Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
45. Kenangan SMA


__ADS_3

Daniel berada di kantin, duduk sembari melihat Chatsapp dari Haris yang sama sekali tak pernah dia tanggapi. Banyak foto yang dikirim oleh Haris kepadanya.


Apa sih maksudnya kirim-kirim foto ini? (Daniel).


Dia tidak bisa begitu menangkap maksud Haris mengirimkan foto-foto itu.


Nathan dan Dion berdiri di belakang tempat duduk Daniel, mengintip apa yang sedang dilihat oleh teman mereka.


"Wuogh, Karen sama siapa, Niel?" tanya Dion.


Daniel tidak menjawab.


"Kamu nggak marah lihat bini berdua sama laki-laki lain begitu?" tanya Nathan.


Daniel menaikkan kedua bahunya.


"Foto itu kayak sengaja dikirim buat nunjukkin kalau mereka itu deket," kata Dion.


"Oh ya?" Akhirnya spesialis jantung itu menanggapi meski tetap sangat hemat.


"Emang siapa tuh yang laki?" tanya Nathan sembari duduk di hadapan Daniel.


"Saudaraku."


"Oh, ternyata saudara. Itu sih nggak masalah kayaknya," kata Dion.


"Saudaramu itu akrab bener sama Karen, mereka udah lama kenal?" Nathan penasaran.


"Sejak SMA."


Dion dan Nathan saling pandang.


"Jadi kebetulan kamu dapat bini yang ternyata adalah temen SMA saudara kamu, gitu?" duga Dion.


"Ya."


"Duluan siapa kenal Karen, kamu atau saudaramu?" (Nathan).


"Ya jelas duluan saudaranya lah, kan waktu kita makan nasi bakar di restoran depan itu si Pretty Boy belum kenal Karen kan?" (Dion).


"Belum tentu, bisa juga Daniel pura-pura nggak kenal. Selang beberapa waktu kan mereka premarital check up dan langsung nikah. Daniel ini kan tetep aja misterius." (Nathan).


"Ehem." Daniel berdehem, seperti mengingatkan bahwa orang yang sedang mereka bicarakan tepat berada di depan mereka.


Nathan menaikkan layar di ponsel Daniel dan menemukan foto Haris dengan Kendrik. "Terus, anak ini kan yang waktu nikahan gantiin posisi ayahnya Karen. Ini adik Karen kan?" Kata Nathan sembari menunjuk foto Kendrik. "Saudara kamu juga akrab sama adik Karen?"


"Ya."


Dion dan Nathan berpandangan lagi.


"Bro, waktu SMA lu punya temen lawan jenis yang akrab?" (Dion).


"Punya dong, temen gue kan banyak." (Nathan).


"Kalau yang elu sampai akrab sama saudaranya?" (Dion).


"Ada, namanya Gwen. Gue akrab sama adiknya Gwen." (Nathan).


"Hebat lu temenan sama lawan jenis sampai akrab sama saudara dia." (Dion).


"Hahah, nggak temenan sih, itu mantan gue." (Nathan).


Tiba-tiba Nathan dan Dion berpandangan lagi.

__ADS_1


"Niel, apa saudara kamu itu mantan pacar Karen waktu SMA?" Dion memastikan hipotesisnya.


Daniel mengangguk.


"HAH?" Nathan dan Dion kaget bersamaan.


Nathan kemudian mengipasi Daniel dengan majalah, Dion berdiri dan memijat bahu Daniel.


"Sabar ya, Niel, kamu pasti kuat menghadapi kenyataan ini." (Dion).


"Kenangan SMA itu nggak ada yang bisa ngalahin." (Nathan).


"Hush, jaga mulut lu itu! Ini temen kita lagi melawan kenangan SMA bininya, malah ngomporin." (Dion).


"Heheh, maaf keceplosan. Ralat, nggak juga kok, buktinya gue nikahnya sama Lana bukan sama Gwen mantan pacar semasa SMA." (Nathan).


"Kita semua yakin kalau saudaramu itu bukan mantan terindahnya Karen. Iya kan, Than?!" (Dion).


"Yakin seyakin-yakinnya, karena nggak ada istilah mantan terindah. Kalau terindah ya nggak jadi mantan dong, jadiin manten lah."


~


Malam hari menjelang tidur malam, Karen memandangi suaminya yang sedang membaca komik.


Karen merebut komik itu. Tapi ternyata Daniel menyediakan beberapa komik lain di bawah bantalnya. Dia mengambil satu lagi untuk dibaca.


Dia udah persiapan ternyata. (Karen).


Masih memandangi Daniel, Karen berpikir-pikir sejarah kelam seperti apa yang pernah dialami suaminya itu.


Masak iya dia dulu berandalan, anggota geng, atau mafia kayak Vincenzo? Ketinggian bener pikiranku. (Karen).


"Niel, kamu dulu pernah bunuh orang?"


Dia lagi ngigau kayak waktu itu? (Daniel).


"Ren?"


"Jawab dong."


Daniel menggeleng.


"Pernah nyiksa binatang? Bakar rumah orang? Ehm, curi ayam?"


Daniel menempelkan punggung tangan di kening Karen. "Sakit?"


Nggak panas kok, kenapa ngomongnya ngelantur begini? (Daniel).


"Ikh apa sih, aku nggak sakit! Aku cuma tanya-tanya aja. Tugas kamu jawab aja sesuai pertanyaan."


"Oke. Nggak, nggak dan nggak."


"Nggak nyiksa binatang, nggak bakar rumah, nggak curi ayam. Terus apa ya?"


Dia lagi periksa catatan kriminalku? (Daniel).


"SKCK?"


Kalau pernah berbuat jahat pasti nggak bisa dapet SKCK kan ya? Buktinya dia kerja di rumah sakit besar, pasti setorin SKCK. Pekerjaannya juga nggak sekedar profesi tapi juga penolong orang sakit. Masak iya nyiksa orang atau binatang. (Karen).


"Kudanil, ceritain hal terjahat yang pernah kamu lakuin ke orang lain."


Daniel menatap istrinya dan mengingat-ingat apa yang pernah dia lakukan. "Pukul orang."

__ADS_1


Karen menutup mulutnya dengan tangan. "Kamu pernah pukulin orang?!"


Daniel mengangguk.


Lha terus, kok bisa dapet SKCK? Apa nggak dilaporin? Apa ini sejarah kelam yang dimaksud Haris? (Karen).


Karen kini sedikit ketakutan di samping Daniel. Ternyata meski pendiam, dia juga bisa menghajar orang. Dia juga takut suatu saat jika Daniel marah, dia akan menjadi target KDRT.


"Gimana kalau perjanjiannya kita tambah satu point lagi?"


"Apa?"


"Kamu nggak boleh pakai kekerasan ke aku."


Daniel mengangguk.


Karen bergegas mengambil kontrak pernikahan mereka dan menambahkan point itu dengan tulisan tangan.


"Deal?" Karen mengulurkan tangannya.


Daniel menjabat tangan Karen.


Karen keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Dia menelpon Haris.


📞"Halo, Ris, tadi setelah aku inget-inget, aku tahu sejarah kelam Daniel. Dia pernah pukulin orang. Itu kan yang kamu maksud?"


📞"Oh, kamu udah tahu?"


📞"Iya, aku tahu semua tentang dia kok."


📞"Hahaha, sayang banget Ren, tentang Daniel pernah pukul orang itu baru sebagian kecilnya."


📞"Jadi maksud kamu yang mana?"


📞"Lhoh kok tanya aku? Kamu belum tahu semua tentang Daniel?"


Haris menyeringai puas. Dia terus saja memainkan ketidaktahuan Karen tentang Daniel.


📞"Bu-bukan gitu, maksudnya begini, aku tahu banyak hal tentang Daniel. Jadi aku bingung inget-inget dan milah yang mana yang kamu maksud sejarah kelam itu."


📞"Oh gitu, oke. Selamat mengingat-ingat, Karen."


Sialan, sebenarnya sejarah macam apa sih? Kalau pukul orang aja baru sebagian kecilnya, bagian besarnya kayak apa? Denger Daniel yang pendiam bisa pukul orang aja aku udah kayak kena mental gini. (Karen).


Dia mengingat-ingat keseharian mereka dan apa yang kira-kira membuat Daniel paling marah. Karen pernah merebut komik, mengotori sprei, mencubit, menggigit dan lain-lain.


Anehnya, Daniel tidak pernah marah padanya. Mata Daniel sering memperlihatkan emosi, tapi mulut dan tangannya tidak pernah mengekspresikannya.


Meski dua orang (Haris dan Daniel sendiri) telah memberi tahu tentang peristiwa pemukulan yang dilakukan oleh Daniel, namun kenyataan di kehidupan sehari-hari sangat berbeda.


~


Haris tertawa keras sembari menutup telpon dari Karen.


"Hahaha ...."


Karen Karen, tinggal ngaku aja apa susahnya. Kalau kamu ngaku, kamu nggak perlu sungkan lagi tanya tentang Daniel ke aku. Dengan senang hati aku bongkar semua sejarah Daniel. (Haris).


Dia memandangi foto Karen yang telah dia potret ulang dengan kameranya. Dia semakin penasaran, seperti apa hubungan Karen dan Daniel dalam kesehariannya.


Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya.


to be continued ...

__ADS_1


Jogja, May 30th 2021


__ADS_2