
Sampai di ruangannya, Daniel memandangi 2 jam beker digital sembari tersenyum dan sesekali terkekeh meski amat samar. Tawa Daniel memang invisible, hanya bisa dilihat jelas dengan kamera micro ekspresi.
"Pppfffttt ...."
Jadi motif mereka memasang ini karena ingin mengganggu kegiatan suami-istri? Sayang banget mereka gagal total karena nggak ganggu kegiatan apa-apa, cuma ganggu orang tidur aja. (Daniel).
Daniel senang karena mereka tidak mencapai tujuan. Namun, tiba-tiba hatinya perih sendiri. Rasanya sama sekali tidak berbeda kehidupannya saat sebelum menikah dengan sekarang.
Bedanya, di rumah sekarang ada 'teman' yang hidup seatap, tapi tidak terikat perasaan cinta.
Apa jadinya kalau mereka tahu aku bahkan belum pernah mencium istriku sendiri? Pasti mereka ngetawain aku seumur hidup, atau minimal sampai pensiun. (Daniel).
Dia melihat punggung tangan yang pagi tadi digigit Karen. Bekas gigitan itu masih terlihat tapi sudah sedikit memudar. Bekas gigitan seperti itu umumnya hanya bertahan beberapa jam. Dia mengusap punggung tangan itu.
Makhluk apa yang sebenarnya kunikahi itu? Menikah aja harus pakai kontrak perjanjian segala, emangnya dia pikir ini novel? Tapi dia juga aneh. Sebentar nyubit, sebentar gigit, sebentar acak-acak rambut. Kadang dia cuek, tapi kadang dia marah kalau aku nggak ngomong. (Daniel).
Seorang perawat masuk dan memberikan map pasien untuk diperiksa Daniel. Pasien itu seorang gadis muda yang cantik berumur 19 tahun bernama Puspa.
Sejenak pasien itu terkaget melihat Daniel yang setampan dan semuda ini. Dalam bayangannya, spesialis jantung berumur sangat senior.
Padahal, dokter senior dalam bayangannya itu pun pasti pernah muda juga. Tidak mungkin seorang manusia bisa tua tanpa melalui masa mudanya (kecuali Benjamin Button).
Daniel membuka map milik Puspa. Sebelumnya dia didiagnosa bronchitis. Daniel mengernyitkan dahi.
Puspa pun segera menjelaskan tanpa diminta. Daniel memang memiliki aura dingin yang seakan menarik lawan bicaranya untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
"Saya dulu didiagnosa bronchitis. Tapi, saya minum obat untuk bronchitis tidak sembuh, jadi saya dirujuk ke sini untuk memeriksakan jantung."
Daniel mengangguk. "Keluhannya apa?"
"Dada saya sering sakit. Jika sedang menghirup udara, rasanya seperti ada yang menekan dengan keras."
Daniel mengangguk lagi. Beberapa penyakit memang memiliki gejala yang mirip apalagi jika areanya berdekatan seperti jantung dengan paru-paru.
Puspa menatap Daniel lekat. Sedikit hiburan melihat dokter tampan, pikirnya.
"Apa Anda sedang atau baru saja mengkonsumi obat?"
"Enggak, Dok."
Daniel mencatatnya. "Apa Anda mengkonsumsi kopi sebelum periksa di sini?"
"Enggak, Dok."
"Saat dada Anda sesak, terjadinya saat banyak kegiatan atau saat sedang tidak banyak kegiatan?"
"Ehm, emang penting ya, Dok?"
Daniel menaikkan alisnya, biasa mendapat pasien yang ingin tahu seperti ini, justru membuatnya bisa berbicara panjang lebar untuk memberi penjelasan. "Sangat penting. Jika Anda lebih sering sakit saat beraktivitas, nanti pemeriksaan rekam jantungnya berbeda dengan jika Anda merasa sakit saat tidak banyak melakukan aktivitas. Akan lebih mudah dideteksi penyakitnya jika pemeriksaannya tepat."
Puspa nampak berpikir dan mengingat-ingat. Dia merasakan sakit di dadanya saat melakukan aktivitas mau pun tidak melakukan aktivitas.
"Lebih sering saat nggak melakukan aktivitas, Dok. Saat tiduran juga sering sakit."
__ADS_1
Daniel membuat surat rujukan untuk pemeriksaan EKG saja. (Untuk yang merasakan sakit saat melakukan aktivitas, pemeriksaan yang dilakukan adalah treadmill EKG).
"Setelah ini silakan ke lab untuk rekam jantung."
"Baik, Dok. Ehm, saya sendiri? Dokter nggak mendampingi saya? Saya takut salah diagnosa lagi, Dok."
Mulai lagi pasien sedikit ingin menggodanya. Namun, Daniel kadang tidak begitu mengerti jika sedang digoda.
"Rekam jantung hanya akan merekam kegiatan jantung, belum sampai ke diagnosa."
Padahal kalau ditemenin dokter ini kan so sweet. (Puspa).
"Kok alatnya nggak ditaruh di ruangan ini aja sih, Dok? Kan lebih credible kalau yang periksa spesialisnya langsung." Gadis itu masih menggelitik Daniel.
"Di laboratorium ada teknisi yang juga kompeten dan sudah terlatih. Nanti juga yang mendiagnosa saya, bukan mereka," kata Daniel, datar. Wajahnya tidak menampakkan senyum sedikit pun.
Puspa segera pergi dari ruangan Daniel dan menuju ke laboratorium diantarkan oleh perawat kemudian dilayani oleh petugas laboratorium. Petugas wanita itu memasangkan elektroda di bagian dada, pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
Setelah proses perekaman jantung itu selesai, keluarlah kertas print out elektrokardiogram yang kemudian dibawa untuk diinterpretasikan oleh Daniel.
Dia membawa hasil EKG itu ke ruangan Daniel.
Dia memeriksa hasil itu kemudian mendadak berkeringat dingin. Beberapa kali dia melihat tanggal lahir Puspa, memastikan hitungan umurnya benar.
Dia menghela napas berkali-kali.
"Jadi, gimana, Dok?" Puspa tak sabar ingin tahu.
"Memang ada masalah dengan jantung. Saya belum begitu yakin, nantinya Anda bisa mencari second opinion di pusat kesehatan lain," kata Daniel sembari memberikan hasil EKG dan menuliskan hasil pemeriksaan di catatan rekam medis Puspa.
"Bisa iya, bisa juga memang dua-duanya. Karena itu, sangat perlu diagnosis pembanding. Bahkan sakit lambung saja bisa menimbulkan nyeri dada yang mirip dengan nyeri karena sakit jantung."
Puspa terlihat panik.
"Tapi untuk saat ini, fokus dulu ke jantung karena ternyata memang terdapat masalah."
"Apa dugaan Dokter sementara? Pasti ada kan diagnosis sementara?"
"Sederhananya memang ada serangan pada jantung. Bisa juga disebut infark miokard."
Daniel menuliskan resep obat untuk meredakan nyeri jika terjadi serangan jantung.
"Bisa sembuh nggak, Dok?"
Daniel mengangguk tanpa senyuman. "Perbaiki asupan, hindari makanan berkolesterol tinggi, lakukan olahraga kecil dengan rutin. Hanya olahraga kecil, tidak boleh berat. Jalan kaki yang paling sederhana."
"Kalau operasi atau terapi, ada yang bisa membuat saya sembuh total?"
"Bisa operasi pemasangan ring," jawab Daniel, tetap datar.
Pemeriksaan untuk Puspa sudah selesai. Gadis itu keluar dari ruangan Daniel, menuju kasir dan mengambil obat.
Beberapa saat kemudian, ponsel Daniel berbunyi. Karen lah yang mengirim pesan.
__ADS_1
📱Karen: Niel, nanti sore aku mau pergi sama Inda. Nanti buat makan malam beli aja ya?
📱Daniel: Kamu boleh pergi. Tapi harus tetep masak. Jam 6 sampai rumah.
Karen memelototi isi chat balasan dari Daniel dan mengucek matanya berkali-kali.
Apa? Orang itu bener-bener mau nyiksa aku ya? Aku nanti pasti capek habis kerja ditambah pergi sama Inda, kok tega masih nyuruh masak. (Karen).
"Brengseeek!" Tak sadar Karen berteriak membuat Inda terkaget.
"Ampun, Bos Black Widow, siapa yang brengsek, Bos?"
"Eh, heheh maaf. Ini aku lagi chat sama orang terbrengsek di muka bumi ini ...."
... yang hidup se-rumah dan tidur se-ranjang sama aku. Fyuh. (Karen).
Inda mengelus dada, lega bukan dirinya yang diumpat. "Kirain aku, Bos, udah deg-degan."
"Nanti kita jadi jalan ya, Nda. Sepuas kita. Sampai jam 9 malam." Karen berapi-api ingin melanggar aturan Daniel agar dia kelaparan menunggu Karen pulang.
"Wah maaf, Bos, suamiku bolehin sampai jam 6 aja. Kan harus masak makan malem juga."
"Emang kenapa musti masak? Kan bisa beli?"
"Soni itu maunya makan masakanku kalau malem, soalnya siang makan di tempat kerja masing-masing."
Oh, jadi udah umum ya suami tetep minta dimasakin istri. (Karen).
"Plus buat berhemat juga, Bos, kami kan masih ngontrak. Itung-itung nabung buat beli rumah hihi," lanjut Inda.
Meski ngontrak, beruntung banget kamu, Nda, bisa nikah sama orang yang kamu sayang. Nggak kayak aku yang nikah sama si Patung Anubis itu. (Karen).
Karen hanya mampu berkata dalam hati. Tidak mungkin dia membeberkan bahwa dirinya dengan Daniel menikah karena perjodohan.
To be continued...
Jogja, May 15th 2021
***
Halo readers semua
Author,
Karen-Daniel,
Inda-Soni,
Nathan-Lana,
Dion-Asa
Mengucapkan Selamat IdulFitri 1442H, mohon maaf lahir dan batin🙏🙏🙏
__ADS_1
***