
(disclaimer: Para tokoh yang menyatakan tidak ingin childfree dalam novel ini hanya mengutarakan pandangan pribadi tokoh (yang kebetulan kontra terhadap childfree), tidak bermaksud mendiskreditkan para wanita yang memilih untuk tidak memiliki keturunan mau pun yang memilih childfree).
***
Bagi Daniel, keputusan untuk tak memiliki keturunan adalah hal yang harus diterima meski sedikit kecewa. Baginya, kehidupan pernikahan saja sudah seperti wonderland. Dia pun tahu diri untuk tidak berharap lebih.
"Nanti, lu berani nggak nanganin bini sendiri?" tanya Nathan kepada Dion pada suatu siang di kantin rumah sakit.
"Orang terdekat yang pernah gue tanganin itu bini elu, Bro, si Lana. Itu aja gue gemeteran. Kayaknya nggak bakal kuat gue nanganin persalinan Asa," jawab Dion.
Daniel hanya terdiam sembari menikmati makanannya.
"Niel, kok diem aja?" tanya Nathan.
"Aneh bener nanyanya, udah tahu kalau si Pretty Boy ini lagi makan."
"Gue ini bisa menangkap sinyal-sinyal kepiluan dari si Daniel Stark ini."
Daniel mengangkat wajahnya dan menggeleng. Dia menarik bibirnya dengan susah payah agar dapat tersenyum kecil.
"Noh, dia senyum. Puas lu?" sergah Dion.
"Ehm." Daniel ragu-ragu untuk bertanya sesuatu. Dia pun mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan hasil pencarian di situs pencari Tugel. "Gimana menurut kalian?"
Nathan dan Dion memfokuskan pada hasil pencarian itu.
"Childfree? Ini mau sekedar diskusi atau kamu mau hidup dengan prinsip ini?" tanya Dion.
"Diskusi aja."
Dion berpikir-pikir sembari memulai bicara. "Menurutku, kalau ada orang atau pasangan yang memilih untuk childfree itu hak mereka dan harus kita hormati, mengingat banyak yang nggak siap jadi orang tua. Tahu sendiri kan banyak kasus-kasus pembiaran, penelantaran anak, bahkan paling parah pembunuhan. Jadi, kalau ada yang mau childfree, barangkali mereka itu bakal calon pelaku penelantaran anak jika dipaksakan punya anak. Ya kita hormatin aja."
Daniel mengangguk. Kemudian dia memandang Nathan seraya menagih pendapatnya dengan gesture tatapan mata itu.
"Kalau aku ya hampir sama kayak Dion. Cuma, prinsip itu works di negara tertentu aja. Kalau di negeri antah berantah ini sih nonsense. Baru juga nikah udah ditanya kapan punya anak. Baru lahiran anak pertama udah ditanya kapan nambah anak. Seolah keputusan hidup kita itu berada di cocotnya orang lain. Nanti kalau udah ada kasus pembiaran atau penelantaran, kena hujat juga dengan bilang gini 'kalau nggak siap punya anak, nggak usah punya anak'. Whereas, kalau memutuskan untuk childfree pun kena hujatan."
Memang benar-benar simalakampret. Apa pun yang dilakukan pasti akan menjadi sorotan.
Daniel mengangguk-angguk. "Kalau kalian, kenapa nggak childfree?"
Nathan menerawang dan memandang langit-langit kantin rumah sakit itu. "Akh, tiap aku pulang kerja dan ketemu Althan, capeknya ilang. Apalagi denger ketawa ala bayinya, bahkan terngiang-ngiang di kuping. Dulu, pertama kali gendong dia aja harunya udah kayak habis nonton drakor 16 episode. Fix, aku nggak cocok childfree."
"Aku juga sama. Kamu tahu kan, Pretty Boy, rumah singgah kita penuh bayi-bayi. Anak orang aja aku kangenin, apalagi anak sendiri. Kalau kamu gimana Niel? Kayaknya kamu juga nggak childfree ya? Nemplok-nemplok aja sama Althan, anak-anak lain juga," tebak Dion.
Daniel menyunggingkan senyum tipis.
"Tapi yang namanya childfree itu belum tentu karena benci anak-anak. Balik lagi ke awal tadi, banyak pertimbangan lain juga," kata Dion.
Obrolan itu pun terpaksa terhenti karena ponsel Nathan berdering keras.
__ADS_1
📞"Nathan, Mbak Asa udah kontraksi. Ini berangkat ke rumah sakit dianter Mas Jupri (relawan rumah singgah). Bilangin dokter Dion, soalnya handphonenya susah dihubungi."
📞"Oh ya ya."
"Bro, bini lu dalam perjalanan ke sini. Udah kontraksi."
"Ha?!" jawab Dion, panik.
Mareka bertiga pun buru-buru ke IGD untuk menyambut Asa.
***
1 minggu setelahnya...
Karen dan Daniel menjenguk bayi perempuan Dion dan Asa yang diberi nama Radisa itu. Sebenarnya, Dion pernah merencanakan 2 nama untuk anaknya. Tapi setelah lahir dan melihat bayinya, dia tiba-tiba ingin menggantinya. Hal itu karena... (keinginan authornya hehe, nggak boleh protes).
"Gimana Mbak waktu melahirkan kemarin? Kayak yang di video?" bisik Karen saat hanya berdua saja dengan Asa.
"Lebih parah. Aku nyakar-nyakar Mas Dion. Terus, jahitannya katanya sambung menyambung, diobras gitu istilahnya udah macam baju aja."
"Hiiiiiiii..." Karen merasa ngeri.
"Aku sempet takut gara-gara lihat video proses persalinan itu. Tapi gimana lagi. Masak iya mau disimpen di perut terus?"
Karen mendengarkan sembari tersenyum takjub melihat Radisa, si bayi mungil yang masih merah itu.
"Apalagi, aku sama Mas Dion udah nunggu lama untuk bisa punya anak. Jadi, aku mantep lagi. Mas Dion tiap hari ngasih semangat walau kadang kayak gitu deh."
"Kalau aku sebagai orang lain lihat ada wanita yang memilih nggak pengen hamil ya dihormati aja. Keputusan mutlak ada di tangan dia. Orang lain nggak berhak ikut campur."
"Kalau Mbak Asa sendiri yang mengalami, gimana?"
"Wah kalau aku pilih hamil. Selama 10 tahun aku berharap-harap cemas. Butuh waktu 10 tahun untuk aku bisa hamil. Dan di luar sana banyak wanita yang bahkan sama sekali nggak bisa hamil. Jadi kalau aku bisa hamil dan memilih nggak hamil, rasanya kurang bijak aja. Itu pendapat pribadiku lho."
Karen mengangguk.
"Dan juga, itu karunia Tuhan. Aku bisa hamil itu aku merasa terpilih untuk bisa jadi jembatan Tuhan melahirkan insan baru di dunia."
Entah kenapa hati Karen justru tertekan mendengar pembicaraan ini. Tapi bagaimana pun, dia yang telah memancing Asa berbicara panjang lebar. Dia akan mendengar pendapat Asa hingga selesai.
"Misalnya gini Ren, si A bisa hamil tapi milih nggak hamil. Si B nggak bisa hamil tapi pengen hamil. Mereka berdua nggak bisa tuker tempat. Jadi bagiku, jika kita ditakdirkan untuk bisa hamil itu berarti kita mengemban tugas istimewa."
"Apa berarti orang yang nggak pengen hamil itu nggak baik?"
"Ya enggak, mereka juga baik. Kebaikan dinilai nggak cuma dari mau atau nggak mau hamil. Mereka tetap bisa berperan dan bermanfaat bagi orang banyak."
~
Di rumah
__ADS_1
Karen dan Daniel sedang duduk bersama di tempat tidur sembari sama-sama melihat tablet milik Daniel yang sering digunakan untuk menggambar dan mengedit kartun. Karen tersenyum geli melihat gambar kompilasi kartun yang dibuat oleh Daniel.
Gambar itu adalah gambar imut Ironman dan Black Widow disertai tanda hati di sana.
Karen menggeser-geser hasil gambar Daniel.
"Ini gambar kartun apa, Niel?" Karen menunjukkan gambar kartun hasil gambar Daniel yang tidak menyerupai tokoh kartun mana pun. "Ini bukan Chibi Maruko, kan? Dia rambutnya nggak merah dan nggak dikuncir begini."
Daniel buru-buru mengambil tablet itu.
"Lho, kenapa Niel?"
Daniel menggeleng.
"Kenapa sih kok nggak boleh lihat? Dasar Kudanil," kata Karen sembari mengambil ponsel Daniel.
Dia membuka-buka gallery foto di ponsel itu dan menemukan foto selfie Daniel menggendong Althan. Karen pun memandangi suaminya yang sedang meletakkan tablet di rak.
"Niel, apa kamu pengen punya anak? Gimana kalau kita adopsi?"
"Hm? Aku kira kamu pengen kita childfree."
"Ehm, bukan sih. Kalau adopsi anak, aku mau kok ngerawat."
"Terus keputusan untuk nggak punya anak itu karena apa?"
Dengan wajah tertunduk, dia pun pelan-pelan mengungkapkan kebimbangannya selama ini. "Karena, ehm, aku takut hamil dan melahirkan."
"Apa!"
Karen mengarahkan pandangan ke wajah Daniel perlahan.
Merasa ditertawakan karena takut melahirkan.
Merasa dikerdilkan tidak memiliki mental yang kuat.
Merasa diwajibkan untuk menanggung hal yang menakutkan.
"Apa maksud kamu? Apa kamu nganggep remeh wanita yang merasa takut menjalani fase itu?" Suara Karen meninggi. Entah apa yang merasukinya saat itu.
Daniel tak mengira istrinya semarah ini. Padahal dia hanya mengucap 'apa' sebagai reflek terkejutnya.
"Apa hamil 9 bulan dan kesakitan melahirkan yang dirobek sampai mengeluarkan banyak darah lalu dijahit itu lelucon buat kamu?" Kata-kata itu terlontar bersama dengan derasnya air mata di pipi.
to be continued...
__ADS_1
Jogja, August 23rd 2021