Karen).
Karen pun segera mengenakan pakaian.
Padahal Daniel sedari tadi sedang menahan diri melihat gerak bibir istrinya yang mengomel seperti kereta api. Di mata Daniel, ritme gerak bibir Karen itu indah berirama.
Ditambah, istrinya itu hanya mengenakan bathrobe dengan penutup obi di pinggang yang sekali tarik saja terbuka tirai pemandangan indah. Aroma wangi sabun yang terpancar karena suhu tubuh pun turut membuat suasana segar serasa di pegunungan.
Dan hanya Daniel saja yang punya unlimited access menikmati pemandangan nan indah itu.
Kali itu dia menahannya dengan susah payah.
Tahan. (Daniel).
Tak lama, Karen sudah mengenakan baju dengan rapi. Dia duduk di samping Daniel hendak mencium bibir suaminya, tapi suaminya itu menghindar.
Tidak menyerah, Karen memburu bibir Daniel. Lolos lagi.
Eh, eh, nih orang ngajak uber-uberan. (Karen).
Daniel terlihat pandai bermain dengan rasa insecure Karen membuat istrinya itu seringkali menjadi pihak yang 'meminta'. Padahal, dia bukannya pandai. Dia menahan dirinya karena dia sedang menunggu beberapa orang.
"Kudanil, apaan sih kamu? Menghindari ciuman istri itu dosa lhoh."
"Takut kebablasan."
"Emangnya kenapa kalau kebablasan? Kan kamu yang tiap malam ngajak bablas nggak pernah direm."
Daniel melihat jam tangan. "Lagi nunggu orang."
"Siapa? Kok nggak bilang?"
__ADS_1
Pucuk di ulam, cinta pun tiba. (Ada yang aneh, tapi apa ya?)
Yang ditunggu telah tiba. Pintu kamar mereka diketuk dari luar disertai teriakkan sang pengetuk. "Housekeeping!"
Daniel menunjuk pintu kamar itu. "Tuh."
"Kamu manggil housekeeping?"
Daniel mengangguk. Dia berdiri dan membukakan pintu.
Dua orang housekeeper pun masuk. Salah satu dari mereka mengkonfirmasi. "Selamat sore Bapak, Ibu, kami mendapat keluhan terkait bangkai cicak yang terdapat di balkon dan kamar mandi. Apakah benar?"
"Benar. Dan ada kecoak juga," kata Daniel.
Karen reflek menutup mulutnya. Dia tidak mampu berkata-kata. Panic at the disco!
"Kenapa, Ren?" tanya Daniel.
Apa dia speechless karena terharu aku jadi suami yang peka? (Daniel).
Duh Gusti, aku lupa kalau yayang Kudanil suamiku tercinta ini bekas patung anubis yang belum lama di-unlock. Dia kadang tetep nggak ngerti sarkas. (Karen).
"Hehem, eng .... Nggak apa-apa kok. Aku nggak nyangka aja kamu perhatian banget, Niel." Karen mencoba tersenyum senatural mungkin tapi nonsense, tetap saja wajah itu wagu*.
"Terharu?" kata Daniel, memastikan istilah.
"Ya, ya, betul, terharu."
"Bakso?" Daniel mengajak istrinya segera keluar.
"Kita nggak nungguin mereka selesai dulu? Nanti kuncinya gimana?" jawab Karen, masih dengan nada panik.
"Mereka punya guest key."
Karen menepuk dahi. "Oh iya, kelaperan bikin nggak fokus. Ya udah ayok lah."
Karen berpesan kepada para petugas hotel itu, "Tolong yang bersih ya Mas, saya nemu bangk3 cicak segede iguana." Kepalang tanggung, Karen berusaha memainkan dengan baik drama bangkai cicak itu sembari memberikan uang tips untuk kedua petugas hotel.
Karen dan Daniel keluar dari hotel. Berpapasan lah lagi mereka dengan si bangkai cicak. Begitulah, yang dihindari malah terus menerus memperlihatkan penampakannya.
Untunglah Karen tak lupa alat penyamarannya.
Seperti tadi pagi, Daniel memperhatikan Tora.
Berasa de javu. Kalau tadi pagi dia perhatiin sepatu, nggak mungkin kan sekarang sepatu lagi? Dia tahu kalau itu mantanku ya? (Karen).
to be continued...
Jogja, July 30th 2021.
***
footnote
*wagu: (menurut KBBI): kaku
*wagu: (bahasa Jawa): tidak pas.
(pssttt, tadinya author menggunakan kata 'wagu' bahasa Jawa, tapi ternyata kata wagu juga terdaftar di KBBI, artinya, kata wagu adalah bahasa Indonesia.)
***
👰Karen: Kudanil malah manggil housekeeping 🥶.
👸Author: Makanya jangan suka ngumpat gitu, kayak orang bar-bar aja.
👰Karen: Lha kan situ yang bikin karakter aku kayak begono, bijimane sih😒😒😒.
👸Author: Oh iya😂😂.
👰Karen: Dah sana, minta mangap sama reader karen lama apdet. Ini micnya, silahkan pidato🎙️
👸 Author: 🎙️cek cek 1 2 3, ehem ehem, kepada readers yang tercinta, mohon mangap, eike lama updatenya dikarenakan author dan 2 junior author sedang sakit. Ini masih dalam masa recovery, mohon doanya semoga kami cepat pulih yaaa. Sun satu2🥰🥰🥰🥰🥰.
👰Karen: Udah cukup, sini micnya, aku mau konser dulu🎙️.
👸Author: Jangan! Bakat nyanyi kamu lebih baik dipendam, demi kemaslahatan banyak umat di muka bumi ini.
__ADS_1
👰Karen: 😒