
"Kudanil ... Kudaniiil ... Danieeeel." Karen berteriak mencari suaminya.
Dia memeriksa kendaraan di garasi, semua utuh di tempatnya baik mobil, sepeda motor dan sepeda. Sama sekali tidak ada tanda Daniel pergi jauh.
Dia pun mencurigai ruang rahasia yang selalu terkunci rapat. Dia menuju ke sana dan menempelkan telinga pada daun pintu.
Diraihnya ponsel dari saku, mencoba menelpon Daniel. Ya, telinganya menangkap bunyi ponsel bergetar dari dalam sana.
"Daniel! Buka! Aku tahu kamu di dalem!" Karen berteriak sembari menggebrak-gebrak pintu.
Tidak ada jawaban sama sekali.
"Daniel! Aku bawa pisau! Kalau kamu nggak buka pintunya, aku bakal ...."
Tidak lama, pintu itu terbuka. Dengan panik Daniel melihat ke arah tangan Karen. Hanya ponsel yang ada di tangannya, tidak ada pisau sama sekali.
Mana pisaunya? Dia bohong? (Daniel).
Dengan wajah konyol, Karen tersenyum. "Hai, Niel."
Dia langsung mendorong pintu dan memaksa masuk ke ruangan itu. Daniel sempat menahan hingga terjadi dorong-dorongan, tapi akhirnya istrinya yang bertenaga babon itu berhasil masuk ke ruangan.
Karen mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang selama ini belum pernah dia masuki. Isinya sangat di luar dugaan. Dia berpikir ruangan ini berisi benda-benda aneh yang menyeramkan atau mungkin bukti kejahatan yang disembunyikan.
Ternyata isinya adalah rak buku yang dipenuhi komik dari segala era, buku-buku penelitian dan jurnal-jurnal kedokteran. Di antara buku-buku itu, jumlah yang terbanyak tetaplah komik.
Meski penuh dengan buku-buku tebal dan lama, ruangan itu tampak sangat bersih. Daniel tidak akan membiarkan ruangan favoritnya itu kotor.
Karen juga baru menyadari, beberapa kali suaminya tidak terlihat di ruangan lain, pastinya sedang asyik dengan dunianya sendiri di ruangan itu.
"Ternyata isinya komik!" Karen berjalan menelusuri rak-rak itu sembari mengoceh, "Kirain isinya kepala manusia, jantung diformalin di dalem toples, barang-barang aliran pagan, patung Indian, boneka voodoo, senjata tajam, atau harta karun. Kenapa Mami sampai nggak ngijinin aku masuk?"
Di dinding terpajang foto-foto Daniel saat menerima penghargaan dan piagam-piagam sains yang pernah diikutinya.
"Wow, kamu berprestasi banget ya!"
Ada meja dan kursi khas ala kantor di sana. Terdapat juga laptop dan tablet di atasnya.
Sembari masih berjalan melihat-lihat dengan ketakjubannya, Karen menemukan komik lama yang menjadi favoritnya. "Wah kamu punya Eyeshield 21? Sampai tamat!" pekik senang Karen.
Dia berlari keluar dan kembali lagi membawa bantalnya. Kemudian dia mengeluarkan komik itu dari rak dan membacanya sembari tengkurap disangga bantal.
Daniel pun duduk di lantai berkarpet itu sembari melipat tangannya di dada. Dia memperhatikan istrinya yang malah tidak menggubris. Menyadari Daniel memperhatikan, Karen balik menatap Daniel.
__ADS_1
"Apa? Nggak boleh pinjem komikmu? Inget! Dulu kamu sendiri yang bilang kalau aku istrimu. Semua barang di rumah ini juga jadi milikku. Aku claim komik ini jadi milikku. Nggak boleh marah!"
Daniel diam saja, masih sembari melihat istrinya bertingkah seperti anak kecil. Padahal dia sendiri juga sedang mengambek layaknya anak kecil yang minta dibujuk.
Karen merasa sangat takjub dengan komik yang penuh dengan gambar epilog dan implisit itu. Dia sangat menikmati membaca halaman demi halaman dengan cermat karena hampir di semua adegan komik itu terdapat adegan implisit di belakang adegan utama.
Sejenak dia menutup komik dan memandangi cover-nya. Ingatannya kembali ke masa SMA kelas 1 di mana dia mulai membacanya.
Teman-teman 'gaul'nya menganggap dia aneh. Mereka pun memaksa Karen mengganti bacaannya dengan majalah fashion dan majalah remaja yang memuat kehidupan selebriti. Mereka juga selalu menyorot apapun yang dikenakan oleh Karen.
Sepatunya pernah menjadi sorotan karena pinggiran solnya menghitam. Model rambutnya juga selalu menjadi pembicaraan. Rambutnya pernah menjadi kusam dan selalu saja dikomentari oleh teman-teman palsu itu. Hampir setiap hari Karen menjadi bulan-bulanan.
Meski dia seorang cheerleader dan prestasi akademiknya cukup lumayan, bukan berarti dia memiliki banyak teman yang baik. Temannya justru memberikan pengaruh buruk. Di kelasnya, ada juga yang selalu menjadi rivalnya.
Belum lagi di kalangan keluarga, Mila sepupunya juga terus menerus bersaing.
Sungguh masa yang seharusnya indah menjadi kelam dan tidak ingin diulang. Mungkin itu juga yang membuat Karen versi dewasa menjadi serampangan. Masa remajanya kurang terpuaskan dengan hal-hal yang disukai.
Tanpa sadar, air mata Karen menetes. Terbayang wajah-wajah para pengatur berkedok 'teman' yang berhasil mengubah masa remajanya menjadi tidak menyenangkan.
Daniel mendekatinya meski dia sendiri tidak tahu alasan Karen menangis. Dia biasa menenangkan Stella jika menangis meski definisi 'menenangkan' ala Daniel tetap sedikit berbeda dari kebiasaan kebanyakan orang.
Dia mengajak Stella bercerita. Tak lupa, banyak petuah ala embah-embah juga ia berikan.
Namun, kali ini sangat lain. Wanita yang sedang menangis di hadapannya bukanlah sang adik. Bibirnya tak mampu mengeluarkan kata apa pun untuk sekedar menghibur.
Sembari membaca, dia berbicara kepada Daniel.
"Kamu beruntung banget bisa leluasa ngelakuin hobimu, Niel. Dulu aku mau baca komik ini aja nggak bisa."
Daniel menaikkan alisnya.
"Dulu aku punya temen-temen toxic yang bikin masa SMA-ku nggak asyik. Aku suka komik ini, tapi dipaksa baca majalah alay. Kalau baca komik, aku dikatain 'freak'. Emangnya apa salahnya cewek remaja suka komik?"
Daniel menarik napas dalam-dalam.
Ternyata kamu punya masa remaja yang tertekan seperti itu. Aku kira kamu bahagia jadi remaja yang populer. (Daniel).
"Niel."
"Hm ...."
"Makan sana! Belum makan, kan?" tanya Karen dengan pandangan tetap fokus pada komiknya.
__ADS_1
Daniel memang belum makan malam karena aksi ngambeknya. Sekarang setelah kemarahannya mereda, perutnya terasa lapar.
Dia pun meninggalkan Karen sendiri di ruangan itu.
Tidak butuh waktu lama, Daniel sudah menghabiskan makan malamnya. Dia makan dengan lahap karena saking laparnya.
Dia pun kembali ke ruang buku. Istrinya masih berkutat dengan komik lama favoritnya.
Daniel pun duduk di kursi dan menyalakan tab-nya. Dia membuka-buka e-book yang dia punya yang kira-kira diperlukan oleh Kendrik nantinya.
Setelah selesai memisahkan dan memasukkan e-book ke dalam folder tersendiri di dalam tab-nya, dia membaca-baca dan memisahkan jurnal-jurnal yang dia punya. Buku-buku teori yang berhubungan dengan biologi juga dia pisahkan agar mudah dicari.
Kemudian dia beranjak untuk melihat istrinya yang sudah beberapa saat tanpa suara. Ternyata Karen sudah tertidur dengan wajah tertutup komik.
Daniel membereskan komik-komik yang berserakan dan mengembalikan ke tempat semula.
Kalau kamu suka komik Eyeshield 21 dan suka memperhatikan gambar adegan backgroundnya, nggak mungkin satu seri selesai dalam satu malam. (Daniel).
Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Karen kemudian menyelimutinya. Dia pun ikut tertidur di samping sang istri.
Pukul 1 malam, Daniel terbangun karena merasa sakit di pinggang. Dia hendak berpindah ke kamar, tapi tidak mungkin meninggalkan Karen sendirian di ruangan itu.
"Ren ... Ren ...Ren ...." Daniel mengguncang bahu Karen, tapi wanita itu terlalu menghayati tidurnya sehingga tidak juga bangun. Daniel pun menggendong dan memindahkan Karen ke kamar.
***
Pagi hari...
Karen bangun pukul 7 pagi. Di sampingnya hanya ada guling dan bantal penyekat.
Daniel tentu saja sudah duduk di meja makan seperti biasa.
Dengan geram Karen segera menuju ke ruang makan.
"Kudanil! Semalam kamu gendong aku ke kamar? Berarti kamu pegang-pegang aku? Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya?"
Daniel melotot dan melirik Bibi Sum yang berada di depan wastafel di pojok ruangan itu.
Karen ikut menengok ke arah lirikan Daniel.
Di pojokan, Bibi Sum sedang terkena guncangan hebat mendengar perkataan Karen.
Kok marah-marah karena digendong? Apa jangan-jangan mereka belum .... (Bibi Sum).
__ADS_1
to be continued...
Jogja, June 12th 2021