
Pernikahan Mila hanya dalam kurun waktu 45 hari ke depan. Dalam waktu tersebut Karen harus segera menemukan seseorang untuk diajak ke pesta pernikahan itu. Karen terdiam memutar otak di mana dia harus berkenalan dengan orang baru.
Pasalnya, saat ini Karen sedang tidak tergabung dalam komunitas apa pun. Dia juga telah lama menyelesaikan kuliahnya. Tidak ada tempat lagi untuk mencari kenalan baru.
Kolega bisnis dan client blogger atau pemilik web yang menjadi pelanggan di perusahaannya rata-rata sudah berkeluarga.
Kendrik membawakan sepiring kue untuk Karen.
"Kenapa ngambilin kue sebanyak ini, Ken? Aku nggak kelaperan kok."
"Perut Kakak emang nggak laper, tapi jiwa Kakak tuh yang laper. Ini bekal buat pura-pura bahagia, butuh tenaga besar lhoh." Kendrik menunjukkan wajah konyolnya.
Kecoak buntung! (Karen).
"Hai, Karen, gimana bisnis kamu?" sapa seorang saudara.
"Lancar, Tante."
"Bisnis lancar, mobil udah punya, terus bentar lagi pindah ke rumah sendiri, duh kamu super banget sih. Terus kapan nikahnya?"
Kecoak buntung! (Karen).
Karen menjawab dengan senyuman kecil sembari memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya. Dia mengunyah sambil memikirkan jawaban yang baik.
Tuh kan, butuh banyak makanan buat si Koreng. (Kendrik).
Mendengar hal yang membuat dirinya panas, dia reflek memakan makanan manis sebagai pereda stres. Meskipun pertanyaan itu sepertinya umum dilontarkan, nyatanya tidak sedikit yang merasa tak nyaman. Bahkan banyak yang menjadi depresi dan akhirnya menutup diri dari dunia luar.
"Kalau anak Tante, gimana nilai ujiannya? Kok nggak les aja, Tan? Temen saya banyak guru les yang bagus lho." Karen secara implisit membalas dengan sindiran tentang anak tantenya yang nilainya kurang baik di sekolah.
Saudara Karen melotot tapi bibirnya terkatup rapat. Dia beralih kepada Mila yang tak jauh dari tempat Karen. "Mila, duh si calon pengantin. Selamat ya, akhirnya kamu menikah. Emang harus disegerakan, jangan sampai jadi perawan tua!" Dia menaikkan intonasinya saat menyebut perawan tua sembari sudut matanya melirik kepada Karen.
Aaarrrggghhh. (Karen).
"Hey, Koreng, mau aku ambilin kue lagi nggak? Kayaknya hari ini bakal banyak cobaan," bisik Kendrik.
"Ambilin es cendol!"
__ADS_1
Kendrik menurut. Walau setiap harinya mereka seperti anjing dan kucing yang selalu ribut, di luar, mereka saling membela dan membantu.
Dengan cepat, Karen menghabiskan es cendol yang diambilkan oleh Kendrik.
Acara formal pun dimulai. Salah seorang saudara tampil di depan sebagai pembawa acara. Tidak sulit diprediksi, agenda pernikahan Mila adalah yang paling marak dibicarakan.
Hal itu karena banyak saudara yang tinggal di luar kota akan berkunjung kembali ke Koja untuk hadir pada acara resepsi pernikahan Mila. Mereka harus mengatur jadwal mereka agar dapat hadir.
Mila tampak bangga. Beberapa kali dia menatap Karen seperti ingin mengatakan 'lihatlah aku jadi bintang hari ini'. Setelah puas membanggakan dan membahas masalah pernikahan Mila, pembawa acara itu mengganti topik.
"Ada juga yang sedang berbahagia di keluarga kita yaitu Karenina Damartya yang sebentar lagi akan menempati rumah baru."
Semua orang kini melihat takjub kepada Karen. Dia tersenyum sinis kepada Mila seolah dendamnya terbalas.
Buwahahah, yes. Tapi, dari mana dia tahu aku beli rumah ya? (Karen).
Di seberang sana, Mama Puri mengedipkan matanya. Jawaban dari pertanyaan Karen sudah jelas. Tentu saja kabar itu dari Mama Puri, ibunda Karen.
Mama Puri sudah dapat menebak dalam acara itu pasti mereka akan membicarakan pernikahan Mila dan mendiskreditkan Karen. Oleh karenanya, dia meminta sang pembawa acara untuk membahas prestasi Karen agar tidak terlalu 'jatuh' martabatnya.
"Dan memang Karen ini sangat bahagia hari ini ya, sedang masa pertumbuhan nih ye!" kata pembawa acara itu menyindir Karen yang memangku piring dengan tumpukan kertas alas kue yang telah dia habiskan.
Tidak hanya itu, skor kosong Karen bertambah dengan tumpukan malu yang dirasakannya karena makanan yang dia makan. Kesalnya tak seberapa, malunya bisa membekas hingga entah kapan. Skor menjadi 1 vs -1.
Kamu dulu boleh menang, Ren. Kamu selalu jadi kebanggaan dengan nilai kamu yang selalu bagus, kamu bahkan jadi cheerleader di sekolah kamu. Waktu SMA, pertemuan trah jadi sesuatu yang menakutkan buat aku. Setiap kali selesai acara ini, ibu dan ayahku selalu ceramahi dan menekan untuk bisa nandingin prestasi kamu. Lihat sekarang! Roda berputar, Karen! (Mila).
Kebencian Mila di masa itu semakin membuncah saat Karen memacari kapten tim basket di sekolahnya. Pasangan itu menjadi dreamy couple. Karen cantik dengan badan proporsional dan berprestasi, berpacaran dengan kapten tim basket yang berbadan atletis.
Meski Karen dan Mila tidak satu sekolah, gosip tentang the dreamy couple itu tersebar di penjuru kota Koja. Bahkan di kota sebelah yaitu Praga dan Batalu, semua siswa SMA membicarakannya.
Siapa sangka sang mantan cheerleader itu hingga kini belum ada juga yang meminangnya. Justu Mila, yang dulunya tidak begitu gemilang saat sekolah, lebih dulu mengakhiri masa lajangnya.
Sebelumnya, Karen tidak merasa keberatan dengan keadaannya yang masih lajang itu. Namun, pertanyaan orang yang sering terlontar tentang pernikahan membuat dia akhirnya terforsir ke arah sana.
Ya, hidupnya yang tadinya tenang dan menerima diri apa adanya berubah drastis menjadi obsesif untuk menikah gara-gara pertanyaan orang-orang. Orang-orang menganggap dirinya mendewakan karir hingga tidak ingin menikah. Padahal, Karen juga sedang sangat menunggu jodohnya yang tak kunjung datang.
~
__ADS_1
Acara trah telah usai. Agenda yang sesungguhnya hanya beberapa jam, tetapi serasa puluhan tahun bagi Karen. Kerumunan orang yang terikat darah leluhur itu pun berhamburan membubarkan diri.
Sembari menunduk, Karen bersalaman dengan saudara-saudaranya. Dia tidak ingin lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan dan komentar seputar pernikahan. Namun, menunduk berapa drajat ke bawah pun, orang-orang tetap tahu itu Karen.
Tetap saja ada yang dengan polos mereka bertanya. Ada pula yang memang sengaja. Mila seakan ingin menjadi santapan penutup bagi Karen.
Saat Karen, ibunya, dan Kendrik menuju mobil, Mila menarik lengan Karen. "Ren, ini undangan khusus buat kamu," kata Mila sembari memberikan undangan.
"Lhoh, kan mamaku udah dikasih sama Tante Rini."
"Itu yang versi orang tua, yang versi anak muda beda undangannya."
Karen mengamati undangan yang memang terlihat berbeda dari versi yang diterima ibunya itu.
Undangan aja musti 2 versi. Kamu pikir kamu itu hartis tenar terkenal seantero jagad raya, gitu? (Karen).
"Oke. Makasih, Mil." Karen menjawab dengan suara datar. "Aku pulang dulu, selamat buat pernikahan kamu."
"Aku tunggu kedatangan kamu ya, Ren." Mila melambaikan tangannya kepada Karen yang sedang memasuki mobilnya.
Karen membanting pintu itu dengan keras hingga ibu dan adiknya terlonjak kaget.
"Karen! Kamu mau bikin Mama jantungan?" Mama Puri memprotes.
"Koreng gila! Pelan-pelan! Kakak banting pintu juga nggak ngerubah status Kakak yang single terus tiba-tiba jadi punya pasangan."
Karen tidak menjawab sama sekali. Dia terdiam karena marah. Namun, di tengah perjalanan, perasaan marahnya telah berubah menjadi putus asa.
"Ren, jangan lupa mampir toko buah sebentar, Mama mau belanja buah." Mama Puri mengingatkan untuk berhenti. "Itu udah kelihatan, pelanin sedikit, Ren!"
Karen seakan tidak mendengar ibunya yang meminta berhenti. Roda mobil itu terus menggelinding membawa para penumpang melaju.
Mama Puri beradu pandang dengan Kendrik yang duduk di belakang. Kendrik menaikkan bahunya tanda tak mengerti apa yang terjadi kepada kakaknya.
Haduh, anakku kesambet apa ini. (Mama Puri).
To be continued...
__ADS_1
Jogja, April 2nd 2021