Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
18. Pertimbangan Daniel


__ADS_3

"Mbak Seli, duh saya deg-degan. Gimana ceritanya Daniel bisa milih anak saya?"


"Saya sendiri nggak tahu, Jeng Puri, dia baru menentukan pilihannya kemarin pas hari ke 7. Tadinya, saya udah khawatir dia nggak milih siapa-siapa, soalnya beberapa hari saya telpon dia jawabannya nihil. Eh, hari terakhir dia pilih Karen. Semoga berjodoh ya, Jeng."


"Wah, kok sama. Karen juga memilih pas di hari ke tujuh. Kalau berjodoh, Karen punya keinginan agar menikahnya disegerakan. Mungkin nggak ya, Mbak?"


"Bagus itu, lebih cepat lebih baik. Saya juga udah nggak sabar anak saya menikah."


***


Kilas balik ... (7 hari sebelum Daniel menjatuhkan pilihan)


Mami Seli baru saja pulang dari acara reuni. Dia langsung pergi ke rumah Daniel. Dia dan anaknya sudah tidak tinggal satu rumah karena Daniel sudah hidup mandiri dan memiliki rumah pribadi.


Beberapa hari sebelum reuni, Mami Seli telah membujuk Daniel untuk dijodohkan. 2 kali Daniel dijodohkan, tetapi belum ada satu pun yang berakhir dengan pernikahan. Kali ini, Mami Seli sangat berharap Daniel segera menikah.


"Daniel, Mami habis pulang dari reuni."


Daniel mengangguk.


"Ikh, jawab sih! Sama Mami kok ya begitu."


"Iya, Mi. Terus?"


"Mami udah daftarin kamu untuk dijodohkan," kata Mami Seli.


"Baik, kalau itu yang Mami mau. Tapi aturanku masih sama kayak yang dulu, kalau nggak ada yang cocok, aku boleh nolak."


Dari pengalaman sih, bukannya kamu yang nggak cocok, calon istrinya yang nggak mau sama kamu. (Mami Seli).


Mami Seli menghela napas dan mengingat 2 perjodohan yang lalu. Yang pertama gagal karena tidak satu pun kandidat yang cocok, yang satu lagi gagal karena pihak calon istri yang membatalkan. Pembatalan yang pernah dialami Daniel adalah karena calon istrinya tidak kuat menghadapi dinginnya sifat Daniel.


"Iya lah, terserah kamu aja yang penting dicoba dulu! Ini foto dua gadis kandidatnya. Cantik-cantik, kan?"


"Hm ...." Daniel mengamati foto tersebut.


"Yang ini namanya Karenina," kata Mami Seli sambil menunjuk foto Karen. "Yang ini namanya Angel."


Daniel mengangguk.


"Dua-duanya minta cepet. Mami juga nggak tahu kenapa. Tapi kan bagus, cepet aja. Nah, kamu timbang-timbang untuk milih salah satu dari mereka. Kali ini dipikir bener-bener lho ya. Kalau bisa, salah satu dari dua gadis ini harus jadi mantu Mami."


Mami Puri memberikan dua foto itu ke tangan Daniel untuk digenggamnya.

__ADS_1


"Lihat baik-baik dan pikirkan baik-baik ya, dalam 7 hari, kamu harus memilih salah satu. Mami pulang dulu."


Mami Seli pun pulang meninggalkan Daniel sendiri di kamarnya. Laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu memperhatikan foto 2 gadis kandidat calon istrinya.


Aku pernah melihat dia di rumah sakit beberapa tahun yang lalu. Dan sebelumnya lagi. Dia nggak asing. (Daniel).


Daniel bergumam dalam hati sembari memandang foto Karen. Kemudian beralih ke foto Angel. Dia memejamkan mata sejenak.


Apa aku bisa mencintai salah satu gadis ini? Salah, pertanyaannya bukan itu. Apa salah satu dari mereka bisa mencintai aku? (Daniel).


Daniel membuka mata dan mengedarkan pandangan ke kamar tidurnya. Kamar tidur yang dia tempati di rumah pribadinya ini didominasi warna merah.


Sebuah lemari kaca terpajang di sana yang berisi koleksi figur superhero Ironman.


Apa aku harus membuang semua koleksi ini agar ada gadis yang mau menikah denganku? Apa aku juga harus merenovasi kamarku? (Daniel).


***


Hari pertama dari 7 hari tenggat waktu


Siang itu di rumah sakit Keluarga Bahagia


Istirahat siang membuat para karyawan menghambur keluar. Ada yang ke kantin, ada yang ke restoran atau kedai makan di luar rumah sakit. Daniel bersama 2 dokter sahabatnya, Nathan dan Dion, memilih tempat makan yang agak jauh dari rumah sakit.


📞"Halo, Nathan, tolong beliin pospak (popok sekali pakai) buat Althan ya."


📞"Kenapa nggak minta tolong Mama aja? Aku kan masih nanti sore pulangnya."


📞"Eh, kamu pikir aku nggak tahu kamu di mana? Kamu pergi keluar sama dokter Dion dan dokter Daniel, kan? Mbak Asa (istri Dion) yang kasih tahu. Nah kalau lewat Indomacet yang di pertigaan jalan tembusan ke ibukota itu, tolong beliin pospak ya. Harus di situ, lagi diskon gede."


📞"Ya-ya-ya."


Dasar bini, jeli bener masalah diskon. (Nathan).


Mereka pun mampir di minimarket tersebut. Dion bersama Nathan berada di bagian pospak dan mencari merk yang sedang diskon.


Sementara Daniel berada di bagian lain. Saat sedang memilih barang yang akan dibeli, seorang gadis masuk ke dalam minimarket dan mengambil sebuah barang tepat di samping Daniel. Dia adalah Karen, gadis dalam foto yang diberikan oleh ibunya sebagai kandidat calon istri. Setelah Karen pergi dari dekatnya, Daniel memandangi dari kejauhan. Wanita itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Daniel.


Si rambut merah itu belanja di sini? (Daniel).


Karen keluar dari minimarket itu kemudian berjalan ke arah kanan minimarket. Tidak terlihat dia berkendara sehingga membuat Daniel penasaran. Dia pun ikut keluar dari minimarket yang berpintu dan berdinding kaca itu untuk melihat Karen sekali lagi. Karen memasuki sebuah bangunan tepat di sebelah minimarket itu.


Ren's Writer? Oh, ini tempat usahanya. (Daniel).

__ADS_1


***


Beberapa hari setelahnya, Daniel terus saja melihat kelebat Karen. Setiap dia pergi ke suatu tempat, selalu ada Karen meski wanita itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Daniel.


Di hari ke 6, Mami Seli menelpon dan menanyakan pilihan Daniel yang ternyata belum menentukan pilihan sama sekali.


📞"Daniel, kamu cepetan pilih, waktunya tinggal 1 hari lagi."


📞"Hm ...."


📞"Jangan ham hem doang, pokoknya besok kamu harus pilih salah satunya."


📞"Kalau nggak ada yang cocok?"


📞"Haduh Daniel, anakku, seharusnya dulu nggak Mami ijinin kamu koleksi mainan superheromu itu, bikin kamu jadi asyik sama dunia kamu sendiri."


📞"Hm ...."


📞"Pokoknya besok kamu harus sebutin 1 nama pilihan kamu, kali ini harus berhasil ya. Mami udah stres mikirin kamu."


📞"Hm ...."


Mami Seli mengakhiri sambungan telepon.


Daniel termenung sendiri. Sebagai manusia biasa, dia juga ingin mengakhiri kesendirian. Namun, dia ragu apakah nanti orang yang dia pilih bisa menerima apa adanya?


Dia memandangi dua foto wanita itu lagi sambil menimbang-nimbang. Karen selalu muncul akhir-akhir ini, sedangkan Angel sama sekali tidak pernah menampakkan diri.


Apa aku harus memilih si rambut merah ini? Tapi, kemunculannya beberapa hari ini belum tentu merupakan pertanda, kan? Dan, kenapa dia dijodohkan? Bukannya dulu dia pernah datang ke rumah sakit dengan seorang laki-laki? Dia nggak susah dapat pacar kan? Nggak seperti aku. (Daniel).


Daniel menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Pikirannya kembali ke masa-masa saat dia dijodohkan dulu. Wanita yang dijodohkan dengannya terlihat antusias pada awalnya. Mungkin karena melihat wajah tampan Daniel. Tetapi setelah mencoba berkomunikasi, wanita itu menurun semangatnya. Ditambah lagi setelah mendatangi rumah Daniel dan melihat kamar yang memiliki desain lain dari yang lain.


Daniel tersadar dari pikirannya dan memandang lagi 2 foto di tangannya.


Baik, aku akan pilih. Kalau aku melihat si rambut merah ini sekali lagi, aku akan memilih dia. (Daniel).


To be continued...


Jogja, April 18th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


find me on youtube: tita dewahasta


__ADS_2